CERPEN: Rita Perawan Bandung Selatan

Gambar

YOGYAKARTA,1980:Pada tahun ini saya masih kuliah di Fakultas Filsafat UGM.Seperti biasa,tiap akhir bulan saya pulang ke Jakarta.Sayang,malam itu kereta jurusan Yogya-Jakarta tiketnya sudah habis.Terpaksa saya mengambil keputusan mengambil jalan berputar yaitu Yogya-Bandung-Jakarta.Sesudah saya mendapatkan tiket jurusan Bandung,segera saya naik ke gerbong.Kereta Mutiara Selatan malam itu meluncur mulus meninggalkan Kota Gudeg.

“Mau ke Bandung ?”,saya bertanya ke gadis yang duduk di sebelahku.Dia menoleh.Wah,cantik juga gadis ini,pikirku.Gadis itu cuma mengangguk sambil tersenyum kecil.Rambutnya hitam dipotong pendek.Saat itu dia mengenakan baju berwarna biru dan celana jean.

“Di Bandung kuliah atau kerja ?”,saya tanya lagi.Mumpung ada kesempatan bagus.

“Di Sastra Inggeris,IKIP Bandung.Nggak tahu deh,Mas…Rita dulu inginnya masuk Fakultas Psikologi,tapi Papa sih…tidak mengijinkan.Apa boleh buat.Sebenarnya kalau soal bahasa sih,lebih suka bahasa Perancis daripada bahasa Inggeris”,katanya sambil tersenyum manis.

“Savez-vous parler francais?”,tanyaku dalam bahasa Perancis.Asal ngomong.Siapa tahu Rita mengerti.Sempat kulihat bulu matanya yang lentik indah.

“Je ne la sais pas encore.Mon pere connait le francais perfaitement”,jawabnya merendahkan diri.Apakah bahasa Perancisnya sempurna atau tidak,saya juga tidak tahu.Tapi maksudnya saya mengerti.

“Kalau bahasa Inggeris,saya dulu juga pernah belajar bahasa  Inggeris di Akademi Bahasa Inggeris “Jakarta”.Kalau bahasa Perancis,sih cuma belajar asal-asalan.

Malam semakin larut.Segelas kopi hangat saya minum sedikit demi sedikit sekedar mengurangi udara AC kereta yang cukup dingin.Penumpang lain sudah mulai tidur,sedangkan saya dan Rita masih terlibat pembicaraan.Tampaknya ada kecocokan.

“Ngomong-ngomong,Rita belum tahu nama Mas…”,Rita menyalami saya.

“Saya Harry”,singkat jawaban yang saya berikan.

“Kuliah di mana ,Mas?,”Rita ingin tahu.Kereta terus melaju.Kereta itu memang menyenagkan.Semua penumpang menghadap ke depan dan tidak ada yang duduk berhadap-hadapan.Satu set kursi hanya untuk dua orang.

“Di Yogya saya ambil Fakultas Filsafat UGM,sedangkan di Jakarta ambil Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti”,saya mereguk lagi kopi hangat.

“Wah,kuliahnya bagaimana itu,Mas?”

“Wah,saya ini tergolong gila ilmu.Minggu pertama saya kuliah di ABA,Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum.Artinya,pagi di Fakultas Sastra UI,siang di ABA (Akademi Bahasa Asing “Jakarta”,malam di Fakultas Hukum UI (ekstension).Minggu kedua saya kuliah di Fakultas Ekonomi,Jurusan Manajemen,Universitas Trisakti.Sedangkan minggu ketiga dan keempat saya kuliah di Fakultas Filsafat UGM.Sedangkan tiap Sabtu dan Minggu saya belajar matakuliah Fakultas MIPA di Universitas Terbuka”,jawaban yang saya berikan panjang lebar.

“Idih…buang-buang uang saja,Mas.Buat apa menuntut ilmu sebanyak itu.Toh nanti di lapangan kerja tidak semuanya terpakai”,ucap Rita setengah menasehati.

“Ha..ha..ha…! Saya kuliah banyak bukan karena gila gelar atau gila ilmu,tapi semata-mata memanfaatkan kesempatan selagi punya uang banyak.Saya itu kuliah banyak sekalian mengadakan penelitian untuk mencari jawab kenapa kualitas pendidikan di Indonesia ini rendah.Bahkan menurut hasil suervei,kualitas pendidikan perguruan tinggi di negara kita ini menduduki peringkat ke-45 di antara negara-negara Asia.Nah,memprihatinkan bukan?”,saya menjelaskan.

Tanpa terasa,malam semakin larut.Namun kami masih asyik ngobrol ngalor ngidul.Entah kenapa,tanpa malu-malu Rita merebahkan kepalanya di pahaku.

“Sambil tidur-tiduran ya,Mas? Nggak apa-apa,kan”,ucap Rita sambil memandang.Mata Rita memang benar-benar indah.Tampak Rita santai sambil menghilangkan cutex di kukunya dengan menggunakan remover merek Barclay.Rita,nama lengkapnya Rita Primadhanie memang sangat menarik sekali.Tanpa saya sadari,rambut Rita yang terurai itu kubelai.Tampaknya Rita diam saja.

“Ngomong-ngomong,di Bandung Rita tinggal di mana?”,saya ingin tahu.

“Di Jl.Karasak Baru,Mohammad Toha,Bandung Selatan…”,Rita mengambil selembar kartu nama.Kamipun bertukar kartu nama.

“Tapi kalau bertemu sebaiknya di kampus saja,Mas”,pintanya.

“Lho,memangnya kenapa?”,mendadak saya ingin tahu.

Rita pun bercerita panjang lebar.Ternyata gadis ini merasa tertekan karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya.Dia sengaja ke Yogya sekadar menghilangkan kekesalannya di samping berkunjung ke sahabat wanitanya.

“Alamat kampus saya di English Student Association,Faculty of Letters and Fine Arts,IKIP,Jl.Dr.Setiabudi No.229,Telepon 81743,Bandung.Tapi kalau mau bertemu saya,sebaiknya telepon ke rumah dulu.Nomor telepon rumah saya……..”,Rita pun menunjukkan nomor teleponnya yang tertulis di kartu nama.

Kereta terus meluncur,meluncur,meluncur….tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 24:00.Semua penumpang telah tertidur pulas.Namun Rita justru bangkit dari posisinya dan duduk biasa di sampingku.Mungkin karena dinginnya AC Rita merapatkan tubuhnya ke tubuhku.Tanpa saya sadari tangan saya memeluk Rita namun didiamkan saja.

Sebagai laki-laki normal dan muda usia saya tidak akan menyianyiakan malam yang indah itu.Semula saya hanya membelai-belai rambut Rita.Namun pada tahap berikutnya jari jemarinya saya pegang dan saya remas-remas.Tampaknya Rita juga membalas.

Kami sama-sama muda usia tentu saling membutuhkan.Memang,detik demi detik kami semakin akrab.Rita yang baru saya kenal beberapa jam seakan-akan sudah saya kenal puluhan tahun.Rasa canggungpun sedikit demi sedikit sirna.Pelan tapi pasti…kucium pipi Rita.Ah…gadis itu cuma tersenyum kecil.Kami berdua saling berpandangan penuh arti.Ah…bibirnya yang mungil indah itu membuat saya gemas.Lantas…secara pelan-pelan saya mencium bibirnya.Rita diam saja.Kucium lagi.Rita diam juga.Akhirnya bibirnya kulumat habis-habisan dan ternyata Rita juga membalasnya dengan penuh semangat.Kami saling memeluk dan saling cium.Lumayan,bisa mengurangi rasa dinginnya AC kereta.

Kami saling pandang.Indah sekali malam itu.Tanpa terasa,kami berdua mulai menanamkan benih-benih cinta.Akhirnya,kami berdua tertidur pulas dalam posisi saling berpelukan.

Pagi harinya pun kami tiba di Bandung.Dengan berat hati kami harus berpisah di stasiun Bandung.Saya tak sempat mengantarkan sebab harus segera pindah ke kereta jurusan Jakarta.

Sejak itulah kami saling berkunjung.Saya berkunjung ke Bandung,Rita berkunjung ke Yogya.Kalau saya sedang kuliah di Jakarta,dia ke Jakarta.Bandung memang kota kenangan.Saya menyebutnya dengan istilah “c’est bien bon! Yang artinya cantik sekali.Tanpa terasa hubungan kami sedah berjalan selama dua tahun.

Suatu ketika ketika saya baru sampai di tempat kost di Jl.Lobaningratan,Yogya,salah seorang teman satu kost mengatakan ada surat untuk saya di kamar.Segera saya masuk ke kamar.Ternyata sebuah undangan dan di dalamnya ada secarik kertas.

Sungguh saya kecewa,ternyata undangan pernikahan Rita dengan pria yang dijodohkan.Katanya dalam surat “Saya minta maaf,Mas.Saya tidak berdaya menolak keinginan kedua orang tua.Mungkin kita belum jodoh.Semoga Mas Harry mendapatkan gadis yang melebihi Rita.Betapapun juga,Mas Harry adalah cinta pertama Rita…”

Saya hanya bisa terpaku diam.Tidak tahu apa yang harus saya perbuat.Diam-diam kupandangi foto Rita di atas meja.Pelan tapi pasti,foto itu saya lepas dari piguranya.Foto Rita,undangan dan surat terakhir Rita saya masukkan ke koper…”

Sekarang tahun 2003.Berarti peristiwa itu sudah berlangsung 23 tahun yang lalu,namun foto Rita,undangan pernikahan dan surat terakhir Rita masih saya simpan dengan rapi.Rita Primadhanie….perawan Bandung Selatan yang sempat datang dan pergi dari hati.Hidup ini memang seperti mimpi…

 

—ooOoo—

 

 

 

 

 

 

 

 

%d blogger menyukai ini: