CERPEN: Misteri Kali Alfamart di BSD Nusaloka

SUDAH empat mobil terjerumus di depan mini market Alfamart belakang kantor pos, yang ada di BSD Nusaloka, BSD City,Tangerang Selatan. Padahal situasi di situ wajar-wajar saja. Antara jalan aspal dan kali juga ada beton pembatas. Semua pengemudinya juga sudah berpengalaman mengemudi minimal lima tahun. Kenapa bisa terjadi kecelakaan seperti itu dan mengakibatkan pengemudi dan penumpangnya luka parah?

Suatu saat ketika saya naik ojek dan melewati Alfamart tersebut, maka sayapun mulai mengorek informasi.

“Katanya sudah empat kali masuk kali ya, Bang?” tanya saya

“Oh, ya. Semua pengemudinya luka parah,” jawabnya sambil terus mengemudikan motornya. Saya membonceng di belakangnya.

“Memangnya, dulunya di situ merupakan daerah apa?”

“Kalau Tangerang Selatan, dulu merupakan hutan karet. Dan sekitar Alfamart dulu merupakan persawahan”

“Tidak ada perumahan penduduk?”

“Ada,sih. Jumlahnya sekitar ratusan rumah”

“Tidak ada tempat pemakaman umum?”

“Ada sih. Tapi ketika pembangunan BSD City dimulai, semua makam dipindahkan. Cuma, saat itu ada yang aneh”

Mendengar kata “aneh”, saya mulai penasaran.

“Anehnya di mana, Bang?” saya terus bertanya.

“Ya, ada salah satu makam tiba-tiba hilang tanpa bekas, Pak” katanya kepada saya.

“Tahu namanya, makam siapa?”

“Kalau nggak salah, namanya Ranggi”

“Siapa itu?” saya semakin penasaran.

“Dulu, cerita orang-orang, Ranggi itu saudara kembar Rangga. Keduanya laki-laki”

“Siapa mereka?”

“Mereka anak dari petani bernama Danu Rengga”

“Siapa Danu Rengga?”

“Dia seorang petani, juga punya hobi memelihara kuda.”

“Bagaimana kehidupan Danu Rengga, Rangga dan Ranggi?”

“Sebelum ibunya meninggal, mereka akur-akur saja. Tapi setelah ibunya meninggal, mereka kelihatannya kehilangan kasih sayang dan suka bertengkar”

“Bertengkar soal apa saja?”

“Kata ayah saya, mereka bertengkar saat orangtuanya beli satu kuda lagi. Jadi total ada dua kuda. Satu khusus untuk ayahnya. Satu lagi untuk Rangga dan Ranggi. Masalahnya, mereka berdua sering rebutan untuk menunggang kuda itu”

“Terus?”

“Ya, suatu saat mereka berkelahi hebat. Hari pertama mereka masih berkelahi tangan kosong. Hari kedua, mereka berkelahi menggunakan golok.”

“Oh, ada yang tewas?”

“Itulah. Ranggi kalah dan lehernya kena tebas golok”

“Terus? Bagimana?”

“Menurut ayah saya yang kebtulan menyaksikan kejadian itu, sebelum Ranggi menghembuskan nafasnya yang terakhir, sempat bersumpah”

“Bagaimana sumpahnya?”

“Ranggi bersumpah. Jika Rangga atau siapapun yang melewati tempat dia meninggal, akan dibikin celaka. Sesudah itu Ranggi menghembuskan nafasnya yang terakhir”

“Di mana lokasi Ranggi meninggal?”

“Ya, di kali tepat di depan mini market Alfamart itu”

“Oh, mungkinkah kecelakaan-kecelakaan itu ada hubungannya dengan sumpah Ranggi?”

“Wah, saya bukan paranormal,Pak. Saya kurang tahu. Yang pasti, jalan di depan Alfamart itu memang sangat rawan dan sudah empat kali ini ada mobil tercebur ke kali”

“Oh,ya. Dulu, ketika makam Ranggi tiba-tiba menghilang tanpa bekas, apakah tidak ada usaha-usaha supranatural untuk menemukannya kembali?”

“Usaha sih ada. Tapi hasilnya tidak ada. Nol semuanya. Sampai hari ini, di mana makam Ranggi, tidak ada yang tahu. Namun, sebenarnya juga ada cerita lain zaman dulu”

“Apa itu?”

“Dulu, di kali itu, ada sumur. Namanya Sumur Gobak. Entah kenapa dinamakan Gobak dan apa artinya Gobak, saya tidak tahu”

“Ada apa dengan sumur Gobak?”

“Dulu, sumur itu digunakan untuk bunuh diri seorang pemuda yyang patah hati. namanya Randu Dan sejak itu, air sumur itu tidak boleh diminum”

“Ada keanehannya?”

“Ada. Tiap malam Jum’at, ada suara-suara yang mengancam. Kalau ada perawan lewat di dekat Sumur Gobak itu, apalagi naik delman, akan dibuat celaka.”

“Oh, begitu? Kalau begitu, kira-kira kecelakaan mobil itu akibat ulah Ranggi atau Randu?”

“Hahaha…Saya kan bukan paranormal, Pak. Mungkin Ranggi dan Randu bersatu dan bersama-sama membalas dendam”

“Apakah jenasah Randu sudah dimakamkan secara baik-baik saat itu?”

“Nah itu dia,Pak. Sekitar 40 hari dimakamkan, tiba-tiba, makamnya hilang tanpa bekas”

“Oh, sama dengan kasus hilangnya makam Ranggi?”

“Begitulah, Pak”

Sayang, tanya jawab terpaksa berhenti karena saya telah sampai di rumah saya di Jl. Bintan 2 Blok S1/11, BSD Nusaloka Sektora XIV-5, BSD City, Tangerang Selatan.

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerita fiiktif.

Sumber foto: antarafoto.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN : Guru Bahasa Indonesiaku yang Sombong

SAAT itu saya duduk di kelas 2 SMPN 2 di salah satu kota di Jawa Timur. Sudah dua bulan teman-teman diajar guru baru untuk matapelajaran Bahasa Indonesia. Namanya Bu Nani. Menggantikan guru yang lama yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

Saya, sebagai ketua OSIS sebearnya sudah menerima keluhan dari beberapa teman sekelas maupun yang tidak sekelas, maka Bu Nani dipandang sebagai guru yang sombong dan semena-mena.  Rapat OSIS-pun pernah saya adakan. Namun semua anggota OSIS mengambil kesimpulan bahwa belum ada kasus yang benar-benar untuk ditindak lanjuti.

Sampai pada suatu hari, pagi itu sebelum matapelajaran pertama, kebetulan Bahasa Indonesia, dimulai. Tiba-tiba saya merasa sakit perut. Sayapun berpesan kepada teman sekelas akan ke toilet karena sakit perut. Saya pesan supaya nanti hal tersebut diberitahukan ke Bu Nani.

Sekitar 15 menit kemudian, sayapun meninggalkan toilet dan memasuki kelas. Ternyata, pelajaran telah dimulai. Sayapun  menghadap Bu nani yang saat itu sedang menulis di papan tulis. Saya jelaskan kalau saya terlambat masuk karena sakit perut.

Namun, apa yang terjadi? Saya tidak diijinkan masuk dengan alasan, siswa yang terlambat masuk 15 menit, tidak boleh mengikuti pelajaran. Untuk yang kedua kalinya saya memberikan alasan bahwa saya terlambat masuk karena sakit, bukan karena hal-hal lain. Namun, alasan saya membuat Bu Nani marah. Meskipun demikian saya tetap ngotot menuju ke bangku saya dan duduk.

“Silahkan kamu keluar. Menurut peraturan sekolah ini, siswa yang terlambat 15 menit atau lebih, tidak boleh mengikuti pelajaran…!”, bentak Bu Nani secara emosional. Saya tetap duduk. Bu Nani tetap menyuruh saya keluar. Saya tetap duduk karena saya merasa saya punya alasan yang kuat.

Karena Bu Nani tetap memaksa saya keluar, akhirnya saya sebagai Ketua Kelas memberi isyarat ke teman-teman sekelas supaya semuanya ramai-ramai meninggalkan kelas. Benar. Begitu melihat saya keluar, teman-teman sekelaspun kompak meninggalkan kelas. Apalagi, teman-tman juga sudah lama sebel dengan guru yang baru dua bulan mengajar. Walaupun Bu Nani melarang teman-teman meninggalkan ruangan kelas, namun semuanya kompak. Kelaspun sepi. Teman-teman hanya duduk-duduk di luar kelas ataupun di bawah pohon kedondong yang rimbun.

Ribut-ribut itupun akhirnya terdengar hingga ke dewan guru, termasuk kepala sekolah.  Esok harinya, kepala sekolahpun memanggil saya. Ketika saya memasuki ruang rapat sekolah, saya lihat, di amping ada kepala sekolah, juga ada dewan guru, termasuk Bu Nani. Rupa-rupanya ada rapat. Saya dan Bu nanipun dipersilahkan menceritakan kronologi peristiwa itu.

Bu Nanipun menceritakan, keputusannya untuk menolak saya masuk kelas karena ada peraturan sekolah yang melarang siswa mengikuti pelajaran jika terlambat lebih dari 15 menit. Bu Nanipun menunjukkan nbukti tertulis. Namun saya menjelaskan ke dewan guru, bahwa saya punya alasan yang kuat, yaitu karena sakit perut.

Kepala sekolah yang tahu ayah saja merupakan pejabat di dinas kependidikanpun tampaknya bingung untuk mengambil keputusan. Memihak saya, salah. Memigak Bu Nanipun salah. Akhirnya, kepala sekolah yang bernama Pak Satmokopun menyarankan agar kasus itu tidak perlu diperpanjang. Dan menyarankan agar Bu nani dan saya saling memaafkan.

Namun, Bu Nani yang merasa benar itupun tidak mau melakukan permintaan kepala sekolah. Sayapun demikian. Akhirnya, rapatpun ditutup tanpa solusi yang memuaskan semua pihak. Sesuai rapat itu, sayapun mengadakan rapat Pengurus OSIS, tentu saat jam istirahat. Rapat itu tentu saja juga dihadiri semua ketua kelas, mulai kelas satu hingga kelas tiga. Sebagian mengusulkan supaya diadakan aktivitas mogok belajar khusus Bu Nani, dengan alasan sudah ada beberapa kasus kesewenang-wenangan yang dilakukan Bu nani selama dua bulan ini. Setelah divoting, ternyata 90% menyetujui aksi mogok.

Begitulah, mulai esok harinya aksi mogok khusus Bu Nanipun berlangsung. Semua siswa kelas 1 hingga kelas 3 kompak. Hal ini tentu saja mengundang perhatian kepala sekolah dan dewan guru. Akhirnya hari itu ada rapat antara kepala sekolah,tanpa dewan guru,beserta pengurus inti  atau pengurus harian OSIS. Pengurus inti yaitu ketua,wakil ketua,sekretaris,wakil sekretaris,bendahara dan wakil bendahara. Walaupun kepala sekolah menganjurkan agar masalah itu diselesaikan secara baik-baik, namun saya sebagai ketua OSIS tetap menyampaikan aspirasi para siswa, agar Bu Nani dikeluarkan dari sekolah. Apalagi, teman-teman juga dapat info, perilaku Bu Nani di sekolah lain sebelum menjadi guru SMPN 2 juga buruk. Namun keputusan kepala sekolah mengecewakan saya dan teman-teman OSIS. Kepala sekolah tetap mempertahankan Bu nani dengan alasan pihak sekolah baru bisa mengeluarkan Bu Nani jika Bu Nani sudah satu tahun mengajar atau terlibat tindak pidana. Itu sesuai peraturan, kata kepala sekolah.

Ternyata teman-teman se-SMPN 2 tetap kompak. Aktivitas mogok belajar tetap berjalan. Bahkan berlangsung hingga satu bulan. Ayah saya, yang kebetulan pejabat dinas pendidikan akhirnya memanggil kepala sekolah. Namun, tetap tidak ada solusi yang memuaskan bagi para siswa. Aksi mogok belajarpun tanpa terasa telah berjalan selama dua bulan.

Akhirnya, berdasarkan rapat dewan guru dan pihak depdiknas, diputuskan mengganti guru Bahasa Indonesia dengan guru baru. Tentu, keputusan itu membuat semua siswa SMPN 2 bersorak gembira. Aksi mogok belajarpun berakhir. Ternyata, guru bahasa Indonesia yang baru, orangnya penyabar, bijaksana,mengajarnya enak dan penuh perhatian terhadap para siswa. Namanya Bu Wiwiek, pindahan dari SMPN 1. Sedangkan Bu Nani dipindahkan ke SMPN 1. Jadi, telah terjadi pertukaran guru.

Saya merasa beruntung punya posisi yang kuat. Yaitu sebagai ketua kelas, ketua OSIS dan apalagi ayah saya pejabat depdiknas yang punya wewenang cukup besar di bidang pendidikan. Terakhir saya mendengar informasi, di SMPN 1-pun Bu Nani didemo para siswanya karena kesombongan dan kesewenang-wenangannya.

Begitulah. Seorang guru memang tidak hanya wajib menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memahami psikologi pendidikan, terutama psikologi perilaku. Harus mengerti psikologi para siswanya. Betapapun benar posisi dan argumentasi seorang guru, tetapi kalau terkesan sombong dan sewenang-wenang, bisa berakibat fatal. Seorang guru harus berpikir cerdas dan mengambil kebijakan yang tepat tanpa menimbulkan gejolak dan merugikan semua pihak.

Catatan:

Cerpen ini berdasarkan mimpi penulis pada Senin, 18 Juni 2012, dinihari pukul 02:00 WIB.

Hariyanto Imadha
Penulis novel dan cerpen
Sejak 1973