CERPEN

TIPS: Mari Membuat Cerpen di Era Kontemporer

SALAH satu almamater saya yaitu Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sastra tentu saja ada hubungannya dengan tulisan: cerpen, novel, bahasa dan tentu saja berhubungan juga dengan budaya termasuk filosofi sebuah kehidupan. Persoalannya adalah sebuah cerpen atau novel itu sekadar sebuah arus cerita tanpa membawa pesan apa-apa?

Beberapa cerpen dan bahkan novel dari penulis ternama yang pernah saya baca, ternyata hanya menyampaikan sebuah cerita saja. Tanpa ada pesan, tanpa ada penalaran tanpa menampilkan nuansa baru, tanpa ada pencerahan dan seringkali tidak mengajak pembaca untuk bernalar.

Namun, ada baiknya saya memberikan beberapa tips untuk membuat sebuah cerpen:

1.Inspirasi.

Inpirasi bisa dari mana saja. Bisa dari pengalaman pribadi atau orang lain. Bisa dari lamunan, khayalan bahkan dari mimpi sekalipun. Persoalannya adalah inspirasi itu menarik atau tidak untuk dijadikan sebuah cerpen?

2.Membuat kerangka cerita

Kalau inspirasi itu dirasa menarik, maka perlu pengembangan cerita. Cukup dibayangkan bagaimana awal cerita dan akhir cerita.

3.Karakterisasi

Lantas tentukan siapa para pelakunya dan masing-masing punya karakter. Mungkin tidak perlu dikatakan Si A pemarah, Si B pencemburu dan seterusnya. Karakter harus tercermin dari “dialog” dan “action” yang dilakukan.

Misalnya:”Karena emosi, maka Yenara yang cantik itu saya tampar pipi kiri dan kanannya berkali-kali”.

Pembaca tentu menarik kesimpulan, saya punya karakter emosional dan kasar.

4.Hindari kalimat rutin.

Memang agak sulit. Tetapi harus diusahakan dihindarkan.

Misalnya:”Hei, mau kemana kau,Anita” tanya Rusli

“Aku mau ke Carrefour” jawab Anita.

Kata “tanya” dan “jawab” sedapat mungkin dihindakan, kecuali terpaksa.

5.Kalimat verbal

Untuk cerpen memang terbatas kalau membuat kalimat verbal. Lebih cocok untuk novel. Meskipun demikian, beberapa kalimat verbal memang perlu.

Misalnya:” Ah, begitu saja kau marah…” Sussy menimpali sambil tertawa.

“ Ya, marah,dong! Saya tersinggung” Ronny menggebrak meja.

Kalimat “sambil tertawa” dan “menggebrak meja” merupakan kalimat verbal yang bisa “menghidupkan” suasana cerpen atau novel.

6. Gaya bahasa

Banyak gaya bahasa, mulai dari litotes, hiperbolisme, sinisme dan lain-lain. Ada juga gaya penulisan.

Misalnya: Di semua cerpen yang saya buat, saya selalu menggunakan kata “saya” untuk memberi kesan cerpen itu benar-benar saya alami.

7.Pesan

Sebuah cerpen ataupun novel idealnya membawakan sebuah atau beberapa buah pesan walaupun itu tidak ditulis secara eksplisit.

Misalnya: Cerpen saya berjudul “Rajin Shalat Kok Takut Hantu”, membawa pesan bahwa manusia (yang rajin shalat) salah besar kalau takut hantu. Jadi, ada pesan bernada kritik dan pencerahan.

8. Ada sesuatu yang baru

Sebuah cerpen atau novel setidaknya harus menampilkan sesuatu yang baru. Paling tidak, belum diketahui orang banyak. Antara lain yang berhubungan dengan dunia ilmu pengetahuan.

Misalnya: Cerpen saya berjudul Rina-Rani-Rini menceritakan sebuah kehidupan keluarga, di mana ketiga anaknya menderita autis. Autis itu apa sih? Nah, dengan membaca cerpen sekaligus menambah pengetahuan.

9. Era kontemporer

Kebanyakan cerpen dan novel bernuansa cinta. Boleh saja. Namun sebaiknya ada ramuan lain, misalnya ada aspek sosiologisnya, aspek politisnya, aspek filosofisnya sehingga tidak melulu soal cinta saja.

10.Mengejar kesempurnaan

Membuat cerpen dan novel yang menarik memang tidak mudah. Selera pembaca tentu berbeda. Sasaran ataupun segmentasi cerpen dan novel tentu harus jelas. Oleh karena itu seorang cerpenis maupun novelis dituntut untuk terus berusha menyempurnakan tulisannya. Caranya, membaca banyak buku ilmu pengetahuan supaya cerpen dan novelnya memiliki roh, memiliki aksen dan bisa memberikan pencerahan kepada semua pembacanya.

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

.——————————————————————————————————-

INFO: Secara bertahap, cerpen-cerpen di bawah ini akan saya pindahkan ke halaman utama. Terima kasih.

Muslimah-Muslimah yang tak Berjilbab

Secercah Cinta di Losmen Banyu Biru

Titi Pramesti Si Ayam Kampus

Ketika Matahari Terbit Dari Barat

Hatinya Seputih Salju Paris

Antara Cinta dan Pemilu Online

Akhirnya Dua Capres Itu Tewas Tertembak

Guru Komputerku Ternyata Sakit Jiwa

Misteri Piano Tua

Cintaku Biru di Universitas Bengkulu

Mahasiswi Berjilbab dan Dosen Berpeci

Hellen Porayouw Bukan Cinta Pertama

Di Antara Pinus-Pinus Kaliurang

Pengamen Juga Berhak Jatuh Cinta

22 Hari di Neraka Gaza

26 Hari Mencari Cinta

Terjebak Cinta di Kota Manna

Pembantuku Mirip Cinta Laura

Siti Kuntilani Hantu Warnet

CERPEN:

Antara Anisa dan Anita

PALEMBANG. Antara Anisa dan Anita tidak ada hubungan saudara. Bukan saudara kembar. Bahkan keduanya tidak saling mengenal. Apalagi, Anisa adalah dulu adalah suku Palembang sedangkan Anita suku Betawi.

Anisa adalah istri saya. Sudah tiga tahun saya menikah dan tinggal di Palembang. Namun, hingga tahun ketiga saya belum dikaruniai anak. Sedangkan Anita adalah mantan teman SMA di Jakarta yang secara kebetulan saya bertemu di Mal JM. Dia sudah berstatus janda tanpa anak karena suaminya meninggal karena sakit. Karena saya membutuhkan sekretaris perusahaan, maka Anita saya angkat sebagai sekretaris di perusahaan saya.

Hubungan saya dengan Anisa biasa-biasa saja. Artinya, tidak ada kemajuan apa-apa. Anisa yang sebenar banyak bicara itu ternyata di tempat tidur dingin-dingin saja. Akibatnya, sebagai seorang suami saya hanya mendapatkan kepuasan biologis saja sedangkan kepuasan psikologis nol.

-“Ma, masak tiga tahun kita begini terus. Posisinya begini terus. Tempatnya di sini terus. Kita kan butuh variasi,Ma”. Suatu saat saya berkata jujur kepada Anisa.

-“Habis, maunya gimana, Pa?”.

-“Ya, sekali-kali ganti posisi,kek. Atau sekali-kali kita lakukan hubungan suami istri di luar kota”. Saya mengusulkan.

-“Ah, Tuhan memang belum memberi kita anak,Pak. Walaupun posisinya ganti-ganti atau kita lakukan di luar kota, kalau Tuhan belum memberi kita anak, ya kita nggak akan punya anak”. Sanggah Anisa.

-“Bukan itu maksud saya. Selama ini saya hanya merasakan kepuasan biologis. Sedangkan kepuasan psikologis saya tidak merasakan”. Agak kesal saya menjawabnya.

-“Maksudnya gimana sih, Pa? Apa sekali-sekali saya harus ada di posisi atas? Saya kan bukan pelacur,Pa?”. Bantah istri saya yang tidak mengerti juga maksud saya.

-“Iya! Semua orang tahu. Tapi komunikasi seks kita buruk sekali,Ma. Seharusnya ada keterbukaan. Kalau Mama puas, katakan puas. Kalau belum, ya katakan belum”. Saya berusaha menjelaskan.

-“Saya kan perempuan,Pa. Masak harus ngomong-ngomong begitu. Yang namanya suami kan harus tahu dan mengerti bahwa istrinya sudah puas atau belum”. Bantah Anisa.

Perdebatan kecil seperti itu sudah sering terjadi. Bahkan sudah berlangsung tiga tahun. Namun tidak ada kemajuan sedikit pun. Lama-lama saya kurang bergairah untuk melakukan hubungan intim. Bahkan kadang-kadang sebulan Cuma satu dua kali saja. Gairah seks saya menurun. Bukan karena impoten, tetapi Anisa kurang mampu berkreasi.

Beda dengan Anita. Dia tampil modern, berpandangan maju, kalau diajak bicara selalu nyambung. Itulah sebabnya tiap kali tugas ke luar kota, Anita selalu saya ajak. Sebagai sekretaris perusahaan diua cocok sekali. Mampu mengatur jadwal rapat, menyusun materi rapat, membuat ringkasan rapat dan bahkan mampu membuat laporan manajemen perusahaan dan sekaligus laporan keuangan sederhana. Maklum, Anita adalah lulusan Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia (ASMI).

Selama enam bulan ini saya sudah bertugas ke Medan, Lampung, Manado, Yogyakarta, dan kota-kota besar lainnya di dalam rangka memperluas jaringan bisnis di dalam negeri. Namun yang agak lama yaitu di Singapura. Saya butuh waktu 15 hari di negeri itu.

Mungkin waktu yang cuykup lama dan tiap hari bertemu Anita di hotel dan jauh dari istri, maka terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Walaupun saya dan Anita tidak satu kamar, namun tetap satu hotel.

Semula saya masuk kamar Anita murni untuk membicarakan masalah perusahaan. Namun karena saat itu Anita sedang mengenakan pakaian minim, maka sebagai laki-laki normal saya pun goyah juga imannya. Apalagi layanan Anisa kurang memuaskan.

Anita tampaknya cukup tanggap. Apalagi sudah lama hidup menjanda. Maka terjadilah perselingkuhan saya yang pertama dengan Anita. Kemudian disusul dengan perselingkuhan-perselingkuhan lainnya di berbagai kota.

Sungguh berbeda hubungan intim saya dengan Anisa dan dengan Anita. Kalau Anisa bersikap pasif, dingin, tidak kreatif dan tidak komunikatif, maka Anita justru sebaliknya. Kalau Anita tidak puas, maka dia bilang tidak puas. Kalau puas, ya bilang puas. Dengan demikian sebagai laki-laki saya bisa berusaha mencari solusi. Terus terang, hanya pada Anita saya memperoleh kepuasan biologis maupun psikologis. Apalagi Anita mau melayani saya dengan berbagai posisi dan gaya sejauh itu dalam kontek yang wajar.

Setajhun kemudian saya terpaksa mengambil keputusan menceraikan Anisa. Maklum sudah tiga tahun lebih tidak punya anak, komunikasi sudah tidak harmonis, apalagi sudah lebih dari setahun saya pisah ranjang.

Setahun kemudian saya menikah dengan Anita dan dikaruniai bayi perempuan, montok, putih, cantik dan lucu. Saya membeli rumah baru di Komplek Perumahan Citra Mandala Persada. Sebuah perumahan mewah. Namun saya membeli rumah yang ukuran biasa-biasa saja. Artinya, cukup mewah tetapi ukuran bangunan hanya 140 dua lantai dan tanah seluas 500 meter persegi. Hari-hari berikutnya saya merasakan kebahagiaan lahir dan batin bersama Anita dan anak perempuan saya yang montok dan lucu.

Hariyanto Imadha

E-mail:indodata@yahoo.com

CERPEN:

Golput adalah Pilihan Anita

PALEMBANG. Kota ini tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Tapi, saya cukup senang tinggal di kota ini. Sudah tiga tahun saya di kota ini karena dapat tugas kerja sebagai konsultan sebuah proyek. Kantor cabang tempat saya bekerja tidak jauh dari Hotel Sriwijaya.

Karena tiap Sabtu libur, maka sering saya gunakan untuk jalan-jalan. Antara lain ke JM, semacam mal-nya kota Palembang. Sekadar beli baju, celana atau cukup cuci mata saja.

Ketika sedang memilih-milih baju, tanpa sengaja saya melihat cewek bekas teman sekolah sewaktu SMA dulu.

-“Hei, Anita,ya?”. Saya tegur dia. Cewek itu menengok dan melihat saya dengan wajah lupa-lupa ingat. Maklum, sudah 15 tahun tidak bertemu.

-“Siapa,ya?”. Dia malahan bertanya. Akhirnya saya jelaskan kalau dulu saya dan Anita pernah satu kelas di SMA. Akhirnya dia ingat bahkan langsung cerita tentang kenang-kenangan semasa sekolah.

Sesudah saya dan Anita membeli baju, kami berdua menuju restoran khusus ice cream yang tidak jauh lokasinya dari JM. Kami berduapun akhirnya ngobrol ngalor-ngidul. Ceritanya, sudah beberapa tahun Anita berstatus janda tanpa anak karena suaminya meninggal akibat stroke. Sayapun bercerita kalau saya sudah menikah dengan gadis Palembang tetapi belum dikaruniai seorang anakpun.

Bosan bercerita masa lalu, maka pembicaraanpun berubah ke topik politik. Maklum, sejak di SMA kami berdua suka sekali bicara soal politik.

-“Sebentar lagi ada pemilu,nih. Bagamaina kira-kira prospek capres-capres kita?”. Saya mulai membuka pembicaraan.

-“Ya, yang namanya politik ya begitu. Semua ingin menang dengan berbagai cara. Bahkan kalau perlu menghalalkan segala cara”. Anita menimpali.

-“Kalau pemerintahan sekarang bagaimana? Sekarang kehidupan PNS kan lumayan. Gajinya sudah naik rata-rata Rp 2 juta per bulan”. Saya mencoba memancing pendapat.

-“ Ha ha ha…Kalau saya melihat politik sih tidak dari sudut angkanya saja. Tetapi kita harus tahu bagaimana cara mencapai angka itu, apakah angka itu bias atau tidak. Angka itu dimanipulasi atau tidak. Memang sih, gaji PNS rata-rata Rp 2 juta perbulan. Tapi itu kan sebagai konsekuensi naiknya harga BBM hingga 333,33 persen. Coba, kalau BBM dinaikkan lagi sebesar 500 persen, tentu saja gaji PNS bisa naik lagi sekitar Rp 4 juta per bulan. Itu kan trik-trik politik saja”. Begitu analisa Anita. Sebuah analisa yang bagus.

-“Kabarnya, menjelang pemilu nanti pemerintah akan menciptakan tiga juta lapangan kerja”. Saya buka dengan masalah lain.

-“Ya, lagi-lagi soal angka. Tiga juta lowongan itu kerja apa? Kalau kerja srabutan ya mudah. Tapi coba, mampukah pemerintah menciptakan lapangan kerja formal bagi satu juta sarjana yang sekarang menganggur? Tentu tidak bisa.” Anita berargumentasi dengan cukup rasional.

-“Tapi anggaran pendidikan sufdah bagus,kok. Sudah 20 persen sesuai amanat UUD 1945”. Saya memulai masalah lain lagi.

-“ Ya iyalah. Tapi itu dengan resiko APBN membengkak dan defisit bertambah. Defisit itu akan ditutup dengan cara utang. Utang itu yang membayar rakyat. Jangankan 20 persen. Kalau 40 persen atau 60 persen juga bisa kok. Nanti kekurangannya utang ke World Bank atau ke Jepang atau bikin utang bilateral lainnya. Rakyat kok nanti yang membayar”.

-“Ya, itulah politik. Trik-trik politik. Kebetulan 60 persen pemilih di Indonesia tergolong tidak rasional. Tergolong bodoh. Mereka memilih presiden atas pertimbangan yang tidak rasional. Misalnya, karena capresnya bekas anak presiden, karena capresnya lulusan S-3, karena capresnya dari partai Islam, karena capresnya orang Makassar, dan alasan-alasan bodoh lainnya.”

-“Iya,ya. Lantas bagaimana seharusnya?”. Ganti Anita yang ingin tahu.

-“ Ya, seharusnya kita tahu dulu apa visi, misi dan rencana kerjanya nanti kalau terpilih. Bagaimana cara merealisasikannya. Juga, realistis atau tidak. Di samping itu para capres harus mengikuti tes intelligence quoitient (IQ), emotional quotient (EQ) dan leadership quotient (LQ) dulu supaya kita benar-benar memilih capres yang benar-benar berkualitas”.

-“Kalau menurut saya sih, capres-capres yang ada sekarang ini tidak ada yang berkualitas”. Komentar Anita.

-“Kalau begitu, pemilu mendatang bagaimana?”. Saya ingin tahu.

-“Tetap datang ke TPS. Tapi, tidak ada yang saya pilih. Apalagi untuk calegnya. Tidak ada satupun caleg yang saya kenal. Memilih caleg kalau asal-asalan kan seperti memilih kucing dalam karung”.

-“Jadi, pilih golput?”

-“Ya, iya lah”. Anita menjawab dengan tegas.

-“Wah, kalau begitu, sama dong”. Saya menimpali dengan tertawa.

Seusai minum-minum ice cream, kami berduapun meneruskan perjalanan masing-masing. Pulang ke rumah.

Pikir saya:

-“Iya ya, daripada asal pilih atau salah pilih, lebih baik golput”.

Hariyanto Imadha

E-mail:indodata@yahoo.com

CERPEN:

Lala Cewek Tomboy

BOGOR. Siapa sih masyarakat Bogor yang tidak kenal Lala Tomboy? Dia berkali-kali menjuarai lomba Taekwondo di kotanya. Saat itu dia kuliah di fakultas ekonomi, semester kedua di salah satu perguruan tinggi di Bogor. Tinggal di Jl. Cikuray.

Memang sih, tingkah laku Lala seperti cowok. Namun, wajahnya tetap feminim. Dia berpenampilan, ceria, ramah, mau bergaul dengan siapa saja baik kaya maupun miskin. Juga, suka menolong orang lain. Tidak heran kalau temannya cukup banyak.

Saya mengenalnya secara kebetulan. Ketika saya ke om saya di Jl. Cikuray, kebetulan bertetangga dengan Lala. Karena om saya dapat undangan ulang tahun Lala, sayapun diajak dan dikenalkan dengan Lala yang punya nama lengkap Laila Wulandari.

Saat itu saya juga duduk di semester kedua di Fakultas Psikologi, UNPAD, Bandung. Tiap malam Minggu saya selalu ke rumah Lala. Jangan heran, banyak teman-temannya di rumahnya baik cowok maupun cewek. Ada yang main gitar dan bernyanyi, main catur, ngobrol atau becanda. Yang pasti, Lala belum punya pacar.

-“Kamu naksir,Lala? Ha ha ha…Memangnya di fakultas psikologi nggak ada yang cantik?”. Begitu teman-teman kuliah saya di UNPAD sering mengritik saya.

-“Memangnya ente sudah tidak normal kok sampai naksir cewek tomboy?”. Itu kata Hendra.

-“Gue kan tahu, Lala itu kan lesbian…”. Olok Rachmad lebih parah lagi.

Lesbian? Apa iya? Memang sih, saya sering melihat Lala selalu berdua dengan teman ceweknya, baik sewaktu kuliah, ke toko, ke apotik atau kemana saja. Belum pernah saya melihat Lala pergi berdua dengan cowok.

Benarkah Lala lesbian? Bagaimana cara membuktikannya? Saya jadi agak ragu-ragu untuk mendekati Lala. Saya juga tidak tahu kenapa kok jatuh cinta dengan cewek yang tomboy begitu.

Pernah sih saya menanyakan ke teman-teman kuliahnya perihal isu lesbian itu, tapi tidak ada satu orangpun yang bisa mengatakan dengan pasti.

-“Kok Lala nggak cari pacar,sih?”. Akhirnya suatu saat saya memberanikan diri bertanya.

-“Pacar? Ha ha ha…! Kuliah aja belum selesai. Nanti kalau sudah diwisuda, baru pikirin pacar”. Begitu jawabannya. Masuk akal juga sih. Tapi bagaimana dengan isu lesbiannya? Sewaktu saya tanyakan ke om saya yang juga tetangga Lala, jawabannya juga tidak tahu.

-“Lebih baik ente cari pacar di UNPAD saja. Tinggal pilih, ada Dewi, Ratna, Ratih, Vanesa, atau yang lainnya. Banyak di sini cewek yang jauh lebih cantik dari Lala”. Ujar Bagio yang kebetulan berasal dari Bogor.

Entahlah, saya tetap bersemangat untuk mendekati Lala. Soal berhasil atau gagal itu urusan nanti. Tanpa terasa, sudah tiga tahun saya melakukan pendekatan. Namun, tidak ada kemajuan sedikitpun. Saya benar-benar hampir putus asa.

Sudah ratusan kali malam Minggu di rumah Lala, namun suasananya tetap seperti dulu. Banyak temannya berkumpul. Tidak pernah ada kesempatan untuk berdua saja dengan Lala.

Tanpa terasa, tahun kelimapun sudah tiba. Saya mulai sibuk menyusun skripsi. Kebetulan, skripsi yang saya susun ada hubungannya dengan Lala. Judul skripsi saya yang dalam bahasa Inggeris yaitu “ Environtment Has More Effects on Individual than Heredity”. Selama bergaul bertahun-tahun dengan Lala, sayapun berusaha mencari jawab atas pertanyaan, “tomboy itu karena faktor keturunan atau karena faktor lingkungan?”.

Ternyata, banyak literatur yang berpendapat berbeda. Ada yang berpendapat bahwa seseorang bisa saja berperilaku seperti cowok karena faktor keturunan. Tentu ini dari sudut pandang psikologi. Namun buku lain mengatakan seseorang bisa saja bersikap tomboy karena faktor lingkungan.

Namun dengan mempelajari sedikit pandangan tomboy dari sudut ilmu kedokteran, maka saya mengkompromikan pendapat bahwa seseorang bisa saja bersikap tomboy karena faktor genetika. Namun, faktor lingkungan lebih mempengaruhi.

Hal tersebut cocok dengan kondisi Lala di mana keempat kakaknya adalah cowok. Di tempat latihan taekwondo juga lebih banyak cowoknya. Namun secara psikologis Lala adalah cewek tulen karena tidak pernah tertarik terhadap ke sesama jenis. Isu bahwa Lala adalah seorang lesbian tidak didukung saksi dan bukti yang kuat.

-“Harry! Kamu dengar kabar nggak, Lala sekarang dirawat di rumah sakit!”. Tiba-tiba Dewi, teman kuliah, mengagetkan saya. Belakangan saya baru tahu kalau Dewi adalah tantenya Lala.

Tanpa ba-bi-bu, saya langsung pulang ke tempat kos saya di Jl. Dagoi, Bandung. Membawa pakaian secukupnya, kemudian dengan mengendarai Honda Civics Wonder warna merah, saya segera meluncur ke Bogor. Langsung ke rumah sakit.

Saya lihat Lala terbaring di tempat tidur dengan kaki kanan dibalut perban. Ternyata kaki kanannya patah akibat terpeleset di tangga kampus. Akhirnya hampir tipa hari saya selalu berkunjung ke rumah sakit. Kadang-kadang saya bawakan buah jeruk atau apel kesukaan Lala. Banyak juga temannya yang menengok.

Meskipun demikian, selama di Bogor saya tetap meneruskan penyusunan skripsi. Bukan hanya untuk saya, Lala yang sedang menyusun skripsipun meminta saya untuk mencarikan buku-buku yang berhubungan dengan skripsinya. Bahkan juga membantu mengetikkan. Semua saya lakukan dengan senang hati. Saya berharap, mudah-mudahan selesai wisuda nanti Lala bersedia menerima cinta saya.

Akhirnya, tibalah saatnya. Saya dan Lala lulus ujian sarjana. Saya sarjana psikologi, Lala sarjana ekonomi. Sewaktu saya diwisuda, Lala dan teman-temannya juga datang. Sewaktu Lala diwisuda, saya dan teman-teman dari Bandungpun datang.

Selesai Lala diwisuda, sayapun segera memberikan ucapan selamat. Kebetulan, Lala didampingi mamanya. Papanya sudah meninggal lima tahun yang lalu.

-“Harry”. Panggil mamanya. Sayapun mendekati mamanya.

-“Harry jangan marah,ya? Sebentar lagi Lala akan menikah”. Kata mamanya. Jantung sayapun berdetak keras. Saya siap menerima kenyataan sepahit apapun. Saya siap kecewa. Saya siap untuk patah hati.

-“Dengan siapa, tante?”. Saya ingin tahu. Mama Lala pun berbisik di telinga saya.

-“Dengan Harry…”

-“Dengan saya, tante?”

Mamanya Lala mengangguk! Sayapun langsung merangkul Lala dengan segala suka cita saya. Saya lihat Lala menangis gembira. Oh, tidak sia-sia perjuangan saya selama lima tahun ini. Tiga bulan kemudian saya menikah dengan Lala yang punya nama lengkap Laila Wulandari itu.

Hariyanto Imadha

E-mail:indodata@yahoo.com

Cerpen ini merupakan cerita fiktif

Maaf kalau ada nama dan peristiwa yang sama

CERPEN:

Putihnya Cinta Hitamnya Cinta

BEKASI. Tepatnya di dekat pintu tol Bekasi Timur. Di situ saya mendirikan Lembaga Pendidikan Komputer (LPK) EXOCOM. Saya mengontrak bekas rumah contoh milik pengembang komplek perumahan Pondoh Hijau Permai. Tepat di sebelah bank BTN.

Strategi yang saya lakukan, saya merekrut sarjana komputer dari perguruan tinggi terkenal. Semuanya cewek dan cantik. Tidak heran kalau dalam hitungan bulan LKP saya sudah mendapat ratusan siswa. Akhirnya, total saya memiliki 24 instruktur yang semuanya cantik.

Jangan heran kalau LKP saya memiliki siswa yang datang dari luar Bekasi, antara lain Jakarta, Bogor, Krawang, dan lain-lain.

Namanya saya juga cowok, masih muda dan masih bujangan, wajar dong kalau saya naksir salah satu instruktur. Namanya Asokawati. Cewek Jawa, rambut pendek model Lady Di, kulit putih dan enak diajak bicara.

Prosesnya tidak sulit. Cukup satu kali saya ajak makan siang di resto Kentucky, langsung nempel seperti perangko. Sudah jodoh, barangkali. Meskipun demikian hubungan di kantor tetap hubungan formal.

-“Soka, tolong buat pengumuman besok Sabtu, pukul 11:00 WIB ada rapat untuk seluruh karyawan di dalam rangka pembentukan cabang LPK”. Saya menugaskan Soka untuk membuat pengumuan.

-“Siap,Pak!”. Di kantor memang memanggil saya Pak, namun di luar kantor tentu memanggil saya Mas.

Begitulah, karena LKP saya maju pesat, maka di dalam rapat diputuskan akan membuka tiga cabang di tiga perumahan. Yaitu di komplek perumahan Jati Mulya, Taman Narogong Indah dan Margahayu Permai. NUntuk itu semua karyawan saya tugaskan untuk survei tempat atau ruko atau rumah yang strategis.

Nah, salah satunya saya mendapatkan di Taman Narogong Indah. Memang sih, lokasinya kurang strategis, namun apa boleh buat karena rumah itu adalah satu-satunya yang dikontrakkan.

Sayapun melakukan negosiasi dengan pemilik rumah. Sesudah disetujui, maka saya berjanji akan melakukan pembayaran besok sorenya.

Cuma esok paginya saya agak terkejut karena tiba-tiba saja Soka menyatakan mengundurkan diri sebagai instruktur.

-“Kok, mengundurkan diri. Memangnya gajinya kurang besar?”. Saya ingin tahu.

-“Bukan. Gaji cukup lumayan. Cuma tiba-tiba saja saya punya rencana untuk meneruskan ke jenjang S-2. Kalau cuma S-1 rasa-rasanya masih kurang. Lagipula bapak dan ibu saya juga sudah menyetujuinya. Tapi, nanti saya masih sering ke LPK sini,kok”. Soka menjelaskan.

-“Ya, apa boleh buat. Saya tidak bisa melarang.” Saya pasrah.

Esok sorenya pun saya segera menghubungi pemilik rumah Taman Narogong Indah untuk melakukan pembayaran kontrak rumah seperti yang sudah saya janjikan.

-“Lho, rumahnya sudah dikontrak,kan?”.Pemilik rumah berkata kepada saya dengan heran. Kemudian katanya lagi.

-“Katanya, rumah itu dikontrak atas suruhan sampeyan”.

Sayapun terkejut dan menggelengkan kepala. Dari pemilik rumah saya tahu kalau yang mengontrak rumah itu ternyata adalah Soka, pacar saya sendiri. Ada apa ini? Kok, tiba-tiba ada sabotase macam begini?

Beberapa hari kemudian saya baru mengerti, ternyata Soka mendirikan LPK sendiri di rumah kontrakan itu. Sebagian instruktur sayapun dibajak untuk menjadi instrukturnya.

Peresmian LPK-nya cukup hebat. Antara lain mengadakan acara hiburan orkes dangdut sesuai dengan selera masyarakat sekitar, lomba fun bike berhadiah kulkas, komputer dan hadiah-hadiah lain yang menarik. Maklum, Soka berasal dari keluarga kaya. O ya, LPK itupun diresmikan oleh Wakil Walikota Bekasi. Luar biasa.

Namun rupa-rupanya Tuhan masih berpihak ke saya. Seminggu kemudian ada ruko yang baru saja kosong. Tempatnya jauh lebih strategis. Langsung saya telepon pemiliknya. Hari itu juga saya ke PT Bogasari tempat pemilk ruko itu bekerja. Langsung bayar kontrak dan menandatangani perjanjian.

Nah, saya berhasil membentuk LPK baru di ruko itu. Delapan instruktur saya tugaskan di situ. Akhirnya, hubungan saya dengan Sokapun menjadi renggang. Maklum, hubungan cinta telah berubah menjadi hubungan persaingan bisnis.

Namun, karena saya sarjana manajemen, maka trik-trik untuk bersaing saya lebih menguasai. Dalam waktu singkat saya telah memiliki ratusan siswa kursus. Hal itu berlangsung hingga beberapa bulan. Sementara itu yang mendaftar di LPK milik Soka sedikit sekali. Sebenarnya saya kasihan, tetapi apa boleh buat. Bisnis adalah bisnis.

Nah, bulan berikutnya ada yang aneh. Kalau semula siswa lama di LPK saya banyak yang meneruskan kursus, tiba-tiba tidak ada. Kalau biasanya tiap hari ada siswa baru, tiba-tiba menjadi sepi. Akhirnya LPK sayapun menjadi sepi. Jumlah siswanya turun drastis. Sementara itu LPK milik Soka terjadi sebaliknya. Siswa kursusnya sangat banyak.

Sayapun mengevaluasi manajemen LPK saya. Rasa-rasanya tidak ada perubahan. Biaya tetap sama, strategi pemasaran tetap sama, instruktur tetap sama, cara mengajar tetap sama, diktat sama. Semua sama. Kenapa tiba-tiba merosot?

-“Mungkin karena faktor black magic, Pak”.Salah seorang instruktur saya bernama Melly berkata demikian.

-“Apa? Black magic? Ha…ha…ha…Hari gini kok masih ada sarjana percaya black magic”. Saya meresponnya dengan tertawa. Maklum sejak dulu saya tidak percaya black magic. Apalagi saya rajin shalat.

Namun Melly cukup pandai meyakinkan saya. Katanya, kalau saya percaya bahwa setan itu ada, maka sayapun harus percaya bahwa black magic itu ada. Soalnya, black magic itu kerjanya setan.

Setelah saya pikir-pikir, masuk akal juga ya. Akhirnya, Melly yang berasal dari Sukabumi itu memberi alamat salah seorang paranormal yang ada di Sukabumi. Namanya, Ali Abbas Mustofa. Tinggal di desa Bojong Tipar, dekat desa Bojong Lopang.

Akhirnya sayapun naik bus menuju ke Sukabumi. Dari terminal Sukabumi naik angkot ke depan Matahari Departmen Strore. Kemudian ke terminal angkot yang saya lupa namanya. Kemudian naik angkot ke Bojong Lopang yang memakan waktu dua jam perjalanan. Kemudian naik ojek ke desa Bojong Tipar melewati jalan-jalan sawah.

Akhirnya sampai ke rumah kecil mewah dan di depannya ada air mancur. Di situ sudah banyak orang. Ada beberapa mahasiswi yang minta didoakan supaya lulus ujian semester. Ada pejabat dari Bandung dan Jakarta entah apa tujuannya. Ada beberapa wanita yang ingin enteng jodoh, dan lain-lain.

Satu jam kemudian giliran saya. Paranormal yang sudah lima kali naik haji itupun langsung tahu masalah yang saya hadapi. Sayapun menguji kemampuan paranormal itu dengan mengajukan 11 pertanyaan mengenai ciri-ciri orang yang membuat saya bangkrut. Ternyata semua ciri-ciri itu dimiliki Soka.

Karena 11 pertanyaan saya dijawab dengan benar, maka saya percaya terhadap kemampuan paranormal itu. Apalagi tidak ada jimat yang harus saya beli. Cuma saya disarankan membaca Ayat Qursi sebanyak 100 kali setiap malam Jumat sesudah shalat Isya.

Saya tidak menyangka bahwa Soka yang cantik, rajin shalat, ramah dan berpendidikan sarjana, ternyata mau melakukan hal-hal yang dilarang agama hanya demi kepentingan bisnis. Sayapun kalah. Tiga bulan kemudian LPK yang saya kelola bangkrut dan bubar.

Hariyanto Imadha

.—————————————————————————————————

Cerpen ini hanya merupakan cerita fiktif

Maaf kalau ada nama dan peristiwa yang sama

Cinta Bersemi di Perpustakaan LIPI

fotoperpustakaan-3FOTO:http://emteika.files.wordpress.com/2008/08/library.jpg

JAKARTA. Saat itu, pagi pukul 09:00 WIB saya ke Perpustakaan LIPI, Jl.Gatot Soebroto. Sesudah melihat daftar katalog dan mencatat buku yang akan saya pilih, maka saya pun menuju ke rak kelompok buku kategori sastra.

Ada tiga buku yang saya ambil. Pertama, A Tale of Two Cities, ditulis oleh komentator bernama Dent GK Chesterton. Kedua, judul sama, diceritakan kembali oleh Patricia Atkinson. Ketiga, judul sama, sebuah ilustrasi yang ditulis Sir John Shuckburgh diterbitkan oleh Oxford Press.

Untuk apa? Saya sedang menyusun skripsi saya di Akademi bahasa Asing “Jakarta”, Jurusan Bahasa Inggeris. Berjudul “The Summary of A Tale of Two Cities” (A Summary of Charles Dickens,s Historical Novel).

Sesudah mengambil buku-buku itu, saya langsung duduk di ruang baca. Ada sebuah meja sangat besar dengan sekitar 20 kursi.

Ketika sedang asyiknya membuka lembaran-lembaran buku dan sesekali mencatat, ada seorang cewek duduk di sebelah saya. Namun saya cuek saja. Tetap konsentrasi ke buku.

Namun, sekitar sepuluh menit kemudian, cewek di sebelah saya menegur saya dengan pelan-pelan.

-“Maaf,Mas. Boleh pinjam ballpoint-nya? Ballpoint saya tintanya habis”

Sayapun menengok. O, ternyata dia cantik juga,ya?

-“Oh,silahkan. Kebetulan saya bawa dua”. Saya berikan satu ballpoint untuk dia.

-“Terima kasih,Mas”

Kemudian hening lagi. Kalau semula konsentrasi saya ke buku bisa 100 persen, maka angka itu tiap menit berkurang. Busyet! Cantik amat cewek itu.

-“Kuliah di mana?”. Saya memberanikan diri menegur.

-“Di Fakultas Ekonomi, Universitas Tarumanagara”. Singkat ucapannya.

-“Menyusun skripsi”. Saya ingin tahu.

-“Oh,tidak. Saya baru semester keempat. Cuma membuat makalah untuk bahan diskusi”. Dia menjelaskan.

Kemudian hening lagi.

Satu jam kemudian.

‘Maaf,Mas.Saya cabut duluan. Terima kasih ballpointnya”. Cewek itu berdiri, mengembalikan ballpoint, kemudian meninggalkan saya, menuju pintu keluar, kemudian hilang dari pandangan mata.

Edan!.Cewek tadi cantik benar. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, kulitnya putih, bibirnya mungil. Pokoknya sempunalah. Tapi, tapi, ya Tuhan. Kenapa saya tidak tanya nama, alamat atau nomor teleponnya?

Tiba-tiba saya melihat selembar kertas yang tadi dicoret-coret cewek tadi. Iseng-iseng saya ambil. Eh, ternyata ada pesan buat saya.

-“Mas terima kasih ballpointnya. Nama saya Vanza Yunita. Alamat saya di Jl…..tepatnya di belakang gedung bioskop Wira. Nomor telepon saya…(sekian-sekian). Oh, langsung kertas itu saya cium, saya lipat dan saya masukkan ke saku baju. Hari itu saya merasakan dapat durian runtuh.

Sesudah membuat janji lewat telepon, akhirnya Minggu saya ke rumahnya. Rumahnya kecil, tetapi bertingkat. Vanza ternyata anak tunggal. Ayahnya bekerja di Bank BRI. Vanza tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas. Apalagi saya saat itu juga kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, maka diskusi tentang ekonomi tentu sangat menarik.

Nah, hari-hari berikutnya tentu saya dan Vanza bertemu di Perpustakaan LIPI. Belajar sambil pacaran. Wah, susah juga ya? Namun asyik juga pacaran di perpustakaan. Tempatnya sejuk karena AC. Suasananya tenang dan nyaman. Banyak buku-buku yang menarik untuk dibaca. Saya dan Vanzapun sudah saling bertukar foto. O, benar-benar cantik sempurna wajah Vanza.

Hari-hari selanjutnya biasalah. Jalan-jalan ke Taman Mini, ke Ancol, nonton bioskop, ke kafe, bahkan kalau Minggu bersama-sama main bowling. Bahkan kalau Sabtu jalan-jalan ke mall. Beli bajulah, beli celanalah, beli kamera digitallah.

Yang pasti Vanza bukan tipe cewek materialistis. Saya dan Vanza saling traktir secara bergantian. Kalau ke Kentucky, kadang saya yang bayar, kadang Vanza yang bayar. Sudah lama saya merindukan pacaran model begini.

-“Ulang tahun datang,Ya?”. Ucap Vanza sambil memberikan undangan ulang tahun. Sayapun datang. Wah, temannya cukup banyak. Jalan di sepanjang rumahnyapun penuh dengan mobil. Sebagian yang datang adalah mahasiswi. Cowoknya hanya sekitar 20 persen.

Ketika acara pemotongan kue ultah, teman-temannyapun dengan kompak berkata:

-“Cium…cium…cium…”.Diucapkan berkali-kali.

Walaupun saya sudah berpacaran selama enam bulan, namun pada ultah Vanza pada tanggal 17 Juni itupun akhirnya saya cium juga. Tidak perlu malu-malu.Asyiiik…!

Sesudah ultah Vanza, maka sayapun konsentrasi untuk menghadapi ujian skripsi. Selama sebulan saya tak pernah ke rumah Vanza. Maklumlah, ujian tersebut menggunakan bahasa Inggeris. Kalau ujian skripsi di fakultas ekonomi sih gampang. Ngomongnya pakai bahasa Indonesia. Tidak ada susahnya.

Bahasa Inggerisnyapun harus bahasa Inggeris sastra. Bukan bahas Inggeris umum (general English). Banyak idiomatic expression yang harus dipahami. Banyak usage yang harus digunakan secara tepat. Demikian juga faktor pronunciation, phonemic, grammar maupun structurenya. Ada lima dosen penguji. Satu lulusan Amerika dan satu native speaker dan tiga sarjana lokal. Salah satu dosen lokal namanya cukup dikenal, yaitu Djalinus Syah. Beberapa bukunya pernah diterbitkan.

O, betapa bahagia saya ketika saya dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude (bacanya kum-lau-de). Sebenarnya sih, cumlaude masih di bawah magna cumlaude (magna dibaca ma-nya). Di atas magna cumlaude masih ada summa cumlaude.

Esok harinya, sayapun menuju ke rumah Vanza untuk menyampaikan kabar gembira bahwa saya telah lulus ujian di Akademi Bahasa Asing “Jakarta”. Sekaligus bermaksud menyampaikan undangan wisuda. Namun ternyata rumahnya sepi. Hanya ada pembantunya. Pembantu itu menyerahkan sebuah amplop yang ternyata isinya adalah undangan pernikahan antara Vanza dengan entah siapa.

Terselip selembar kertas. Isinya singkat, jelas, tapi membuat hati saya perih.

-“Mas, Vanza minta maaf. Semua di luar dugaan Vanza. Vanza terpaksa dijodohkan dengan pria pilihan ayah saya. Ayah saya punya utang Rp 10 miliar dan tak mampu melunasinya, Mas. Saya serba salah. Namun sebagai seorang anak, sayapun harus berbakti kepada orang tua. Betapapun juga, Mas adalah cinta pertama saya.Maafkan saya. Semoga Mas mendapatkan pacar yang melebihi saya. Dari: Vanza Yuanita.”

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari kosong dan hampa bagi saya. Terkadang saya pergi ke Perpustakaan LIPI. Bukan untuk menyusun skripsi, tetapi sekadar bernostalgia. Alangkah indahnya hari-hari ketika saya masih bersama Vanza. Sebuah keindahan yang tidak mungkin terulang lagi.

Hariyanto Imadha

Alumni Akademi Bahasa Asing

“Jakarta”

.——————————————————————————————————

CERPEN:

Ada Air Mata Di Reuni 2005

MUNGKIN sudah sekitar 30 tahun saya tidak bertemu dengan teman-teman kuliah saya di Akademi bahasa Asing “Jakarta” (ABAJ). Maka merupakan kebanggan tersendiri ketika saya mendapat undangan reuni. Katanya, mereka menemukan alamat e-mail saya di internet.

Minggu, 15 Mei 2005. Kereta yang saya tumpangi dari Bojonegoro berhenti di stasiun Kota. Masih pagi sekali. Sayapun segera menuju hotel untuk mandi dan beristirahat sebentar. Siangnya menuju Hotel Menara Peninsula yang ada di Jl. S. Parman, Slipi. O, masih sepi. Hanya ada beberapa penerima tamu. Mereka masih cantik seperti dulu.

Agak siang sedikit, satu persatupun para alumni mulai berdatangan. Tampaknya reuni semua angkatan. Soalnya, banyak juga yang saya tidak mengenalnya. Beberapa di antaranya artis sinetron yang namanya cukup terkenal.

Secara bertahap, kursi di ruang reunipun mulai penuh. Reuni itu memang merupakan “surprise” buat saya karena ternyata semua teman dekat saya datang. Jabat tangan, peluk cium sana sini tak henti-hentinya. Beberapa di antaranya wajahnya sudah berubah dan saya lupa. Atau bahkan mereka lupa saya.

Tiba-tiba ada seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping saya.

-“Apa kabar,Mas?”. Tanyanya.

Saya terkejut bukan main. Spontan saya memeluk dan mencium pipinya. O, ternyata Monika Nasution, bekas pacar saya sewaktu di ABA Jakarta. Saya lihat matanya menetes dipipi. Namun dia cepat menghapusnya.

-“Bagaimana kabarnya sekarang?”. Saya mengajaknya duduk dan mengambilkan ice cream untuknya.

-“Kamu masih cantik seperti dulu”. Kata saya lagi. Dia tersenyum. Kenyataannya memang dia masih secantik dulu. Dia dulu adik kelas. Seorang gadis Padang yang ramah dan cerdas. Dua tahun lamanya saya berpacaran. Dulu kampus ABA Jakarta ada di Jl. Melati, Cilandak. Kemudian pindah ke sebelah Polda Metro Jaya, Jl. Panglima Sudirman, Jakarta Selatan.

Mata Monika masih berkaca-kaca. Kami berdua tentu masih ingat indahnya masa lalu. Berdua ke Taman Cibodas, Gunung Tangkuban Perahu, Puncak, dll. Masalahnya adalah, keindahan itu terpaksa sirna begitu saja. Hanya persoalan salah paham.

Ceritanya, Monika punya sahabat baik bernama Dharita. Nah, suatu saat saya mengantarkan Dharita ke Ratu Plaza untuk mencari buku. Kebetulan saya juga ingin membeli kalkulator. Nah, kok ya di situ saya bertemu dengan Monika.

Persoalan yang sepele itu membuat persahabatan Monika dan Dharita retak. Mereka tak pernah berdua lagi. Bahkan, setiap saya ke rumah Monikapun saya ditolak.

Nah, kepalang tanggung. Akhirnya sayapun berpacaran dengan Dharita. Kebetulan,Dharita juga baru putus dengan pacarnya. Selesai diwisudha, akhirnya sayapun putus dengan Dharita. Sayang, Dharita tidak hadir pada reuni itu.

Ah, lagi enak-enak bicara, datang Didik Riyadi dan Mathias Muchus.

-“Hallo, Harry! Masih pacaran dengan Monika,nih?”. Mathias Muchus meledek. Tentu tidak lagi pacaran karena Monika sudah bersuami dan punya dua orang anak. Akhirnya saya ngobrol-gobrol dengan Mathias Muchus yang dulu merupakan adik kelas saya di ABA Jakarta. Tahun berikutnya Mathias Muchus pindah kuliah di Akademi Sinematografi di Taman Ismail Marzuki (TIM). Sedangkan Monika sendiri sampai sekarang juga menjadi pemain salah satu sinetron yang sering ditayangkan di RCTI. Ah, reuni 2005 itu membuat saya benar-benar terharu.

Hariyanto Imadha

http://www.geocities.com/alumniabaj

CERPEN:

Cintaku Biru

Di University of Saskatchewan

SEBELUM lulus S-1 di Fakultas Sastra UI, ada beberapa penawaran bea siswa ke luar negeri. Antara lain ke Amerika yang disponsori Ford Foundation, Fullbright Foundation, dll. Ke Jepang antara lain dari Tokay Foundation. Namun dari beberapa tawaran tersebut, saya tertarik dengan bea siswa dari Saskatchewan Foundation yang berada di Kanada. Alamat situs di http://www.campussaskatchewan.ca.

Kenapa? Bea siswa ke Kanada tersebut bersifat all in. Semua biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung yayasan. Mulai dari kos, biaya kuliah, buku, dll. Menariknya, tiap bulan ada rekreasi ke objek wisata dan itu gratis. Tidak perlu takut kehabisan uang karena tiap tanggal satu akan mendapat uang saku yang kalau di kurs rupiah sekarang sekitar Rp 5 juta. Wow! Itulah sebabnya, begitu saya lulus S-1, saya segera mengisi formulir aplikasi yang tersedia.

Singkat cerita, saya telah tiba di Kanada. Begitu tiba di Bandara Vancouver, saya disambut oleh tim penyambut yang terdiri dari lima mahasiswa, lima mahasiswi dan seorang koordinator, Mrs.Linda Badeva. Ternyata, dari Indonesia ada lima orang. Yang saya kenal hanya satu orang, yaitu Irbel Budaya.

Kami langsung ditempatkan di tempat kos dipinggiran kota Ottawa. Sebuah hunian yang cukup mewah untuk ukuran orang Indonesia. Kamarnya cukup besar. Satu kamar untuk dua mahasiswa. Tentu, saya satu kamar dengan Irbel. Fasilitas tempat kos cukup wah. Ada kolam renang, lapangan basket, tempat latihan skate board dan lapangan golf mini dan fasilitas lain yang tidak bisa saya tuliskan di sini satu persatu.

Tiga hari kemudian kami dengan menggunakan bus kampus, kami diantar ke kampus Saskatchewan. Sebuah kampus dengan arsitektur kuno. Usia kampus lebih dari 100 tahun. Halamannya luar biasa luas. Suasananya mirip kampus UGM Bulaksumur. Nama kampus Saskatchewan sebenarnya diambil dari nama sungai besar di Kanada.

Sebulan sudah saya kuliah di Faculty of Economics. Berbagai bangsa ada di situ. Akhir bulanpun ada rekreasi bersama, yaitu ke Kananaskis Valley. Jaraknya 85 km dari Calgary atau 52 km dari Canmore atau 70 km dari Banff. Sebuah lembah yang luar biasa indah. Total rombongan 11 bus besar dan mewah.

Di situlah saya berkenalan dengan seorang mahasiswi dari Faculty of Letters and Fine Arts.. Namanya Debita Navralukita, berkebangsaan Chekoslovakia. Saya agak kaget ketika dia cerita bahwa Bahasa Indonesia juga diajarkan di fakultasnya. O, sebagai orang Indonesia, saya merasa bangga sekali. Untuk ukuran bule, Debita tergolong pendek, yaitu sekitar 160 cm. Sedangkan tinggi saya 166 cm.

Cukup banyak acara di beberapa objek wisata. Antara lain, golfing, horseback riding, hiking, mountain biking, skiing atau snowboarding, dll. Semula saya agak minder karena semua kegiatan itu belum pernah saya lakukan di Indonesia. Ternyata, sebagian besar mahasiswa memang belum bisa. Untung ada beberapa trainer yang memberikan bimbingan dan pelatihan. Oh, menyenangkan sekali.

Di saat istirahat, sayapun menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol dengan Debita.

-“Jadi, Anda belajar Bahasa Indonesia juga?”, tanya saya sambil memandangi wajah Debita yang mirip Tamara Blezynski itu.

“Ya, saya suka Bahasa Indonesia. Tidak sesulit yang saya bayangkan”, jawabnya dalam bahasa Indonesia.

Dia menambahkan:

-“Bahkan, jika memungkinkan saya ingin ke Bali”

Tentu, saya langsung menyatakan siap mendampinginya ke Bali sebagai guide gratis.

Saya masih ingat, saat itu Debita memakai gaun ungu muda dan celana jean. Kami duduk di kursi panjang dari besi dan penuh ukir-ukiran. Udara sangat dingin sekali bagaikan di dalam lemari es. Walaupun sudah memakai mantel tebal, namun udara dingin tetap merasuk ke tubuh. Mantel yang dikenakan Debita juga cukup tebal.

Saya akui, Debita memang cantik. Cuma, mampukah saya menaklukan hatinya? Maklum, dia berasal dari keluarga konglomerat. Sedangkan saya di Indonesia dari keluarga biasa-biasa saja.

Sejak itu, Debita sering main-main ke tempat kos saya. Sekadar belajar praktek Bahasa Indonesia. Karena akrab, akhirnya sayapun sering berdua ke restoran atau kafe. Bahkan dengan menyewa mobil, kami berdua sering mengadakan rekreasi sendiri.

Walaupun saya tidak pernah mengatakan cinta dan Debita juga demikian, namun dari sikapnya saya tahu Debita juga mau bersahabat akrab dengan saya. Itu saya buktikan dengan mencium bibirnya yang mungil itu. Tidak ada penolakan. Bahkan Debita membalas ciumanku dengan hangat dan bersemangat. Sayapun sering ke tempat kosnya yang kebetulan tidak begitu jauh. Cukup naik bus kota. Bahkan saya ke tempat kosnya kadang-kadang bersama Irbel Budaya.

Tanpa terasa, masa studipun berakhir. Sesudah acara wisuda, saya tidak tahu apa yang harus saya berbuat. Debita mau saya lamar, namun dengan syarat saya harus mau tinggal di Chekoslovakia dan menjadi warganegara negara tersebut. Itupun dengan syarat, saya harus mau memeluk agama Nasrani. Tentu, syarat tersebut tidak mungkin saya lakukan.

Sebaliknya, Debitapun tidak mau saya ajak ke Indonesia dan menikah secara Islam. Saat itu saya sedang mengantarkan Debita ke Bandara Vancouver. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke negaranya. Tentu, tanpa saya. Sedih rasanya.

Akhirnya Debitapun memasuki pesawat. Saya cuma bisa melambaikan tangan. Kupandangi pesawat yang mulai take off dan akhirnya hilang dari pandangan mata saya. Sejak itu, saya tidak bertemu lagi dengan Debita..

Hariyanto Imadha

Jl. AIS Nasution 5

Bojonegoro

E-mail:indodata@yahoo.com

CERPEN:

Andharezta Primadona SMAN 4

BOJONEGORO 1969. Saya duduk di bangku kelas satu SMAN 1 (dulu namanya SMA Negara). Saya dan teman-teman punya rencana mendirikan radio amatir atau radio non-RRI pertama di kota saya. Tentu pemancar gelap. Mereka antara lain Santoso (sekarang pensiunan PT Telkom Tbk, Mojokerto), Agus Mulyono (sekarang di PT Telkom Tbk Bojonegoro), dan Gatot (STM), Bambang Haryanto (lupa, sekolahnya di mana), Erry Amandha (SMA Katolik),dll.

Nama radionya Radio Armada 151 (supaya dikira milik Angkatan Laut). Sebenarnya siaran rahasia, tapi lama-lama masyarakat tahu semua. Siarannya bisa ditangkap di Cirebon, Pamekasan, Malang, dll. Nah, salah satu penggemar yang paling sering telepon berasal dari Malang. Namanya Andharezta, salah satu pelajar SMA di Malang dan juga masih di kelas satu.

Karena penasaran, akhirnya saya ke rumahnya di Jl. Dr.Cipto, Malang. Ternyata, cantik juga. Ayah dan ibunya juga baik terhadap saya. Akhirnya tiap Sabtu saya ke Malang. Minggu siang balik ke Bojonegoro. Lama-lama, akhirnya jadi pacar juga. Dan akhirnya saya dan Andharezta janjian akan pindah ke SMAN 4 Surabaya.

-“Setuju nggak kalau kita pindah ke SMAN 4 Surabaya”. Andhar meminta pendapat.

-“Kalau naik kelas sih, saya setuju”. Saya menyambut gembira usul Andhar.

-“Mudah-mudahan kita bisa satu kelas”.Harapan Andhar.

-“Insya Allah”.

SURABAYA 1970. Akhirnya saya dan Andhar jadi pindah. Di SMAN 4 Surabaya kami sekelas.Di kelas 2 IPS (dulu istilahnya 2 Sos). Satu kelas dengan teman-teman baru, antara lain Tommy, Ellen (dulu rumahnya di Taman Simpang),Sigfried, Tatik, Martanto (kabarnya dia pernah jadi guru di SMAN 4).

Rupa-rupanya Andhar termasuk The Best Five, lima pelajar tercantik di SMAN 4. Tak heran kalau dalam waktu singkat banyak cowok kelas lain yang ingin kenal. Agak khawatir juga saya waktu itu. Jangan-jangan Andhar direbut cowok lain.

Tiap pagi dengan menggunakan sepeda motor CB 125 saya menjemput Andhar di kawasan Jl. Pucang Anom Timur (dekat kantor pos). Dia ikut kakak perempuannya yang sudah menikah.

Celakanya, kakak iparnya punya adik cowok. Pelajar STM kelas satu. Namanya Yoyok. Dari gelagatnya sih saya yakin dia naksir juga sama Andhar. Coba, tiap malam Minggu saya ngapel, Yoyok ikut nimbrung. Kalau nonton bioskop, selalu mengikuti. Kalau kebetulan saya sakit, maka yang mengantarkan Andhar ke sekolah, ya si Yoyok itu.

-“Saya nggak bakalan sama dia”.Andhar menjelaskan ke saya.

-“Iya, tapi kalau Andhar mau diantarkan Yoyok, berarti Andhar memberi hati”

-“Habis gimana dong, kalau naik bemo penuh terus. Naik becak mahal”.Andhar membela diri.

Ya, persaingan memang terjadi. Walaupun saya yakin Andhar masih suka sama saya, namun kenyataannya ada cowok lain yang berusaha merebut Andhar. Apalagi, Yoyok tinggal serumah dengan Andhar.

Lantas, suatu hari terjadilah peristiwa yang kurang enak. Seperti biasa, pulang sekolah saya akan mengantarkan Andhar. Andhar saya boncengkan. Namun, baru di depan pintu sekolah, saya lihat Yoyok dan enam anak STM mencegat saya. Tanpa, ba-bi-bu, mereka mengeroyok saya. Saya dan Andharpun terjatuh dari sepeda motor. Bertubi-tubi pukulan mengenai muka saya. Saya tak sempat menghindarkan diri.

Untunglah, puluhan pelajar SMAN 4 segera memberikan bantuan. Rame-rame mereka ganti mengeroyok enam pelajar STM tersebut sampai babak belur. Akhirnya merekapun kabur.

Tiga hari kemudian. Waktu itu saya dan pelajar SMAN 4 lainnya sedang sibuk menghadapi pelajaran di kelasnya masing-masing. Namun tiba-tiba semua dikejutkan oleh pecahnya kaca-kaca jendela. Rupa-rupanya kena lemparan batu dari luar. Makin lama makin banyak batu beterbangan ke kelas. Setelah saya lihat dari jendela, ternyata di luar ada sekitar 200 pelajar STM sedang rame-rame melempari gedung SMAN 4. Semua kelas diserang.

-“Serbu SMAN 4! Terima balasan dari kami!” Mereka berteriak-teriak.

Saya sadar, ini adalah buntut dari peristiwa tiga hari yang lalu. Apalagi di antara mereka ada Yoyok. Akhirnya keributan terjadi. Seluruh pelajar SMAN 4 pun keluar kelas dan membalas serangan itu. Kebetulan di dekat kantin ada tumpukan batu dalam jumlah banyak. Tawuran massal tak terelakkan lagi. Saya waktu itu berada di luar kelas.

-“Harry! Harry! Tolong ke sini! Andhar kena batu!”. Ellen berteriak-teriak kepada saya. Sayapun berlari menuju ke dalam kelas. Benar saja, kepala Andhar penuh dengan darah. Terkena lemparan batu.

Secepatnya saya,Tommy dan lain-lain membawa Andhar ke Rumah Sakit Dr.Soetomo yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Para perawat dan dokterpun segera menangani Andhar.

Ketika kembali dari rumah sakit, tawuran sudah bubar. Rupa-rupanya polisi segera datang. Enam anak STM ditahan polisi. Peristiwa itu langsung saya kabarkan ke kakak Andhar di Pucang Anom Timur.

Hari-hari berikutnya saya dan teman-teman SMAN 4 pulang sekolah langsung membezoek Andhar. Andhar luka cukup parah. Gegar otak. Tubuh Andhar terkulai lemas. Tak bisa diajak bicara. Matanya terus terpejam. Sedih rasanya melihat orang yang saya cintai dalam kondisi tidak berdaya. Andhar mendapat perawatan sekitar 22 hari dan tidak ada tanda-tanda membaik.

Akhirnya, 10 November 1970 adalah hari yang tak mungkin saya lupakan. Akhirnya, saat yang saya khawatirkanpun tiba. Dokter mengatakan kepada saya, sudah berusaha sekuat tenaga uyntuk menyembuhkan Andhar, namun Tuhan berkata lain.

-“Ya,Tuhan!”. Saya berteriak histeris. Tommy dan teman-teman memegangi tubuhku. Saya sempat jatuh pingsan. Betapa tidak, orang yang paling saya cintai telah meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Betapa cepat Tuhan memisahkan kami berdua.

-“Sudahlah Har, tabahkan hatimu. Semua sudah kehendak Allah swt”. Martanto memberikan semangat kepada saya. Namun saya tetap sedih.

Beberapa bulan kemudian sayapun menghadap kepala sekolah. Saya jelaskan kronologi peristiwa itu. Saya mengaku tawuran itu semuanya gara-gara saya. Rusaknya gedung SMAN 4 juga gara-gara saya. Atas dasar itu saya meminta maaf ke Pak Satmoko, yang saat itu menjadi kepala sekolah. Sekaligus saya menyatakan mengundurkan diri dari SMAN 4.

Semula Pak Satmoko keberatan kalau saya mengundurkan diri. Namun karena keputusan sudah bulat, Pak Satmoko tidak bisa menolak. Dengan langkah gontai saya menemui teman-teman saya. Mereka saya salami satu persatu. Ada beberapa teman cewek yang meneteskan air mata.

Akhirnya, dengan langkah gontai saya menuju ke tempat parkir. Mengambil sepeda motor Honda CB 125 berwarna hijau. Lantas, pelan saya meninggalkan halaman SMAN 4. Saya pandangi gedung SMAN 4 untuk beberapa saat. Itulah saat terakhir saya di SMAN 4.

Akhirnya sepeda motor meninggalkan sekolahan.

-“Harry! Suatu saat kita ketemu lagi”. Teriak teman-teman sambil melambaikan tangannya.

Ya, itu terjadi pada 1970. Sudah lama peristiwa itu terjadi. Namun saya tak akan pernah melupakannya. Tak akan pernah melupakan Andharezta. Dia adalah cinta pertama saya. Cinta terakhir saya.

HARIYANTO IMADHA

Eks Siswa SMAN 4 Sby

Tahun 1970 (Kelas 2 Sos)

.

CERPEN:

Dari Glasgow ke Birmingham

SEMUA orang pasti punya kenangan indah dalam hidupnya. Demikian pula saya. Sesudah saya lulus dari SMAN 6 Surabaya tahun 1972, maka sayapun berniat ke Glasgow. Saya punya sahabat pena di situ.

Pas bulan Ramadan, pesawatpun mengantarkan saya ke Glasgow. Tentu harus berpindah pesawat di London., karena dari Jakarta tidak ada yang langsung ke Glasgow. Begitu pesawat mendarat, saya langsung mencari seorang gadis yang membawa tulisan “Yosephine”. Nama sahabat pena saya itu. Akhirnya ketemu juga.

-“Hallo,Yossie”. Panggilan untuk Yosephine.

“Hai,Harry”. Kami berpelukan dan berciuman. Ternyata Yosephine memang secantik foto-foto yang pernah dikirimkan. Kami berdua kemudian keluar bandara. Saya mengira akan naik taksi, ternyata sebuah limousin mewah. Di dalam mobil saya baru tahu kalau itu mobil ayah Yosephine.

Mobil mewah itu terus meluncur di tengah keramaian kota. Kota yang bersih dan nyaman. Tidak seperti Jakarta yang jorok dan macet melulu. Semula saya mengira saya akan ke rumah Yosephine. Ternyata saya diantarkan ke sebuah hotel mewah. Wah, dalam hati saya menolak, soalnya pasti uang saya tidak cukup membayar hotel.

Rupa-rupanya Yosephine cepat tanggap.

“Tidak usah bayar. Ini hotel milik ayah saya”.Wow, tentu saya langsung bergegas masuk kamar hotel. Sebuah kamar yang mewah, dingin dan nyaman. Sesudah mandi, ganti pakaian kemudian saya dan Yosephine menuju ke rumahnya. Tidak ada acara makan siang sebab Yosephine tahu kalau di bulan Ramadan saya pasti berpuasa. Untuk makan saur dan berbuka puasa tidak masalah, karena restoran yang ada di hotel buka 24 jam nonstop. Dan semua masakan dijamin halal.

Rumah Yosephine ternyata sebuah rumah mewah mirip istana negara yang ada di utara Monas,Jakarta. Halamannya luas dan ditumbuhi rumput pendek yang indah. Mirip lapangan golf. Di depannya ada sebuah taman lengkap dengan air mancur. Saya baru tahu kalau ayah Yosephine merupakan salah satu orang terkaya di Glasgow.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang indah. Saya diajak melihat pabrik-pabrik milik ayahnya, juga ke sebuah objek wisata dengan pemandangan yang indah. Selama seminggu di Glasgow, saya tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Semua ditanggung Yosephine.

Tiap kali masuk toko, saya pasti ditraktir. Mulai dari baju, celana, kamera,arloji,dll. Semua barang-barang dari merk terkenal. Bahkan tak jarang saya diberi segepok uang yang cukup banyak. Kalau saya menolak, Yosephine pasti marah-marah.

Sayang, sudah seminggu saya di Glasgow dan saatnya saya harus terbang ke Birmingham. Juga, untuk menemui sahabat pena saya. Sayapun diantarkan ke bandara. Kami hanya bisa berpelukan lama. Rasa-rasanya kami tidak ingin berpisah. Yosephine menangisi perpisahan itu. Dia berjanji suatu saat akan ke Indonesia.

BIRMINGHAM. Akhirnya pesawat mendarat mulus di bandara Birmingham. Seperti biasa, turun dari pesawat, saya mencari seorang gadis mengangkat tulisan “Caroline”. Nama gadis itu. Tidak sulit. Kamipun bertemu dan berpelukan. Seolah-olah kami sudah bersahabat lama. Maka langsung ngobrol ke sana kemari.

Kamipun dijemput sebuah mobil tua. Kamipun menuju rumah Caroline. Agak pinggir kota. Malahan tepatnya di daerah pertanian. Caroline bukan anaknya orang kaya, melainkan seorang petani kentang yang sukses. Meskipun bukan petani kaya, namun rumahnya bagus juga. Sawahnya 10 hektar. Punya beberapa traktor ukuran besar. Bahkan punya sebuah pesawat terbang kecil yng digunakan untuk menyirami sawah atau untuk menyemprotkan obat antihama.

Caroline memang gadis ceria dan cantik juga. Dia duduk di kelas satu di salah satu SMA di Birmingham. Caroline sering becanda. Bahkan sering ngenyek Pernah ketika melihat sepatu yang saya pakai, dia langsung ngenyek.

-“Kok, sepatu model kuno masih dipakai”. Diapun tertawa renyah. Saya tidak marah karena dia cuma bercanda. Bahkan dia punya kesan, Indonesia itu banyak kere-nya. Tentu saya katakan di Indonesia banyak kere. Tetapi yang jadi konglomerat juga banyak. Bahkan saya katakan, Jakarta sepuluh kali lebih indah daripada Birmingham.

Satu hal yang membuat saya terharu yaitu, dia berjanji, setelah lulus SMA, dia ingin ke Indonesia dan menikah dengan saya. Dia bersedia masuk Islam. Bahkan Caroline pamer ke saya bahwa dia hafal Surat Al Fatehah. Ternyata dia banyak belajar Islam dari teman sekelasnya yang berasal dari Pakistan. Pantaslah, ketika saya di rumah Caroline, saya disediakan sajadah. Katanya pinjam dari temannya yang dari Pakistan itu. Tidak hanya itu, esok harinya saya diajak ke masyarakat Islam yang ada di Birmingham. Ada satu dua orang Indonesia yang ada di komunitas itu. Untuk makan saur dan berbuka puasa tidak masalah, sebab ternyata Caroline dan kedua adiknya pandai memasak.Tentu harus membuka Cooking Book (Buku Memasak). Hebatnya, semua masakannya khas Indonesia dan sejak dulu katanya tidak pernah memasak atau makan daging babi. Sebagai seorang muslim tentu saya merasa bangga atas sikap Caroline yang menghargai saya sebagai seorang muslim.

Sayang, hanya seminggu saya di Birmingham. Kepulangan saya tidak hanya diantar Caroline, tetapi juga kedua orang tua dan kedua adiknya.Kok mirip di Indonesia, yang pergi cuma satu orang, tetapi yang mengantar orang satu kampung. Sampai di bandara kami hanya bisa berpelukan lama. Rasa-rasanya tidak ingin pulang ke Indonesia.

Tanpa terasa, kami berdua telah saling jatuh cinta .. Bahkan saya berjanji, suatu saat saya akan melamarnya dan membawanya ke Indonesia. Caroline hanya bisa menangis dan menangis.

Namun akhirnnya pesawat harus membawa saya meninggalkan Birmingham. Tidak bisa langsung ke Jakarta. Harus ke London dulu. Pesawatpun membelah udara. Dari jendela saya hanya bisa melihat awan-awan putih. Hati ini merasa terharu. Tanpa terasa dua butir air mata membasahi pipi.

Saya tidak tahu, apakah Ramadan tahun berikutnya saya bisa ke Glasgow dan Birmingham lagi. O, saya tersadar sekarang sudah tahun 2008. Berarti kenangan indah itu sudah ternjadi 36 tahun yang lalu. Pasti, Yosephine dan Caroline sudah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Saya cuma bisa merasakan, hidup ini seperti mimpi. Tiap Ramadan tiba, saya pasti teringat kenangan indah di Glasgow dan Birmingham.

Hariyanto Imadha

https://fsui.wordpress.com

CERPEN:

Mayesti Putri Seorang Konglomerat

TAHUN 1973, saya diterima di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta. Sebagai mahasiswa baru, maka sayapun ingin punya pengalaman untuk mengikuti OSPEK. Angkatan saya jumlahnya ada 500 mahasiswa. Terbanyak sepanjang sejarah fakultas. Maklum, lagi butuh dana untuk membangun gedung baru.

Di dalam acara itulah saya sempat berkenalan dengan seorang cami. Namanya Mayesti Putri Pratiwi. Dia lulusan SMAN 1 Boedoet, Jakarta. Cami itu tampil sangat menyenangkan. Selalu tersenyum ramah terhadap siapa saja. Bisa dimaklumi kalau dia disayang para raka. Maklum, dia juga cantik. Bahkan dapat predikat Primadona OSPEK’73. Saya tidak berani naksir. Maklum, dia anak salah seorang konglomerat yang cukup terkenal di Jakarta. Sedangkan saya berasal dari keluarga sederhana.

Apalagi, lewat Yenny, sebelum menjadi mahasiswi Akademi Perhotelan dan Kepariwisataan (APK), saya dikenalkan temannya bernama Hellen Porayouw, temannya sewaktu di SMEA. Gadis ini berasal dari keluarga miskin. Tinggal di sebuah rumah petak di kawasan Jl.Jembatan Tiga. Hellen, sudah beberapa bulan menjadi pacar saya

Tiga tahun kemudian. Menjelang ujian sarjana muda, saya menerima kabar yang sangat mengejutkan. Ayah saya di Jawa Timur meninggal. Jantung terasa berhenti. Pikiran menjadi gelap. Meninggalnya ayah , berarti saya tidak mungkin bisa meneruskan kuliah. Satu-satunya sumber dana kuliah berasal dari ayah.

-“Sudahlah,Har. Tidak usah dipikirkan terlalu mendalam. Itu sudah kehendak Allah swt.Tabahkan hatimu,Har”. Mayesti menasehati saya. Ucapan yang sama juga diucapkan oleh Shanty, Doddy, Treesye dan Rini. Mereka adalah teman kelompok belajar saya. Saat itu saya sedang duduk di depan salah satu ruang kuliah.

Selesai kuliah, saya pulang di kawasan Grogol. Saya menyewa sebuah rumah petak yang sangat kecil. Semua kegiatan saya lakukan sendiri. Cuci-cuci, menyapu dan bersih-bersih rumah. Seterika juga memakai arang. Untuk mandipun harus menimba air dari sumur. Rumah petak itu tanpa listrik. Hanya ada penerangan berupa teplok dan petromak. Makan hanya dengan lauk pauk tempe atau kangkung rebus. Untunglah, Hellen sering datang ke rumah petak saya dan membantu memasak nasi, membuat ceplok, dadar atau masakan lainnya.

Hari Minggu itu, sesudah pulang dari gereja, Hellenpun seperti biasa ke rumah petak saya. Namun ketika sedang asyik bercanda, tiba-tiba ada sebuah mobil Volvo biru berhenti di depan rumah petak. Lantas dari dalam mobil turun sesosok tubuh langsung berwajah cantik. O, di luar dugaan, Mayesti yang anaknya konglomerat itu mau datang ke rumah petak saya yang buruk ini.

-“Ada apa, Yes?”. Panggilan Mayesti memang Yes. Yesti.

-“Ah enggak apa-apa. Ini ada bantuan dari teman-teman. Untuk biaya ke Bojonegoro, Jawa Timur. Semoga masih sempat melihat pemakamannya. Cukup kok untuk beli tiket pesawat terbang dan ongkos taksi di sana. Maaf, teman-teman tidak bisa mengantarkan.”. Sebuah bungkusan diberikan. Saya menerimanya dengan sikap serba salah. Sesudah saya mengucapkan terima kasih, Mayestipun meninggalkan saya.

Hari berganti hari,bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Mayesti yang putri seorang konglomerat itu sering ke rumah petak saya. Sering juga membawa makanan atau kue. Semula saya menganggap sikap Mayesti biasa-biasa saja. Namun ternyata lebih dari itu.

Saya merasa serba salah. Sejak ayah meninggal, Mayestilah sumber dana perkuliahan saya. Mulai dari SPP, beli buku, sewa rumah petak dan seluruh biaya hidup ditanggung Mayesti. Sayapun tak pernah mengerti kenapa Mayesti yang putri konglomerat itu mau mencintai saya yang sangat miskin ini.

Namun, itulah kenyataan. Dalam posisi seperti itu, saya berada di pihak yang lemah. Saya terpaksa memiliki dua pacar, Hellen dan Mayesti. Walaupun tampaknya keduanya akur, namun dalam hati wanita siapa tahu.

Menjelang ujian sarjana, Mayesti mengajak belajar bersama di vilanya di Puncak. Saat itu saya mengira belajar bersama dengan anggota kelompok belajar lainnya. Ternyata, Mayesti sendiri yang membawa mobilnya.

Memang sih, siang hari hingga sore hari kami berdua belajar sampai lelah. Namun malam harinya ketika saya sudah berada di tempat tidur, ternyata Mayesti yang wajahnya mirip Yuni Shara itu masuk ke kamar saya.

Apa yang terjadi selanjutnya, tidak pantas saya tulis di sini. Sebagai laki-laki normalpun saya membutuhkan kehangatan seorang wanita. Malam itu, saya telah mengkhianati Hellen Porayouw, pacar pertama saya.

-“Harry,Mayesti ingin bicara sebentar”. Itu diucapkan di kampus sebulan kemudian. Hari itu Mayesti mengaku, telah hamil satu bulan. Tidak mengejutkan. Namun saya tidak tahu harus berbuat apa.

Atas permintaan Mayesti, sayapun ke rumah orang tuanya di kawasan Pondok Indah. Di hadapan kedua orangtuanya saya mengakui semua perbuatan, meminta maaf dan berjanji akan mempertanggungjawabkan.

Namun jawaban yang saya terima di luar dugaan.

“Apa? Kami ini dari keluarga terpandang! Tidak mungkin kami punya menantu dari keluarga gembel!Miskin!Melarat!Sampah…!!!”

Sayapun terpaksa meninggalkan rumah itu dengan gontai. Mayestipun segera mengeluarkan mobilnya dan mengantarkan saya ke rumah petak saya. Dalam perjalanan, Mayesti mengaku, sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu dijodohkan dengan seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa SPBU. Pengusaha kaya, tetapi Mayesti menolak.

Tepat saat wisuda (1 November 1978), semua teman kelompok belajar heran. Tidak melihat sosok Mayesti. Padahal, kelompok belajar kami lulus 100 persen menghadapi ujian sarjana. Namun, seusai wisuda, salah seorang alumni bernama Yogie mengatakan kepada kami bahwa Mayesti dalam kondisi yang tidak tertolong lagi.

Jenasahnya masih di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Ada sepucuk surat untuk saya. Isinya, Mayesti meminta maaf, terpaksa melakukan perbuatan itu sebagai protes atas sikap keras kedua orang tuanya yang memaksa menikah dengan orang lain. Mayesti, telah mengakhiri hidupnya sendiri dengan caranya sendiri.

Hariyanto Imadha

Jl. AIS Nasution 5

Bojonegoro

E-mail:indodata@yahoo.com

CERPEN:

Kuingin Ke Bali Lagi

TANPA sengaja, di internet saya menemukan foto teman-teman se-SMAN 6 Surabaya. Walaupun foto itu dibuat tahun 1971, namun saya masih ingat nama-nama mereka. Yaitu (dari kiri ke kanan): Anita, Tony, Ari, Nunus dan Bintaran. Mereka adalah adik-adik kelas. Sedangkan yang duduk adalah saya.

Foto itu dibuat tahun 1971 atau 36 tahun yang lalu. Foto itu dibuat sewaktu siswa SMAN 6 Surabaya tour ke Bali. Foto itu dibuat di dekat Tanah Lot. Namun sebenarnya ada siswi yang tidak nampak di situ, namanya Lia.

Lia bukan teman sekelas. Saya di IPS dan Lia di IPA. Kenalnya juga gara-gara saya membuat cerpen di buletin sekolah, yaitu buletin Elka (Lingkaran Kreasi). Sebenarnya sih Lia sudah punya pacar, namun sejak kenal saya, maka tiap pulang sekolah sayalah yang mengantarkannya. Rumahnya di Jl. Pucang Anom Timur. Sebagai siswa pindahan dari SMAN 4 Surabaya, saya memang kurang beken di SMAN 6 Surabaya. Sewaktu di SMAN 4 pun saya kurang beken.

-“Lia, di mana,Mas?”, tanya Nunus sehabis berfoto bersama.

Saya cuma menunjuk tempat orang berjualan cinderamata. Di situ Lia sedang memilih-milih cinderamata.

Lia memang bukan pacar saya. Saya tahu, setelah Lia putus dengan cowok SMAN 6, dia langsung dapat cowok mahasiswa Fakultas Hukum, Unair. Lia juga tahu, saat itu saya punya pacar siswi SMAN 5 Surabaya.

Cuma memang hubungan saya dan Lia memang aneh. Nonton film ya bareng-bareng, ke restoran ya bareng-bareng. Kemana-mana bareng-bareng. Saya sih menganggapnya sebagai adik saja. Lia juga tahu kalau saya dan dia masih ada hubungan famili.

Tapi memang persahabatan itu aneh. Rasa-rasanya persahabatan lebih indah daripada percintaan. Sayapun dengan Dessy (pacar saya yang di SMAN 5) jarang nonton. Bahkan juga jarang ke restoran ataupun jalan-jalan ke Tunjungan.

Di Balipun saya sering berdua dengan Lia. Orang pasti mengira Lia pacar saya. Maklum, ya gandengan ya berpelukan seperti anak remaja yang sedang mabuk bercinta.

Senang juga ya masa remaja di SMA. Apalagi rekreasi di Bali itu sangat mengesankan. Antara lain ke Sangeh, Pantai Kuta, Besakih, Tanah Lot, Pantai Sanur, dan tempat wisata lainnya. Sempat juga nonton tari Kecak, dll. Ke manapun, saya selalu berdua dengan Lia.

Saat itu saya merasakan, betapa indah hari-hari di Bali. Saya merasakan keindahan di dalam hati. Saya tidak tahu kenapa itu terjadi. Apakah itu cinta, saya tidak tahu. Yang pasti tour ke Bali itu memang banyak kenangan manis.

Namun satu hal yang aneh yaitu, tidak pernah sekalipun saya berfoto berdua dengan Lia. Itulah sebabnya, saya tidak punya kenang-kenangan selama di Bali.

Sekarang, usia saya sudah 55 tahun. Kadang saya menghayal, alangkah indahnya andaikan hidup ini bisa diputar ulang. Kembali ke tahun 1971. Kembali menjadi siswa SMAN 6. Kembali ke Bali. Kembali bersama Lia. Ya, saya membayangkan, saya ke Bali lagi.

Tour ke Bali itu memang indah. Namun untuk mengenangnya lagi, justru membuat hati ini menjadi sakit sekali. Soalnya, kenangan itu hanya terjadi sekali. Saya akhirnya sadar, saya tidak mungkin kembali ke tahun 1971. Saya sadar tak mungkin bisa tertawa ceria bersama Anita, Nunus, Ari dan lain-lainnya. Saya sadar, tak mungkin lagi berdua dengan Lia. Sayapun sadar bahwa sejak itu saya tidak tahu lagi, di mana Lia sekarang.

Rasa-rasanya saya ingin ke Bali lagi. Mengulangi kenangan indah di masa lalu. Walaupun itu cuma dalam khayalan saja.

Hariyanto Imadha

Indodata@yahoo.com

CERPEN:

Stanza Terakhir di Fakultas MIPA

SEBENARNYA saat itu saya sudah kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta. Namun saya merasakan ilmu yang saya miliki masih kurang. Memang, di fakultas tersebut sudah ada matakuliah Matematika Ekonomi. Namun, tak ada salahnya saya kuliah lagi di Fakultas MIPA atau Program Studi MIPA di Universitas Terbuka (UT). Saya pikir, toh di UT bisa belajar secara otodidak.

Benar. Akhirnya sayapun meluncur ke Rawamangun untuk mendaftarkan diri.

_”Ngambil prodi apa, Mas?”. Tiba-tiba ada cewek langsing,putih menyapa saya.

-“Oh,ambil MIPA”. Saya menjawab.

Entahlah, seperti kena hipnotis, saya langsung naksir cewek tersebut. Akhirnya sayapun memperkenalkan diri.

-“Harry”. Saya menjabat tangannya yang mulus itu.

“Hernik”. Dia menyebut namanya. Sepintas saya lihat wajahnya mirip Krisdayanti.

Akhirnya saya tahu, cewek itu mengambil prodi MIPA juga. Kemudian saya memasang kertas pengumuan ukuran A1 di papan pengumuman. Siapa saja boleh memasang pengumuman di sini. Isinya, saya mengajak para mahasiswa MIPA untuk bergabung dengan kelompok belajar saya. Semula menggunakan alamat tempat kos saya, namun karena Hernik bersedia rumahnya dipakai untuk belajar bersama, akhirnya alamatnya saya tulis di pengumuman tersebut.

Selesai mendaftar, sayapun diajak ke rumahnya. Katanya, supaya nanti kalau belajar bersama tidak perlu mencari-cari lagi. Sayapun masuk ke mobilnya. Hernik sendiri yang mengemudikan. Dia tinggal di kawasan Perumahan Kelapa Gading. Besar juga rumahnya. Tampaknya dia anak orang kaya. Katanya, dia anak tunggal. Ayahnya memiliki enam buah kapal besar dan dua buah hotel berbintang lima. Wow, agak “minder” juga saya.

Ruangan untuk kelompok belajar cukup luas dan lengkap. Ada papan tulis, data show, komputer, dll. Tanpa terasa, kelompok belajar yang saya bentuk memiliki 20 anggota. Semuanya lulusan SMA IPA. Hanya saya yang satu-satunya lulusan SMA IPS, yaitu dari SMA Negeri 6, Surabaya. Lucunya, Hernik yang lulusan IPA justru suka dengan buku-buku sastra,novel dan gemar membuat puisi. Kebetulan, saya juga membuat puisi.

Anggota kelompok belajar tersebut tidak semuanya mereka yang baru lulus SMA. Banyak yang sudah berstatus karyawan. Bahkan ada seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun. Masing-masing memperkenalkan diri dengan menyebut nama, dan asal kota.

Ketika giliran saya memperkenalkan diri, maka sayapun menyebut nama dan asal kota. Tiba-tiba ada seorang anggota tertawa terbahak-bahak.

-“Jadi, mas Harry dari Bojonegoro? Kabarnya, orang Bojonegoro banyak yang kemlinthi, ya Mas?”

Ketika mendengar istilah “kemlinthi”, ganti saya yang tertawa.

-“Iya. Orang Bojonegoro memang kemlinthi. Sok kaya, sok pinter, suka pamer dan suka ngenyek. Sejak dulu orang Bojonegoro ya begitu..”. saya mengiyakan.

Nah, suatu saat ketika selesai belajar bersama, ternyata Hernik memberi saya sebuah puisi tiga stanza. Isinya, pernyataan cinta. Karena saya juga naksir Hernik yang wajahnya mirip Krisdayanti itu, maka minggu berikutnya saya membalas puisinya. Juga tiga stanza. Akhirnya, Hernikpun menjadi pacar saya.

Sampai suatu saat, saya bertemu dengan teman baik yang kebetulan seorang ustadz dan ahli metafisikawan yang kebetulan juga tetangganya Hernik. Dia tanya, apakah betul saya pacaran dengan Hernik. Ketika saya menjawab ya, maka teman sayapun terkejut dan mengajak saya ke rumahnya.

Di rumahnyapun saya diberi tahu. Bahwa saya sebenarnya kena ilmu hita. Tepatnya, saya dipelet Hernik. Karena ustadz tersebut teman baik, maka sayapun percaya saja. Di rumahnya sayapun mengikuti acara ritual agama Islam. Kemudian disarankan membaca beberapa ayat suci Alquran. Bahkan ada yang harus dibaca 100 kali.

Ternyata benar. Minggu berikutnya ketika saya bertemu dengan Hernik, saya merasa heran. Hernik yang dulu saya lihat cantik seperti Krisdayanti, ternyata sekarang tampak seperti Omas. Sayapun cepat-cepat membaca doa.

Ternyata benar. Minggu berikutnya ketika saya bertemu dengan Hernik, saya merasa heran. Hernik yang dulu saya lihat cantik seperti Krisdayanti, ternyata sekarang tampak seperti Omas. Sayapun cepat-cepat membaca doa. Maka hari itupun saya membuat puisi tiga stanza. Isinya putus cinta. Saya katakan saya sudah punya pacar. Puisi itu saya berikan ke Hernik. Sayapun tidak pernah muncul lagi di Fakultas MIPA UT. Kuliah saya di Fakultas MIPA UT cukup sampai sarjana muda saja. Dengan langkah gontai, sayapun meninggalkan rumah Hernik. Untuk selama-lamanya.

Hariyanto Imadha

indodata@yahoo.com

Bojonegoro

Sedang dipersiapkan

Milis alumni FMIPA UT

CERPEN:

Mahasiswi Itu Bernama Yuke Zakaria

TAHUN 1974. Saat itu saya duduk di bangku Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, jakarta, tahun kedua. Masih ingat benar, saat itu dosen saya Pak Bob Widyahartono yang mengajar matakuliah Data Processing mengajak berkunjung ke Pusat Data Komputer milik Pemda DKI, Jl. Merdeka Selatan.

Rombonganpun berangkat dengan menggunakan bus full AC. Saat itu saya duduk berdua dengan Yuke Zakaria yang pertama kali saya kenal saat dilangsungkannya ospek. Dia mahasiswi yang rajin dan cerdas. Namun saya lebih tertarik kepadanya karena tulisan tangannya baik dan rapi. Atas dasar itu saya mengajaknya untuk bergabung dalam kelompok belajar saya dan sekaligus saya angkat sebagai sekretaris.

Lho, kelompok belajar kok ada sekretarisnya? Iya, dia juga tahu kalau saya kuliahnya di Jakarta dan Yogya. Minggu pertama dan kedua saya kuliah di empat kampus di Jakarta dan mingke ketiga dan keempat saya kuliah di dua kampus di Yogya. Begitu saya ke Jakarta, saya langsung pinjam buku catatan milik Yuke. Untuk saya fotokopi supaya saya tidak ketinggalan materi kuliah. Di tiap kampus, saya punya kelompok belajar dan punya sekretaris.

-“Hey! Sudah sampai,nih! Bengong aja,lu!”. Yuke menyenggol tangan saya. Ternyata bus sudah sampai di Pusat Data Komputer Pemda DKI. Ya, saat itu tahun 1974. Pertama kalinyasaya melihat komputer sebesar lemari (mainframe computer). Masih menggunakan punch card. Tempat penyimpanan data masih menggunakan pita magnetik. Masih menggunakan bahasa COBOL, RPG II, Pascal, dll. Tapi tahun 1974 komputer seperti itu sudah hebat.

Rombonganpun memasuki ruangan komputer yang sangat dingin. Kemudian ke ruang training. Di ruangan ini kami mendengarkan ceramah tentang data processing dan cara membuat flowchart. Kebetulan, saya duduk berdua dengan Yuke. Saya tahu, teman-temancowok iri pada saya. Maklumlah, semua mahasiswa tahu Yuke Zakaria itu cantik dan peramah. Kekurangannya hanya satu, dia perokok berat.

Jangan salah terka. Yuke sudah punya pacar, mahasiswa Fakultas Teknik. Di Universitas Trisakti juga. Jadi, hubungan saya terbatas pada pertemanan biasa saja. Meskipun demikian saya tidak munafik. Dalam hati saya naksir juga. Bahkan berdoa semoga cepat-cepat putus dengan pacarnya.

-“Kok, Harry melamun,sih?”. Tegur Yuke melihat saya diam saja.

-“Iya. Saya kagum dengan komputer tadi. Kita ini termasuk beruntung karena pada tahun 1974 sudah mengenal komputer secara langsung”. Saya menjelaskan.

Mungkin, karena terkesan dengan teknologi yang canggih itu, maka ketika saya lulus dari Fakultas Ekonomi , saya langsung mengikuti tes kerja di salah satu perusahaan komputer di Gedung Setiabudi II, Kuningan, Jakarta Selatan. Saat itu sekitar tahun 1977. Ternyata saya diterima. Ternyata, Yuke juga diterima. Saya dan Yukepun menempatiruang baru yang agak jauh sedikit.

Walaupun sudah memakai jaket, masih saja dingin merasuk ke dalam tubuh. Kebetulan, saat itu yang datang baru saya dan Yuke. Bos saya yang orang bule yang terkenal paling disiplinpun tidak masuk. Kabarnya pulang ke Australia.

Entahlah, mungkin AC-nya terlalu dingin, sayapun mendekati Yuke yang tampaknya juga kedinginan. Sebagai teman, sayapun memeluknya. Sekadar menghilangkan rasa dingin. Ah, ternyatadiam saja.

Sayapun memberanikan diri untuk mencium pipinya. Eh, ternyata diam juga. Akhirnya, dengan modal sedikit nekat, saya mencium bibirnya. Wow, ternyata Yuke membalasnya dengan hangat. Cukup lama juga saya bercumbu dengan Yuke. Meskipun demikian hubungan saya dengan Yuke terbatas sebagai teman. Atas nasehat saya, akhirnya Yuke yang perokok beratpun berhenti merokok. Apalagi di ruangan komputer full AC.

Pulang dari kantor, Yuke tetap dijemput pacarnya. Namun acara mencium Yuke tetap berlangsung tiap hari. Memang benar, persahabatan kadang-kadang lebih indah daripada percintaan.

Hariyanto Imadha

http://www.geocities.com/feusakti

CERPEN:

Selasa Pagi di Taman Sastra

DULU, setiap pagi saya kuliah di faskultas Sastra UI Rawamangun, siang di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, sore di Akademi Bahasa Asing “Jakarta” dan malam di Fakultas Hukum (extension) UI.

Tiap Selasa pagi ada jam kosong yang belum ada dosennya dan saya manfaatkan untuk santai. Duduk-duduk di taman sastra sambil minum es campur yang enak sekali rasanya. Tentu dengan teman-teman kuliah. Paling sering dengan Vincentia.

Kata-teman-teman, Vincentia cantik dan cocok jadi pacar saya. Tapi saya cuma tertawa saja. Pikiran saya tidak sejauh itu. Kalau kemana-kemana saya sering berdua dengan Vincentia, semata-mata Vincentia enak diajak bicara dan diskusi. Kalau diajak berbicara selalu nyambung.

Memang sih, saya akui Vincentia cantik, putih dan cerdas. Kabarnya sih dia masih keturunan Cina tetapi sangat “njawani” (seperti orang Jawa asli). Benar atau tidak saya tidak pernah menanyakannya. Masa bodoh sajalah.

Seperti biasanya, Selasa pagi itupun saya asyik berdua dengan Vincentia di taman sastra sambil minum es campur yang enak sekali. Walaupun masih pagi tetapi udara Jakarta cukup panas dan gerah.

-“Nggak pulang ke Yogya?”. Saya tanya ke Vincentia yang asli dari Yogya.

Dia cuma menggeleng.

Di Jakarta Vincentia kos di kawasan Rawamangun dekat terminal. Saya juga sering ke tempat kosnya.

Tak lama kemudian teman-teman lainnya berdatangan, antara lain Rita, Maskan dan lain-lain. Maka suasanapun menjadi semakin ceria. Memang, masa-masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan dan tidak mungkin dilupakan.

Selasa pagi yang lain. Seperti biasa, saya dan Vincentia kembali bertemu dan ngobrol-ngobrol di taman Sastra.

-“Kabarnya Tia akan menikah,ya?”. Saya tanya ke Vincentia.

Dia terkejut.

-“Ah! Siapa yang bilang? Nggak benar itu.Fitnah!”

Lantas katanya lagi.

-“Memangnya siapa yang bilang begitu?”

-“Nggak ada. Cuma semalam saya bermimpi seperti itu.

Vincentia tertawa. Katanya, Cuma mimpi saja kok dipercaya.

Kalau sudah bercanda begitu, teman-teman pasti mengira saya berpacaran. Padahal sih saya menganggap Vincentia sahabat yang baik. Sama baiknya kalau saya bersahabat dengan mahasiswi-mahasiswi Fakultas sastra UI lainnya. Di kampus ini memang 90 persen terdiri dari mahasiswi. Jadi, jangan heran kalau sebenarnya saya tidak Cuma akrab dengan Vincentia, tetapi juga dengan Mella, Grace, Lidya, Yannie, Sonia atau lainnya. Bahkan kalau di perpustakaan saya justru sering berdua dengan Sonia yang berasal dari jurusan lain.

Taman sastra UI Rawamangun memang indah sekali. Rumputnya hijau rata, pohon-pohonnya rindang dan bunga-bunganya mekar dengan cantik sekali. Taman itu juga dilengkapi dengan bangku-bangku yang nyaman. Di kampus saya yang lain, yaitu di kampus ABA Jakarta, FE Universitas Trisakti ataupun di FHUI, tidak ada tamannya.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Entah sudah berapa ratus kali saya dan Vincentia duduk berdua di taman Sastra. Atau berdua ke perpustakaan British Council, perpustakaa LIP Jl. Gatot Soebroto, dll. Tanpa terasa, masa pendidikan telah berakhir.

Pada Selasa pagi terakhir, saya dan Vincentia untuk terakhirnya duduk berdua di taman Sastra.

Saat itulah Vincentia berkata kepada saya.

-“Harry. Jujur saja. Sejak semester pertama sebenarnya saya suka sama Harry. Cuma masalahnya, saya sebagai seorang wanita tidak mungkin mengatakan terlebih dulu. Kamu tentu sudah tahu perasaan saya. Mbak Rita tentu sudah mengatakannya kepadamu. Tapi rasa-rasanya, bertahun-tahun tak ada kejelasan sikap darimu Harry. Jadi, saya cuma bisa memberikan ini……”

Vincentia memberikan sebuah amplop indah. Isinya, undangan pernikahan.

-“O,ya. Terima kasih. Saya pasti akan datang..” kata saya.

Itu adalah Selasa terakhir. Pada hari pernikahannya di Yogyapun saya datang.

Ya, itulah akhir dari sebuah pertemanan. Sahabat baikku telah menikah dan sayapun tidak perlu merasa patah hati. Sejak awal semester pertama memang saya menganggap Vincentia sebagai sahabat yang baik. Tidak lebih dari itu.

Hariyanto Imadha

indodata@yahoo.com

Bojonegoro

CERPEN:

Nostalgia SMAN 4 Surabaya

SURABAYA 1970. Saya pindah sekolah, dari SMAN 1 Bojonegoro ke SMAN 4 Surabaya. Soalnya, katanya SMA ini merupakan SMA teladan di Surabaya. Ah, apa iya sih. Rasa penasaran itu akhirnya saya pindah. Saat itu kepala sekolahnya masih Pak Satmoko, kalau tidak salah. Dulu masih ada Sekolah Guru Agama (SGO). Dulu juga masih ada lapangan basketnya.

Hari pertama, saya terlambat datang. Sesudah memarkir sepeda motor, saya bertanya ke siswa yang kebetulan juga terlambat.

-“Kelas II Sos si mana,ya?”

Siswa itu menunjuk kelas yang agak ke pojok. Sayapun langsung masuk dan setelah memberi informasi ke guru sayapun duduk di bangku yang masih kosong. Namun baru sepuluh menit mengikuti pelajaran, saya kok merasa aneh. Saya tanya ke teman sebelah.

-“Ini Sos atau IPA?”

Teman saya tertawa.

-“Ini IPA, Sos di sana” . Sambil menunjuk.

Sekelas tertawa. Hari pertama saya sudah dikerjain. Diamput

Saya pun minta ijin ke guru sekalian tanya kelas II Sos di mana. Guru itupun mengantarkan saya ke kelas tersebut.

Sayapun masuk. Setelah menyampaikan informasi ke guru yang sedang mengajar, sayapun dipersilahkan duduk. Semua mata di kelas memandang saya.

-“Di sini saja bangkunya”. Ada salah seorang siswa menunjuk bangku. Sayapun duduk. Namun, bangku itu bergoyang-goyang. Ternyata bangku rusak. Teman sekelaspun tertawa puas. Rupa-rupanya saya dikerjain lagi. Akhirnya saya pindah lagi dekat siswa yang kalau tidak salah namanya Harjono. Diamput!

Nah, karena saya orangnya suka bergaul, maka dalam waktu singkat saya sudah kenal Ellen, Tatik, Martanto, Tjahjo, Tommy, dan lain-lain. Sayapun minta alamat mereka. Juga minta puisi, lagu, dan kata kenang-kenangan. Waktu itu yang mengajar Bu Si (lupa namanya), yang katanya sampai tua masih perawan. Walaupun memakai cincin kawin, namun itu hanya untuk kamuflase saja.

Selesai. Jam pulangpun dipukul. Sayapun mengambil sepeda motor. Tapi aneh, knalpot saya berbunyi kletek-kletek sepanjang jalan. Di viaduct saya berhenti untuk memeriksa knalpot. Ternyata diisi kerikil oleh anak-anak SMAN 4. Saya dikerjain lagi. Diamput!

Nah, saat ada acara upacara, saya ditunjuk sebagai pengibar bendera. Sebagai siswa baru, ya saya mau-mau saja. Tapi apa yang terjadi? Ketika bendera baru setengah tiang, ternyata talinya putus. Wah, saya disoraki seluruh siswa. Malu sekali rasanya. Namun beberapa hari kemudian ada yang memberi tahu saya, katanya saya dikerjain. Tali bendera itu sebelumnya memang sudah diiris memakai silet.Diamput!

Ya, walaupun saya sering dikerjain, tapi saya tidak sakit hati.Biasa, namanya juga anak muda. Bahkan, sampai sekarangpun saya tidak tahu siapa saja anak-anak SMAN 4 yang “ngerjain” saya.

Hariyanto Imadha

Eks Siswa SMAN 4 Surabaya

http://www.geocities.com/sman4_sby

NB:Titip salam buat Martanto (kabarnya pernah jadi guru di SMAN 4 Surabaya. Kalau ada yang tahu alamatnya atau nomor HP-nya tolong kirim kabar ke saya ke indodata@yahoo.com. Terima kasih..

CERPEN:

Pantai Lovina 1971

SURABAYA 1971. Saat itu saya masih berstatus siswa di SMA Negeri 6, Jl. Pemuda, Surabaya. Saat itu ada rencana mengadakan rekreasi ke Bali. Sebenarnya saya tidak ingin ikut. Maklum, saya sudah sering ke Bali. Namun, karena pergi ke Bali secara rombongan belum pernah saya alami, maka sayapun ikut mendaftar.

Wah, senang juga ya. Di dalam bus, sepanjang perjalanan, kerjanya cuma bercanda, bernyanyi, makan kue dan minum dingin. Menyenangkan sekali. Masa-masa seindah itu tidak mungkin akan saya alami lagi. Maklum, masa remaja hanya sekali seumur hidup. Sayang, saat itu pacar saya, Lia namanya, tidak ikut. Dia juga siswa SMAN 6 juga.

Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya rombonganpun sampai di Bali. Kami menginap di Hotel Dewi. Sesudah mandi dan makan, maka rombongan melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta, Pantai Sanur, Gua Gajah dan beberapa objek wisata lainnya.

Satu hari sebelum hari terakhir, rombongan menuju ke Pantai Lovina. Sebuah pantai yang masih alami. Air lautnya bersih dan bening. Pohon kelapa melambai-lambai menyambut kedatangan rombongan. Indah sekali.

Semua pesertapun berpencar menyusuri pantai. Saat itu saya menuju ke Timur sambil membawa kamera. Sendiri saja. Lantas saya menemukan beberapa pura kecil. Ternyata itu tempat persembahyangan bagi kaum Hindu Bali.

Saat itu pas acara persembahyangan sudah selesai. Satu persatu mereka meninggalkan pura. Tentu, dengan menggunakan kamera saya jepret sana jepret sini. Dan, tiba-tiba mata saya memandang ke seorang gadis yang mencoba menghindar dari kamera saya. Wow, ternyata dia cantik juga.

Setengah berlari, saya mengikuti gadis itu. Dia bersama adiknya. Terus ke Timur menyusuri pantai. Akhirnya saya berhasil mendekati.

-“Boleh nggak kenalan? Saya dari Surabaya. Saya membutuhkan foto-foto kenang-kenangan”

Gadis itu menatap wajah saya sebentar. Tersenyum malu. Wajahnya ditutupi dengan telapak tangannya. Namun, karena saya memohon terus menerus, akhirnya gadis itu bersedia juga saya foto.

Gadis itu bernama Komang Adhyarini. Anak pertama dari seorang pengusaha sukses di kota Singaraja. Rumahnya dekat kompleks perumahan karyawan bank BRI. Sayapun dipersilahkan mampir ke rumahnya. Gadis yang semula pemalu, akhirnya menjadi akrab. Kedua orang tuanya juga baik sekali.

Sayang, saya tidak bisa berlama-lama. Akhirnya saya pamit kembali untuk bergabung dengan rombongan SMAN 6.

-“Mas, jangan lupa fotonya nanti dikirim”. Pinta Rini, panggilan gadis itu.

Saya cuma mengangguk.

ESOK harinya adalah hari bebas. Saya membeli beberapa patung untuk kenang-kenangan. Esok dini hari, rombongan kembali ke Surabaya. Sayapun segera mencetak semua foto kenang-kenangan selama di Bali. Alhamdulillah, semua foto tercetak bagus.

Esok harinyapun saya ke kantor pos yang ada di seberang SMAN 6. Saya menepati janji untuk mengirim foto Rini yang pernah saya kenal di Pantai Lovina. Sebulan lamanya saya menunggu balasan dari Rini , ternyata tidak ada balasan apapun.

Kira-kira dua bulan kemudian, guru saya mengatakan ada surat untuk saya di tata usaha. Saya pun bergegas ke ruang tata usaha. Benar, surat itu berasal dari Rini. Saat itu, Lia, pacar saya, juga ikut.

Saya dan Lia pun segera membuka surat itu. Ah, ternyata isinya surat undangan pernikahan. Rini akan menikah. Tapi, tak apalah. Pantai Lovina akan saya kenang sampai kapanpun. Bahkan walaupun sekarang usia saya sudah 55 tahun, kenangan indah di tahun 1971 itu masih membekas dengan jelas. Ya, saya berjanji, kapan-kapan akan ke Pantai Lovina lagi.

Hariyanto Imadha

Alumni SMAN 6 Surabaya

http://www.geocities.com/sman6_sby

CERPEN:

Antara Erna Stella dan Erna FISIP

SAYA lupa hari, tanggal, bulan dan tahun kejadiannya. Namun yang pasti, saat itu saya baru saja putus hubungan Puspita, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM. Sore itu saya menuju stasiun untuk pulang ke Jakarta.

Namun baru saja kaki akan menaiki gerbong, seorang gadis didampingi seorang gadis lagi memanggil saya.

-“Mas,Mas…sebentar,Mas”.

Saya tengok kanan kiri. Saya yakin saya yang dipanggil. Walaupun saya tidak mengenalnya, namun rasa keinginan tahu menyebabkan saya menghampiri.

_”Ada apa?”. Saya bertanya ke gadis itu.

“Tolong, Mas.Ini adik saya. Belum pernah ke Jakarta. Tolong dijagain ya, Mas?”

Karena kereta mulai bergerak berangkat, maka saya mengiyakan saja. Adiknya saya suruh naik ke kereta terlebih dulu. Sempat juga melambaikan tangan ke kakaknya. Kereta terus berjalan semakin kencang. Ternyata saya dan gadis itu berbeda gerbong dan tidak sama pula nomor kursinya. Untunglah, ada mahasiswa yang berbaik hati bertukar tempat sehingga saya bisa duduk bersama dengan gadis itu. Gadis itu wajahnya biasa-biasa saja. Tidak secantik kakaknya.

Dari hasil ngobrol-ngobrol di kereta saya tahu, gadis itu namanya Budiningsih dan kakanya namanya Ernawati. Sayapun mencatat alamat keduanya. Ternyata, Erna masih kelas 3 SMA dan tinggal di Asrama Putri Stella Duce.

Biasalah. Sampai di Jakarta saya mengantarkan Budi ke rumah pamannya di daerah Tanah Abang. Esok harinya saya berkirim surat ke Erna. Isinya biasa-biasa saja. Mengabarkan bahwa Budi telah tiba di Jakarta dengan selamat.

E, ternyata dari surat-menyurat itu memaksa saya harus bolak-balik lagi Jakarta-Yogyakarta. Ceritanya, Erna jadi “teman baik” saya. Biasalah, namanya juga anak muda. Lama juga saya berpacaran. Sampai akhirnya peristiwa yang pernah saya alami dengan Puspita terjadi lagi. Sesudah Erna lulusa dari SMA, saya tidak tahu di mana tinggalnya. Saya tanyakan ke neneknya yang tinggal di daerah Ambarukmo. Katanya, Erna kos di Jl. Magelang, dekat Hotel Maerakaca. Celakanya, nomornya tidak tahu.

Karena kepalang tanggung, maka di Yogya itu saya gunakan untuk menelusuri Jl. Magelang. Setiap ada anak-anak SMA atau mahasiswa, saya tanya apakah di daerah itu ada yang namanya Erna. O ya, waktu itu saya ke Yogya bersama teman dari Jakarta juga, namanya Paul, dari Timor Timur. Dia kuliah di Fakultas Teknik Universitas Trisakti, sedangkan saya di Fakultas Ekonomi pada universitas yang sama.

Tiba-tiba ada anak yang menunjukkan ke sesuatu jalan.

-“Oh, ada Mas. Mbak Erna rumahnya di jalan itu”.

Saya dan Paul pun mengikuti arah yang ditunjukkan. Akhirnya saya menemukan sebuah rumah. Semacam rumah panggung. Suara ayamnya ramai sekali. Sayapun mengetuk pintu.

Tak lama kemudian muncul seorang gadis putih berwajah Jawa dan cantik.

-“Cari siapa,Mas?”. Dia bertanya.

-“Anu, saya mencari Erna”. Agak gugup juga saya menjawabnya.

-“Ya, saya Erna”. Wah, ternyata gadis itu namanya Erna juga. Akhirnya sudah kepalang tanggung, saya katakan bukan Erna dia yang saya cari. Saya dipersilahkan duduk dan sempat minum. Aneh ya, keramahannya membuat seolah-olah saya sudah mengenalnya puluhan tahun yang lalu. Gadis itu ternyata bernama Erna juga, tetapi kuliah di FISIP UGM.

Besoknya, sesudah mengantarkan Paul ke beberapa objek wisata, maka sorenya kembali ke Jakarta. Selanjutnya biasalah, saya berkirim surat ke Erna FISIP. Jaman dulu belum ada SMS. Akhirnya, Ernapun menjadi “teman baik” saya, menggantikan Erna Stella. Kabarnya sih Erna melanjutkan di Fakultas Psikologi, tetapi karena uang saku saya terbatas, saya tidak sempat mencari di kampusnya.

Yang pasti, tiap Jumat sore saya ke Yogya dan tiap Minggu sore kembali ke Jakarta. Dua tahun kemudian hubungan saya dan Erna FISIP tidak ada kelanjutannya. Maklum, kesibukan saya di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta, banyak sekali.

Hariyanto Imadha

Alumni FE Usakti

CERPEN:

17 Juli 1980 di Kampus Bulaksumur

KAMPUS Bulaksumur, 17 Juli 1980. Sesudah puas membaca beberapa buku di perpustakaan, perut terasa lapar. Siang itupun saya menuju ke kantin. Hampir penuh pengunjung. Untung masih ada tempat kosong. Sayapun duduk dan pesan makanan.

Sambil menunggu makanan, saya buka-buka buku yang baru saya pinjam dari perpustakaan. Buku tentang ilmu logika berjudul “1000 Cara Berlogika yang Benar”. Maklum, saat itu saya kuliah di Fakultas Filsafat.

-“Maaf,Mas…tempatnya kosong?”, tiba-tiba ada dua orang mahasiswi bertanya.

-“O,iya…silahkan”. Saya memaklumi, tempat sudah penuh. Kedua mahasiswi itupun duduk dan memesan makanan. Saya tetap membuka-buka buku.

-“Kuliah di Fakultas Filsafat, ya Mas?”, tanya mahasiswi yang mengenakan baju warna ungu muda.

-“O, iya…”, saya menjawab singkat. Secara sekilas saya lihat mahasiswi itu boleh juga. Putih dan cantik.

Bisa ditebak, akhirnya saya mengobrol akrab sekali. Mahasiswi itu kuliah di Fakultas Psikologi. Demikian juga temannya. Nama mahasiswi itu Puspita. Nama lengkapnya saya lupa.

Seperti di sinetron, maka peristiwa berikutnya bisa ditebak. Saya sering datang ke tempat kosnya di Jl. Kaliurang dan kadang-kadang dia juga datang ke tempat kos saya di Jl. Sosrokusuman.

Bulan-buan berikutnya hampir semua tempat rekreasi sudah pernah kami kunjungi. Mulai dari candi Borobudur, candi Prambanan, pantai Kaliurang, Pantai Samas, dll.

Tanpa terasa, kami berpacaran cukup lama. Kamipun diwisuda pada hari yang sama.

Tapi, sesudah itu saya tidak pernah bertemu lagi. Tempat kosnya kosong. Pembantu di kamar kos bilang Puspita sudah tidak kos di situ. Sudah pindah ke Bandung.

Sakit rasanya hati saya. Kenapa Puspita tidak pernah berbicara sebelumnya?. Pacaran macam apa ini? Serius atau main-main? Sungguh, sulit dimengerti. Teman-temannya juga tidak ada yang tahu alamat Puspita di Bandung.

Di tempat kos saya termenung sedih. Setumpuk foto Puspita masih tersimpan di album. Begitu juga surat-suratnya masih tersimpan rapi. Tapi,ah…sudahlah. Buat apa dipikirkan, toh dia sudah melupakan saya.

Tiga hari kemudian sayapun kembali ke Jakarta untuk meneruskan perkuliahan. Maklum, saat itu saya kuliah dibeberapa kampus, ya di Yogya ya di Jakarta.

——————————————————————————————–

17 Juli 2007. saya dapat undangan dari bekas teman kuliah. Darsono namanya. Dia akan menikahkan anaknya pada 18 Juli 2007. Namun sehari sebelumnya saya sudah berada di Yogya. Menginap di Hotel Maerakaca. Oh, hotel itu masih seperti dulu.

Karena tidak ada acara, maka siangnya saya bernostalgia ke Kampus UGM Bulaksumur. Oh, juga masih seperti dulu. Perpustakaannyapun masih seperti dulu.

Sayapun menuju kantin.Oh, masih seperti dulu. Tanpa terasa, 27 tahun yang lalu saya pernah duduk di kantin itu. Kursi yang diduduki Puspita juga masih seperti dulu. Sayapun memesan makanan. Tanpa terasa, hati terasa haru mengingat kenangan masa lalu.

-“Maaf,Om…kursinya kosong?”. Tiba-tiba ada dua orang mahasiswi bertanya. Siang itu kantin memang cukup penuh.

-“Oh, ya,ya…silahkan duduk…”

Kedua mahasiswi itupun duduk di depan saya. Terkesiap saya melihat wajah mahasiswi itu. Bermimpikah saya? Ataukah hanya kebetulan saja? Mahasiswi itu mirip sekali dengan Puspita. Bahkan, dia juga mengenakan baju berwarna ungu muda seperti baju yang pernah dipakai Puspita 27 tahun yang lalu.

-“Om, dosen di sini?”, tanya mahasiswi itu.

-“Oh,tidak..tidak. Dulu saya pernah kuliah di sini,”

Lucunya, mahasiswi itupun kuliah di Fakultas Psikologi. Kebetulankah? Dulu saya bertemu Puspita pada 17 Juli 1980. Puspita berbaju ungu muda. Kuliah di Fakultas Psikologi. Hari itu 17 Juli 2007, saya mengalami peristiwa yang sama. Kebetulankah?

-“Kenapa kok memilih Fakultas Psikologi?”, saya bertanya

Mahasiswi yang cantik itupun menjawab.

-“Ya, mama dulu juga kuliah di sini. Saya jadi ingin mengikuti jejak mama”

-“Siapa nama mama?”. Saya bertanya. Jangan-jangan mahasiswi ini anak Puspita.

Ternyata benar. Mahasiswi itu anak keempat Puspita.

Saya lihat mahasiswi itu mengenakan kalung seperti yang pernah saya berikan ke Puspita.

-“Maaf, boleh lihat sebentar kalungmu?”

-“O, boleh Om. Memangnya ada apa?”

Sesudah saya perhatikan, ternyata benar. Di kalung itu ada nama saya dan nama Puspita. Kalung itu merupakan hadiah ulang tahun untuk Puspita.

Saya menunjukkan nama saya ke mahasiswi yang bernama Prima itu.

-“Ini nama saya. Dulu saya pernah kuliah di sini. Mamamu dulu pernah pacaran dengan saya”. Sayapun menceritakan masa-masa lalu yang indah.

-“Bagaimana kabar mama sekarang?”

Mahasiswi itu terdiam. Matanya berkaca-kaca.

“Mama telah meninggal,Om. Karena sakit.Tiga tahun yang lalu…”

—————————————————–

Hariyanto Imadha

Alumni Fakultas Filsafat UGM

indodata@yahoo.com

Bojonegoro

.

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: