CERPEN: Ongkek’ane Roen…!

FACEBOOK-CerpenOngkekaneRoen

BOJONEGORO sekitar 1965. Seperti biasa, pagi-pagi saya berangkat sekolah. Saat itu kelas enam SR atau SD. Rumah saya di Jl.Trunojoyo No.4 yang sekarang dipakai sebagai Kantor Pelayanan Pajak, sekitar 300 meter Utara kantor pos. Berangkat lewat halaman belakang. Tembus Jl. Diponegoro, depan rumah Gandhi (nama di Facebook: Dhitos Mbombok). sampai perempatan “bangjo” ke kiri, Jl. Teuku Umar.

Tepat di pertigaan Jl.RA Kartini-Jl.Teuku Umar, sebelah barat Gedung PAKRI, ada penjual es serut. namanya Pak Roen. Kalau pagi sudah buka tetapi masih sepi. Tapi kadang-kadang kalau lagi malas, tidak jualan. Kata teman Facebook saya, Koes Haryono, dulu Pak Roen sering tidur-tiduran di empernya Toko Bata, toko sepatu. Sering membawa foto ada bingkainya. Foto isterinya yang sudah meninggal dunia. Sejak isterinya meninggal, Pak Roen memang agak gemblung (setengah sakit jiwa). Itulah, sekila tentang Pak Roen, laki-laki paruh baya.

Saya terus menyusuri Jl.Teuku Umar, belok kanan ke Jl.Dr.Wahidin menuju ke sekolah. Dulu, sekolah saya namanya SDN 3 Kepatihan 1. Saya masih ingat, guru yang mengajari saya belajar membaca dan menulis namanya Bu Nanik. Rumahnya di Jl. Tri Tunggal, Karang Pacar. Guru lainnya, Bu tatik dan Pak Ridwan. Sewaktu kelas 4, saya pernah ditawari kepala sekolah supaya langsung ke kelas 6, tanpa duduk dibangku kelas 5. Soalnya, nilai rapot saya rata-rata nilainya 10. Sayang, saya orangnya terlalu jujur, saya tidak mau.

Yang tidak bisa saya lupakan yaitu, tiap jam istirahat, saya dapat tugas sukarela, yaitu menjual goreng-gorengan. Kalau laku tiap lima goreng-gorengan, saya dapat bonus sayu goreng-gorengan. Saya tawarkan ke kelas 1 hingga kelas 6. Laku 25 goreng-gorengan. Dapat bonus lima goreng-gorengan. Wah, senang sekali. Tidak tiap hari sih, tetapi diganti teman lainnya secara sukarela. Tujuannya, mendidik pelajar untuk mencari uang sendiri.Para pelajar juga diajari berkebun di halaman kgusus kebun. Antara lain diajari cara menanam jagung, ubi, singkong dan lain-lain. Saat panen, para pelajarpun menikmatinya. makan-makan jagung bakar atau ubi bakar. Tujuannya, supaya para pelajar kelas 1 hingga kelas 6 bisa saling mengenal. Kenangan yang tidak akan terlupakan.

Pulang sekolah, melewati jalan yang sama. Yaitu, jalan Dr.Wahidin, belok kiri Jl. Teuku Umar. Tepat di depan warung es Pak Roen, saya lihat banyak orang berkerumun.

“Ada apa, ya?” pikir saya ingin tahu. Sayapun menyeberang jalan menuju ke warung itu. Saya melihat Pak Roen mukanya babak belur. Dan di dalam rumahnya yang sederhana, ada cewek TK sedang menangis.

“Bawa ke kantor polisi!” kata seorang warga. Saya masih belum faham apa yang telah terjadi.

“Laki-laki bejat…!” ujar yang lainnya lagi. Beberapa warga kemudian menggiring Pak Roen ke kantor polisi. Sedangkan beberapa orang ibu-ibu membawa cewek TK itu ke rumah sakit dekat sekolah saya.

“Ada apa, ya?” saya masih saja bengong. Akhirnya, saya terpaksa memberanikan tanya ke seorang bapak. Tapi justru saya dibentak. Katanya, saya anak kecil. Tidak boleh tahu. Agak tersinggung juga saya. Tapi saya diam saja.

Hasil dari nguping pembicaraan para warga yang hadir, maka saya bisa merangkaikan peristiwa itu. Kabarnya, sejak Pak Roen ditinggal isterinya yang meninggal, Pak Roen mengalami stres. Sering kemana-mana membawa foto isterinya yang diberi bingkai. Sering tidur-tiduran di depan toko sepatu Bata mengenang masa lalunya yang indah. Maklum, isterinya dulu bekerja di toko sepatu itu dan Pak Roen mengenal isterinya yang bernama Darmi di toko sepatu itu. Tapi kalau dalam keadaan normal, Pak Roen berjualan es serut atau es campur.

Sebagai penjual es serut, cukup laris. rasanya enak dan harganyapun murah. Apalagi benar-benar menggunakan air kelapa muda dan juga memanfaatkan kelapa mudanya yang benar-benar empuk. Pelanggannya cukup banyak. Tak heran kalau nama Pak Roen yang katanya merupakan kependekan dari kata Haroen, terkenal ke seluruh kota Bojonegoro.

Kabarnya, siang tadi, Pak Roen sedang melayani  Rani, cewek TK yang membeli es serutnya. Sebetulnya Rani anak yang berani. Berangkat sekolah dan pulang sekolah sendiri. Dan pulang sekolah mampir ke warung es Pak Roen.

Rani memang cewek cantik. Mungkin Pak Roen tertarik dengan kecantikan Rani. Kebetulan saat itu warung agak sepi. Pak Roenpun mengajak Rani masuk ke rumahnya yang sangat sederhana. Katanya, dia punya permen dan cokelat banyak. Tentu, Rani yang masih lugu, setelah menghabiskan segelas es, mau saja diajak masuk ke rumah Pak Roen. Pak Roenpun menutup pintu rumahnya.

Di luar, datang tiga calon pembeli. Bapa-bapak muda. Mau membeli es, tapi kok masih sepi. Mereka bertiga duduk-duduk sambil menunggu. Mengira Pak Roen sedang membeli es balok di Mbombok. Biasanya memang begitu.

Tiba-tiba ketiga bapak itu mendengar suara cewek kecil menangis keras. Menangis kesakitan. Karena curiga, ketiga bapak muda itupun mencoba mengintip ke dalam rumah Pak Roen, melalui lubang kecil yang ada. Betapa terkejutnya ketiga bapak muda itu.

“Kurang ajar! Kita dobrak saja pintunya…!” serentak ketiga bapak muda itu mendobrak pintu. Begitu terbuka, mereka bertiga melihat Pak Roen sedang menggagahi Rani di mana tangan kirinya membekap mulut Rani. pak Roen terkejut dan langsung cepat-cepat memakai celananya. Ketga bapak itupun menghajar habis-habisan. Muka Pak Roenpun babak belur.

Dalam tempo sekejap, waring es Pak Roen penuh dengan orang. Salah seorang dari ketiga bapak itupun bercerita. Untuk istilah “hubungan intim”, bapak itu menggunakan istilah “ongkek”. Ongkek itu artinya memasukkan benda ke dalam sebuah lobang kemudian digerak-gerakkan. Orang-orangpun tertawa mendengar kata “ongkek” itu. Salah seorang nyeletuk “Ongkek’ane Roen” disambut tertawa orang-orang lain. Sejak itulah, kalimat “Ongkek’ane Roen” menjadi terkenal. Bahkan beberapa hari setelah Pak Roen bebas dari penjara, orang-orang sering meledeknya dengan ledekan “Ongkek’ane Roen. Biasanya Pak Roen marah dan akan mengejar siapa saja yang meledeknya.

Bagaimana nasib Rani? Tak seorangpun tahu. Andaikan Rani masih ada, mungkin sekarang masih hidup. Paling tidak sekarang mungkin berusia sekitar 50 tahun. Eh, siapa tahu juga punya akun di Facebook. Yang pasti, Rani sebagai korban “Ongkek’ane Roen” pasti mengalami trauma berkepanjangan.

Kasus-kasus “Ongkek’ane Roen” tidak terbatas pada kasus pemekosaan saja. Persoalankumpul kebopun menggunakan istilah “Ongkek’ane Roen”. bahkan kalau ada cowok berhasil memperawani pacarnyapun akan bilang “Saya berhasil Ongkek’ane Roen cewek saya…”. Artinya, istilah atau kalimat itu juga digunakan untuk hubungan intim sukarela.

Apa yang dilakukan Ahmad Fathonah terhadap Maharani juga bisa digolongnkan sebagai perbuatan “Ongkek’ane Roen” atau “Ongkek’ane Fathanah”. Mharani itu baru yang ketahuan. Tentunya masih banyak cewek yang diongkek sama Ahmad Fathanah.

Kembali ke warung es Pak Roen. Setelah saya berhasil mengumpulkan informasi dan merangkai cerita, maka sayapun mulai mengerti apa yang telah terjadi siang itu di warung es Pak Roen. Sesudah itu, sayapun melangkah menuju pulang ke rumah.

“Ongkek’ane,Roen…” kata-kata itu masih terngiang-ngiang di pikiran saya.

Catatan:

Cerpen ini berdasarkan kejadian yang sesungguhnya tetapi sudah dimodifikasi. Yang pasti, inti ceritanya yaitu Pak Roen telah “memperkosa” cewek kecil. Penulis mengharapkan masukan-masukan yang bersifat melengkapi ataupun mengoreksi cerpen ini agar di kemudian hari bisa disempurnakan lagi.

Iklan

CERPEN : Namaku Bukan Imadha

FACEBOOK-CerpenNamakuBukanImadha

JAKARTA,Senin 11 Februari 1985.Baru saja peristiwa itu terjadi.Di kantorku,Pusat Pelayanan Manajemen PLN Pusat Jakarta.Hari itu mendadak saya emosi,saya membanting gelas.Geger!Lantas saya ditangkap satpam karena tangan saya sebelah kiri kebetulan sedang memagang pisau.Lantas kemudian saya dituduh mengancam akan membunuh salah seorang kepala dinas di situ.

Heran,padahal pisau kecil itu saya gunakan untuk memotong kertas akibat beberapa hari yang lalu beberapa “cutter” milik saya hilang entah ke mana.Saya membanting gelas karena kesal beberapa bulan kerja tapi tak ada “job descriptions” yang jelas.Lantas peristiwa kecil itu didramatisir.Saya akan di-PHK.Hari itu saya memang sedang apes.Terkena fitnah!

Agak sore saya pulang kantor,karena saya dibawa ke kantor satpam dan memberikan penjelasan panjang lebar tentang urut-urutan peristiwa kecil itu.Dari situlah saya tahu,ada seseorang menelpon satpam yang mengatakan dirinya akan saya bunuh.Fitnah memang selamanya lebih kejam daripada pembunuhan.

Hari sudah sore.Saya bersiap-siap untuk pulang.Ketika saya akan memasukkan “clock card” (kartu waktu) ke “time recorder” (mesin pencatat waktu) hati saya terasa tertusuk pisau dan tergores pecahan gelas.Kenapa? Karena di “clock card” itu namaku ditulis lengkap:”Hariyanto Imadha”.Sedih sekali rasanya.Tampaknya orang-orang sekantor belum mengerti asal-usul nama itu.Memang,antara kejadian hari itu tak ada hubungannya dengan nama saya.

BOJONEGORO,1 Januari 1970.Beberapa tahun yang lalu,saya aktif di PPSMA (Persatuan Pelajar SMA) atau OSIS SMA menurut istilah sekarang.Saya pada tahun 1970 masih duduk di kelas 1 SMA Negeri 1,Bojonegoro,Jawa Timur.

“Jangan lupa,nanti sore siaran!”,kata saya suatu saat sewaktu saya mengantarkan Rohandha pulang ke rumahnya di Jl.Diponegoro No.29A.Nama lengkapnya yaitu Yudha Rohandha,sahabat se SMA sekaligus sahabat seorganisasi.Juga,sama-sama penyiar radio amatir ARMADA-151 yang berlokasi di rumah saya di Jl.Netral No.151A (sekarang Jl.Ade Irma Suryani Nasution No.5A).

“Beres”,jawabnya sambil tersenyum.Tak lupa dia mencium pipiku seperti biasa.Seminggu kemudian,tepatnya tanggal 10 Januari 1970,saya merasa gelisah.Sudah sepuluh hari Yudha tidak masuk sekolah.Kabarnya dia sakit.Pembawaanku sejak kecil,jika dalam keadaan gelisah,pasti melampiaskan kegelisahan itu dengan cara membanting gelas!Rapat PPSMA yang waktu itu saya adakan pun bubar!Rapat saya tutup atau kutunda meninggu sampai Yudha sembuh.

Malam hari,pukul 23:00 giliran saya untuk siaran,mengisi acara “Parade Call & Song”,pesan dan lagu.

Kriiing…Telepon berdering.Diterima Erry Amanda yang pada waktu itu bertugas sebagai operator.

“Harry,ada telepon dari papanya Yudha”,kata Erry.Aneh saya pikir,selama ini papanya Yudha tidak pernah menelepon saya.Tapi,telepon saya terima juga.

Alangkah terkejutnya saya,setengah tak percaya,rasa sedih pun bangkit menggelegak.

“Kenapa Harry?”,Erry ingin tahu.Saya diam tak bisa menjawab.Gagang telepon saya taruh pelan.Saya diam.Mata saya berkaca.Air mata hampir jatuh.

“Erry,kau mau antarkan saya…? Ke rumah Yudha?”,tanya saya.Kemudian,pemancar radio saya matikan.

“Malam-malam begini? Memangnya ada apa?”,Erry penasaran.Dipandangi saya dengan penuh keheranan.

“Kamu tahu bukan selama ini Yudha mengidap penyakit leukemia?Lima menit yang lalu…Yudha telah pergi.Pergi untuk selama-lamanya..”,terbata-bata saya berkata.

Detak jantung berpacu.Sedih,perih,luka menganga.Saya terobos gelap malam.Pipi terasa dingin.Setetes air membasahi pipi.

Saya masih terlalu muda untuk menerima beban yang berat ini.Apalagi,hanya kepada Yudha lah pertama kali saya mengenal keakraban sejati.

Yudha Rohandha.Saya tak akan melupakan nama ini.Nama seorang gadis yang cantik,cerdas,suka berorganisasi,ramah,menyukai seni rupa seperti saya.

Hampir sebulan saya terbaring di rumah sakit.

————————————————————————————————————

SURABAYA 1971.Akhirnya,saya memutuskan untuk pindah sekolah ke Surabaya.Di kota ini saya melanjutkan di SMA Negeri 6,Jl.Pemuda.Di SMA ini saya tetap aktif di organisasi SMA seperti sebelumnya.Kali ini saya mengelola buletin ELKA atau LK (Lingkaran Kreasi).Saya aktif membuatvignet,cerpen,kritik sosial,menggambar,artikel-artikel ilmiah pop,dll.

Kesibukan-kesibukan di SMAN 6 menyebabkan saya sedikit demi sedikit bisa melupakan almarhumah Yudha Rohandha.

Suatu pagi cerah,langit biru muda,rombongan SMAN 6 mengadakan “study tour” ke Pulau Bali.Tak saya sangka,di Pantai Kuta saya saya berkenalan dengan gadis cantik siswi SMAN 5 Jl.Wijaya Kusuma Surabaya.

“Namaku Ika…”,jawabnya ketika saya menanyakan namanya.

“Lengkapnya?”,saya ingin tahu.

“Ika Asokawati Putri Pertiwi”,jawabnya sambil tersenyum.Saya lihat bulu matanya lentik indah.Kenangan indah itu terjadi tanggal 4 Juli 1971 hari Minggu.

Tahun 1973 saya ke Bali lagi.Cuma bedanya,kali ini saya sudah berstatus mahasiswa dari Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti,Jakarta angkatan 08.Ika yang waktu itu menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga turut bergabung dengan saya ke Bali.

Memang,saya tak pernah menyangka bahwa hubungan saya dengan Ika telah berlangsung selama tiga tahun (1971-1973) telah menumbuhkan benih-benih kasih cinta yang ceria.

Kemudian di pantai Kuta kami bergamit tangan sepanjanga pantai yang indah itu.Persis seperti kami bertemu tiga tahun yang lalu.

Kelelahan menyusuri pantai menyebabkan saya merebahkan diri di bawah pohon,sementara itu Ika bermain air menantang ombak.

Tiba-tiba saya dikejutkan suara Ika berteriak meminta tolong.Saya gugup.Saya pun berteriak meminta tolong ke orang-orang yang ada di sekitar pantai itu.Puluhan orang segera mencebur ke laut,tetapi kemudian kembali lagi.Tak berani meneruskan lebih jauh .Laut terlalu ganas.Lantas laut sepi.Pantai ribut.Saya panik.Bahkan tim SAR dari Universitas Udayana tak berhasil menemukan Ika.

Hari kedua saya baru menerima kabar bahwa Ika diketemukan di Pantai Kuta jauh ke Selatan.Ika telah tiada.Saya menggigit bibir.Saya berteriak histeris.Enam gelas saya banting.Pecah.Hati saya pun pecah.Saya masih ingat,hari itu hari Minggu,13 Juli 1973.Tidak mungkin saya akan melupakan tanggal tersebut.

————————————————————————————————————

YOGYAKARTA 1973-1975.Untuk melupakan kepergian Ika,maka saya sering mondar-mandir Jakarta-Yogyakarta.Di Yogya ini saya punya teman baik,seorang pemuda berbakat seni,namanya Erry Amanda.Kepadanyalah saya sering berdiskusi tentang hidup,penghidupan dan kehidupan.Kepadanyalah saya sering saya sering mengemukakan masalaha-masalah pribadi.

“Kamu tak usah putus asa.Lupakan saja Yudha dan Ika.Mereka tak mungkin kembali.Memang pahit,tetapi itu kenyataan.”,Erry menasehati sambil tangannya coret-coret di kanvas.Dia sedang mencoba melukis dengan aliran kubisme.

Saya hanya bisa diam.

“Saya juga pernah mengalami peristiwa serupa.Nungkie dan Rensalitawati juga tiada.Kita ini punya nasib sama.Cuma bedanya,saya mencoba melupakannya peristiwa itu dengan cara menumpahkan kepedihan ke atas kanvas.Kamu?”,tanyanya.

“Saya mengadakan sublimasi dalam bentuk cerita pendek,kartun,vignet,puisi,dan lain-lain”,jawab saya sambil meminum teh celup Sariwangi.

Sore harinya saya pamit pulang.Erry mengantarkan saya sampai di setasiun kereta api.Ternyata saya hampir terlambat,kereta telah merangkak berangkat.Saya bergegas.Setengah berlari saya mengejar kereta.Tanpa sengaja seorang gadis yang mengantarkan temannya naik kereta tersenggol.Dia hampir terjatuh.Entah kenapa,bukan saya yang meminta maaf,tetapi malahan tanya alamat rumah saya.

“Kamu tinggal di mana”,justru saya balik bertanya.Lantas gadis itu menyebutkan alamatnya dengan lengkap.Alamatnya mudah dihafal.Entah kenapa,gadis itupun menyebutkan namanya.

“Saya Erna.Mas siapa…?”,pertanyaannya tak sempat saya balas.Saya sudah berada di atas kereta yang terus melaju semakin cepat.

“Saya akan berkirim surat untukmu…!”,saya setengah berteriak.Saya lambaikan tangan kearahnya.Dia membalasnya.

Aneh.Perkenalan saya dengan Erna memang aneh.Perkenalan yang tidak sengaja.Tapi,begitulah kenyataannya.

Sesampai di Jakarta sayapun memenuhi janji.Saya kirimkan surat untuk Erna di Yogya.Isinya biasa-biasa saja.Dari balasan suratnya saya baru tahu kalau Erna merupakan primadona di Fakultas Psikologi UGM.Katanya,di kampus dia sering dipanggil Maya.Ternya Erna punya nama yang cukup panjang,yaitu Umariyah Fransiska Erna Purnamasari.Namanya unik.Maklum,dia memeluk dua agama sekaligus,Islam dan Kristen.Setiap hari shalat lima waktu,sedangkan kalau Minggu ke gereja.Dulu,sewaktu masih sekolah di SMA,dia sering dipanggil Erna Stella.Soalnya,dulu Erna merupakan gadis paling cantik di asrama putri Stella Duce.

“Kenapa Mas Harry mencintai Erna? Saya orang miskin,tidak punya apa-apa”,tanya Erna atau Maya pada suatu hari saya menjemputnya di Kampus Bulaksumur.

“Cinta tak pernah membedakan kaya atau miskin.Kalau saya dari keluarga mampu,itu kebetulan saja”,saya meyakinkan.

Sayang,keindahan demi keindahan yang kureguk bersama Maya hanya berlangsung beberapa saat saja.Mendung gelap segera menyelimuti kota Yogya dan hati saya.Sore itu Nia,salah seorang sahabat Maya yang jadi pramugari Garuda datang ke Hotel Maerakaca tempat saya menginap.Dia membawa kabar buruk.Katanya,Maya mengalami kecelakaan berat.Meninggal langsung di Jl.Malioboro di depan restoran Hellen.Hari itu Selasa 11 Maret 1975.

Dengan demikian,saya telah mengalami tiga kali tragedi menyedihkan,yaitu meninggalnya Ika,Maya dan Yudha.Tiga nama itu : (I)ka,(Ma)ya dan Yu(dha) dan saya singkat menjadi Imadha.Nama ini sering saya pakai setiap saya membuat cerpen,dll.Akhirnya saya gabung dengan nama asli saya menjadi: Hariyanto Imadha.

CERPEN : Misteri Jembatan Kali Ketek

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa’ : 29) “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).” (QS. Al-Kahfi ; 6)

BOJONEGORO, 1969. Saat itu saya duduk di bangku kelas 1, SMAN 1. Dulu namanya SMA Negara. Tepatnya saya di ruang 1-4.

“Harry! Kelas ini ada mahluk halusnya,” tiba-tiba Anggraeni yang duduk di sebelah saya berkata pelan. Maklum, saat itu Pak Boediono sedang mengajar di depan papan tulis.
“Banyak?”. Saya ingin tahu. Anggraeni adalah pacar saya sejak saya di bangku SMP Negeri 2. Di SMP-pun saya satu kelas. Bahkan juga satu bangku. Sejak SMP, saya tahu Anggraeni memang mempunya indera keenam, antara lain mampu melihat mahluk halus.
“Ada dua mahluk. Satu mahluk pocong satu lagi berbentuk ular berkepala manusia,” katanya lagi. Pelan.Namun perbincangan berhenti karena kemudian Pak Boediono mengadakan tanya jawab tentang materi pelajaran yang baru saja diajarkan.

Sesudah shalat Jum’at di sekolah, pelajaranpun diteruskan. Pulang sekolah, saya dan Anggraeni dengan masing-masing bersepeda, langsung ke Restoran Orion di Bombok. Makan siang bersama. Seperti biasa, saya dan Anggraeni bersepeda menuju ke jembatan Kali Ketek. Sambil mengayuh sepeda, kami berbicara apa saja. Terasa indah cinta kami berdua saat itu.

Tanpa terasa, kami telah sampai ke jembatan Kaliketek yang terletak di Sungai Bengawan Solo. Tepatnya di sebelah Utara Kota Bojonegoro. Kenapa harus ke jembatan itu? Maklum, tempat pacaran di kota tersebut sangat minim. Paling ke pemandian atau kolam renang Dander. Tapi terlalu jauh, skitar 14 kilometer dari kota. Sedangkan jembatan Kali Ketek hanya sekitar lima kilo dari sekolah..

Akhirnya sampailah ke jembatan itu. Sepeda kami parkir di jalur pejalan kaki. Dulu, jalur pejalan kaki masih bagus. Masih ada kayu-kayu yang bagus dan kuat. Selanjutnya kami memandangi arus sungai yang saat itu cukup deras.

“Harry…! Saya melihat mahluk halus…,” Anggraeni tiba-tiba berbicara lagi.
“Siang-siang kok ada mahluk halus?”. Komentar saya.
“Mahluk halus tidak pernah tidur, Harry”
“Di mana Anggra melihatnya?”
” Di bawah. Paling tidak saya melihat ada empat mahluk halus. Semuanya pocong. Yuk kesana…!”
“Ngapain?”
“Saya ingin ngobrol-ngobrol dengan mereka.” Kalau Anggra bicara seperti itu, bagi saya tidak aneh. Sewaktu masih di SMP-pun pernah ngobrol-ngobrol dengan hantu WC.

Saya dan Anggraenipun mengambil sepeda dan kemudian meluncur menuju ke bawah. Sesudah menyandarkan sepeda, Anggraenipun mengajak saya ke bawah sebuah pohon yang cukup angker. Di situ, Anggraeni mulai bertanya ke mahluk-mahluk halus itu. Seolah-olah berbicara sendiri. Maklum, saya tidak bisa melihat mahluk itu.

Sekitar 15 menit kemudian, Anggraeni mulai bercerita.
“Mereka semuanya cewek. Yang pertama bernama Anisa. Dia meninggal karena bunuh diri. Terjun dari jembatan Kali Ketek. Dia lakukan itu akibat patah hati. Dia hamil, tetapi cowoknya tidak mau bertanggung jawab…”
“Yang kedua?”. Saya ingin tahu.
“Kedua, namanya Wanti. Sri Wanti Agustini. Dia juga bunuh diri. Sebelum terjun dari jembatan, dia minum racun tikus. Dia bunuh diri karena akan dijodohkan dengan ayahnya. Dia tidak mau karena akan dijodohkan dengan lelaki yang sudah punya isteri.”

“Terus?”
“Ketiga. Namanya Sumarni. Penjual jamu. Umurnya 23 tahun. Dia diperkosa oleh pedagang sapi. Dia merasa malu dengan saudara-saudaranya. Tidak tahu apa yang harus diperbuat. Akhirnya dia nekat bunuh diri dengan cara yang sama. Terjun dari jembatan Kali Ketek.”

“Terakhir?”
“Terakhir namanya Sumini. Dia dari desa seberang. Ketika akan ke Bojonegoro berjalan kaki, di tengah jembatan, dia dirampok. Perhiasannya dirampas. Kemudian dia dilemparkan ke Sungai Bengawan Solo”
“Oh,…Mengerikan sekali nasib mereka. Kenapa musti harus bunuh diri? Apakah tidak ada jalan lain?”.Komentar saya.
“Orang yang bunuh diri adalah orang yang mengalami putus asa luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, dia merasa tidak ada jalan keluar yang tepat, kecuali bunuh diri. Biasanya, orang yang bunuh diri adalah orang-orang yang tertutup. Tidak pernah membicarakan secara terbuka masalahnya kepada orang lain. Dipendam sendiri. Akhirnya,merekapun bunuh diri.” Anggraeni bercerita.

Kata Anggraeni, sebenarnya di sekitar Jembatan Kali Ketek cukup banyak mahluk halus bergentayangan. Terutama pada hari Jumat Kliwon. Saat itu mereka berkumpul dan saling berkomunikasi. Mereka memang punya komunitas sendiri.
“Mereka itu mahluk halus yang berasal dari manusia atau setan yang menyamar sebagai manusia?”. saya penasaran. Sebab, guru agama saya pernah bilang bahwa manusia yang sudah meninggal, dunianya adalah alam kubur. Tidak mungkin bisa berada di alam manusia yang masih hidup. Sebab, dimensinya lain.

“Betul Harry. Saya setuju dengan pendapat itu. Mereka sebenarnya bukan jelmaan manusia yang telah meninggal. Tetapi, mereka adalah setan-setan yang bisa mewakili manusia-manusia yang bunuh diri itu. Mereka memalsukan dirinya. Bisa merubah bentuk seperti arwah-arwah yang telah meninggal. Jadi, mereka tahu apa yang dilakukan merekayang bunuh diri.” Cerita Anggraeni yang punya indera keenam.

“Lantas, apa maksud mereka bergentayangan di dunia kita?”
“Setan suka mengganggu orang yang masih hidup.Jangan heran kalau di jembatan itu sering terjadi kecelakaan. Ketika kereta api masih bisa melintasi jembatan itu, banyak orang yang tewas terserempet kereta api. bahkan, ada yang tertabrak langsung. Sejak itulah, maka kereta api tidak boleh lagi melintas di situ. Penduduk terpaksa kalau bepergian naik sepeda, becak atau dokar…”
“Oh, pantaslah. Tak ada lagi kereta api lewat di situ”. Saya manggut-manggut tanda mengerti. Saya yang saat itu punya perpustakaan komik dan buku-buku ilmu pengetahuan, Anggraeni tidak hanya mampu melihat mahluk halus, tetapi juga bisa melihat masa lalu dan masa yang akan datang.

“Oh, ya. Kenapa ya, jembatan ini dinamakan Kali Ketek?”
“Oh, itu sesuai namanya. Dulu, di seberang ana, di Desa Banjarsari dan Desa Kalisari dan desa-desa sekitarnya, masih berupa hutan kecil. Banyak kera atau ketek yang berkeliaran. Dulu jembatan itu berupa jembatan dari bambu. Banyak kera berkeliaran di jembatan itu. Tetapi mereka kera yang baik. Tidak suka mengganggu manusia..”
“Oh, begitu?”

“Lantas, misteri apa lagi yang ada di jembatan ini?”
“Kata ayah saya, kalau malam Jumat akan terdengar suara gending. Tapi kalau kita cari, nggak bakalan ketemu. Ayah saya juga pernah melihat ada dua orang Belanda di jembatan itu, tetapi tiba-tiba menghilang. Atau kadang-kadang ada bau wangi semerbak, tetapi cepat berubah menjadi bau busuk…”
“Kenapa bisa begitu?”
“Kabarnya, dulu banyak pejuang kemerdekaan Indonesia yang dibunuh oleh Belanda di jembatan itu. Ditutup matanya, langsung ditembak…”

“Apa lagi?”
“Ingat peristiwa G-30-S/PKI?”
“Oh, tentu…”
“Nah, di sungai ini, hampir tiap hari kita bisa melihat mayat-mayat mengapung. Tidak hanya satu dua. Tetapi puluhan. Mereka adalah mayat-mayat orang-orang yang diduga atau dipastikan pendukung PKI”
“Oh,ya. Ingat-ingat…”
“Sebagian mayat mereka tersangkut dan tenggelam di bawah jembatan. Jadi, sebetulnya banyak roh-roh di sini. Semakin banyak roh, semakin banyak mahluk halus di sini. Bukan berasal dari roh mereka, tetapi dari mahluk-mahluk halus lainnya.Mereka boleh dikatakan sebagai mediator dari roh-roh manusia dengan kita. Itulah sebabnya, pocong-pocong yang tadi saya ajak bicara, bukan berasal dari manusia yang telah meninggal. Tetapi, mahluk-mahluk halus yang menyamar dan mewakii roh-roh manusia yang meninggal secara tidak wajar…”

Apa yang dikatakan Anggraeni memang sulit dipahami orang biasa. Tetapi, saya yang sejak SMP membaca buku-buku psikologi, terutama yang berhubungan dengan indera keenam, tepatnya ESP (extra Sensory Perception), tentu saya bisa mengerti. Psikologi mengatakan memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan clair voyance, telepati dan lain-lain.

Karena hari sudah sore, saya dan Anggraenipun segera mengayuh sepeda. Menyusuri jalan-jalan Bojonegoro. Menuju pulang ke rumah masing-masing.Anggraeni menuju ke Jl.Dr.Wahidin. Sedangkan saya menuju ke Jl.Trunojoyo No.4 yang sekarang menjadi kantor pajak.

Sumber foto:
1.gambar-gambar-lucu.blogspot.com
2.indowebster.web.id
3. 1.bp.blogspot.com

Catatan:
Cerpen ini merupakan cerita fiktif.

Hariyanto Imadha
Novelis & Cerpenis

NOVEL: Di Telaga Sarangan: Pernah Ada Cinta (Bab 1)


TELAGA SARANGAN, Juli 2010. Menjelang Ramadhan, saya sempatkan ziarah di makam kedua orang tua saya di Jl. Teuku Umar, Bojonegoro. Lantas, sesudah itu saya manfaatkan ke Telaga Sarangan, Magetan, Jawa Timur.Pada usia 58 tahun, tiba-tiba saya ingin bernostalgia di telaga yang indah itu. Sore hari saya sudah tiba di telaga yang indah itu. Karena sudah sore, saya menginap di salah satu vila yang ada di situ.

Esoknya, sambil menghirup udara sejuk segar, saya mulai berjalan mengelilingi telaga itu. Dan di sebuah tempat, di rerumputan, saya duduk di situ.Saya lihat bunyi kicau bermacam-macam burung, saya lihat beberapa kupu-kupu warna warni berterbangan dari bunga ke bunga. Masih seperti dulu. Masih seindah dulu, ketika saya menikmati keindahan itu bersama Faullin.Itu, 39 tahun yang lalu

SURABAYA, 1971.Saat itu saya masih duduk di kelas 2 SMAN Surabaya. Pindahan dari SMAN 1 Bojonegoro. Bu Nani masih menerangkan matapelajaran.Semua siswa memperhatikan dan mendengarkan dengan cermat. Tiba-tiba, di pintu ada Bu Marni dan seorang cewek. Beliau bincang-bincang sebentar dengan Bu Nani. Ternyata cewek yang ternyata cewek indo itu merupakan siswa baru. Pindahan dari SMAN 6 Jakarta. Sesuai dengan permintaan Bu Nani dan Bu Marni, siswi baru itu memperkenalkan diri.

“Nama saya, Faullin.Nama lengkap saya Raychel Coudriet. Saya pindahan dari SMAN 6 Jakarta. Saya pindah ke Surabaya karena mengikuti kedua orang tua saya” suaranya enak memperkenalkan diri. Wajahnya yang cantik membuat cowok-cowok sekelas tak berkedip. Betapa tidak, Faullin bertubuh langsing,berkulit putih, mata kebiru-biruan, bulu mata lentik, rambut pendek, bibir mungil, cara bicaranya yang enak di dengar dan pakaiannya modis dan modern. Sepintas Faullin mirip artis Demi More.

“Boleh tanya?” tiba-tiba Ismet Harahap Si Anak Medan itu angkat tangan. Dia merupakan cowok di kelas saya yang terkenal usil, berani bicara, tukang debat tetapi tidak berani berkelahi.
“Tanya apa?” Bu Nani melihat ke arah Ismet.
“Sudah punya pacar,belum?” pertanyaan Ismet mengundang tawa teman sekelas. Faullin tersipu. Tentu, pertanyaan semacam itu tidak perlu di jawab.Ganti saya angkat tangan “Asli dari negara mana?”. Faullin melihat ke arah saya.
“Papa saya dari Swedia, mama saya dari Bandung” Faullin menjawab jujur. Setelah berganti-ganti teman-teman diberi kesempatan bertanya, maka Bu Nani mempersilahkan Faullin menuju ke tempat duduk yang ditunjuknya.

Kebetulan, satu-satunya bangku kosong adalah bangku di sebelah kiri saya. Saya duduk paling belakang. Tepatnya, bangku Faullin ada di pojok kiri belakang. Di belakang bangku Miepsye. Pikir saya, rezeki nomplok. Betapa tidak, tempat duduk saya berdekatan dengan tempat duduk Faullin. Kesempatan yang baik ini harus saya manfaatkan sebaik-baiknya. Maklum, saya baru putus dengan Siska, siswi SMAN 5, Surabaya. Saya pikir, Faullin sangat layak menggantikan posisi Siska. Sayang, Bu Nani meneruskan pelajaran matapelajaran Biologi, sehingga saya tak punya waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan dia. Tidak apa, nanti jam istirahat saya akan melakukan PDKT atau pendekatan.

Jam istirahat. Segera saya menggeser duduk,  saya akan mendekati Faullin. Ternyata, tidak cuma saya, Arifin, Sudarmaji, Agus dan bahkan semua cowok nimbrung mendekati bangku Faullin.Langsung ingin bersalaman, namun Faullin tidak menanggapinya. Tentu, sikap dia agak mengecewakan saya dan teman-teman. Apalagi, Miepsye yang duduk di depannya langsung mengajak ke luar kelas, ditemani Erna dan Andarini. Namun, bukan cowok namanya kalau saya mudah menyerah.Memang, sebagian teman-teman cowok banyak yang punya acara sendiri di luar kelas, namun saya dan sekitar lima cowok lainnya mengikuti Faullin yang diajak Miepsye ke kantin.

Begitu Faullin dan kawan-kawannya duduk di kantin, teman-teman cowok langsung berusaha merebut hati. Ada yang menawari softdrink, lainya menawari kue. Namun, Faullin menolak. Bahkan, lama kelamaan dia terkenal angkuh. Banyak pertanyaan teman-teman cowok yang tidak dijawab.
“Aduh, jadi siswi baru jangan sombong, dong!” Arifin mengeluh. Namun Faullin tidak peduli. Hari itu juga Faullin telah punya geng, yaitu Miepsye, Erna, Andarini dan Poppy. Mereka biasa disebut ‘cewek-cewek elit’. Mungkin sudah menjadi hukum alam bahwa siswa yang kaya akan mengelompok dengan yang kaya, yang miskin membentuk komunitas sendiri, sedangkan yang cantik juga punya geng siswi cantik.Hampir di semua SMA hukum alam atau hukum sosial seperti itu berlaku.Sehabis makan pisang goreng dan kue-kue dan minum, Faullin dan gengnyapun meninggalkan kantin. Sedangkan saya dan teman-teman cowok masih di kantin. Maklum, jam masuk masih 15 menit lagi.Sebagian teman asyik merokok, sebagian lagi makan kue.

“Gila,rek! Cantik sekali Faullin…” Arifin memuji kecantikan Faullin, sambil menunjukkan dua jempol tangannya.”Kalau bukan anaknya orang kaya, nggak bakalan bisa bawa dia…,” Arifin menambahi ucapannya.
“Saya naksir, nih “ Sudarmaji menimpali ucapan Arifin. Ucapan Sudarmaji tidak ada yang mengomentari, sebab semua teman-teman tahu Sudarmaji sudah punya pacar.
“Saya juga naksir,nih” saya ikut mengeluarkan unek-unek saya. Entah kenapa, tiba-tiba semua teman saya tertawa.

“Kamu wong ndeso dari Bojonegoro, mau naksir Faullin yang Indo-Swedia? Ha ha ha…” Arifin tertawa terbahak-bahak.
“Ngaca Harry. Ngacaaa…” Ismet yang badannya pendek itu meledek.
“Kalau jadi sopirnya sih,boleh” Sudarmaji menambahi. Tapi saya tak marah. Sebab, ledek-ledekan seperti itu sudah biasa. Apalagi, arek Surabaya terkenal bicara ceplas ceplos apa adanya. Kelihatannya omongannya kasar, namun sebenarnya mengandung makna persahabatan yang sangat mendalam.
.———-
Tak terasa, pulang sekolah telah tiba. Ratusan siswa SMAN 6 Surabaya serentak keluar ruangan. Suara riuh, ramai, ada yang berteriak, ada yang bersiul, ada yang tertawa, ada yang berjalan sambil menyeret sepatunya dan macam-macam tingkah laku lainnya.Sebagian menuju ke tempat parkir sepeda dan sebagian menuju ke parkir sepeda motor atau motor. Termasuk saya yang waktu itu membawa motor Honda CB 125.

Sesudah membayar uang parkir ke Tar, si penjaga parkir, sayapun melajukan motor ke arah Jl.Pemuda ke arah Timur. Namun, baru sepuluh meter, tepat di depan pintu pagar sekolah, saya lihat Faullin sedang berdiri sendiri. Pikir saya, ini kesempatan baik untuk mengantarkan pulang.
“Pulang, ya? Saya antarkan…” saya menawarkan jasa baik. Saya pandangi wajah Faullin yang cantik mirip Demi More itu.

“Enggak, ah,” sahutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Malu ya,naik motor?” masih saja saya ngotot. Siapa tahu Faullin berubah pikiran. Namun, belum sempat dia menjawab, sebuah Mercy putih mendekati Faullin,diapun langsung masuk.
“Jancuk!” saya mengumpat dalam hati. Teman-teman yang sempat melihat kejadian itupun tertawa “Aduh, kacian deh lu…” ledek mereka.

Akhirnya saya mengambil keputusan, saya ikuti Mercy itu. Tepat di perempatan Mitra Theater, belok kanan. Saya ikuti. Arahnya ke Selatan. Terus saya ikuti, saya ingin tahu di mana rumah dia. Ketika sampai di Jl. Raya Dharmo, daerah kelas satu di Surabaya, mobil itupun memasuki sebuah rumah mewah dua lantai.”Oh, di situ rumahnya,” saya berkata sendiri. Bergumam sendiri. Dalam hati saya berjanji suatu saat saya akan singgah ke rumahnya. Tak perduli dia anak orang kaya kek, anak jenderal kek, anak presiden kek, sejauh maksud saya baik, maka saya merasa tak perlu untuk menyerah. Hanya satu tekad saya, Faullin harus menjadi pacar saya.
.———-
Esoknya di sekolah saya dan teman-teman bertemu lagi dengan Faullin.Namun di bangkunya Faullin berkerumun dengan gengnya. Ngobrol-ngobrol. Maklum pelajaran belum dimulai. Berkali-kali saya mencoba mengajak mengobrol. Namun terkesan saya dicuekin. Faullin selalu menghindari pertanyaan saya dengan cara terus mengobrol dengan Miepsye dan teman-teman cewek lainnya. Sebagian teman cowok saya terpaksa menyerah. Hanya Arifin saja yang tetap bertahan berdiri dekat Faullin. Sayang, pertanyaannya juga tidak ada yang dijawab Faullin. Arifin hanya sebagai pendengar saja. Jadi, Arifin adalah pesaing utama saya. Sayang, bel tanda pelajaran dimulai telah berbunyi. Semua siswa berjalan menuju ke tempat duduk masing-masing. Waktu itu Pak Djamilun yang mengajar. Matapelajarannya Fisika.

Ketika jam istirahat pertama tiba, saya kehilangan kesempatan untuk melakukan pendekatan ke Faullin. Soalnya, saat itu seluruh pengurus buletin Elka, atau Lingkaran Kreasi, harus berkumpul di ruang OSIS untuk menyusun persiapan penerbitan buletin itu untuk bulan yang bersangkutan. Kebetulan saya bagian menyeleksi karya tulis, baik berupa naskah cerpen, puisi, vignet ataupun humor. Hilang sudah kesempatan untuk mendekati Faullin. Terus terang, saya benar-benar jatuh cinta kepada dia.

Kesempatan kedua saya peroleh pada jam istirahat kedua. Saya ikuti Faullin yang waktu itu berjalan bersama gengnya. Saya mencoba menyapa, tapi sia-sia. Mereka ternyata menuju ke kantor pos di mana Poppy biasa memarkir mobil VW putihnya di situ. Biasa, bisa saya tebak. Mereka akan cari ice cream yang ada di Jl. Tunjungan. Saya hanya bisa memandangi mereka dari pintu pagar sekolah. Pandangan kosong. Sudah dua hari ini saya dan teman-teman cowok lainnya dicuekin.

“Aduuuh, kacian deh,lu…,” saya menengok ke belakang. Ternyata Arifin.
“Iya. Sombong amat si Faullin,” gerutu saya ke Arifin. Dia cuma tertawa saja. Seperti biasa dia meledek saya. Katanya, sudahlah, saya ini wong ndeso, jangan mengejar anak konglomerat.
“Sudahlah, kamu cari anaknya orang ndeso saja. Tuh, Sumiati, dari Mojokerto. Walaupun dia dari ndeso juga,tapi dia cantik,kan,” Arifin menjodohkan saya dengan Sumiati.Kalau saya pikir, cewek Mojokerto itu memang cantik dan belum punya pacar. Masalahnya adalah, saya tidak cinta dia. Lagipula, Sumiati terlalu pendiam. Bukan cewek tipe-tipe saya.
.———-
Pada jam istirahat esok harinya, saya coba lagi mengikuti Faullin dan gengnya. Ternyata mereka menuju ke Mitra Theatre yang letaknya tepat di samping gedung SMAN 6. Walaupun tak diajak bicara, saya tetap mengikuti mereka sampai ke gedung Mitra. Mereka melihat papan ‘Hari Ini’ untuk melihat foto-foto pemain film yang akan main nanti malam. Rupa-rupanya mereka punya rencana untuk nonton bersama. Sayapun mengatur strategi. Jika mereka nanti malam akan nonton, maka nanti malam saya harus ‘standby’ di Mitra Theatre. Karena dicuekin terus, akhirnya saya melangkah kembali ke sekolah. Di bawah pohon beringin saya lihat Arifin, Sudarmaji, Ismet dan Jerminas sedang duduk santai. Sayapun mendekati.

“Alaaa…punya harga diri,dong! Sudah dicuekin gitu masih aja nyosor…,” seperti biasa, Ismet mulai meledek saya.
“Iya tuh, wong ndeso Bojonegoro kok ingin punya pacar Indo-Swedia. Bagaikan bumi dan langit,” ejek Arifin.
“Ha ha ha…..,” semua tertawa terbahak-bahak. Silih berganti mereka mengejek dan meledek. Tapi saya tak sakit hati. Justru dalam hati saya berjanji, suatu saat akan saya tunjukkan kepada mereka bahwa saya bisa menundukkan hati Faullin. Akan saya tunjukkan bahwa saya bisa menaklukkan hati cewek Indo-Swedia itu. Harus! Tidak boleh gagal.

“Kamu itu mau mendekati Faullin modalnya apa,to? Mau kamu pelet ya, Faullin? Kan orang Bojonegoro jago pelet. Ha ha ha…,” Sudarmaji menertawakan saya.
“Nanti akan saya buktikan bahwa saya mampu menaklukkan hati Faullin.Tanpa pelet. Tanpa mantera. Tanpa klenik.Tanpa mistik,” akhirnya saya harus menjawab juga atas ledekan-ledekan teman-teman. Justru jawaban saya membuat mereka tertawanya semakin menjadi-jadi.
“Cinta ditolak, dukun bertindak!” Ismet yang kakinya agak pincang juga ikut meledek. Bahkan mulutnya komat-kamit menirukan dukun yang sedang membaca mantera.
.———-
Dari hari ke hari, saya dan teman-teman cowok mengalami nasib yang sama. Dicuekin Faullin.Hal ini menjadi bahan pembicaraan saya dan teman-teman. Sudah hampir sebulan, Faullin tak berubah. Tetap terkesan sombong. Kalau ditanya, jawabnya cuma satu dua kata saja. Tidak mau mengobrol kecuali dengan gengnya. Hampir satu bulan. Membuat saya menjadi ragu-ragu. Sikap saya maju mundur. Maju, sikap Faullin tak berubah. Mundur, sayang kalau kesempatan yang bagus itu dilewatkan.

Pernah juga suatu sore saya menuju ke rumahnya. Namun, pagar rumah yang tinggi dan pintunya selalu tertutup membuat saya harus merasakan kecewa. Pernah saya menanyakan nomor telepon rumah, namun Faullin dan gengnya tidak mau memberitahu.

Saya jadi ingat sewaktu saya sekolah di SMAN 1 Bojonegoro, kelas satu. Teman-teman saya yang teergolong cantik memang membuat gengnya tersendiri. Namun, mereka tetap bersikap baik terhadap teman-teman lainnya. Tidak terkesan sombong walaupun mereka juga tergolong anak orang kaya. Masih mau memberi nomor telepon. Bahkan kalau saya main-main ke rumahnya juga diterima dengan senang hati dan ramah. Walaupun di Bojonegoro saya cuma duduk di kelas satu, namun saya terkesan dengan SMAN 1 itu. Bahkan, saya yang dilahirkan di Bojonegoro merasa bangga dengan kabupaten itu yang kaya minyak, hutan jati dan tembakau.

Kenapa saya harus pindah ke Surabaya? Masalahnya, sewaktu di SMAN 1 Bojonegoro tergolong siswa pendiam tetapi bandel. Saya pernah disetrap Pak Dirman kepala sekolah, gara-gara berkelahi dengan Andik Mukayan. Saya pernah ngerjain Setyo Haryono hingga dia dikeluarkan dari kelas oleh Pak Boediono. Saya pernah menusuk kaki Kusaeri memakai ujung jangka yang runcing dan tajam. Terakhir, saya pernah menendang cewek yang sedang bersandar di pintu kelas. Diapun terjatuh. Ternyata, dia bukan teman sekelas, tetapi guru Bahasa Indonesia. Sayapun meminta maaf. Meskipun demikian, matapelajaran Bahasa Indonesia di rapor, saya diberi nilai 3. Angka mati. Artinya, jika saya tetap ngotot di SMAN 1, maka tidak mungkin saya naik kelas. Satu-satunya cara bisa naik kelas, saya harus pindah sekolah. Akhirnya, saya pilih SMAN 6 Surabaya. Langsung kelas 2.

Selanjutnya beli buku novelnya (225 halaman) seharga Rp 50.000+ongkos kirim Rp 16.000
Pembelian lewat bank: Harga Rp 50.000+Ongkos kirim Rp 16.000 (Pulau Jawa). Kirim ke HARIYANTO,Bank BRI Unit Bojonegoro, No.Rek.3846-01-000524-50-6. Kirim copy bukti transfer ke HARIYANTO, BSD Nusaloka Sektor XIV-5,Jl.Bintan 2 Blok S-1/11,Tangerang 15318. Konfirmasi lewat SMS ke: 081-330-070-330. Buku novel dikirim lewat TIKI/JNE.

Hariyanto Imadha

SMS Only : 081-330-070-330
Cerpenis & Novelis

CERPEN: Orang-Orang Sempel Dari Bojonegoro”


SETASIUN Senen, 25 Nopember 2010. Sore itu saya sedang berada di Stasiun Senen menunggu kedatangan kereta api Senja Utama Selatan jurusan Yogyakarta. Maklum, saya dapat undangan dari mantan teman-teman kuliah saya di UGM. Sudah 30 tahun tidak pernah bertemu. Tentu, saya rindu sekali dengan mereka. Sambil berdiri menunggu datangnya kereta api, saya membayangkan betapa meriahnya acara reuni nanti. Apalagi itu khusus teman-teman satu angkatan. Sore itu angin bertiup cukup kencang. Udara dingin. Saya baru ingat, lupa membawa jaket.

Tiba-tiba, saya merasakan ada yang yang menggerayangi kantong celana saya. Halus sekali gerakannya. Namun, saya diam saja. Pura-pura tidak melihat. Nah, betul kan. Begitu terasa dompet saya terambil, sayapun berteriak.

“Copet…!Copet…!Copet…!” secepat kilat saya membalikkan tubuh dan mengejar pencopet itu. Seorang satpampun ikut mengejar.Pencopet itu lari cukup cepat. Sesekali dia meliihat ke arah saya. Tepat di depan toilet yang lampunya cukup terang, saya mengenali pencopet itu. Sayapun berteriak lagi.

“Mas…!Saya dari Bojonegoro! Saya dari Bojonegoro…!Saya dari Bojonegoro…!”
Ajaib. Pencopet itu langsung berhenti dan memandangi saya keheranan. Ketika satpam datang danberusaha untuk menangkapnya, sayapun berkata kepada satpam itu.
“Maaf,Pak. Jangan ditangkap. Dia teman saya….”. Satpam itu tidak yakin dan bertanya siapa nama pencopet itu.
“Kalau teman, siapa nama dia?”
“Dia Andhika,Pak!” saya menyebut nama.
“Betul;! Kamu Andhika?”. Satpam itu ganti bertanya ke pencopet. Pencopet itu mengiyakan. Akhirnya, satpam itupun melepaskan Andhika dan memberi nasehat ke saya supaya berhati-hati di Stasiun Senen. Satpam itupun meninggalkan kami berdua.

“Kok, bapak kenal saya?” Pencopet itu heran.
“Ya. Kamu kan dulu tinggal di Kauman. Semua orang Bojonegoro tahu kamu. Saya Harry. Yang dulu tinggal di Jl.Trunodjoyo No.4…,” saya mencoba mengingatkan.
“Oh, ya,ya…Puteranya Mbah nDjani,ya?” Dia mulai mengenal saya. Dia meminta maaf dan mengembalikan dompet saya secara utuh.

“Kok kamu jadi pencopet?”.Saya bertanya. Saya ajak Andhika duduk dan minum kopi hangat di salah satu mini resto di stasiun itu. Akhirnya Andhika bercerita bahwa dari Bojonegoro cuma berbekalkan ijasah SMA. Tidak punya ketrampilan. Pernah bekerja di Bekasi selama tiga tahun. Karena perusahaannya bangkrut dan bubar, akhirnya mulailah hidup menjadi sulit. Berkali-kali mencari kerja, tetapi gagal.
“Dulu dari Bojonegoro punya rencana apa?” Saya ingin tahu.
“Ya, motivasi saya cuma ingin cari kerja” Andhika menjawab sambil makan kue bolu.
“Kerja apa?”
“Pokoknya kerja”
“Nah, itulah salah kamu. Seharusnya, kalau dari Bojonegoro harus punya rencana yang jelas. Juga, harus menyiapkan segala sesuatunya. Minimal kamu harus punya sertifikat ketrampilan. Kenapa? Banyak perusahaan swasta yang mudah bangkrut sehingga harus punya cadangan untuk berwiraswasta. Banyak orang Bojonegoro yang kleleran di Jakarta. Jadi tukang parkir seumur hidup .Jadi salesman seumur hidup. Tidak berkembang. Kenapa tidak berkembang? Karena tidak punya rencana. Tidak punya strategi….Sekali lagi,banyak yang kleleran. Pergi ke Jakarta tanpa rencana yang matang, ya seperti orang-orang sempel itu” Sayapun meneguk kopi hangat manis. Sambil sesekali melihat arloji.

“Ada yang lebih sempel lagi, Pak Harry?”
“Ada. Namanya Reffan. Dari Bojonegoro tidak punya rencana matang. Tidak punya ketrampilan apa-apa. Saya ketemunya di Facebook. Dia cerita, sudah jadi Prof.Dr. Juga cerita, namanya diganti menjadi Prof.Dr.Revanno Danusutirto. Dia juga bilang, lulusan dari salah satu perguruan tinggi di Jepang, Jerman dan Perancis. Katanya, dia juga menjadi seorang peneliti mikrobiologi. Dia juga bilang, pindah agama dari Kristen ke Islam. Bahkan dia mengaku menjadi seorang ustadz dan sudah dua kali naik haji. Ceritanya di Facebook, tiap Jum’at memberikan ceramah di masjid. Karena saya curiga, sayapun bertanya ke tetangga-tetangganya. Ternyata, dia itu bukan apa-apa.Bukan siapa-siapa. Pekerjaan sehari-hari sebagai tukang pijat….”
“Ha ha ha….Kalau itu sih, sempel beneran,Pak!” Andhika tertawa terbahak-bahak.
“Ya,iyalah…Sempel betulan…,” saya tersenyum mengingat ulah Si Reffan.

“Oh, menarik sekali cerita Pak Harry.Bisa nggak dicontohkan orang-orang Bojonegoro yang sukses?” Andhika memandang ke arah saya dengan wajah yang serius.
“Mau contoh? Baiklah. Saya punya teman. Namanya Hermawan. Dari Bojonegoro dia memang sudah punya rencana membuka perusahaan furniture. Sejak dari kota asal, dia sudah berkenalan dengan beberapa pemilik perusahaan furniture dan pengusaha kayu jati. Juga kenal dengan pejabat-pejabat Perhutani. Sampai di Jakarta, diapun langsung membuka usaha itu. Beberapa tahun lancar. Tapi, suatu saat peraturan membuat dia kesulitan mendapatkan kayu jati dari Bojonegoro. Akhirnya dia mengganti dengan kayu lain. Tetapi karena modelnya bagus, dia tetap sukses,” saya memberi contoh. Hermawan adalah teman saya sewaktu di SMAN 1 Bojonegoro.

“Ada lagi,Pak?”
“Ada. Lulusan SMA. Cewek.Dia hanya berbekalkan ijasah mengetik sepuluh jari.Tapi dia punya rencana.Pada awalnya hanya sebagai juru ketik.Tapi,pulang kerja dia kursus kesekretariatan. Sesudah dapat Diploma 1, dia pindah kerja di perusahaan swasta dengan gaji lebih tinggi. Pulang kerja, kursus bahasa Inggeris. Sesudah dapat diploma bahasa Inggeris, dia melamar kerja di perusahaan asing milik Norwegia. Gajinya juga lebih besar lagi. Diapun mampu mengambil kredit rumah. Oh ya, namanya Yurnita…”
“Oh, bagus sekali rencananya. Ada lagi,Pak? Siapa tahu bisa memotivasi saya”. Andhika bertanya sambil meneguk kopi.

“Ada dong. Banyak. Ada orang Bojonegoro, namanya Gamawan. Dia ke Jakarta bermodalkan sertifikat komputer. Karena kakak tempat dia menginap pindah ke Bekasi, diapun ikut pindah ke Bekasi. Dia melamar sebagai instruktur komputer. Tapi dia punya rencana. Rencana apa? Dia pelajari siswa-siswanya. Nah, ada siswa kelas dewasa yang juga seorang pengusaha sukses. Dia selalu menjual ide supaya pengusaha itu membuka lembaga pendidikan komputer ukuran besar. Karena Gamawan pandai menjual ide dan mempersuasi, akhirnya pengusaha itupun mendirikan lembaga pendidikan komputer. Gamawan ditunjuk sebagai pengelolanya dengan gaji yang cukup besar. Rencana Gamawan tidak berhenti di situ. Selama tiga tahun dia menabung. Akhirnya dia mendirikan sendiri lembaga pendidikan komputer. Bahkan tiga tahun kemudian lembaganya berkembang menjadi akademi komputer”. Sesekali, saya melihat arloji.

“Wah! Betul juga,Pak. Saya baru sadar kalau saya ini bodoh!,” keluh Andhika.
“Kamu bukannya bodoh, tetapi sempel. Banyak orang Bojonegoro yang sempel menjadi kleleran di Jakarta. Kenapa? Sekali lagi, karena tidak punya rencana yang matang. Tidak punya ketrampilan. Jadi,dua itu syarat untuk hidup enak di Jakarta”
“Kalau wiraswasta,bagaimana Pak? Andaikan saya punya modal, saya ingin wiraswasta”
“Wiraswasta itu juga harus punya rencana yang matang. Harus punya keterampilan juga. Banyak orang rencananya tidak matang. Asal buka usaha, setahun kemudian bangkrut. Wiraswasta itu hanya untuk barang atau jasa yang betul-betul dibutuhkan orang dan peminatnya banyak, tetapi pesaingnya masih sedikit. Tapi kamu juga harus punya keterampilan dulu. Kamu tahu mobil Ferrari? Ferrari itu nama orang. Nama lengkapnya Enzo Ferrari. Dia dulu bekerja di pabrik mobil CMN dan menjadi anggota tim pembalap Alfa Romeo. Dia bekerja punya rencana. Dia mempelajari manajemen pabrik mobil itu. Beberapa tahun kemudian dia mendirikan pabrik mobil sendiri dengan nama Ferrari”.

“Kalau saya wiraswasta, kira-kira wiraswasta apa Pak?”
“Lho, kamu sendiri tertarik di bidang apa? Punya keterampilan atau tidak? Punya modal atau tidak? Lantas, kira-kira banyak peminatnya tidak?”

Andhika diam berpikir. Kemudian dia mengatakan rencananya kepada saya.
“Saya sejak dulu punya hobi bongkar pasang sepeda,Pak. Sewaktu saya punya motor, saya juga suka bongkar pasang mesin. Saya ingin membuka bengkel motor…” Andhika mengemukakan keinginannya.
“Itu bagus. Jumlah motor di Jabodetabek bertambah terus. Prospeknya bagus. Cuma, kamu harus kursus perbengkelan dulu. Kerja dulu sebagai montir motor. Kalau benar-benar sudah profesional, silahkan buka bengkel motor. paling tidak dalam waktu tiga tahun kamu sudah mengubah nasibmu menjadi baik…” saya memberikan motivasi.
“Wah, iya..Pak. Masalahnya, saya tidak punya biaya untuk kursus perbengkelan…”

Tiba-tiba ada pemberitahuan lewat speraker dari pihak setasiun bahwa sebentar lagi kereta api Senja Utama Selatan jurusan Yogyakarta akan memasuki Stasiun Senen. Saya segera mengambil dompet, mengambil uang untuk membayar dua gelas kopi dan beberapa kue. Sekalian mengambil uang Rp 1.000.000 dan saya berikan ke Andhika. Sayapun berdiri dan menenteng tas kecil.
“Buat apa, Pak?” Andhika terkejut sambil ikut berdiri.
“Buat biaya kursus perbengkelan. Tekuni baik-baik.Rencanakan baik-baik. Niscaya hidupmu akan berubah menjadi baik….” saya memberikan semangat ke Andhika.

Andhika langsung memeluk saya dan menangis pelan.
“Aduh! Terima kasih,Pak Harry! Saya insyaf! Demi Allah….Saya akan memperhatikan nasehat Pak Harry. Saya ingin berubah,Pak. Maafkan saya……” begitu kalimat-kalimat penyesalan yang keluar dari mulut Andhika.

Berhubuung kereta sudah memasuki setasiun, sayapun bersalaman dengan Andhika.
“Semoga sukses…” ucap saya sambil menuju ke gerbong kereta api.
“Terima kasih,Pak. Selamat jalan….” Andhikapun melambaikan tangan saat kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun Senen.

Saya tidak menyesal memberi Andhika uang sebesar Rp 1.000.000. Sebab di dalam dompet itu saya membawa uang Rp 3.000.000 plus beberapa kartu ATM.Daripada semuanya hilang dicopet orang, lebih baik saya amalkan untuk Andhika.

Dua tahun kemudian, saya mendapat SMS dari Andhika, bahwa dia telah membuka bengkel motor di kawasan Jatinegara dengan penghasilan bersih rata-rata Rp 250.000 per hari. Sayapun diundang ke bengkelnya. Sayang, sampai hari ini saya belum punya waktu ke bengkelnya.

Hariyanto Imadha
Facebooker & Blogger

CERPEN: Tunggulah Aku di Gg.Jiken

BOJONEGORO,1970. Waktu itu saya resmi keluar dari SMAN 1. Dulu namanya SMA Negara.Rencananya pindah ke SMAN 4 Surabaya. Entah kenapa, saya kok tertarik mendaftar di Sekolah Menengah Atas Katholik atau SMAK, Jl. Untung Suropati.

Hari pertama saya masuk, saya satu kelas dengan Mulyoso, teman sejak SMPN 2. Juga, sekelas dengan Siti Subandiyah, lulusan SMP Nuswantara yang beberapa tahun yang lalu sudah bubar. Satu kelas, yang beragama Islam cuma saya dan Siti. Hari pertama, jam pertama, pelajaranpun dimulai. Semua siswa asyik mendengarkan guru dan sesekali mencatat di buku.

Tiba-tiba, mata saya melihat sesosok cewek. Cantik, rambut pendek, bulu matanya lentik. Mirip Yuni Shara di zaman sekarang.

“Sit,cewek itu namanya siapa?,” saya bisik-bisik ke Siti yang kebetulan duduk sebelah saya. Sayapun menunjuk ke cewek yang saya maksud.

“Oh,iitu? Namanya Chelsea.Chelsea Vitriani,” jawab Siti pelan.”Naksir,ya?” tanya Siti. Saya mengangguk.

Jam istirahat, saya ikuti Chelsea yang sedang menuju ke kantin. Saya duduk tak jauh dari dia. Saya sapa. Eh, ternyata ramah sekali. Saya dan Chelseapun mengobrol ngalor ngidul sambil makan pisang goreng.

“Oh,Chelsea dari Malang? Di jalan apa?” saya baru tahu kalau dia dari Malang.

“Jalan Kepundung,” singkat jawabnya.

“Terus, di Bojonegoro tinggal di mana?”

“Di Jl.Diponegoro,” katanya ramah. Ternyata Chelsea enak diajak bicara. Dan ternyata di kantin itu bukan saya saja yang ingin kenal Chelsea. Ada juga cowok-cowok kelas lain juga nimbrung bertanya atau ngobrol. Dan Chelsea tetap bersikap ramah kepada siapa saja.

Karena Chelsea satu kelas dengan saya, maka tiap hari saya selalu melakukan pendekatan. Siti dan Mulyosopun memberikan support. Dan Chelsea sikapnya tetap seperti hari pertama.Ramah.Murah senyum.Tak ada kesan sombong sedikitpun.

Seminggu kemudian,saat bel terakhir berbunyi, maka saya mengikuti Chelsea ke tempat parkir sepeda. Maklum, zaman dulu belum ada siswa yang membawa motor. Sayapun membawa sepeda. Padahal, rumah saya dekat, yaitu di Gang Netral, Sumbang.

Sayapun pulang bersama Chelsea.Bersepeda bersama.Menyusuri Jl.Diponegoro. Namun di tengah perjalanan Chelsea berhenti.

“Harry, tolong,ya. Jangan ikuti saya sampai ke rumah,”ujarnya.

“Kenapa?” saya ingin tahu.

“Ibuku galak sekali. Saya tidak boleh mengajak teman cowok ke rumah. Maaf,ya? Tolong deh, Harry jangan ikuti saya…” pintanya.

“Oke,deh. Besok ketemu di sekolah saja,” saya menjawab. Saya putar balik sepeda. Langsung pulang menuju Gg.Netral.

Oh, masa remaja. Saya benar-benar mulai jatuh cinta ke Chelsea. Bukan karena kecantikannya saja, tetapi juga keramahtamahannya. Sayang, saya tidak boleh ke rumahnya, sehingga tidak ada acara wakuncar atau wajib kunjung pacar. Malam Minggu tetap di rumah sendiri. Rasanya tidak enak juga, malam Minggu kok tidak ngapel.

Ngapel? Ah, saya ternyata “ge-er”. Lha wong menyatakan cinta ke Chelsea saja belum. Apakah Chelsea pasti mau menerima cinta saya? Juga belum ada kepastian. Wah, sebelum Chelsea jatuh cinta ke cowok lain, maka saya perlu usaha ekstra keras untuk mendapatkan Chelsea. Malam harinyapun saya menulis surat cinta. Namun, berkali-kali surat cinta itu saya robek dan saya buang ke tempat sampah.

“Kok,pakai surat,sih? Kan lebih baik lewat Siti atau lebih baik saya ngomong langsung saja?” begitu kata hati saya. Sudah lima kali menulis surat, selalu saya robek-robek.

Esoknya, pulang sekolah, saya pulang bersama Chelsea lagi. Bersepeda bersama melewati Jl.Diponegoro.Sebelum sampai rumah Chelsea, saya mengajak Chelsea belok sebentar ke Gg.Jiken. Diapun mau.Sepedanyapun dibelokkan ke Gg.Jiken. Kami berduapun turun dari sepeda.

“Ada apa,kok berhenti di Gg.Jiken?” Chelsea ingin tahu.

“Anu,hmmm…saya mau ngomong,nih….” ternyata saya gemetaran menghadapi Chelsea. Mau ngomong salah,nggak ngomong salah. Namun akhirnya saya nekat. Diterima atau ditolak, harus saya hadapi secara jantan. Nah,akhirnya sayapun bilang ke Chelsea, kalau saya sebenarnya menaruh hati.

Chelsea cuma menunduk saja. Tidak ada jawaban.

“Bagaimana?” desak saya.

“Hmmm,saya minta waktu beberapa hari,deh. Saya pikir-pikir,dulu,” jawabnya. Setelah ngobrol sebentar, kamipun berpisah. Pulang ke rumah masing-masing.

Seminggu kemudian, sayapun membuat perjanjian dengan Chelsea. Bertemuu di Gg.Jiken yang tidak jauh dari rumahnya. Kebetulan hari itu hari Minggu. Sayapun mencoba mengajak Chelsea jalan-jalan. Eh, ternyata dia mau. Sejak saat itulah, tiap Minggu pagi saya selalu menunggu Chelsea di Gg.Jiken. Kemudian jalan-jalan ke Kaliketek. Habis, mau ke mana lagi. Objek wisata Dander saat itu jalannya hancur. Demikian juga jalan menuju ke Kahyangan Api ataupun ke Waduk Pacar sangat buruk. Berlubang-lubang. Naik sepedapun tak nyaman. Jadi, ya ke Kaliketek saja.

Sewaktu di Kaliketek, berkali-kali saya mencoba mencium Chelsea, namun selalu ditolak.

“Nggak,ah! Nggak usah gitu-gituan…,” begitu katanya. Meskipun demikian, saya merasakan indahnya hari Minggu itu. Jembatan Kaliketek, merupakan saksi hubungan kami berdua. Sudah berpacarankah? Belum bisa dipastikan. Jangan-jangan Chelsea cuma menganggap saya sebagai teman? Buktinya, tiap kali saya meminta jawaban, Chelsea selalu menolak.

Satu tahun telah berlalu.Akhirnya, sayapun mendapat kepastian dari Chelsea. Dengan kata lain, Chelsea resmi jadi pacar saya. Bukti berupa surat-surat juga ada. Bahkan berciuman sudah bukan hal yang aneh. Semua teman se-SMK juga sudah tahu. Bahkan semua guru dan kepala sekolah juga tahu. Di mana ada Chelsea, di situ ada saya.

Sesudah kenaikan kelas, sayapun pindah ke Surabaya. Sebab, saya tidak betah tinggal di kota Bojonegoro yang sepi. Saya suka tinggal di kota besar. Apalagi, di Surabayapun saya ingin mengambil kursus bahasa Inggeris di lembaga pendidikan yang bonafide. Saya punya cita-cita meneruskan kuliah ke Amerika.

Sayang, saat itu SMAN 4 Surabaya tidak mengakui ijasah saya dari SMAK. Alasannya, SMAN 4 hanya mau menerima pindahan dari sesama SMA Negeri. Terpaksa, saya menggunakan status dari SMAN 1 (SMA Negara) Bojonegoro.Dan sialnya, saya tidak bisa diterima di kelas tiga, melainkan di kelas dua. Apa boleh buat.

Tiap Sabtu saya pulang ke Bojonegoro.Dan tiap Minggu tetap janjian bertemu Chelsea di Gg.Jiken. Kemudian bersepeda keliling kota. Atau, kadang-kadang beli salak di Wedhi atau Kalianyar. Menyenangkan sekali.

Lulus SMA, saya jadi meneruskan studi ke California University, Los Angeles atau UCLA. Sedangkan Chelsea sudah tahun kedua di Fakultas Kedokeran Universitas Airlangga. Hubungan saya dengan Chelsea cuma lewat surat. Maklum, zaman dulu belum ada HP.Belum ada SMS.Belum ada internet.Belum ada Facebook.Masih zaman jadul.

Tahun kedua saya kuliah, saya tak pernah lagi dapat jawaban dari Chelsea. Sudah 10 kali kirim surat, tak ada jawaban. Saya tanya Siti dan Mulyoso lewat surat, mereka juga tak menjawab. Ada apa ini?

Saat liburan semester, sayapun pulang ke Indonesia.Pulang ke Bojonegoro. Saya langsung ke rumah Siti menanyakan soal Chelsea. Pada awalnya Siti mengatakan tidak tahu, karena Siti kuliah di Yogya. Kebetulan liburan semester, dia pulang. Sesudah saya desak, akhirnya Sitipun berkata jujur.

“Jangan marah ya,Harry?,” pinta Siti.

“Emangnya ada apa dengan Chelsea?”

“Chelsea sudah menikah,Harry…”

“Menikah? Dengan siapa…?” Terkejut saya mendengar ucapan itu.

“Dengan Mulyoso. Teman kita sekelas sewaktu kita di SMAK…”

“Mulyoso?” lebih terkejut lagi saya mendengar nama itu. Tak saya sangka, Mulyoso yang merupakan sahabat baik, telah tega merebut Chelsea.

Pelan saya tingggalkan Siti. Dengan naik becak, saya menuju ke Gg.Jiken. Saya terdiam. Tercenung. Teringat kenangan indah beberapa tahun yang lalu. Gg.Jiken…Sampai kapanpun tak akan saya lupakan.

Sumber foto: abiezs.com

Catatan:

Cerita iini merupakan cerita fiktif. Foto sekadar ilustrasi.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN : Trauma Banjir Bojonegoro 2007/2008

Katakanlah [Muhammad]: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari BENCANA di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (BENCANA) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur””.(QS -An’am,6:63).

Catatan: Cerpen ini berdasarkan pengalaman pribadi dan benar-benar terjadi.

HARI itu Sabtu, 29 Desember 2007. Seperti biasa pagi-pagi saya membuka pintu pagar. Lho, kota saya dalam keadaan terang benderang tidak hujan, kok Jl. Ade Irma di depan rumah saya banjir? Tinggi air saat itu Cuma lima sentimeter. Saya sadar, pasti akan ada banjir. Apalagi di televisi sedang hangat-hangatnya isu global warning alias pemanasan global.

Saya pikir, ah tinggi air banjir seperti tahun 1987, hanya sekitar 3o cm. Sayapun masuk ke rumah. Beres-beres kamar tidur dan warnet. Kebetulan sendirian. Karyawanpun belum datang. Ketika keluar dari warnet, saya terkejut. Lho, kok air bisa masuk ke warnet? Tentu ketinggian air lebih dari 30 cm. Cepat sekali.

Karena saya pikir tinggi air tidak seberapa, maka semua barang-barang termasuk komputer, scanner, printer, kulkas, dll. Saya biarkan saja. Pikir saya, di atas meja cukup aman.

Tapi, e…kurang ajar. Air masuk ke kamar tidur saya sudah setinggi 10 cm dari ubin atau selutut dari tanah. Sayapun panik. Saya kirim SMS ke semua saudara saya yang ada di Surabaya, Jakarta, dll. Saya selamatkan sura-surat penting. Saya masukkan ke tas kecil dan saya gantungkan di paku di kamar yang letak pakunya paling tinggi. Saya ambil baju, celana, odol, sikat gigi, obat-obatan, payung, senter, fulpen, notes, HP. Saya masukkan ke tas dan mulai mengungsi. Saat itu air sudah setinggi perut saya.

Saya susuri pelan-pelan Jl. Ade Irma, belok kiri ke Jl. Diponegoro. Busyet, arusnya cukup deras. Berkali-kali saya hampir jatuh. Dengan susah payah saya sampai di jl. Diponegoro paling Utara. Di sini tanahnya tinggi dan tidak banjir.

Ada becak. Saya minta diantarkan ke Hotel Sahabat yang ada di belakang Supermarket Rajawali.Tidak banjir. Kamar atas sudah penuh. Kamar bawah tinggal satu. Saya langsung masuk. Yah, sialnya saat itu sinyal Simpati drop gara-gara BTS di luar kota mati.Tidak bisa kirim SMS dan tidak bisa terima SMS. Komunikasi terputus.

Sesudah makan malam sayapun tidur.Eh, pukul 23:00 WIB pintu digedor karyawan hotel.

-“Pak. Bangun Pak. Banjir…”

Sayapun bangun. Werleh weleh weleh…air hampir mengenai kasur. Diamput…”

Saya segera ambil tas kecil saya kemudian pindah ke lantai dua. Di lantai ini sudah banyak orang yang tidur-tiduran di lantai. Sebagian mengobrol. Berjubel seperti cacing kermi.

Saya paksakan tidur sambil duduk. Pukul tiga pagi listrik padam. Maklum solar diesel milik hotel sudah habis. Di era SBY ini khan beli solar dibatasi. Kalau listrik PLN sudah mati total sejak kemarin.

Minggu, 30 Desember 2007.

Pagi-pagi ibu-ibu mulai memasak secara gotong royong. Selesai masak makananpun dibagi. Saya pikir saya dapat bagian. Ternyata mereka bertetanmgga dan makanannya dimakan mereka sendiri.

Diamput! Sayapun mengambil keputrusan pindah tempat mengungsi. Sesudah membayar hotel, saya coba kedalaman air di lobi hote. Wow, setinggi perut. Ketika tida di jalan depan hotel, tinggi air setinggi dada. Rasa-rasanya saya ada di tengah laut. Ke mana mata memandang, hanya air yang saya lihat. Tidak ada tim SAR. Biasalah, kalau soal penanggulangan bencana pemerintah kita terkenal telmi (telat mikir).

Tiba di perempatan, saya belok kanan. Hanya berdasar intuisi saja. Semakin ke barat, tinggi air semakin berkurang. Pas di depan masjid At Taqwa ternyata tidak banjir. Di situ sudah ada ribuan pengungsi. Saya kebagian di anak tangga. Ya sudah, duduk-duduk di situ.

Malamnya minta ampun. Dingin, bau pesing, dan banyak nyamuk. Untunglah saya membawa pil Decolgen untuk mencegah demam. Di sini lumayan, ada pembagian nasi bungkus, air mineral dan obat-obatan gratis. Tapi, nggak bisa mandi. Karena listrik PLN mati, kamar mandi dan WC tidak ada air. Saat itu saya ganti kartu HP dari Simpati ke Mentari dan bisa berkomunikasi lagi dengan saudara-saudara dan teman-teman.

Lho, kenapa tidak mengungsi ke Surabaya saja? Saat itu kota Bojonegoro terkepung banjir. Terminal juga banjir.

Senin, 31 Desember 2007.

Saya jalan-jalan ke Jl.Diponegoro. Utara yang tidak banjir. Kebetulan ada truk marinir akan ke terminal. Katanya, terminal sudah tidak banjir . Sesudah satu jam menunggu, akhirnya saya dapat bis menuju Surabaya. Sayapun kirium SMS ke saudara-saudara yang ada di Surabaya.

Sampai di Surabaya, saya janjian dengan kakak saya supaya dijemput di Kampus Stikom. Sayapun menunggu di Kampus Stikom, Jl. Kendangsari Industri. Weleh…weleh…weleh…sampai satu jam saya tidak dijemput. Mau naik taksi saya belum pernah ke rumah kakak saya. Salah-salah taksinya berputar-putar saja hingga uang habis. Mau kirim SMS lagi baterai HP sudah habis. Kepala pun agak pusing.

Akhirnya saya memutuskan pulang lagi ke Bojonegoro naik bis. Lha, sialnya tanggul di Kecamatan jebol. Akhirnya lewat jalan alternatif yang lebih jauh dan kena biaya tambahan Rp 5.000 dari tarif Rp 13.000. Iya deh, malam itu saya merayakan acara Tahun Baru di dalam bis.

Sampai di Bojonegoro langsung jalan kaki menuju stasiun. Ternyata di sini fasilitasnya lumayan. Ada tiga kamar mandi dan WC. Airnyapun cukup. Tidak antri. Maklum jumlah pengungsi Cuma sekitar 50 orang. Mereka menempati gerbong kereta Gumarang yang kursinya empuk itu. Semua kereta tidak jalan karena banjir.

Saya cuma kebagian kursi tunggu yang panjang. Saya istirahat di situ seperti gelandangan. Untung wakil kepala stasiunnya baik. Saya boleh numpang nge-charge baterai HP. Listrik PLN juga sudah mulai menyala (hanya di daerah tertentu). Di depan stasiun banyak warung makan, toko kue,toko obat-obatan dan ada juga mobil milik crew MeetroTV. Sdempat juga bincang-bincang sebentar dengan mereka.

O ya, ada juga warnet. Nah, di situ saya rental internet dan kirim surat pembaca yang dimuat di harian Jawa Pos, Suryta, dll. Judulnya “Suara Korban banjir Bojonegoro”.

Malam hari dingin banget. Walaupun sudah memakai mantel tebal, namun angin dingin terasa masuk ke tulang. Lagi-lagi saya minum pil Decolgen. Di stasiun itu saya kirim SMS ucapan selamat tahun baru ke teman-teman yang ada di jakarta, Bandung, dll. Semua kaget ketiika tahu saya kebanjiran.bahkan ada yang berjanji akan mengirim bantuan dana.

Selasa, 1 Januari 2008.

Melalui SMS akhirnya saya tahu kenapa di Surabaya saya tidak dijemput kakak saya. Ternyata, saya menunggu di Stikom Jl. Kendangsari Industri, sedangkan kakak-kakak saya mencarinya di Stikom Jl. Kedung Baruk. Ya, asampai kiamat nggak bakalan ketemu. Ha..ha..ha..

Selanjutnya saya lupa hari dan lupa tanggal. Saya juga lupa berapa malam saya di stasiun Bojonegoro. Pokoknya saya hari itu saya ke Surabaya dan langsung dijemput kakak saya di terminal Bratang.

Saya nggak ingat berapa hari di Surabaya. Pokoknya saya selalu memantau kondisi Bojonegoro melalui televisi. Ketika ada informasi banjir sudah surut, akhirnya sayapun pulang ke Bojonegoro. Saya lupa hari apa dan tanggal berapa.

Ketika sampai di rumah, saya hanya bisa tercengang. Saya melihat lemari, kursi, televisi, kulkas, dll dalam kondisi jungkir balik. Seperti habis perang. Atau seperti habis ada orang gila mengamuk. Lantai licin karena lumpur. Berkali-kjali hampir terjatuh. Bekas banjir menunjukkan air masuk dalam rumah setiunggi satu meter diukur dari ubin atau setinggi dada diukur dari tanah.

Saya terdiam. Sedih.Kecewa.Gundah.Ingin menangis.Semua komputer terjungkir balik. Begitu juga scanner, printer, HP, kamera, kompor listrik, blender, ratusan CD software (sebagian original), arsip,card reader,pen device,ratusan kaset, ribuan data, ratusan cerpen karya saya, ratusan foto kenang-kenangan yang tidak mungkin dibuat lagi, beberapa skripsi….semuanya! Ya, semuanya hancur! Rusak! Hanya sebagian kecil yang bisa terselamatkan.

Yang membuat saya merasa berdosa besar yaitu empat Al Qur’an yang harganya mahal itu tergeletak di lantai dan sudah rusak bercampur lumpur. Tidak bisa dibaca lagi. Benar-benar saya merasa berdosa sekali.

Kerugian sekitar Rp 100 juta. Saya jatuh miskin. Usaha warnet terpaksa tutup. Saya akhirnya menganggur. Tidak ada pemasukan uang kecuali belas kasihan dari saudara-saudara. Uang pribadi sudah habis selama dalam pengungsian. Bantuan dana dari pemda nol besar.

Saya jadi kere. Namun saya pikir, penderitaan saya belum apa-apa dibandingkan dengan ribuan korban lumpur Lapindo yang telah menderita lahir batin lebih dari setahun. Semangat hidup sayapun bangkit. Saya jual apa yang bisa saya jual. Uangnya saya belikan sebuah komputer dan akhirnya hobi saya main internet bisa tersalurkan lagi.

Ada perang batin saat itu. Pertama, saya harus wiraswasta lagi atau menganggur? Jika wiraswasta lagi, saya terlanjur kehabisan modal. Jika menganggur, saya akan menjadi beban saudara-saudara karena tiap bulan harus mengirim uang.

Kedua, saya harus memikirkan diri sendiri ataukah memikirkan Rencana Reuni Akbar SMAN 1 Bojonegoro, SMAN 4 Surabaya dan SMAN 6 Surabaya? Sudah ratusan atau ribuan alumni mengetahui ini. Kebetulan saya adalah satu-satunya pemrakarsa (initiator).

Aklhirnya dengan berat hari, saya saat ini harus memprioritaskan kepentingan pribadi dulu. Rumah yang saya tempati cukup luas di atas tanah yang luas juga, yaitu 2689 meter persegi dan terletak di dalam kota.

Karena saya tidak mampu membayar orang, terpaksa bersih-bersih lumpur sendiri. Kadang-kadang dibantu karyawan. Ini butuh waktu yang lama. Mungkin, enam bulan baru bersih.

Hingga Februari saya masih bersih-bersih rumah.

Kerugian sekitar Rp 100 juta.

Catatan

Sudah sejak 1945 warga Bojonegoro membayar bermacam-macam pajak, retribusi dan pungli,namun tetap saja kebanjiran.Kok tidak ada koordinasi yang baik antara pemkab dengan pemprov dan pempus.Padahal rencana penanggulangan banjir Bengawan Solo sudah dibuat sejak zaman Belanda.

Bupati-bupati Bojonegoro itu serius mementingkan rakyat atau tidak,sih?

Sumber foto: http://www.smp1bojonegoro.net/images/banjir2009.jpg

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger