CERPEN: Di Langit Kugapai Bintang

FACEBOOK-CerpenDiLangitKugapaiBintangOke

YOGYA,17 Juni 1985.Hari ini saya dan Ita atau Ade Rosita sedang duduk berdua di restoran Hellen,Jl.Malioboro.Kami berdua sedang minum ice juice kesukaan masing-masing.

-“Selamat hari ulang tahun 17 Juni 1985.Mudah-mudahan Mas Yanto cepat mendapatkan pekerjaan lagi”,kata Ita sambil menyalami saya.

-“Terima kasih. Saya juga mengucapkan ulang tahun untuk Ita.Bukankah ulang tahun kita sama? Mudah-mudahan Ita kelak menjadi sarjana yang berguna bagi nusa dan bangsa”,sayapun menyalami tangan Ita yang halus lembut itu.

Hari demikian cepat berlalu.Semua sahabat saya telah menikah.Ruddy Rayadi,Faizal Salmun,Armi Helena Nasution,Orizanita,Inggah Silanawati,Chatarina Pri Ernawati,yah..hampir semua.Tinggal saya yang belum.Sudah berkali-kali saya naksir cewek mulai dari Rikit Mulyasari,Nunie Hendrati,Sri Redjeki Cikatomas,Dewi Sayekti,Emiria Bhakti…semuanya menolak.Tapi,untunglah saya menemukan seorang gadis bernama Ita.

-“Ita,secepatnya saya akan melamarmu.Apalagi menurut Dokter Arifin Mahubay, telah menyatakan bahwa Ita dalam keadaan sehat dan bahkan sudah mengandung.Tentu,saya harus bertanggung jawab”,kata saya suatu ketika.Saya pandangi bulu mata Ita yang lentik serta alisnya yang tebal.Orang bilang,gadis yang demikian biasanya bisa memiliki keturunan yang cantik dan ganteng.Ita diam saja.Hari itu Ita telah hamil dua bulan.

MALAM harinya saya masih berada di rumah Ita di Jl.Cik Di Tiro.Di ruang tamu kami berbicara,ngobrol,melihat TV sambil membuka-buka album.Ibu Ita,yaitu ibu Sindoro turut menemani.Pak Sindoro telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.Putera Bu Sindoro tujuh orang,Ita nomor tujuh.Hanya Ita dan Bu Sindoro yang menempati rumah di Jl.Cik Di Tiro,Yogyakarta itu.

Tiba-tiba saya terkejut ketika membuka album yang berikutnya. Di situ saya melihat foto rumah saya yang terletak di Jl.Trunojoyo No.4 Bojonegoro yang sudah terjual 15 tahun yang lalu.

“Ini foto rumah siapa,Bu?”,tanya saya memancing.Bu Sindoro melihat ke album yang kutunjukkan.Lalu katanya panjang lebar.

“Itu foto rumah Bu Sudjana,bekas tetangga Bu Sindoro sewaktu Pak Sindoro menjabat sebagai bupati waktu itu.Semua putera Bu Sudjana. Karena Bu Sudjana tak berhasil memiliki putera laki-laki,maka akhirnya putera ibu yang laki-laki dimintanya.Sebagai anak angkat”.Wajah Bu Sindoro menerawang,mengingat masa lalu.

Sayapun mengambil kesimpulan bahwa sayalah yang dimaksud putera laki-laki itu.Kalau begitu,saya ini anak angkat?Kalau begitu,Bu Sindoro adalah ibu kandung saya?Kalau begitu,Ita yang tengah mengandung dua bulan ini adalah…adik kandung saya?Ya Tuhan,terkutuklah saya ini…”.Saya berdesah,cemas dan ragu.

ESOK harinya Ita menangis deras.Lama dia menangis di Hotel Intan, tempat saya menginap.

“Tak mungkin kita menikah.Tak mungkin”,ucap saya lirih,setengah putus asa.Saya bingung,pikiran ruwet.Ita berkali-kali mengusap air mata yang membasahi pipinya.

“Ita,satu-satunya jalan adalah …aborsi.Ita harus gugurkan kandungan itu.Sekarang juga kita ke Dokter Arifin.Saya bangkit,kutarik pelan tangan Ita.Ita pun bangkit dari tempat tidur.Sesudah menyeka air mata,Itapun mengikuti saya.

-“Apakah aborsi tidak dilarang hukum?”,Ita ingin tahu.Sementara itu Yogya mulai diguyur hujan yang deras.Becak yang kami naiki amat pelan jalannya.Maklum,tukang becaknya sudah tua.

“Sekitar tahun 1972 Indonesia memang menganggap bahwa bahwa aborsi adalah ilegal.Tidak sah.Tanpa kekecualian.Bahkan pasal 346 KUHP  bisa memidanakan seorang wanita yang menggugurkan kandungannya”,saya menjelaskan.

“Jadi?”,Ita ingin tahu.Wajahnya agak ketakutan.Memang serba salah.Alkan menikah,jelas agama tidak mungkin mengijinkan karena kami ternyata kakak beradik kandung.Melakukan aborsi berarti melanggar hukum.Sudahkan Indonesia menganut “legal conditionally” mengenai aborsi di mana aborsi bisa dibenarkan atas dasar pertimbangan ‘rape’ (perkosaan),’incest’ (sesaudara kandung),atau ‘deformed fetus’ atau pertimbangan medis?Entahlah.

Yang jelas,uang adalah segala-galanya.Setelah tawar-menawar akhirnya dr.Arifin Mahubay bersedia melakukan aborsi dengan imbalan uang Rp 15 juta.

Darimana saya mendapatkan uang sebanyak itu?Akhirnya saya nekat,rumah yang saya tempati di kawasan Cinere,Bogor,saya jual.Saya iklankan di Harian Sinar Harapan.Bunyinya:”Rumah:Dijual.Murah,mungil indah.Cinere Blok D-160 (Jl.Bukit Cinere,PT Kani).LT/LB 108/65,2 KT,BathTub.Dijual di bawah harga pasaran.Hub:Harry alamat tsb.TP”.

Untunglah rumah saya cepat laku.Terjual dengan harga Rp 61 juta,yang 15 juta untuk biaya aborsi.Sisanya saya belikan rumah di perumahan Pondok Mekarsari,Jl.Raya Bogor Km 30,sekitar enam kilometer sebelah Selatan terminal Cililitan.

Sikap saya ke Bu Sindoro (ibu kandung saya) biasa-biasa saja.Rahasia itu saya pendam rapat-rapat.Masalah aborsi hanya saya,Ita dan dr.Arifin yang mengetahuinya.Yang jelas,saya tetap menghargai Bu Sudjana yang telah memelihara saya,memmanjakan saya,dan mendewasakan saya hingga sekarang.Luar biasa,betapa tahan Bu Sudjana menyimpan rahasia ini sampai puluhan tahun.

Menjelang lebaran tahun ini,saya meminta ijin ke Bu Sindoro agar Ita boleh saya ajak ke Bali,berlibur dan berlebaran di sana.Ijin dikabulkan.Benarkah kami ke Bali? Tidak!Saya mengajak Ita ke kota Bojonegoro,kota di mana ‘ibu’ saya berada.Saya akana sungkem dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan ‘ibu’ Sudjana.

Ita tetap saya ajak ke Bojonegoro,Jawa Timur.Karena,meskipun Ita ternyata adalah adik kandung saya,namun kami belum bisa mengganti rasa cinta itu dengan rasa persaudaraan.Aneh memang.

“Saya tak mengira cinta pertama saya seburuk ini”,Ita mengeluh berkali-kali.Matanya masih basah.Badannya masih lemah akibat aborsi.Ita memang pantas bersedih, karena sesudah aborsi itu,dr.Arifin mengatakan bahwa Ita tak mungkin akan memiliki keturunan seumur hidup.

Betapa banyak cobaan yang saya hadapi pada tahun 1985 ini.Saya dipecat dari PT Sunan Ngampel akibat saya difitnah,mobil Honda Civic Wonder saya hancur akibat kecelakaan dekat restoran Situ Gintung,Ciputat.Saya ditolak untuk menjadi dosen di Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti,Jakarta karena lowongan telah diisi oleh teman saya Eva Hassan dan Heru Hardjanto dan sekarang mengalami mysibah mencintai seorang gadis yang ternyata adik kandung sendiri.

Malam harinya kami makan malam bersama.Bukan main hiruk-pikuknya.Semua saudara saya yang kebetulan semuanya perempuan datang bersama suami masing-masing,juga famili-famili,sahabat-sahabat se-SMA,lengkap dengan putera-puteranya.

Saya sengaja mengajak Ita supaya tidak diledek.Kalau ditanya, maka saya akan memperkenalkan Ita sebagai calon istri saya.Mereka pasti percaya,termasuk ‘ibu’ saya.Namun suasana lebaran malam itu menjadi lain ketika ‘ibu’ku memandang tajam ke arah Ita.’Ibu’ saya berhenti makan sejenak.Semua yang duduk di sekitar meja makan saling berpandangan tak mengerti.

“Nak Ita,boleh ibu pinjam sebentar kalung,nak Ita?”,pinta ‘ibu’.

Agak ragu dan heran, pelan Ita melepas kalung itu dan memberikannya ke ‘ibu’.’Ibu’ pun melihat dan membolak-baliknya.

“Nak Ita,ibumu namanya siapa?”,tanya ‘ibu’.

“Sindoro” jawab Ita jelas.

“Sindoro Soesmadji?” tanya ‘ibu’.Ita mengangguk.

‘Ibu’ku langsung bangkit dan memeluk Ita erat-erat.

“Ya Tuhan…kamu anak kandung saya…!

Saya semakin heran.Semua yang hadir terpaku.Ita merangkul ‘ibu’ setengah tak percaya.

Namun setelah ‘ibu’ bercerita,segalanya jadi jelas.Dulu,’ibu’ Sudjana berputera seluruhnya perempuan,satu di antaranya jadi anak angkat Bu Sindoro.Sebaliknya,seluruh putera Bu Sindoro adalah laki-laki,satu di antaranya adalah saya)menjadi anak angkatnya Bu Sudjana.Jadi,semacam barter begitu.Jadi,sebenarnya ternyata Ita bukan adik kandung saya!

SEWAKTU seluruh keluarga tidur, di pavilyun saya dan Ita sa;ling berpeluk.Air mata Ita menetes deras.Air mata suka,sedih,haru,kecewa,semuanya menjadi satu.

“Jadi,kita bukan kakak beradik sekandung…”,kata saya.

“Kalau begitu,kita boleh menikah ,bukan?”,ucap Ita.

“Benar.”,singkat jawab saya.

“Tapi,Mas…Kita sudah terlanjur melakukan aborsi.Dan saya tak mungkin memiliki keturunan lagiApakah Mas Yanto nanti tak menyesal jika tak punya anak?”,Ita bertanya penuh rasa kekhawatiran.

“Serahkan saja semuanya kepada Tuhan.Masalaha kita nanti punya keturunan atau tidak itu tidak masalah bagi saya.Hanya Tuhan yang Maha Tahu”,saya mencoba meyakinkan Ita.

Benar.Dua tahun sesudah kami menikah,saya dan Ita dikaruniai seorang putera sehat dan lucu.

Iklan

CERPEN: Rita Perawan Bandung Selatan

Gambar

YOGYAKARTA,1980:Pada tahun ini saya masih kuliah di Fakultas Filsafat UGM.Seperti biasa,tiap akhir bulan saya pulang ke Jakarta.Sayang,malam itu kereta jurusan Yogya-Jakarta tiketnya sudah habis.Terpaksa saya mengambil keputusan mengambil jalan berputar yaitu Yogya-Bandung-Jakarta.Sesudah saya mendapatkan tiket jurusan Bandung,segera saya naik ke gerbong.Kereta Mutiara Selatan malam itu meluncur mulus meninggalkan Kota Gudeg.

“Mau ke Bandung ?”,saya bertanya ke gadis yang duduk di sebelahku.Dia menoleh.Wah,cantik juga gadis ini,pikirku.Gadis itu cuma mengangguk sambil tersenyum kecil.Rambutnya hitam dipotong pendek.Saat itu dia mengenakan baju berwarna biru dan celana jean.

“Di Bandung kuliah atau kerja ?”,saya tanya lagi.Mumpung ada kesempatan bagus.

“Di Sastra Inggeris,IKIP Bandung.Nggak tahu deh,Mas…Rita dulu inginnya masuk Fakultas Psikologi,tapi Papa sih…tidak mengijinkan.Apa boleh buat.Sebenarnya kalau soal bahasa sih,lebih suka bahasa Perancis daripada bahasa Inggeris”,katanya sambil tersenyum manis.

“Savez-vous parler francais?”,tanyaku dalam bahasa Perancis.Asal ngomong.Siapa tahu Rita mengerti.Sempat kulihat bulu matanya yang lentik indah.

“Je ne la sais pas encore.Mon pere connait le francais perfaitement”,jawabnya merendahkan diri.Apakah bahasa Perancisnya sempurna atau tidak,saya juga tidak tahu.Tapi maksudnya saya mengerti.

“Kalau bahasa Inggeris,saya dulu juga pernah belajar bahasa  Inggeris di Akademi Bahasa Inggeris “Jakarta”.Kalau bahasa Perancis,sih cuma belajar asal-asalan.

Malam semakin larut.Segelas kopi hangat saya minum sedikit demi sedikit sekedar mengurangi udara AC kereta yang cukup dingin.Penumpang lain sudah mulai tidur,sedangkan saya dan Rita masih terlibat pembicaraan.Tampaknya ada kecocokan.

“Ngomong-ngomong,Rita belum tahu nama Mas…”,Rita menyalami saya.

“Saya Harry”,singkat jawaban yang saya berikan.

“Kuliah di mana ,Mas?,”Rita ingin tahu.Kereta terus melaju.Kereta itu memang menyenagkan.Semua penumpang menghadap ke depan dan tidak ada yang duduk berhadap-hadapan.Satu set kursi hanya untuk dua orang.

“Di Yogya saya ambil Fakultas Filsafat UGM,sedangkan di Jakarta ambil Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti”,saya mereguk lagi kopi hangat.

“Wah,kuliahnya bagaimana itu,Mas?”

“Wah,saya ini tergolong gila ilmu.Minggu pertama saya kuliah di ABA,Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum.Artinya,pagi di Fakultas Sastra UI,siang di ABA (Akademi Bahasa Asing “Jakarta”,malam di Fakultas Hukum UI (ekstension).Minggu kedua saya kuliah di Fakultas Ekonomi,Jurusan Manajemen,Universitas Trisakti.Sedangkan minggu ketiga dan keempat saya kuliah di Fakultas Filsafat UGM.Sedangkan tiap Sabtu dan Minggu saya belajar matakuliah Fakultas MIPA di Universitas Terbuka”,jawaban yang saya berikan panjang lebar.

“Idih…buang-buang uang saja,Mas.Buat apa menuntut ilmu sebanyak itu.Toh nanti di lapangan kerja tidak semuanya terpakai”,ucap Rita setengah menasehati.

“Ha..ha..ha…! Saya kuliah banyak bukan karena gila gelar atau gila ilmu,tapi semata-mata memanfaatkan kesempatan selagi punya uang banyak.Saya itu kuliah banyak sekalian mengadakan penelitian untuk mencari jawab kenapa kualitas pendidikan di Indonesia ini rendah.Bahkan menurut hasil suervei,kualitas pendidikan perguruan tinggi di negara kita ini menduduki peringkat ke-45 di antara negara-negara Asia.Nah,memprihatinkan bukan?”,saya menjelaskan.

Tanpa terasa,malam semakin larut.Namun kami masih asyik ngobrol ngalor ngidul.Entah kenapa,tanpa malu-malu Rita merebahkan kepalanya di pahaku.

“Sambil tidur-tiduran ya,Mas? Nggak apa-apa,kan”,ucap Rita sambil memandang.Mata Rita memang benar-benar indah.Tampak Rita santai sambil menghilangkan cutex di kukunya dengan menggunakan remover merek Barclay.Rita,nama lengkapnya Rita Primadhanie memang sangat menarik sekali.Tanpa saya sadari,rambut Rita yang terurai itu kubelai.Tampaknya Rita diam saja.

“Ngomong-ngomong,di Bandung Rita tinggal di mana?”,saya ingin tahu.

“Di Jl.Karasak Baru,Mohammad Toha,Bandung Selatan…”,Rita mengambil selembar kartu nama.Kamipun bertukar kartu nama.

“Tapi kalau bertemu sebaiknya di kampus saja,Mas”,pintanya.

“Lho,memangnya kenapa?”,mendadak saya ingin tahu.

Rita pun bercerita panjang lebar.Ternyata gadis ini merasa tertekan karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya.Dia sengaja ke Yogya sekadar menghilangkan kekesalannya di samping berkunjung ke sahabat wanitanya.

“Alamat kampus saya di English Student Association,Faculty of Letters and Fine Arts,IKIP,Jl.Dr.Setiabudi No.229,Telepon 81743,Bandung.Tapi kalau mau bertemu saya,sebaiknya telepon ke rumah dulu.Nomor telepon rumah saya……..”,Rita pun menunjukkan nomor teleponnya yang tertulis di kartu nama.

Kereta terus meluncur,meluncur,meluncur….tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 24:00.Semua penumpang telah tertidur pulas.Namun Rita justru bangkit dari posisinya dan duduk biasa di sampingku.Mungkin karena dinginnya AC Rita merapatkan tubuhnya ke tubuhku.Tanpa saya sadari tangan saya memeluk Rita namun didiamkan saja.

Sebagai laki-laki normal dan muda usia saya tidak akan menyianyiakan malam yang indah itu.Semula saya hanya membelai-belai rambut Rita.Namun pada tahap berikutnya jari jemarinya saya pegang dan saya remas-remas.Tampaknya Rita juga membalas.

Kami sama-sama muda usia tentu saling membutuhkan.Memang,detik demi detik kami semakin akrab.Rita yang baru saya kenal beberapa jam seakan-akan sudah saya kenal puluhan tahun.Rasa canggungpun sedikit demi sedikit sirna.Pelan tapi pasti…kucium pipi Rita.Ah…gadis itu cuma tersenyum kecil.Kami berdua saling berpandangan penuh arti.Ah…bibirnya yang mungil indah itu membuat saya gemas.Lantas…secara pelan-pelan saya mencium bibirnya.Rita diam saja.Kucium lagi.Rita diam juga.Akhirnya bibirnya kulumat habis-habisan dan ternyata Rita juga membalasnya dengan penuh semangat.Kami saling memeluk dan saling cium.Lumayan,bisa mengurangi rasa dinginnya AC kereta.

Kami saling pandang.Indah sekali malam itu.Tanpa terasa,kami berdua mulai menanamkan benih-benih cinta.Akhirnya,kami berdua tertidur pulas dalam posisi saling berpelukan.

Pagi harinya pun kami tiba di Bandung.Dengan berat hati kami harus berpisah di stasiun Bandung.Saya tak sempat mengantarkan sebab harus segera pindah ke kereta jurusan Jakarta.

Sejak itulah kami saling berkunjung.Saya berkunjung ke Bandung,Rita berkunjung ke Yogya.Kalau saya sedang kuliah di Jakarta,dia ke Jakarta.Bandung memang kota kenangan.Saya menyebutnya dengan istilah “c’est bien bon! Yang artinya cantik sekali.Tanpa terasa hubungan kami sedah berjalan selama dua tahun.

Suatu ketika ketika saya baru sampai di tempat kost di Jl.Lobaningratan,Yogya,salah seorang teman satu kost mengatakan ada surat untuk saya di kamar.Segera saya masuk ke kamar.Ternyata sebuah undangan dan di dalamnya ada secarik kertas.

Sungguh saya kecewa,ternyata undangan pernikahan Rita dengan pria yang dijodohkan.Katanya dalam surat “Saya minta maaf,Mas.Saya tidak berdaya menolak keinginan kedua orang tua.Mungkin kita belum jodoh.Semoga Mas Harry mendapatkan gadis yang melebihi Rita.Betapapun juga,Mas Harry adalah cinta pertama Rita…”

Saya hanya bisa terpaku diam.Tidak tahu apa yang harus saya perbuat.Diam-diam kupandangi foto Rita di atas meja.Pelan tapi pasti,foto itu saya lepas dari piguranya.Foto Rita,undangan dan surat terakhir Rita saya masukkan ke koper…”

Sekarang tahun 2003.Berarti peristiwa itu sudah berlangsung 23 tahun yang lalu,namun foto Rita,undangan pernikahan dan surat terakhir Rita masih saya simpan dengan rapi.Rita Primadhanie….perawan Bandung Selatan yang sempat datang dan pergi dari hati.Hidup ini memang seperti mimpi…

 

—ooOoo—

 

 

 

 

 

 

 

 

CERPEN: Namaku Niken Bukan Claudia

Gambar

SAAT itu umur saya 40 tahun. Dua tahun saya cerai dengan Claudia. Tetap mengelola resto ayam goreng. Resto yang semula saya beri nama Claudia Fried Chicken saya ganti menjadi Resto New York Fried Chicken. Resto yang dua tahun lalu merupakan resto kecil telah berkembang. Tempatnyapun berpindah ke Jl.Dr.Saharjo. Lebih besar dan halaman parkirnya lebih luas. Karena reesto berkembang pesat, maka saya mengundurkan diri dari kantor saya yang kerja saya berdasarkan kontrak. Ada proyek saya bekerja dan tidak ada proyek saya tidak bekerja. Penghasilan saya mengelola resto lebih besar dibandingkan gaji yang pernah saya terima dari perusahaan. Bahkan saya mampu membeli rumah kredit di BSD Cluster Catelya, Tangerang Selatan, sebuah rumah minimalis dua lantai dan mampu kredit mobil. Ruelum saya tempati. Sementara masih tinggal di resto tempat saya bekerja.

Seperti biasa, tiap Minggu pagi saya mengontrol rumah saya di Cluster Catelya. Siang harinya, seperti biasa saya menuju ke ITC Mall untuk makan siang di Pizza Hut. namun sebelumnya saya menuju ke ATM Bank BRI dulu. Ternyata di dalamnya masih ada orang yang menggunakan ATM. Sayapun sabar menunggu.

Tak lama kemudian, orang yang di dalam ruang ATMpun keluar. Betapa terkejut saya melihat orang itu. Tanpa sengaja dan reflek, saya memanggilnya.

“Claudia…!” panggil saya. Wanita muda itupun terkejut. sayapun segera sadar bahwa wanita yang mirip Claudia pastilah bukan Claudia. Dia sempat berhenti memandangi saya. Mungkin, karena merasa tidak kenal atau mungkin itu bukan nama saya, wanita muda itupun meneruskan perjalanannya menuju ke tempat parkir mobil. Entah kenapa saya mengikutinya dari belakangnya.

“Maaf, kalau saya memanggil Anda Claudia…” saya mendekatinya. Wanita muda itu menengok ke arah saya sebentar dan terus berjalan menuju ke tempat parkir. Sepuluh langkah kemudian saya mengucapkan kata-kata yang sama, namun wanita muda itu tetap cuek.

Ketika dia akan membuka mobil, untuk ketiga kalinya saya meminta maaf. Dia tak jadi membuka pintu mobilnya. Dia menatap saya beberapa saat. Mungkin dia tahu tidak bermaksud jahat, diapun bersikap ramah.

“Ada apa dengan Anda?” dia ingin tahu.

“Maaf. Anda mirip sekali dengan mantan isteri saya,” sayapun mengambil dompet dan menunjukkan foto itu kepadanya. Dia menerima foto itu dan melihatnya. Tampa wajahnya berubah bersinar.

“Wow! Iya,ya? Mirip sekali. Kok, bisa sih…” berkali-kali dia melihat ke arah saya dan ke arah foto itu..Karena dia menuunjukkan sikap yang ramah, maka sayapun memberanikan diri untuk berkenalan. Ternyata dia menyambutnya.

“Harry,” saya menjabat tangannya.

“Niken. nama saya Niken. Bukan Claudia…” candanya. Diapun tertawa kecil. Tampaknya dia terburu-buru. Sebelum masuk ke mobil, saya meminta nomor HP-nya. Ternyata dia memberikan kartu nama. Sayapun memberikan kartu nama. Tak lama kemudian mobil mulai beranjak pergi.

“Main-main ke rumah Niken, Mas Harry,” sapanya hangat sambil melambaikan tangan lewat jendela mobil. Tak lama kemudian mobil Avanza hitam itupun tak tampak lagi di mata saya. Segera saya menuju ke Pizza Hut untuk makan siang.

Sambil makan siang, saya membayangkan kembali pertemuan yang aneh tadi. Kok ada ya, wanita yang segala-galanya mirip Claudia? Rambutnya, matanya, bibirnya, senyumnya, langsingnya. Segala-galanyalah.

Selama seminggu, saya dan Nikenpun saling kontak lewat HP. Dari ceritanya, sayapun mulai tahu siapa Niken. Seorang janda muda. Suaminya seorang pilot telah meninggal dalam kecelakaan penerbangan Surabaya-Manado. Suaminya dan semua penumpang kecebur laut dalam dan hingga sekarang semua jenasah penumpang pesawat itu tidak diketemukan. Niken punya seorang anak perempuan bernama Dieta. Masih sekolah di taman kanak-kanak. Niken cewek Bali. Dia mantan pamugari dari Bouraq Airways.

Karena saya sudah tahu Niken berstatus janda, maka hari Minggu itu dengan mengendarai mobil saya menuju ke rumahnya di Komplek Perumahan Banjar Wijaya, sekitar Cipondoh, Tangerang. Setelah tanya sana tanya sini, akhirnya ketemu juga rumahnya. Karena sudah janjian, maka Niken dan anaknyapun menyambut kedatangan saya.

“Selamat datang Mas Harry,” Niken mencium tangan saya dan disusul anak perempuannya yang juga mencium tangan saya. Kami berduapun ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Rumahnya ternyata juga dua lantai. Tertata rapi dan tampak indah. Terkesan Niken pandai memilih perabotan rumah. Pandai memilih warna. Pandai mengkombinasikan warna. Terkesan seleranya tinggi.

“Rumah yang indah dan nyaman,” komentar saya. Niken cuma tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sementara anak perempuannya sibuk bermain-main sendiri di lantai agak jauh dari kami berdua.

Enam bulan kemudian sayapun menikahi Niken. Terlalu cepat? Waktu bukan ukuran sebab kami berdua sudah merasa cocok. Menikah di Kota Singaraja, Bali, sebab kedua orang tuanya tinggal di kota itu. Berlangsung dua hari. Hari pertama berpakaian adat Bali dan hari kedua berpakaian adat Jawa. Kedua orang tua dan dua saudara sayapun hadir. Claudia tidak bisa hadir. Untunglah, Niken beragama Islam sehingga tidak ada masalah dalam pernikahan itu. Bulan madunya cuma jalan-jalan di Pantai Lovina yang tidak jauh dari Kota Singaraja. Seminggu kemudian kami kembali ke Jakarta dan Tangerang.

Seminggu saya tinggal di Jakarta dan seminggu tinggal di rumah Niken dan seminggu tinggal di rumah saya di BSD Catelya. Urusan Resto New York Fried Chicken saya serahkan ke salah seorang karyawan yang memiliki kemampuan manajerial yang baik sekaligus saya angkat sebagai pengelola reesto sepenuhnya. Saya tinggal memantau dan menerima laporan. Bahkan sayapun akhirnya membuka cabang reesto di ITC Mall dekat Carrefour. Inipun pengelolaannya saya serahkan ke manajer resto yang saya rekrut melalui seleksi. Saya tidak mau repot-repot mengurus reesto.

Niken ternyata sangat berbeda dengan Claudia. kalau Claudia boros, ternyata Niken hemat dan pandai mengelola uang. Kalau Claudia terlalu sering ke salon, Niken kadang-kadang saja. Kalau Claudia tidak suka memasak, Niken suka sekali memasak. Namun, kekurangan-kekurangan Claudia tak saya katakan ke Niken.

Karena usia Niken saat menikah sudah 35 tahun, maka Niken secara jujur mengatakan tidak mau punya anak dari saya. Takut ada apa-apa, katanya. saya memakluminya dan tidak keberatan.

“Saya menganggap Dieta sebagai anak kandung saya,” ucap saya ke Niken. Saat itu Dieta telah duduk di SD kelas satu. Karena sekolahnya agak jauh, Nikenlah yang rajin antar jemput. Namun karena saya membuka cabang resto lagi memakai modal Niken dan atas usul Niken, maka urusan antar jemput Dietapun diserahkan ke mobil antar jemput yang sudah terkenal baik pelayanannya. Niken membuka resto di kawasan Alam Sutera dan pengelolaannyapun diserahkan ke manajer resto melalui proses selsi yang ketat.

Boleh dikatakan saya sukses. Kredit rumah langsung saya lunasi. Demikian juga kredit mobil langsung saya lunasi sebelum waktunya. Supaya saya tidak mondar-mandir dari rumah saya di BSD Catelya ke rumah Niken di Banjar Wijaya, maka rumah di BSD Catelyapun saya kontrakkan. Dengan demikian saya menetap di rumah Niken. KTP sayapun KTP Banjar Wijaya.

Hari Minggu berikutnya, saya, Niken dan Dieta jalan-jalan e resto saya yang ada di Jl.Saharjo, Tebet. Namn, baru masuk pintu, saya terkejut karena di situ ada Claudia dan Bella. Claudia yang sedang makanpun terkejut. Akhirnya, sayapun memperkenalkan Niken ke Claudia dan Bella.

“Kok, tante mirip mama saya, sih?” celetuk Bella yang sejak dulu bicaranya memang ceplas ceplos. Claudiapun heran melihat Niken. Akhirnya kami berlima makan bersama di satu meja. Suasananya penuh kekeluargaan. Claudia meminta maaf karena tidak sempat menghadiri pernikahan saya dan Niken di Bali.

Begitulah ceritanya. Walaupun saya tak punya anak dari Niken, tapi saya merasa bahagia. Dan tanpa terasa sudah dua tahun saya menikah. Tanpa terasa telah resto saya telah berkembang sebanyak 10 resto di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.  Saya juga mendapat undangan pernikahan Claudia dan mendengar kabar, Claudia akan menikah dengan seorang pengusaha kaya raya, seorang duda tampan tanpa anak. Syukurlah.

—ooOoo—

CERPEN: Claudia Kau Terlalu Cantik Untukku

FACEBOOK-CerpenClaudiaKauTerlaluCantikUntukku

SAYA masih ingat. Saat itu saya berumur 30 tahun. Saya mengelola Lembaga Pendidikan Komputer dan Internet INDODATA, di Komplek Perumahan Pondok Hijau Permai, dekat pintu tol, Bekasi Timur. Berhubung tempat kursus ,masa kontraknya habis dan tidak bisa diperpanjang, terpaksa kontrak rumah di empat lokasi. Yaitu di Komplek Perumahan Margahayu, Komplek Perumahan Jatimulya dan Komplek Perumahan Taman Narogong Indah dan di Jl. Akasia, Komplek Perumahan Pondok Hijau Permai. Di Jl.Akasia inilah saya sebagai pengelola dan sekaligus sebagai tempat tinggal saya.

Ada salah satu siswi yang rajin. Selalu, setengah jam sebelum kursus dimulai, siswi itu sudah datang. Sambil menunggu waktu kursus, dia suka ngobrol dengan karyawati saya, kadang dengan Lisa dan kadang dengan Yenny, kadang dengan Dhanny atau siapa saja. Dia datang selalu diantar mobil Mercy dan diantarkan sopir pribadinya. Dia dari keluarga kaya Jakarta tetapi pindah ke Bekasi karena ayahnya pindah tugas ke Bekasi.

Saya yang saat itu baru putus pacar, tentu tertarik melihat Claudia karena dia merupakan siswi tercantik dan enak diajak bicara. Masalahnya, dia terlalu cantik dan terlalu kaya buat saya. Mungkin juga untuk cowok-cowok lain. Terus terang, saya tak mempunyai keberanian untuk mendekati Claudia. Minder.

Namun, suatu hari Minggu, di mana merupakan hari libur dan tidak ada kursus, tiba-tiba Claudia datang bersama mamanya. Naik Mercy dengan sopir pribadinya.

“Oh, selamat pagi, Tante. Silahkan  masuk. Ada apa, nih? Tumben….” saya mempersilahkan masuk. Claudia dan Tante Marinapun duduk di ruang tamu. Ternyata, mamanya Claudia mengajak rekreasi ke Ancol. Maklum, Claudia anak tunggal.

“Kok, mengajak saya, Tante? Kan, teman kuliah Claudia banyak?” saya heran.

“Betul. Kata Claudia sih, semalam dia mimpi ke Ancol sama Mas Harry. Dia bilang, mimpinya ingin jadi kenyataan…” Tante Marina menjelaskan. Saya tersenyum. Saya merasa, kok aneh-aneh saja Claudia ini. Namun, karena kebetulan hari itu saya tidak ada acara, sayapun menyanggupinya. Sesudah mengunci semua pintu rumah, saya bersama Tante Marina dan Claudiapun segera masuk ke mobil. Mobilpun langsung melaju.

Bukannya langsung masuk jalan tol, tetapi ke dalam Kota Bekasi dulu. Ternyata, menurunkan Tante Marina. Tidak ikut. Akhirnya, saya dan Claudia duduk berdua di bangku belakang. Tentu, bermacam-macam rasa yang ada pada diri saya. Antara senang, minder, tak percaya, gede rasa dan lain-lainnya.

“Apakah ini berarti Claudia ada hati sama saya?” saya tiba-tiba merasa GR. Gede rasa. Ya, mudah-mudahanlah.

Begitulah. Hari itu seharian saya rekreasi di Ancol mengunjungi berbagai lokasi wisata, berfoto dan makan siang bersama di salah satu resto. Hampir sore kami berduapun pulang. Semalaman saya tidak bisa tidur. Selalu bertanya, apa iya cewek secantik Claudia suka sama saya? Apa yang diharapkan dari saya? Rumah kontrak. Mobil tak punya. Akhirnya saya mengambil keputusan, saya akan menganggap Claudia sebagai sahabat biasa saja. Tidak lebih dari itu. Saya merasa minder. Saya tetap yakin, tidak pantas punya pacar secantik Claudia. Bahkan saya yakin, mungkin Claudia bersikap baik ke saya hanya karena ingin nilai-nilai ujian kursus komputernya mendapat nilai baik atau nilai tinggi.Maklumlah, semua instruktur  komputer saya tahu, Claudia tak begitu pandai di bidang ilmu komputer.

Karena saya menganggap Claudia sebagai sahabat biasa, konsekuensinya saya tiap malam Minggu tidak pernah ke rumah Claudia. Tidak pernah ngapeli. Memang, walaupun saya sedikit berharap, namun rasa minder lebih menguasai pribadi saya. Celakanya, justru tiap malam Minggu, Claudialah yang datang ke rumah kontrakan saya. Ya, terpaksa saya tidak bisa menolak.

Claudia tidak cuma sangat cantik, tetapi juga sangat enak diajak bicara. Senyumnya, tertawanya, enak dilihat dan didengar. Sehingga seringkali tanpa terasa, berjam-jam kami mengobrol dan bercanda. Lama-lama saya yakin kalau Claudia suka sama saya. Cuma, saya tetap bersikap minder. Hmm, Claudia terlalu cantik dan terlalu kaya buat saya.

Akhirnya, sebagai laki-laki normal, sayapun tak bisa lagi menutupi perasaan saya yang sebenarnya. Kalau semula tiap malam Minggu, Claudia yang datang ke rumah saya, akhirnya sayalah yang datang ke rumah  Claudia. Cukup naik motor bebek yang saya miliki.

Tanpa terasa, hubungan saya dengan Claudia telah berjalan tiga tahun. Lembaga pendidikan komputer yang saya kelola sudah saya bubarkan karena saya mendapat pekerjaan sebagai konsultan manajemen dengan gaji yang cukup besar. Kantornya di Jakarta.

Tanpa terasa pula, Claudia telah menjadi isteri saya. Kami berdua kontrak rumah kecil di kawasan Tebet, beberapa ratus meter dari kantor tempat saya bekerja. Tentu, pernikahan atau perkawinan yang sangat menggembirakan. Betapa tidak. Punya isteri cantik dan punya pekerjaan dengan gaji yang sangat besar.

Namun beberapa bulan kemudian, saya baru menyadari siapa Claudia yang sebenarnya. Dia memang gadis baik-baik. Bahkan baru saja lulus dari sebuah akademi komputer. Memang tidak begitu pandai, tetapi enak diajak bicara dan penuh pengertian. Mudah bergaul dan cara berpikirnya luas. Itu sudah lama saya tahu. Yang saya baru tahu yaitu, Claudia adalah penderita penyakit jantung.

Saat itulah saya baru tersadar. Tapi sudah terlanjur. Apapun resikonya, harus saya tanggung. Termasuk menanggung biaya pengobatan sakit jantung yang cukup mahal. Bahkan, Claudia sebelum menikah dengan saya, bahkan sebelum mengenal saya, sudah dua kali menjalani operasi jantung. Satu kali di Indonesia dan satu kali di Singapura. Biayanya tentu luar biasa mahal.

Rencana saya untuk kredit mobil dan kredit rumahpun terganggu. Apalagi saya pernah membayar operasi jantung Claudia. Satu kali tapi sudah puluhan juta rupiah. Impian saya untuk memiliki mobil pribadi dan rumah pribadipun sangat terkendala. Semua gaji harus digunakan sehemat mungkin supaya saya bisa menabung. Untuk dana darurat. Untuk dana cadangan.

Tanpa terasa, sudah lima tahun saya berumah tangga. Punya anak perempuan cantik dan lucu. Bella namanya. Anak kecil yang cerdas. Selalu suka minta oleh-oleh ice cream jika saya akan berangkat ke kantor. Dan satu hal lagi yang saya ketahui dari Claudia yaitu, ternyata selera Claudia terlalu tinggi. Selalu tergoda membeli pakaian yang mahal, perhiasan yang mahal dan alat-alat kecantikan yang mahal. Gemar sekali ke salon ataupun ke tempat-tempat kebugaran, aerobik dan suka belanja. Dengan kata lain, Claudia tidak mampu mengelola uang dengan baik.

Dan musibahpun mulai menerpa saya. Perusahaan tempat saya bekerja, belum mendapatkan proyek baru. Terpaksa saya harus diistirahatkan sementara. Entah berapa lama. Maklum, saya bekerja sebagai staf ahli atau konsultan tetapi sistem kontrak.

Ternyata, satu tahun saya menganggur. Tabungan hampir habis. Terpaksa cari pekerjaan lagi. Tidak mudah. Dengan modal sedikit terpaksa saya membuka resto mini khusus ayam goreng. Semacam mini Kentucky, begitulah. Untunglah, lokasinya dekat sekolah SMA. Sehingga saat bubaran sekolah cukup banyak juga pelajar yang datang untuk membeli. Tentu, juru masaknya bukan Claudia, tetapi menggaji orang lain. Maklum, Claudia tidak bisa memasak dan tidak mau belajar memasak.

Meskipun demikian, hasil dari resto mini belum mencukupi kehidupan sehari-hari. Apalagi gaya hidup Claudia sangat boros. Saat itulah, pertengkaran dimulai. Semula hanya pertengkaran kecil, tetapi lama-lama membesar juga.

Akhirnya, saya merasa tak mampu lagi punya isteri Claudia. Bukan saya yang punya inisiatif menceraikan Claudia. Tetapi, atas permintaan Claudia, akhirnya sayapun menceraikannya. Saya iklaskan anak saya, Bella, ikut mamanya. Claudia kembali pulang ke rumah orang tuanya yang kaya raya. Saya tinggal di rumah kontrakan sendiri.

“Sejak dulu saya sudah punya feeling, Claudia terlalu cantik buat saya. Tapi saya tak pernah punya feeling kalau Claudia punya penyakit jantung. Juga tak punya feeling kalau Claudia pemboros, tidak bisa memasak, terlalu sering ke salon kecantikan. Ternyata, saya salah memilih…” saya hanya bisa menggerutu sendirian.

—ooOoo—

BUDAYA : Banyak Umat Islam Indonesia Tidak Bisa Membedakan Budaya Arab Dan Budaya Islam

Gambar

TERNYATA dan terbukti bahwa banyak umat Islam di Indonesia yang tidak tahu dan tidak faham bedanya budaya Arab dengan budaya Islam. Sehingga apapun yang berasal dari Arab dianggap sebagai budaya Islam. Padahal, budaya Arab dan budaya Islam itu berbeda. Sebagian umat Islam di Indonesia banyak yang memanggil suaminya dengan sebutan “Abi”, karena mereka mengira itu budaya Islam. Padahal itu budaya Arab. Mungkin ada baiknya umat Islam menganut budaya Islam tetapi tetap berbudaya Indonesia. Jadi, memanggil suami tetap “ayah” atau “bapak”. Bukan “abi” atau “papa”. Saatnya Anda sebagai umat Islam tidak mencampuradukkan pengertian budaya Arab dengan budaya Islam.

Apakah budaya itu?

Secara bahasa, kata kebudayaan berasal dari kata budaya. Budaya berasal dari bahasa Sansekerta budhayah. Jika diurai kata ini berasal dari kata budi atau akal, kemudian diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan budi atau akal manusia (http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya, Senin 14 Maret 2011).

Banyak definisi tentang budaya. Namun pada intinya,semua definisi budaya tak pernah meninggalkan titik berat  faktor “budi” atau “akal”. Namun perlu juga bahwa akal juga terkait dengan perasaan, imajinasi , kepercayaan, keyakinan dan perbuatan nyata seseorang atau sekelompok orang yang bersifat abnstrak maupun konkrit.

Apakah budaya Arab

Kebudayaan Arab adalah semua hasil akal, perasaan, imajinasi yang dituangkan dalam bentuk nyata. Antara lain musik, kerajinan, cara berpakaian, cara makan, bentuk rumah, kebiasaan, adat istiadat, bahasa, istilah, kesenian, bentuk masjid dan lain-lain yang merupakan karya manusia Arab.

Apakah Islam itu?

Islam adalah agama yang berdasarkan wahyu. Agama yang diturunkan oleh Allah SWT ke Nabi Muhammad SAW. Ajaran Islam dituangkan dalam bentuk Al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam atau muslim dan muslimah.

Apakah budaya Islam itu?

Sesuai dengan definisi budaya, maka budaya juga bisa berarti hasil daripada sebuah kepercayaan dan keyakinan. Artinya, budaya Islam adalah budaya yang bersumber dari kepercayaan dan keyakinan agama, yaitu sebuah budaya yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an. Misalnya, cara berpakaian, cara shalat, cara makan, cara mencari rejeki dan semua cara yang berhubungan dengan semua faktor kehidupan maupun sesudah kehidupan berakhir. Namun jangan diartikan bahwa Al Quran itu budaya. Bukan itu. Tetapi, berangkat dati Al Quran, maka manusia menciptakan budaya. Menciptakan kebiasaan.Menciptakan tradisi. Misalnya, tidak memakan daging babi. Jadi, kebudayaan yang dibawa Muhammad sebagai nabi  adalah budaya Islam. Tetapi budaya Muhammad sebagai orang Arab, bukanlah budaya Islam.

Islam tidak identik dengan Arab

Tidak  semua bangsa Arab pasti beragama Islam, banyak pula anggota masyarakat yang berasal dari bangsa Arab namun tidak beragama Islam. Oleh karena itu Islam tidak identik dengan Arab dan Arab tidak identik dengan Islam. Islam adalah Islam dan Arab adalah Arab.

Apakah budaya Indonesia?

Budaya Indonesia adalah semua hasil karya orang Indonesia yang bersifat asli, turun temurun dan merupakan ciri khas Indonesia, termasuk bidang kesenian, kreativitas, inovasi maupun invensi.

Beragama Islam tapi berbudaya Arab

Yang terjadi di Indonesia adalah, banyak umat Islam yang beragama Islam tetapi berbudaya Arab. Misalnya, memanggil suaminya dengan kata “abi”. Berpakaian mirip pakaian orang-orang Arab di mana Nabi Muhammad sebagai seorang nabi tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu. Juga, banyak umat Islam yang lebih pandai menulis dan membaca huruf Arab daripada menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Memangun rumah mirip rumah-rumah yang ada di negara Arab. Ikut-ikutan menanam pohon korma. Ikut-ikutan memelihara onta. Membuat masakan sama dengan makanan yang ada di Arab. Pokoknya, apa yang dikerjakan orab dianggap budaya Islam. Padahal itu budaya Arab.

Jadilah orang Islam yang berbudaya Indonesia

Oleh karena itu, jadilah umat Islam yang cerdas. Yaitu umat Islam yang lebih menghargai budaya Indonesia daripada budaya Arab. Lebih menghargai kebiasaan dan tradisi Indonesia daripada menghargai kebiasaan dan tradisi orang Arab. Kebih menghargai kesenian Indonesia daripada kesenian Arab. Lebih menyukai musik dan lagu-lagu Indonesia daripada menyukai musik dan lagu-lagu orang Arab. Jika itu Anda lakukan, maka Anda adalah umat Islam yang cerdas. Sebaliknya, Anda bukan umat Islam yang cerdas.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Penulis Kritik Pencerahan

Sejak 1973

PUISI: Republik Kafir

FACEBOOK-PuisiRepublikKafir

 

katanya negeri ini negeri hukum

nyatanya ada jual-beli pasal

nyatanya penyidik bisa dibeli

nyatanya jaksa bisa dibeli

nyatanya hakim bisa dibeli

 

katanya negeri ini negeri hukum

nyatanya ada penjara mewah

nyatanya ada tv ada radio ada kulkas ada ac di penjara

nyatanya ada jual-beli narkoba di penjara

nyatanya siang di rumah malam di penjara

 

katanya negeri ini negeri hukum

nyatanya ada jual-beli remisi

nyatanya ada saksi palsu bayaran

nyatanya ada sumpah-sumpah palsu

nyatanya ada bap rekayasa

 

katanya negeri ini negeri hukum

nyatanya hukum bisa ditawar

nyatanya hukum buatan manusia

nyatanya hukum kafir

 

Sumber gambar: img.photobucket.com

 

Hariyanto Imadha

Penulis puisi

Sejak 1973

CERPEN: Di Antara Daun-daun Kering

FACEBOOK-CerpenDiAntaraDaunDaunKering

SAYA dan istri bersimpuh di depan sebuah makam. Daun-daun kering berserakan di sekeliling makam. Sudah tiga hari petugas kebersihan makam tidak masuk kerja karena sakit. Saya bersihkan sendiri batu nisan yang kotor itu. Saya pandangi namanya “Yunita”. Dia meninggal pada usia  15 tahun. Usia yang masih muda. Itu terjadi lebih dari 35 tahun yang lalu.

Ya, lebih dari 35 tahun yang lalu saya duduk di bangku SMAN kelas 1 dan Yunita kelas 3 SMPN di Palembang. Singkat cerita, semuda itu saya sudah berpacaran. Masa remaja memang masa yang sangat menyenangkan. Tak jarang pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah, melainkan jalan-jalan dulu dari toko ke toko. Atau sekadar makan bakso dan minum es kelapa muda. Sore baru pulang.

“O, ya. Jangan lupa Minggu nanti Cherry ulang tahun” Yunita mengingatkan saya. Ceri adalah teman sekelasnya.

“O,ya. Kita pasti datang. Kado apa ya yang cocok untuk dia?”. Ujar saya sambil minum es kelapa muda. Saat itu Yunita tengah menghabiskan baksonya.

“Kalau menurut saya sih, Cherry suka boneka-boneka yang lucu begitu”

“Ah, sudah besar kok suka boneka?”

“Dia kan punya hobi koleksi boneka-boneka lucu”

“O” Saya baru mengerti kalau Cherry punya hobi seperti itu. Sehabis makan bakso, saya dan Yunita segera ke salah satu toko untuk mencari boneka yang lucu. Sesudah pilih-pilih akhirnya kami memilih boneka yang diberi nama pussycat. Boneka kucing yang mengenakan pita berwarna merah jambu. Lucu dan menggemaskan. Hampir seperti kucing asli.

Dan memang Minggunya saya dan Yunita hadir di pesta ulang tahun Cherry. Hampir semua teman Cherry di SMPN hadir. Bahkan beberapa guru juga hadir, antara lain Pak Partono, Pak Mulyoso, Bu Niniek, Bu Wahyu dan lain-lain.

“Hallo Cherry. Selamat hari ulang tahun” Ucap Yunita sambil mencium pipi Cherry. Kemudian menyerahkan bungkusan berisi boneka pussycat. Setelah saya memberi ucapan selamat, saya dan Yunita segera mengambil makanan yang sudah dipersiapkan.

Kebetulan, selama makan, Yunita lebih banyak ngobrol dengan guru-guru. Sedangkan saya lebih banyak ditemani Cherry. Entah kenapa, sikap Cherry begitu ramah terhadap saya. Mungkin dia tahu kalau yang membelikan kado pussycat itu saya, sehingga Cherry menghargai kehadiran saya? Yang pasti saya tidak mau gede rasa. Walaupun dalam hati saya mengakui Cherry lebih cantik daripada Yunita.

Ternyata Yunita cemburu juga. Sepulang dari acara ulang tahun Yunita marah-marah.

“Kenapa sih, berduaan terus sama Cherry?” Begitu dia mulai marah.

“Wah, dia kan yang punya rumah. Wajar dong kalau saya dihargai. Apalagi saya satu-satunya yang bukan dari SMPN. Saya satu-satunya teman baru Cherry. Dia Cuma tanya tentang pelajaran di SMAN. Sulit atau tidak. Dia juga tanya, enaknya masuk IPA atau IPS. Cherry meminta pertimbangan,kok” Penjelasan saya cukup panjang lebar. Memang, Cherry menanyakan semua itu. Tampaknya Yunita mengerti. Meskipun demikian wajahnya tetap mendung.

Nah, seminggu kemudian, ganti ketika saya ulang tahun, sayapun mengundang teman-teman SMA saya. Hanya dua anak SMPN yang saya undang, yaitu Yunita dan Cherry. Rumah saya cukup ramai. Dihadiri sekitar 50 teman-teman akrab.

Tampak Cherry yang berpakaian kontemporer itu menjadi primadona pesta. Banyak teman-teman pria saya se SMAN yang menanyakan nama Cherry. Bahkan minta tolong dikenalkan. Ya, semua saya jawab apa adanya. Bahkan dua tiga teman saya perkenalkan dengan Chelsea.

Yang membuat masalah adalah, ketika saya memotong kue tart. Di luar kesadaran saya, potongan pertama saya berikan ke Cherry. Kontan teman-teman SMAN bersorak riuh dan bertepuk tangan meriah. Mereka Cherry adalah pacar saya.

Nah di situlah tragedinya. Yunita tak tahan menahan emosi, kue tart yang sudah saya serahkan ke Cherry direbutnya. Cherry mempertahankan kue itu. Perkelahian tak terhindarkan. Jambak menjambak rambutpun terjadi.

“Kamu mau merebut cowok saya ya?” Bentak Yunita.

“Bukan salah saya dong kalau saya diberi kue tart yang pertama” Bantah Cherry. Pertengkaran dan perkelahian itu hanya berlangsung singkat. Teman-teman dan dua guru saya yang hadir ikut melerainya. Sayang, Yunita langsung keluar ruangan dan langsung pulang naik sepeda motor. Kebetulan kami berangkat memakai sepeda motor masing-masing.

Ketika saya akan mengejar Yunita, tangan saya dipegang Cherry.

“Hargai dong kedatangan saya”. Anehnya, saya menurut saja. Sejak hari itu Cherry sering datang ke rumah saya. Ceritanya, Cherry sering bertengkar dengan Yunita di sekolah. Di pihak lain, tiap kali saya menjemput Yunita, Yunita selalu menghindar. Bahkan tiap kali saya datang ke rumah Yunita, dia tak mau menemui saya. Akhirnya, Cherry benar-benar menjadi pacar saya.

Tiga bulan kemudian, saya dikejutkan berita yang di luar dugaan. Yunita bunuh diri dengan cara meminum obat serangga. Dia meninggalkan surat untuk saya dan Cherry. Isinya singkat. Cuma ucapan semoga saya dan Cherry berbahagia.

Itu sudah terjadi lebih dari tigapuluh tahun yang lalu. Saya hanya bersimpuh di depan makam Yunita. Selesai berziarah, saya dan istri saya, yang tak lain adalah Cherry, segera meninggalkan makam Yunita. Kami hanya berdoa semoga arwah Yunita bisa diterima di hadirat Allah swt.

Saya dan Cherry menuju ke mobil diiringi jatuhnya beberapa daun kering.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973