CERPEN: Vitalia Sesat

Gambar

SIAPA sih yang tidak kenal Vitalia Ramona? Dia pernah jadi Ratu Kampus 1974 saat dia duduk di semester tiga di Fakultas Ekonomi, Universitas Kiyai Tapa, Jakarta Barat. Dia mahasiswi yang cantik, pandai dan cukup gaul. Tidak membedakan mana mahasiswa kaya dan mana mahasiswa miskin. Oleh karena itu, Vitalia sangat disukai teman-teman sekampus. Temannya banyak. Kebetulan saya waktu itu satu angkatan dan bahkan dia menjadi anggota kelompok belajar saya. Kebetulan lagi Vitalia dan saya sama-sama tinggal di Kebayoran Baru, tetangga lagi. Saya di Jl.Prof Djoko Sutono SH dekat STM Penerbangan, dia di Jl. Cikajang dekat Gudeg Bu Tjitro. Kalau saya pulang bawa mobil dan dia tidak bawa, pasti numpang di mobil saya. Begitu juga sebaliknya. Saya tahu benar, Vitalia cewek baik-baik dan rajin beribadah. Bahkan ada rencana akan umroh.

“Eh, ngalamun aja, Mas Harry ini!” tegur Vitalia mengejutkan saya ,yang saat itu sedang duduk santai sendirian di taman kampus.

“Ah, enggaklah!” singkat jawaban saya. Vitalia yang datang sendiripun duduk di sebelah saya, kemudian pesan es kacang ijo kesukaannya. Seperti biasa pesan dua gelas, satu buat saya. Vitalia memang suka traktir teman-temannya, termasuk saya tentunya. Maklum, dia punya usaha butik yang cukup besar di kawasan Mampang. Saat itu ada matakuliah kosong ,karena dosen saya, Pak Mintohardjo sedang dirawat di RS Pertamina, entah sakit apa.

Itulah Vitalia Ramona yang saya kenal pada semester pertama  hingga semester ketiga. Pada semester keempat, ada perubahan yang agak drastis pada diri Vitalia. Pergaulanpun mulai pilih-pilih. Hanya mau bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa yang tergolong mampu. Suka pesta. Kuliahnyapun sering ditinggalkan. Bahkan boleh dikatakan tidak pernah belajar bersama di kelompok belajar saya. Sebetulnya saya tidak peduli. Tapi, karena Vitalia merupakansahabat baik, sayapun berusaha mencari tahu, ada apa dengan Vitalia yang cantik jelita itu?

Belakangan saya dapat informasi dari Donny, kabarnya usaha butik Vitalia bangkrut karena tempat usahanya kena gusur, bayar pajak mahal dan terakhir mobilnya hilang dicuri orang. O, kalau itu persoalannya, saya bisa memakluminya. Cuma sayangnya, Vitalia tidak pernah menceritakan semuanya itu kepada saya. Tapi, tak apalah. Itu masalah Vitalia. Lagipula sudah terlanjur terjadi. Sayapun tidak bisa membantu apa-apa.

“He! Harry! Kamu tahu nggak, bagaimana khabar Vitalia sekarang?” tanya Gaguk pada semester kelima di mana Vitalia sudah tak pernah kuliah lagi. Kabarnya ambil cuti satu tahun karena mau umroh dan sibuk dengan shooting film.

“Sibuk shooting? Betul, tapi Harry tahu nggak berita-berita dari mulut ke mulut tentang Vitalia?” tanya Gaguk yang saat itu kebetulan sedang makan siang bersama saya di kantin kampus.

“Kabar apa?” saya ingin tahu.

“Astaga! Harry teman baik Vitalia kok sampai tidak tahu, sih? Vitalia sekarang kan sering dipesan pejabat?”

“Maksudmu?”

“Biasalah! Cari duit! Jual tubuh!”

“Ah! Mudah amat Gaguk percaya? saya tahu Vitalia rajin beribadah. Apalagi mau umroh.Nggak mungkinlaaah,” bantah saya.

“Hidup di Jakarta ini segala kemungkinan bisa terjadi, Harry”

“Dari mana Gaguk tahu?”

“Namanya juga kabar burung. Ya dari mana-manalaaah…Gak penting. Tinggal Harry mau percaya atau tidak?”

Lagi-lagi, semula saya tidak peduli. Tapi, naluri keingintahuannya semakin lama semakin besar. Saya berusaha mencari informasi dari teman-teman dekat Vitalia. Ternyata, semua menjawab tidak tahu. Maklum, merekasudah lama tidak bertemu dengan Vitalia.

Nah, suatu hari secara tidak sengaja saya bertemu dengan teman lama. Teman se-SMA dulu. Saya tak sengaja bertemu di Wisma Nusantara, Jl.MH Thamrin. Saat dia turun dari lift dan saya akan naik lift. Saat itu saya akan menemui sahabat saya di salah satu kantor di gedung itu. Dan yang membuat saya terhenyak yaitu, teman saya, namanya Jeffry, turun bersama Vitalia. Ada apa ini? Akhirnya sayapun ngobrol-ngobrol sebentar. Ternyata, Jeffry punya kantor di gedung itu. Punya usaha sendiri. Siang itu dia mengajak Vitalia makan siang di salah satu resto di Jakarta Pusat. Saya tak sempat bicara dengan Vitalia. Jeffry langsung menuju ke mobl Mercy-nya bersama Vitalia. Untunglah, saya sempat minta kartu nama Jeffry.

Malam harinya saya telepon Jeffry. Maklum, jaman dulu belum ada HP atau ponsel. Saya di rumah dan Jeffrypun di rumah. Biasalah, ngobrol-ngobrol jamannya masih sekolah di SMA. Terus bicara soal perkuliahan dan pekerjaan. Jeffry tidak kuliah karena lulus SMA langsung mendirikan perusahaan di bidang ekspor-impor. Sudah jadi pengusaha sukses dan kaya raya.

Saat saya tanya tentang Vitalia, awalnya hanya mengaku Vitalia sebagai sahabat bisnis saja. Namun, sesudah saya pancing, akhirnya Jeffry berkata jujur bahwa dia saat itu memang punya acara kencan dengan Vitalia dengan tarif Rp 3 juta short time. Itu tarif tahun 1974. Cukup mahal.

“Astaga!” gumam saya tak percaya. Kenapa Vitalia melakukan itu? Apakah karena usaha butiknya bangkrut? Bukankah honor dari main filmnya cukup banyak? Lantas, apa motivasinya Vitalia seperti itu?

Esok harinyapun saya langsung bercerita ke teman-teman sekampus. Sebagian terperangah tidak percaya. Namunada satu dua yang percaya bahkan mengiyakan. Katanya, Vitalia beberapa bulan itu memang tersesat karena bangkrut dan terpengaruh ajakan Renny, teman kuliah yang sudah lama terkenal  sebagai “ayam kampus”. Sayapun mulai percaya bahwa Vitalia memang tersesat.

Tapi, lagi-lagi buat apa saya peduli dia? Pacar bukan. Saudara bukan. Hanya sahabat biasa saja. Kenapa saya mengurusi yang begituan? Bukankah fokus ke dunia perkuliahan itu lebih baik? Urusan Vitalia adalah urusan Vitalia. Tidak ada hubungannya dengan urusan saya. Sejak saat itu, teman-teman sekampus menjuluki Vitalia Ramona dengan sebutan Vitalia Sesat. Kabarnya, Vitalia telah keluar dari Universitas Kiyai Tapa dan kuliah di ASMI, Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia.

Tanpa terasa. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan.Tahun berganti tahun. Saya sudah lulus sebagai sarjana dan bekerja pada sebuah perusahaan konsultan manajemen di kawasan Jl.MH Thamrin. Tepatnya di Wisma Nusantara. Sama dengan kantor Jeffry. Bedanya, Jeffry di lantai 4 sedangkan saya di lantai 9.

Hari pertama kerja saya kerja, saya terkejut. Ternyata saya satu kantor dengan Vitalia.

“Vitalia?!” sapa saya hampir tak percaya. Vitaliapun berdiri dan menyalami saya.

“Kaget,ya? Saya membaca lamaran kerja Mas Harry dan saya usulkan ke pimpinan supaya Mas Harry bekerja di sini…” jawab Vitalia. Sayapun tertegun.

Sejak itulah, hubungan saya dengan Vitalia kembali akrab. Karena rumah saya dan rumah Vitalia di Kebayoran berdekatan, maka sayapun selalu bersama-sama berangkat dan pulang kantor. Maklum, sejak bangkrut, Vitalia tidak punya mobil lagi.

Entahlah. Mungkin tiap hari saya bertemu dengan Vitalia, sedikit demi sedikit, sayapun jatuh cinta kepada Vitalia. Apalagi Vitalia juga masih hidup sendiri. Tapi, saya punya konflik batin yang cukup berat. Apakah saya harus menikah dengan Vitalia yang dijuluki teman-teman sebagai Vitalia Sesat degan tarif Rp 3 juta short time?

Setahun saya bekerja di perusahaan itu. Akhirnya Vitaliapun mengaku bahwa dulu memang dia tersesat karena butuh uang banyak untuk biaya hidup sehari-hari. Diapun menyatakan telah bertaubat dan jika bersedia, Vitalia mengajak saya umroh bersama, bulan depan. Niat umroh Vitalia yang bertahun-tahun tertunda.

Begitulah, bulan berikutnya saya dan Vitalia menjalankan umroh. Dan di sana, kami berdua berjanji akan menjadi suami istri yang baik. Akan menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak. Akan menjadi umat beragama yang taat. Dan memang benar. Beberapa bulan kemudian saya menikah dengan Vitalia. Dengan ikhlas, saya memaafkan masa lalu Vitalia yang kelam. Apalagi, Vitalia sudah bertaubat.

CERPEN: Meddy

FACEBOOK-CerpenMeddy

             HARINYA lupa,tanggalnya lupa,bulannya juga lupa.Namun,saya masih ingat kejadian itu berlangsung pada tahun 1980 yaitu sewaktu saya naik kereta api Senja Utama Jakarta-Solo.

“Mau ke mana?”,tanya saya ke seorang gadis cantik berambut pendek mirip Demi Moore yang duduk di sebelah saya.Waktu itu kereta baru saja berangkat dari stasiun Gambir sore hari.

“Yogya.Kalau,Mas..?”,ganti gadis itu bertanya.Kulihat gadis berambut pendek itu menatap mata saya. Bening sekali matanya.

“Sama.Saya kuliah di UGM”,saya menawarkan permen Mentos.Gadis itu menggeleng kecil. Sementara itu kereta api mulai meninggalkan Kota Jakarta.

“Di fakultas apa,Mas?”.dia ingin tahu.Saya lihat,matanya bening dan indah.Bulu matanya lentik.Sekilas mirip Meriam Belina.

Saya pun menjawab apa adanya.

“Di Fakultas Filsafat,tingkat sarjana muda”

“O,kalau begitu kita satu kampus.Saya di fakultas teknik”,tampak wajah gadis itu ceria.Ganti,dia menawarkan biskuit.Saya menggeleng kecil.

“Teknik? Kenal dong sama Roy”,saya ingin tahu.

“Roy? Roy yang dari Sukabumi,Jawa Barat?”

Saya mengangguk.

“Wow,kalau Roy itu sih nggak cuma kenal,bahkan kenal akrab.Roy kan sahabat se-study club.Mas,kok kenal,sih?”,gadis itu penasaran.Saya lihat dia mengenakan baju warna pink dan celana jean yang manis.

“Kalau saya baru kenal.Itupun dari Mita,pacarnya…”

“Mita? O,mungkin pacarnya yang dari Sukabumi juga ya? Mita yang kuliah di Akademi Bahasa Asing ‘Jakarta’,kan?”,gadis itu ingin tahu.

“Kok,tahu?”,sementara itu kereta terus melaju pesat. Suara rodanya sangat berirama.

“Iya,kan si Roy sering cerita kalau kita sedang kumpul-kumpul .Mas,kenal Mita di mana?”,gadis itu tampak penasaran.

“Mita juga teman sekampus saya di ABA Jakarta.Namun sekarang sudah alumni.Dia kerja di Jetro ,Japan External Trade Organisation,Wisma Nusantara Lantai 11,PO Box 2140,Jakarta Pusat”,jawab saya lengkap.

“O,..ya,ngomong-ngomong kita belum kenalan,nih!”,katanya sambil menyodorkan telapak tangannya yang mungil.Saya menyambutnya. Malu juga saya, kenapa bukan saya yang harus memperkenalkan terlebih dulu.

“Harry…Harry Imadha”,saya memperkenalkan diri.

“Di Kampus saya dipanggil Meddy.Lengkapnya Samedi.Samedi berasal dari kata Perancis yang artinya Sabtu.Saya dilahirkan hari Sabtu”,jelasnya cukup panjang lebar. Sesekali dia meneguk minuman Coca Cola kaleng.

“Namamu bagus..”,sebuah pujian saya ucapkan.Dia hanya terseyum.Oh,cantik sekali.

“O ya,enak ya Mas tinggal di Jakarta.Gadis-gadisnya cantik.O ya,ngomong-ngomong pacarnya Mas Harry tinggal di mana?Di Jakarta atau di Yogya? Boleh nggak Meddy kenalan? Lumayan kan untuk memperluas persahabatan”,tanyanya memancing.Namun saya menjawabnya secara jujur.

“Sejak tahun 1974 saya tidak pernah mencintai gadis dalam arti yang sesungguhnya.Tepatnya,sejak Erna Stella—pacar saya—meninggal karena kecelakaan di Jl.Malioboro”,saya mulai bercerita.

“Oh,Maaf ya,Mas jika Meddy mengungkit-ungkit masa lalu Mas Harry yang pahit”,kata Meddy.

“Tidak apa-apa.Justru saya mengucapkan terima kasih kalau Meddy mau mendengarkan sedikit cerita tentang saya.Entahlah,terhadap teman-teman sekampus di ABA “Jakarta” ataupun di UGM saya tak sempat cerita.Sibuk kuliah mondar-mandir Jakarta-Yogyakarta.

“Mungkin itu peristiwa yang terjadi pertama kali bagi Mas Harry.Sulit untuk dilupakan.Tapi,alangkah baiknya dan bijaksananya jika Mas Harry tidak hidup dalam kungkungan trauma psikologis.Lupakan saja masa lalu.Toh di UGM juga banyak gadis-gadis yang cantik.Tuhan tidak hanya menciptakan satu gadis.”,kata Meddy bernada menasehati.Kalau saya pikir-pikir,apa yang diucapkan Meddy memang ada benarnya juga.

“Meddy memang benar.Saya memang kadang-kadang sering lupa menengok masa depan.Maklum,saya cinta setengah terhadap almarhumah Erna Stella”,saya menghela nafas panjang-panjang. Sesekali saya meneguk kopi susu hangat yang ada di gelas .

“Maaf ya,Mas.Bukannya Meddy sok dewasa atau sok menggurui.Cuma,entah kenapa perkenalan kita yang singkat ini seolah-olah sudah berlangsung puluhan tahun dan Meddy langsung merasa akrab dengan Mas Harry.Mungkin Meddy teringat cerita dari saudara sepupu yang juga pernah mengalami nasib yang mirip dengan yang dialami Mas Harry.Cuma,karena dia  terikat pada masa lalunya,akhirnya dia tak menikah.Umurnya kini 51 tahun dan masih menjadi pria bujangan.Meddy berharap agar Mas Harry tak seperti saudara sepupu saya tersebut…”,ujarnya penuh harap.

“Meddy memang benar!Mungkin akan lebih menyedihkan bila hal itu dialami seorang wanita dan mereka akan mendapatkan julukan perawan kadaluwarsa.Sebutan yang menyakitkan hati,” kata saya sambil menawrkan permen Mentos.Kali ini Meddy mau menerimanya. Karena udara malam mulai dingin, sayapun menutup jendela kereta.

“Sudahlah,Mas…jangan terlalu idealis.Gadis yang 100% serupa dengan almarhum Erna Stella pasti tidak ada.Meddy percaya bahwa masih banyak gadis yang mau menggantikan almarhumah Erna Stella.O,ya,di fakultas filsafat kan ada gadis yang sedang ngetop.Namanya Corry Lumanauw”,Meddy bercerita.

“Bukan Corry Lumanauw,tapi Doris Lumanauw.Memang dia cantik.Tapi,saya bisa melarat kalau hidup dengannya.Untuk apa berpacaran dengan gadis tukang porot?Saya menyukai gadis yang bersikap biasa-biasa saja.Memang sih saya ini sedang sial.Saya memang pernah mencoba cari pacar lain,namanya Deasy.Sayang dia sakit asma.Meddy tentu tahu kalau penyakit itu bisa menurun ke anak cucu.”

Saya terus melanjutkan cerita.

“Kemudian,saya mencoba mendekati gadis lain.Namanya Meila Paulina van Fredrick.Gadis Indo.Ternyata,gadis yang tampaknya alim itu ternyata pelacur kelas kakap.Padahal,penampilannya seperti mahasiswi.Haruskah saya memacarinya untuk kemudian saya peristri?Tentu saja tidak!”

“Sabar saja,Mas.Anggap saja bahwa Tuhan sedang menguji mental,jiwa dan ketabahanb Mas Harry.Setiap orang di bumi ini apapun pangkatnya,apa pun kekayaannya,apa pun jabatannya,di mana pun tempatnya,apa pun agamanya,pasti diberi cobaan-cobaan oleh Tuhan.Kita harus berfikir yang realistis,yang nyata,bahwa kehidupan itu tak selamanya sedih dan tak selamanya menyenangkan.Apalagi Mas Harry adalah laki-laki.Tak perlu cengeng dengan masa lalu.Meddy percaya bahwa suatu saat Mas Harry akan menemukan seorang gadis yang justru melebihi almarhumah Erna Stella.Percayalah”,Meddy meyakinkan.Gaya bicaranya memang cukup dewasa.

Sementara itu kereta telah melesat jauh.Melaju kencang.Kutatap wajah Meddy.Kupandang dalam bola matanya.

“Kenapa,Mas?”,Meddy ingin tahu.

Sayapun menjawab jujur.

“Meddy,…Meddy mirip sekali dengan almarhumah Erna Stella.Gaya bicaranya,senyumnya,wajahnya…Saya seperti bermimpi…”

Hari semakin malam. Tak henti-hentinya kami saling bercerita. Dan akhirnya kami berduapun tertidur pulas.

CERPEN: Di Langit Kugapai Bintang

FACEBOOK-CerpenDiLangitKugapaiBintangOke

YOGYA,17 Juni 1985.Hari ini saya dan Ita atau Ade Rosita sedang duduk berdua di restoran Hellen,Jl.Malioboro.Kami berdua sedang minum ice juice kesukaan masing-masing.

-“Selamat hari ulang tahun 17 Juni 1985.Mudah-mudahan Mas Yanto cepat mendapatkan pekerjaan lagi”,kata Ita sambil menyalami saya.

-“Terima kasih. Saya juga mengucapkan ulang tahun untuk Ita.Bukankah ulang tahun kita sama? Mudah-mudahan Ita kelak menjadi sarjana yang berguna bagi nusa dan bangsa”,sayapun menyalami tangan Ita yang halus lembut itu.

Hari demikian cepat berlalu.Semua sahabat saya telah menikah.Ruddy Rayadi,Faizal Salmun,Armi Helena Nasution,Orizanita,Inggah Silanawati,Chatarina Pri Ernawati,yah..hampir semua.Tinggal saya yang belum.Sudah berkali-kali saya naksir cewek mulai dari Rikit Mulyasari,Nunie Hendrati,Sri Redjeki Cikatomas,Dewi Sayekti,Emiria Bhakti…semuanya menolak.Tapi,untunglah saya menemukan seorang gadis bernama Ita.

-“Ita,secepatnya saya akan melamarmu.Apalagi menurut Dokter Arifin Mahubay, telah menyatakan bahwa Ita dalam keadaan sehat dan bahkan sudah mengandung.Tentu,saya harus bertanggung jawab”,kata saya suatu ketika.Saya pandangi bulu mata Ita yang lentik serta alisnya yang tebal.Orang bilang,gadis yang demikian biasanya bisa memiliki keturunan yang cantik dan ganteng.Ita diam saja.Hari itu Ita telah hamil dua bulan.

MALAM harinya saya masih berada di rumah Ita di Jl.Cik Di Tiro.Di ruang tamu kami berbicara,ngobrol,melihat TV sambil membuka-buka album.Ibu Ita,yaitu ibu Sindoro turut menemani.Pak Sindoro telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.Putera Bu Sindoro tujuh orang,Ita nomor tujuh.Hanya Ita dan Bu Sindoro yang menempati rumah di Jl.Cik Di Tiro,Yogyakarta itu.

Tiba-tiba saya terkejut ketika membuka album yang berikutnya. Di situ saya melihat foto rumah saya yang terletak di Jl.Trunojoyo No.4 Bojonegoro yang sudah terjual 15 tahun yang lalu.

“Ini foto rumah siapa,Bu?”,tanya saya memancing.Bu Sindoro melihat ke album yang kutunjukkan.Lalu katanya panjang lebar.

“Itu foto rumah Bu Sudjana,bekas tetangga Bu Sindoro sewaktu Pak Sindoro menjabat sebagai bupati waktu itu.Semua putera Bu Sudjana. Karena Bu Sudjana tak berhasil memiliki putera laki-laki,maka akhirnya putera ibu yang laki-laki dimintanya.Sebagai anak angkat”.Wajah Bu Sindoro menerawang,mengingat masa lalu.

Sayapun mengambil kesimpulan bahwa sayalah yang dimaksud putera laki-laki itu.Kalau begitu,saya ini anak angkat?Kalau begitu,Bu Sindoro adalah ibu kandung saya?Kalau begitu,Ita yang tengah mengandung dua bulan ini adalah…adik kandung saya?Ya Tuhan,terkutuklah saya ini…”.Saya berdesah,cemas dan ragu.

ESOK harinya Ita menangis deras.Lama dia menangis di Hotel Intan, tempat saya menginap.

“Tak mungkin kita menikah.Tak mungkin”,ucap saya lirih,setengah putus asa.Saya bingung,pikiran ruwet.Ita berkali-kali mengusap air mata yang membasahi pipinya.

“Ita,satu-satunya jalan adalah …aborsi.Ita harus gugurkan kandungan itu.Sekarang juga kita ke Dokter Arifin.Saya bangkit,kutarik pelan tangan Ita.Ita pun bangkit dari tempat tidur.Sesudah menyeka air mata,Itapun mengikuti saya.

-“Apakah aborsi tidak dilarang hukum?”,Ita ingin tahu.Sementara itu Yogya mulai diguyur hujan yang deras.Becak yang kami naiki amat pelan jalannya.Maklum,tukang becaknya sudah tua.

“Sekitar tahun 1972 Indonesia memang menganggap bahwa bahwa aborsi adalah ilegal.Tidak sah.Tanpa kekecualian.Bahkan pasal 346 KUHP  bisa memidanakan seorang wanita yang menggugurkan kandungannya”,saya menjelaskan.

“Jadi?”,Ita ingin tahu.Wajahnya agak ketakutan.Memang serba salah.Alkan menikah,jelas agama tidak mungkin mengijinkan karena kami ternyata kakak beradik kandung.Melakukan aborsi berarti melanggar hukum.Sudahkan Indonesia menganut “legal conditionally” mengenai aborsi di mana aborsi bisa dibenarkan atas dasar pertimbangan ‘rape’ (perkosaan),’incest’ (sesaudara kandung),atau ‘deformed fetus’ atau pertimbangan medis?Entahlah.

Yang jelas,uang adalah segala-galanya.Setelah tawar-menawar akhirnya dr.Arifin Mahubay bersedia melakukan aborsi dengan imbalan uang Rp 15 juta.

Darimana saya mendapatkan uang sebanyak itu?Akhirnya saya nekat,rumah yang saya tempati di kawasan Cinere,Bogor,saya jual.Saya iklankan di Harian Sinar Harapan.Bunyinya:”Rumah:Dijual.Murah,mungil indah.Cinere Blok D-160 (Jl.Bukit Cinere,PT Kani).LT/LB 108/65,2 KT,BathTub.Dijual di bawah harga pasaran.Hub:Harry alamat tsb.TP”.

Untunglah rumah saya cepat laku.Terjual dengan harga Rp 61 juta,yang 15 juta untuk biaya aborsi.Sisanya saya belikan rumah di perumahan Pondok Mekarsari,Jl.Raya Bogor Km 30,sekitar enam kilometer sebelah Selatan terminal Cililitan.

Sikap saya ke Bu Sindoro (ibu kandung saya) biasa-biasa saja.Rahasia itu saya pendam rapat-rapat.Masalah aborsi hanya saya,Ita dan dr.Arifin yang mengetahuinya.Yang jelas,saya tetap menghargai Bu Sudjana yang telah memelihara saya,memmanjakan saya,dan mendewasakan saya hingga sekarang.Luar biasa,betapa tahan Bu Sudjana menyimpan rahasia ini sampai puluhan tahun.

Menjelang lebaran tahun ini,saya meminta ijin ke Bu Sindoro agar Ita boleh saya ajak ke Bali,berlibur dan berlebaran di sana.Ijin dikabulkan.Benarkah kami ke Bali? Tidak!Saya mengajak Ita ke kota Bojonegoro,kota di mana ‘ibu’ saya berada.Saya akana sungkem dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan ‘ibu’ Sudjana.

Ita tetap saya ajak ke Bojonegoro,Jawa Timur.Karena,meskipun Ita ternyata adalah adik kandung saya,namun kami belum bisa mengganti rasa cinta itu dengan rasa persaudaraan.Aneh memang.

“Saya tak mengira cinta pertama saya seburuk ini”,Ita mengeluh berkali-kali.Matanya masih basah.Badannya masih lemah akibat aborsi.Ita memang pantas bersedih, karena sesudah aborsi itu,dr.Arifin mengatakan bahwa Ita tak mungkin akan memiliki keturunan seumur hidup.

Betapa banyak cobaan yang saya hadapi pada tahun 1985 ini.Saya dipecat dari PT Sunan Ngampel akibat saya difitnah,mobil Honda Civic Wonder saya hancur akibat kecelakaan dekat restoran Situ Gintung,Ciputat.Saya ditolak untuk menjadi dosen di Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti,Jakarta karena lowongan telah diisi oleh teman saya Eva Hassan dan Heru Hardjanto dan sekarang mengalami mysibah mencintai seorang gadis yang ternyata adik kandung sendiri.

Malam harinya kami makan malam bersama.Bukan main hiruk-pikuknya.Semua saudara saya yang kebetulan semuanya perempuan datang bersama suami masing-masing,juga famili-famili,sahabat-sahabat se-SMA,lengkap dengan putera-puteranya.

Saya sengaja mengajak Ita supaya tidak diledek.Kalau ditanya, maka saya akan memperkenalkan Ita sebagai calon istri saya.Mereka pasti percaya,termasuk ‘ibu’ saya.Namun suasana lebaran malam itu menjadi lain ketika ‘ibu’ku memandang tajam ke arah Ita.’Ibu’ saya berhenti makan sejenak.Semua yang duduk di sekitar meja makan saling berpandangan tak mengerti.

“Nak Ita,boleh ibu pinjam sebentar kalung,nak Ita?”,pinta ‘ibu’.

Agak ragu dan heran, pelan Ita melepas kalung itu dan memberikannya ke ‘ibu’.’Ibu’ pun melihat dan membolak-baliknya.

“Nak Ita,ibumu namanya siapa?”,tanya ‘ibu’.

“Sindoro” jawab Ita jelas.

“Sindoro Soesmadji?” tanya ‘ibu’.Ita mengangguk.

‘Ibu’ku langsung bangkit dan memeluk Ita erat-erat.

“Ya Tuhan…kamu anak kandung saya…!

Saya semakin heran.Semua yang hadir terpaku.Ita merangkul ‘ibu’ setengah tak percaya.

Namun setelah ‘ibu’ bercerita,segalanya jadi jelas.Dulu,’ibu’ Sudjana berputera seluruhnya perempuan,satu di antaranya jadi anak angkat Bu Sindoro.Sebaliknya,seluruh putera Bu Sindoro adalah laki-laki,satu di antaranya adalah saya)menjadi anak angkatnya Bu Sudjana.Jadi,semacam barter begitu.Jadi,sebenarnya ternyata Ita bukan adik kandung saya!

SEWAKTU seluruh keluarga tidur, di pavilyun saya dan Ita sa;ling berpeluk.Air mata Ita menetes deras.Air mata suka,sedih,haru,kecewa,semuanya menjadi satu.

“Jadi,kita bukan kakak beradik sekandung…”,kata saya.

“Kalau begitu,kita boleh menikah ,bukan?”,ucap Ita.

“Benar.”,singkat jawab saya.

“Tapi,Mas…Kita sudah terlanjur melakukan aborsi.Dan saya tak mungkin memiliki keturunan lagiApakah Mas Yanto nanti tak menyesal jika tak punya anak?”,Ita bertanya penuh rasa kekhawatiran.

“Serahkan saja semuanya kepada Tuhan.Masalaha kita nanti punya keturunan atau tidak itu tidak masalah bagi saya.Hanya Tuhan yang Maha Tahu”,saya mencoba meyakinkan Ita.

Benar.Dua tahun sesudah kami menikah,saya dan Ita dikaruniai seorang putera sehat dan lucu.

CERPEN: Rita Perawan Bandung Selatan

Gambar

YOGYAKARTA,1980:Pada tahun ini saya masih kuliah di Fakultas Filsafat UGM.Seperti biasa,tiap akhir bulan saya pulang ke Jakarta.Sayang,malam itu kereta jurusan Yogya-Jakarta tiketnya sudah habis.Terpaksa saya mengambil keputusan mengambil jalan berputar yaitu Yogya-Bandung-Jakarta.Sesudah saya mendapatkan tiket jurusan Bandung,segera saya naik ke gerbong.Kereta Mutiara Selatan malam itu meluncur mulus meninggalkan Kota Gudeg.

“Mau ke Bandung ?”,saya bertanya ke gadis yang duduk di sebelahku.Dia menoleh.Wah,cantik juga gadis ini,pikirku.Gadis itu cuma mengangguk sambil tersenyum kecil.Rambutnya hitam dipotong pendek.Saat itu dia mengenakan baju berwarna biru dan celana jean.

“Di Bandung kuliah atau kerja ?”,saya tanya lagi.Mumpung ada kesempatan bagus.

“Di Sastra Inggeris,IKIP Bandung.Nggak tahu deh,Mas…Rita dulu inginnya masuk Fakultas Psikologi,tapi Papa sih…tidak mengijinkan.Apa boleh buat.Sebenarnya kalau soal bahasa sih,lebih suka bahasa Perancis daripada bahasa Inggeris”,katanya sambil tersenyum manis.

“Savez-vous parler francais?”,tanyaku dalam bahasa Perancis.Asal ngomong.Siapa tahu Rita mengerti.Sempat kulihat bulu matanya yang lentik indah.

“Je ne la sais pas encore.Mon pere connait le francais perfaitement”,jawabnya merendahkan diri.Apakah bahasa Perancisnya sempurna atau tidak,saya juga tidak tahu.Tapi maksudnya saya mengerti.

“Kalau bahasa Inggeris,saya dulu juga pernah belajar bahasa  Inggeris di Akademi Bahasa Inggeris “Jakarta”.Kalau bahasa Perancis,sih cuma belajar asal-asalan.

Malam semakin larut.Segelas kopi hangat saya minum sedikit demi sedikit sekedar mengurangi udara AC kereta yang cukup dingin.Penumpang lain sudah mulai tidur,sedangkan saya dan Rita masih terlibat pembicaraan.Tampaknya ada kecocokan.

“Ngomong-ngomong,Rita belum tahu nama Mas…”,Rita menyalami saya.

“Saya Harry”,singkat jawaban yang saya berikan.

“Kuliah di mana ,Mas?,”Rita ingin tahu.Kereta terus melaju.Kereta itu memang menyenagkan.Semua penumpang menghadap ke depan dan tidak ada yang duduk berhadap-hadapan.Satu set kursi hanya untuk dua orang.

“Di Yogya saya ambil Fakultas Filsafat UGM,sedangkan di Jakarta ambil Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti”,saya mereguk lagi kopi hangat.

“Wah,kuliahnya bagaimana itu,Mas?”

“Wah,saya ini tergolong gila ilmu.Minggu pertama saya kuliah di ABA,Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum.Artinya,pagi di Fakultas Sastra UI,siang di ABA (Akademi Bahasa Asing “Jakarta”,malam di Fakultas Hukum UI (ekstension).Minggu kedua saya kuliah di Fakultas Ekonomi,Jurusan Manajemen,Universitas Trisakti.Sedangkan minggu ketiga dan keempat saya kuliah di Fakultas Filsafat UGM.Sedangkan tiap Sabtu dan Minggu saya belajar matakuliah Fakultas MIPA di Universitas Terbuka”,jawaban yang saya berikan panjang lebar.

“Idih…buang-buang uang saja,Mas.Buat apa menuntut ilmu sebanyak itu.Toh nanti di lapangan kerja tidak semuanya terpakai”,ucap Rita setengah menasehati.

“Ha..ha..ha…! Saya kuliah banyak bukan karena gila gelar atau gila ilmu,tapi semata-mata memanfaatkan kesempatan selagi punya uang banyak.Saya itu kuliah banyak sekalian mengadakan penelitian untuk mencari jawab kenapa kualitas pendidikan di Indonesia ini rendah.Bahkan menurut hasil suervei,kualitas pendidikan perguruan tinggi di negara kita ini menduduki peringkat ke-45 di antara negara-negara Asia.Nah,memprihatinkan bukan?”,saya menjelaskan.

Tanpa terasa,malam semakin larut.Namun kami masih asyik ngobrol ngalor ngidul.Entah kenapa,tanpa malu-malu Rita merebahkan kepalanya di pahaku.

“Sambil tidur-tiduran ya,Mas? Nggak apa-apa,kan”,ucap Rita sambil memandang.Mata Rita memang benar-benar indah.Tampak Rita santai sambil menghilangkan cutex di kukunya dengan menggunakan remover merek Barclay.Rita,nama lengkapnya Rita Primadhanie memang sangat menarik sekali.Tanpa saya sadari,rambut Rita yang terurai itu kubelai.Tampaknya Rita diam saja.

“Ngomong-ngomong,di Bandung Rita tinggal di mana?”,saya ingin tahu.

“Di Jl.Karasak Baru,Mohammad Toha,Bandung Selatan…”,Rita mengambil selembar kartu nama.Kamipun bertukar kartu nama.

“Tapi kalau bertemu sebaiknya di kampus saja,Mas”,pintanya.

“Lho,memangnya kenapa?”,mendadak saya ingin tahu.

Rita pun bercerita panjang lebar.Ternyata gadis ini merasa tertekan karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya.Dia sengaja ke Yogya sekadar menghilangkan kekesalannya di samping berkunjung ke sahabat wanitanya.

“Alamat kampus saya di English Student Association,Faculty of Letters and Fine Arts,IKIP,Jl.Dr.Setiabudi No.229,Telepon 81743,Bandung.Tapi kalau mau bertemu saya,sebaiknya telepon ke rumah dulu.Nomor telepon rumah saya……..”,Rita pun menunjukkan nomor teleponnya yang tertulis di kartu nama.

Kereta terus meluncur,meluncur,meluncur….tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 24:00.Semua penumpang telah tertidur pulas.Namun Rita justru bangkit dari posisinya dan duduk biasa di sampingku.Mungkin karena dinginnya AC Rita merapatkan tubuhnya ke tubuhku.Tanpa saya sadari tangan saya memeluk Rita namun didiamkan saja.

Sebagai laki-laki normal dan muda usia saya tidak akan menyianyiakan malam yang indah itu.Semula saya hanya membelai-belai rambut Rita.Namun pada tahap berikutnya jari jemarinya saya pegang dan saya remas-remas.Tampaknya Rita juga membalas.

Kami sama-sama muda usia tentu saling membutuhkan.Memang,detik demi detik kami semakin akrab.Rita yang baru saya kenal beberapa jam seakan-akan sudah saya kenal puluhan tahun.Rasa canggungpun sedikit demi sedikit sirna.Pelan tapi pasti…kucium pipi Rita.Ah…gadis itu cuma tersenyum kecil.Kami berdua saling berpandangan penuh arti.Ah…bibirnya yang mungil indah itu membuat saya gemas.Lantas…secara pelan-pelan saya mencium bibirnya.Rita diam saja.Kucium lagi.Rita diam juga.Akhirnya bibirnya kulumat habis-habisan dan ternyata Rita juga membalasnya dengan penuh semangat.Kami saling memeluk dan saling cium.Lumayan,bisa mengurangi rasa dinginnya AC kereta.

Kami saling pandang.Indah sekali malam itu.Tanpa terasa,kami berdua mulai menanamkan benih-benih cinta.Akhirnya,kami berdua tertidur pulas dalam posisi saling berpelukan.

Pagi harinya pun kami tiba di Bandung.Dengan berat hati kami harus berpisah di stasiun Bandung.Saya tak sempat mengantarkan sebab harus segera pindah ke kereta jurusan Jakarta.

Sejak itulah kami saling berkunjung.Saya berkunjung ke Bandung,Rita berkunjung ke Yogya.Kalau saya sedang kuliah di Jakarta,dia ke Jakarta.Bandung memang kota kenangan.Saya menyebutnya dengan istilah “c’est bien bon! Yang artinya cantik sekali.Tanpa terasa hubungan kami sedah berjalan selama dua tahun.

Suatu ketika ketika saya baru sampai di tempat kost di Jl.Lobaningratan,Yogya,salah seorang teman satu kost mengatakan ada surat untuk saya di kamar.Segera saya masuk ke kamar.Ternyata sebuah undangan dan di dalamnya ada secarik kertas.

Sungguh saya kecewa,ternyata undangan pernikahan Rita dengan pria yang dijodohkan.Katanya dalam surat “Saya minta maaf,Mas.Saya tidak berdaya menolak keinginan kedua orang tua.Mungkin kita belum jodoh.Semoga Mas Harry mendapatkan gadis yang melebihi Rita.Betapapun juga,Mas Harry adalah cinta pertama Rita…”

Saya hanya bisa terpaku diam.Tidak tahu apa yang harus saya perbuat.Diam-diam kupandangi foto Rita di atas meja.Pelan tapi pasti,foto itu saya lepas dari piguranya.Foto Rita,undangan dan surat terakhir Rita saya masukkan ke koper…”

Sekarang tahun 2003.Berarti peristiwa itu sudah berlangsung 23 tahun yang lalu,namun foto Rita,undangan pernikahan dan surat terakhir Rita masih saya simpan dengan rapi.Rita Primadhanie….perawan Bandung Selatan yang sempat datang dan pergi dari hati.Hidup ini memang seperti mimpi…

 

—ooOoo—