CERPEN: Darin-ku Montok Darin-ku Semok

FACEBOOK-CerpenDarinkuMontokDarinkuSemok

JAKARTA 1980. Saat itu saya telah menyelesaikan semester terakhir di sebuah akademi komputer di Jakarta dan sedang menyusun skripsi dalam rangka ujian akhir atau ujian komprehensif. Kebetulan saya, Rudy Rayadi, Armi Helena dan Inggah Silanawati, teman-teman seangkatan dipercaya oleh pihak yayasan atau pihak akademi  untuk menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru.

Saat itu hari ke sepuluh bertugas sebagai panitia. Tersedia empat meja di teras kampus bagian depan. Targetnya hanya menerima 120 mahasiswa atau untuk tiga kelas saja. Tiap hari selalu ada calon mahasiswa yang datang, sebagian baru meminta informasi dan meminta brosur, namun sebagian lagi ada yang langsung mendaftar. Saat itu saya sedang sibuk merapikan formulir-formulir pedaftaran yang telah masuk beberapa hari sebelumnya.

“Maaf, Mas. Di sini tempat pendaftaran mahasiswa baru?” tiba-tiba saya dikejutkan sapaan dari arah depan saya. Saya lihat, ada cewek di depan saya. Agak gagap sedikit saya persilahkan cewek itu duduk. Sekilas saya lihat cewek itu cantik sekali. Sebagai cowok yang normal, tentu saya mengagumi cewek di depan saya itu. Namun, saya tetap harus melayani semua pertanyaan cewek itu tentang akademi kmputer tempat saya kuliah.

“Kalau serius, silahkan mengisi formulir pendaftaran,” saya menawarkan formulir sekaligus mempromosikan bahwa semua lulusan akademi komputer tempat saya kuliah, tidak ada yang menjadi pengangguran. Ternyata, cewek itu serius ingin mendaftar. Diapun mulai mengisi formulir pendaftaran sambil sesekali bertanya.

Nah, saat cewek itu mengisi formulir pendaftaran, sayapun memperhatikannya dengan cermat. Rambutnya pendek, bulu matanya lentik, bibirnya mungil, tubuhnya putih, langsing, dan…aduhai, payudaranya cukup montok dan tubuhnya cukup semok. Sebagai cowok normalpun saya merasa benar-benar kagum melihatnya. Tak lama kemudian cewek itu selesai mengisi formulir dan melampirkan semua persyaratan termasuk fotokopi surat kelulusan SMA, KTP, fotokopi lainnya dan tiga buah pasfoto berwarna ukuran 3 cm X 4 cm. Kemudian menyerahkannya ke saya.

“Lengkap. Jangan lupa, Senin depan mengikuti tes atau seleksi masuk…,” ucap saya ke cewek itu. Cewek itu mengangguk, berdiri, kemudian menyalami saya.

“Insya Allah, saya Senin akan datang,” katanya. Telapak tangannya yang saya pegang terasa halus sekali. Bergetar hati saya melihat cewek secantik itu. Sekilas mirip artis Nia Daniati. Diapun kemudian meninggalkan tempat pendaftaran. Saya hanya bisa memandanginya dengan rasa kagum. Rudy, Armi dan Inggah-pun ramai-ramai menggoda saya dan mengatakan cewek itu cocok jadi pacar saya. Saya cuma tersenyum kecut.

Sayapun melihat formulir pendaftaran cewek itu. Ternyata dia bernama Darin Syahwati berasal dari Kota Cirebon. Alamatnyapun saya catat. Kemudian, saya disibukkan oleh calon-calon mahasiswa lainnya yang sudah antri untuk saya layani.

Senin berikutnya, tes atau seleksi masukpun diadakan. Memerlukan enam kelas. Panitia pengawasnyapun cukup banyak. Sayapun mencari Darin. dari kelas ke kelas lainnya saya masuki. Saya perhatikan satu persatu wajah cewek-cewek peserta tes. Namun kenyataannya, Darin tidak ada. Benar-benar tidak ada. Bahkan sampai tes selesaipun Darin tidak ada. Tentu, saya kecewa berat.

Akhirnya, tepat Minggu pagi, sayapun menuju ke Cirebon naik bus. Lima jam kemudian tiba di terminal Cirebon. Langsung naik becak menuju alamat rumah Darin. Ternyata, sebuah rumah bertingkat yang cukup mewah. Sesudah membayar becak, sayapun mengetuk pintu rumah itu. Muncul seorang tante. Sayapun memperkenalkan diri dan menanyakan Darin. Katanya, Darin sedang ke salah satu kampus di Cirebon.

“Tunggu sebentar, deh. Katanya sebentar,kok. Cuma mengantarkan formulir pendaftaran ke kampus…” ujar tante itu sambil mempersilahkan saya duduk di teras rumah yang cukup luas dan sejuk. Sayapun menunggu Darin sambil mengagumi taman depan rumah yang dipenuhi bunga aneka warna. Sebuah kolam ikan kecil, air mancur dan beberapa pohon cemara kecil. Sebuah taman yang bagus.

Sekitar lima belas menit kemudian, masuklah sebuah mobil Honda putih. Kemudian berhenti di depan garasi. Pengemudinyapun turun dan menuju ke tempat saya. Sayapun berdiri. Darin agak terkejut melihat saya.

“Oh, dari kampus akademi komputer, ya?” sapanya sambil menyalami saya. Diapun kemudian duduk di depan saya. Sayapun langsung menanyakan ke Darin, kenapa kok tidak mengikuti tes seleksi. Darin menjawab bahwa dia akhirnya memutuskan kuliah di Cirebon saja supaya dekat dengan mamanya. Maklum, dia anak tunggal dan papanya sudah lama meninggal. Saya mengangguk-angguk memakluminya. Lagi-lagi, saya sebagai cowok yang normal, tertarik dengan payudara Darin yang montok dan tubuhnya yang semok. Apalagi, Darin mengenakan rok mini yang cukup seksi.

Darinpun bercerita bahwa sebenarnya tiap Sabtu dan Minggu selalu pergi ke Jakarta, menginap di rumah tantenya di Cijantung. Darinpun menyebutkan sebuah alamat dan tentu saya mencatatnya atas seijin Darin. Rupa-rupanya saya tidak bertepuk sebelah tangan. Sebab, Darin mempersilahkan saya bertemu dengannya di rumah tantenya yang ada di Cijantung. Tentu, sebagai cowok yang belum punya pacar, sayapun merasa dapat angin segar.

Begitulah, akhirnya tiap Sabtu malam atau Minggu pagi saya bertemu Darin di Cijantung. Bahkan kalau Minggu mengajak Darin jalan-jalan. Kadang naik motor Honda 90 , kadang naik angkot, kadang naik taksi. Tanpa terasa, hubungan saya dengan Darin telah berlangsung satu bulan. Namun, rasa-rasanya saya sudah mengenal Darin puluhan tahun lamanya. Darin enak diajak bicara, selalu nyambung, wawasannya luas, cukup dewasa, suka humor dan tahu apa yang saya suka.

Hari Senin, saya ke kampus untuk konsultasi dengan dosen pembimbing skripsi, yaitu Pak Firdaus Jamaluddin. Sayang, menurut bagian tata usaha, beiau hari itu tidak bisa datang karena mengantarkan ibunya ke rumah sakit.

“Kok, cepat?” tiba-tiba ada yang menyapa saya. Ternyata Tata Suhata yang juga sedang menunggu dosen pembimbingnya. Siang itu ada sekitar 10 teman-teman seangkatan saya sedang berkumpul. Sayapun duduk di samping Tata.

Ngobrol punya ngobrol, Tatapun tanya tentang Darin. Tentu, saya cerita apa adanya. Mulai kunjungan saya ke rumah Darin di Cirebon hingga kunjungan saya ke rumah tantenya Darin di Cijantung. Juga cerita tentang acara saya dengan Darin. Bahkan sayapun menunjukkan foto-foto saya bersama Darin.

“H e he he…,” Tata tertawa .

“Kok, tertawa?” tanya saya terheran-heran. Semula Tata cuma tertawa saja. Tidak mau membalas pertanyaan saya. Namun sesudah saya desak, akhirnya Tata yang juga berasal dari Cirebonpun mau bercerita. Sebuah cerita yang sangat mengejutkan.

Kata Tata, nama Darin Syahwati di Cirebon sudah cukup terkenal. Pernah terpilih sebagai Ratu Pariwisata Cirebon saat masih duduk di SMA. Pacarnya anak seorang pejabat di kota itu. Namun…kemudian dihamili hingga melahirkan anak. Dan anak pejabat itu tidak mau menikahi  Darin. Anak haramnya dititipkan di sebuah yayasan penampung bayi-bayi terlantar. Dan kata Tata, Darinpun menjadi cewek “begituan” dengan bayaran yang sangat tinggi.

Sayapun tertegun mendengar cerita Tata. Karena Tata adalah sahabat saya yang jujur, maka sayapun percaya. Hampir saya tidak mampu berkata-kata. Maksud hati saya membanggakan Darin di depan Tata, tetapi yang saya dapatkan justru sebaliknya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Darin yang montok dan semok itu.

%d blogger menyukai ini: