NOVEL

 

NOVEL : Beda Novel Dan Sok Novel

MENURUT pengamatan saya, apa yang dijual di toko buku dan dikelompokkan dalam buku novel, ternyata sebenarnya bukanlah novel. Ada anggapan keliru yang mengatakan bahwa novel adalah cerita yang panjang. Bahkan itu merupakan pengalaman pribadi. Ceritanyapun klise. Tidak ada karakterisasi. Lebih parah lagi tak ada pesan maupun sesuatu yang baru.

Apakah novel itu?

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita”.

Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.

Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Novel)

Jadi, apakah unsur-unsur daripada sebuah novel?

Antara lain:

-karya fiksi

-berbentuk prosa

-naratif

-lebih komplek daripada cerpen

-tidak ada batasan struktural dan metrikal

-menonjolkan karakter tiap pelaku

-ada pesan yang disampaikan

-ada sesuatu baru

-inspiratif

-ada unsur pencerahan

Kelemahan novel masa sekarang

Cukup banyak novel yang sebenarnya kurang begitu berbobot karena di samping tidak memenuhi berbagai ciri novel, juga karena:

-ceritanya klise

-jalan ceritanya mudah ditebak

-tidak ada sesuatu yang baru

-apa yang diceritakan sudah biasa terjadi

-kebanyakan hanya bercerita tentang cinta tanpa variasi lain

-tidak memberikan pencerahan kepada pembaca

-tidak didukung sebuah penalaran yang logis dan benar

-tidak menambah pengetahuan baru bagi para pembacanya

-tidak meluruskan pandangan-pandangan yang keliru

-dialognya bertele-tele dan tanpa makna

Penilaian novel yang keliru

Banyak pembaca mengatakan novel yang dibacanya bagus, hanya karena jalan ceritanya menarik. Padahal dari segi kualitas novel tersebut tak ada bobotnya.

Bukan sarjana sastra

Kalau boleh jujur, saya katakan bahwa novel-novel yang dijual di toko buku, dibuat oleh bukan sarjana sastra. Mereka tak faham linguistik dan bagian-bagiannya. Tak mengerti logika bahasa.Tak faham psikologi kata. Tak menguasai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak menguasai sistimatika alur cerita. Menggunakan dialog-dialog yang bertele-tele tapi tanpa makna.

Penerbit komersial

Celakanya, kebanyakan penerbit juga bukan sarjana sastra.Mereka lebih mementingkan segi komersil. Lebih mementingkan nama penulis novel yang sudah terkenal. Atau memilih judul yang “bombastis”. Atau karena faktor nepotisme. Bahkan ada penerbit yang menerbitkan buku-buku di mana biaya penerbitannya dibayar sepenuhnya oleh penulis novel hanya karena penulisnya orang kaya dan ingin terkenal (terutama buku-buku para politisi).

Hanya pembaca yang cerdas

Kualitas sebuah novel, hanya bisa diketahui oleh pembaca novel yang cerdas, terutama punya latar pendidikan fakultas sastra, atau punya penguasaan sastra yang baik atau seorang otodidak yang punya wawasan pikir yang sangat luas. Mereka tahu, mana novel yang berkualitas dan mana novel picisan.

Semoga bermanfaat

Sumber gambar: singgalangmasuksekolahh.wordpress.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: