CERPEN: Ongkek’ane Roen…!

FACEBOOK-CerpenOngkekaneRoen

BOJONEGORO sekitar 1965. Seperti biasa, pagi-pagi saya berangkat sekolah. Saat itu kelas enam SR atau SD. Rumah saya di Jl.Trunojoyo No.4 yang sekarang dipakai sebagai Kantor Pelayanan Pajak, sekitar 300 meter Utara kantor pos. Berangkat lewat halaman belakang. Tembus Jl. Diponegoro, depan rumah Gandhi (nama di Facebook: Dhitos Mbombok). sampai perempatan “bangjo” ke kiri, Jl. Teuku Umar.

Tepat di pertigaan Jl.RA Kartini-Jl.Teuku Umar, sebelah barat Gedung PAKRI, ada penjual es serut. namanya Pak Roen. Kalau pagi sudah buka tetapi masih sepi. Tapi kadang-kadang kalau lagi malas, tidak jualan. Kata teman Facebook saya, Koes Haryono, dulu Pak Roen sering tidur-tiduran di empernya Toko Bata, toko sepatu. Sering membawa foto ada bingkainya. Foto isterinya yang sudah meninggal dunia. Sejak isterinya meninggal, Pak Roen memang agak gemblung (setengah sakit jiwa). Itulah, sekila tentang Pak Roen, laki-laki paruh baya.

Saya terus menyusuri Jl.Teuku Umar, belok kanan ke Jl.Dr.Wahidin menuju ke sekolah. Dulu, sekolah saya namanya SDN 3 Kepatihan 1. Saya masih ingat, guru yang mengajari saya belajar membaca dan menulis namanya Bu Nanik. Rumahnya di Jl. Tri Tunggal, Karang Pacar. Guru lainnya, Bu tatik dan Pak Ridwan. Sewaktu kelas 4, saya pernah ditawari kepala sekolah supaya langsung ke kelas 6, tanpa duduk dibangku kelas 5. Soalnya, nilai rapot saya rata-rata nilainya 10. Sayang, saya orangnya terlalu jujur, saya tidak mau.

Yang tidak bisa saya lupakan yaitu, tiap jam istirahat, saya dapat tugas sukarela, yaitu menjual goreng-gorengan. Kalau laku tiap lima goreng-gorengan, saya dapat bonus sayu goreng-gorengan. Saya tawarkan ke kelas 1 hingga kelas 6. Laku 25 goreng-gorengan. Dapat bonus lima goreng-gorengan. Wah, senang sekali. Tidak tiap hari sih, tetapi diganti teman lainnya secara sukarela. Tujuannya, mendidik pelajar untuk mencari uang sendiri.Para pelajar juga diajari berkebun di halaman kgusus kebun. Antara lain diajari cara menanam jagung, ubi, singkong dan lain-lain. Saat panen, para pelajarpun menikmatinya. makan-makan jagung bakar atau ubi bakar. Tujuannya, supaya para pelajar kelas 1 hingga kelas 6 bisa saling mengenal. Kenangan yang tidak akan terlupakan.

Pulang sekolah, melewati jalan yang sama. Yaitu, jalan Dr.Wahidin, belok kiri Jl. Teuku Umar. Tepat di depan warung es Pak Roen, saya lihat banyak orang berkerumun.

“Ada apa, ya?” pikir saya ingin tahu. Sayapun menyeberang jalan menuju ke warung itu. Saya melihat Pak Roen mukanya babak belur. Dan di dalam rumahnya yang sederhana, ada cewek TK sedang menangis.

“Bawa ke kantor polisi!” kata seorang warga. Saya masih belum faham apa yang telah terjadi.

“Laki-laki bejat…!” ujar yang lainnya lagi. Beberapa warga kemudian menggiring Pak Roen ke kantor polisi. Sedangkan beberapa orang ibu-ibu membawa cewek TK itu ke rumah sakit dekat sekolah saya.

“Ada apa, ya?” saya masih saja bengong. Akhirnya, saya terpaksa memberanikan tanya ke seorang bapak. Tapi justru saya dibentak. Katanya, saya anak kecil. Tidak boleh tahu. Agak tersinggung juga saya. Tapi saya diam saja.

Hasil dari nguping pembicaraan para warga yang hadir, maka saya bisa merangkaikan peristiwa itu. Kabarnya, sejak Pak Roen ditinggal isterinya yang meninggal, Pak Roen mengalami stres. Sering kemana-mana membawa foto isterinya yang diberi bingkai. Sering tidur-tiduran di depan toko sepatu Bata mengenang masa lalunya yang indah. Maklum, isterinya dulu bekerja di toko sepatu itu dan Pak Roen mengenal isterinya yang bernama Darmi di toko sepatu itu. Tapi kalau dalam keadaan normal, Pak Roen berjualan es serut atau es campur.

Sebagai penjual es serut, cukup laris. rasanya enak dan harganyapun murah. Apalagi benar-benar menggunakan air kelapa muda dan juga memanfaatkan kelapa mudanya yang benar-benar empuk. Pelanggannya cukup banyak. Tak heran kalau nama Pak Roen yang katanya merupakan kependekan dari kata Haroen, terkenal ke seluruh kota Bojonegoro.

Kabarnya, siang tadi, Pak Roen sedang melayani  Rani, cewek TK yang membeli es serutnya. Sebetulnya Rani anak yang berani. Berangkat sekolah dan pulang sekolah sendiri. Dan pulang sekolah mampir ke warung es Pak Roen.

Rani memang cewek cantik. Mungkin Pak Roen tertarik dengan kecantikan Rani. Kebetulan saat itu warung agak sepi. Pak Roenpun mengajak Rani masuk ke rumahnya yang sangat sederhana. Katanya, dia punya permen dan cokelat banyak. Tentu, Rani yang masih lugu, setelah menghabiskan segelas es, mau saja diajak masuk ke rumah Pak Roen. Pak Roenpun menutup pintu rumahnya.

Di luar, datang tiga calon pembeli. Bapa-bapak muda. Mau membeli es, tapi kok masih sepi. Mereka bertiga duduk-duduk sambil menunggu. Mengira Pak Roen sedang membeli es balok di Mbombok. Biasanya memang begitu.

Tiba-tiba ketiga bapak itu mendengar suara cewek kecil menangis keras. Menangis kesakitan. Karena curiga, ketiga bapak muda itupun mencoba mengintip ke dalam rumah Pak Roen, melalui lubang kecil yang ada. Betapa terkejutnya ketiga bapak muda itu.

“Kurang ajar! Kita dobrak saja pintunya…!” serentak ketiga bapak muda itu mendobrak pintu. Begitu terbuka, mereka bertiga melihat Pak Roen sedang menggagahi Rani di mana tangan kirinya membekap mulut Rani. pak Roen terkejut dan langsung cepat-cepat memakai celananya. Ketga bapak itupun menghajar habis-habisan. Muka Pak Roenpun babak belur.

Dalam tempo sekejap, waring es Pak Roen penuh dengan orang. Salah seorang dari ketiga bapak itupun bercerita. Untuk istilah “hubungan intim”, bapak itu menggunakan istilah “ongkek”. Ongkek itu artinya memasukkan benda ke dalam sebuah lobang kemudian digerak-gerakkan. Orang-orangpun tertawa mendengar kata “ongkek” itu. Salah seorang nyeletuk “Ongkek’ane Roen” disambut tertawa orang-orang lain. Sejak itulah, kalimat “Ongkek’ane Roen” menjadi terkenal. Bahkan beberapa hari setelah Pak Roen bebas dari penjara, orang-orang sering meledeknya dengan ledekan “Ongkek’ane Roen. Biasanya Pak Roen marah dan akan mengejar siapa saja yang meledeknya.

Bagaimana nasib Rani? Tak seorangpun tahu. Andaikan Rani masih ada, mungkin sekarang masih hidup. Paling tidak sekarang mungkin berusia sekitar 50 tahun. Eh, siapa tahu juga punya akun di Facebook. Yang pasti, Rani sebagai korban “Ongkek’ane Roen” pasti mengalami trauma berkepanjangan.

Kasus-kasus “Ongkek’ane Roen” tidak terbatas pada kasus pemekosaan saja. Persoalankumpul kebopun menggunakan istilah “Ongkek’ane Roen”. bahkan kalau ada cowok berhasil memperawani pacarnyapun akan bilang “Saya berhasil Ongkek’ane Roen cewek saya…”. Artinya, istilah atau kalimat itu juga digunakan untuk hubungan intim sukarela.

Apa yang dilakukan Ahmad Fathonah terhadap Maharani juga bisa digolongnkan sebagai perbuatan “Ongkek’ane Roen” atau “Ongkek’ane Fathanah”. Mharani itu baru yang ketahuan. Tentunya masih banyak cewek yang diongkek sama Ahmad Fathanah.

Kembali ke warung es Pak Roen. Setelah saya berhasil mengumpulkan informasi dan merangkai cerita, maka sayapun mulai mengerti apa yang telah terjadi siang itu di warung es Pak Roen. Sesudah itu, sayapun melangkah menuju pulang ke rumah.

“Ongkek’ane,Roen…” kata-kata itu masih terngiang-ngiang di pikiran saya.

Catatan:

Cerpen ini berdasarkan kejadian yang sesungguhnya tetapi sudah dimodifikasi. Yang pasti, inti ceritanya yaitu Pak Roen telah “memperkosa” cewek kecil. Penulis mengharapkan masukan-masukan yang bersifat melengkapi ataupun mengoreksi cerpen ini agar di kemudian hari bisa disempurnakan lagi.

CERPEN: Ketika Sapi Berpeci dan Berjenggot

FACEBOOK-CerpenKetikaSapiBerpeciDanBerjenggot

JAKARTA 2013. Siang itu saya sedang menunggu bus TransBSD di halte depan Ratu Plasa.

“Harry…!” tiba-tiba ada yang memanggil seseorang dari jendela mobil yang baru saja berhenti di depan halte. Saya tengok kanan-kiri, siapa tahu bukan saya yang dipanggil. Lagipula, kelihatannya saya tidak kenal dengan yang memanggil saya.

“Harry…!” sekali lagi, orang itu memanggil. Karena saya diam saja, orang yang di dalam mobilpun membuka pintu, turun dan mendekati saya. Sayapun terkejut. Ternyata dia Gunawan, dulu teamn satu kampus yang sudah puluhan tahun tidak bertemu.

“Oh! Gunawan, ya?” saya bediri dan langsung menyalaminya. Akhirnya kamipun ngobrol ke sana ke mari.

“Oh, ya. Bisnis apa kamu sekarang?” saya tanya ke Gunawan.

“Bisnis sapi. Di Bogor. Saya punya 100 sapi. Punya peternakan. Dekat Sentul City…” Gunawan menjawab.

Singkat cerita, karena hari Minggu itu saya tidak punya acara, sayapun diajak Gunawan ke peternakannya di Kabupaten Bogor.

Sampai di peternakannya, langsung saya diajak jalan-jalan melihat satu persatu sapi yang dipeliharanya. Cukup banyak. Kira-kira sekitar 100 ekor sapi. Entah jenis sapi apa, saya tidak tahu. Saya juga merasa tidak perlu tanya.

Sampai akhirnya saya melihat kandang sapi agak kecil dan isinya hanya tiga ekor. Anehnya, ketiga sapi itu berpeci dan berjenggot.

“Kok, kamu punya sapi aneh, sih?” tentu saya bertanya ke Gunawan. Gunawan tertawa.

“Jaman sekarang memang banyak yang aneh. Ceritanya, saya dulu pernah bermimpi didatangi orang tua berpakaian serba putih. Katanya, kalau bisnis sapi atau bisnis daging sapi saya ingin lancar, maka saya saya harus memberi peci putih kepada tiga ekor sapi yang berjenggot. Begitu bangun tidur, saya langsung mencari tiga ekor sapi berjenggot. Ternyata benar-benar ada. Sungguh, saya hampir tidak percaya…” cerita Gunawan lancar sekali dan terkesan ceritanya memang serius.

Sayapun memandangi ketiga sapi berpeci dan berjenggot itu dengan serius.

“Yang ini, namanya Tifagami,” Gunawan menunjuk sapi yang pertama. “Yang ini, namanya Lutfigami,” menunjuk sapi kedua,” Dan yang ketiga namanya Anisgami,” sabil menunjukk sapi ketiga,” Semuanya sapi jantan” Gunawan mengakhiri kalimatnya.

“Kok ada kata gami. Memangnya ada hubungannya dengan poligami?” saya bercanda. Tapi ternyata benar.
“Betul. Ketiga sapi ini memang suka berpoligami. Ketiganya pejantan sejati. Kebetulan semua sapi saya adalah sapi yang dagingnya enak dimakan. Tiga pejantan ini cepat sekali menghamili sapi-sapi betina sehingga dalam waktu singkat sapi-sapi saya banyak yang beranak,” Gunawan menjelaskan. Saya hanya mengangguk-angguk.

Saya tetap merasa aneh. Kok ada sapi punya jenggot. Apalagi dipakaikan peci putih. Gejala apa ini? Isyarat jaman apa ini? Apakah ini merupakan isyarat jaman edan seperti yang pernah diramalkan Jayabaya atau Ronggowarsito? Bukankah pernah diramalkan pada jaman edan agama hanya akan merupakan simbol? Banyak orang rajin beribadah, tetapi suka sekali berpoligami. Bukan poligami demi kemanusiaan tetapi poligami demi syahwat berkedok agama.

“Kok, melamun, Harry. Memangnya ada apa?” Gunawan menyadarkan saya dari lamunan.

“Saya benar-benar heran. Kok ada sapi punya jenggot. Pertanda jaman apa ini?”

“Betul. Itu pertanda jaman edan banyak orang menjadi edan. Agama, terutama agama Islam, hanya dijadikan kedok saja. banyak orang merasa suci, membesar-besarkan dan membangga-banggakan agama Islam, tapi ternyata dia seorang yang doyan main perempuan, doyan politik dan doyan korupsi…” Gunawanpun jujur menafsirkan keanehan sapi berjenggot itu.

” Ya,ya, ya. Poligami jaman sekarang memang berbeda dengan jamannya nabi Muhammad SAW. kalau jamannya Nabi, beliau berpoligami karena atas dasar kemanusiaan. Kalau poligami di Indonesia atas dasar syahwat. Atas dasar nafsu berahi, buktinya yang dipilih wanita-wanita yang seksi, montok dan semok. Kenapa kok tidak menikahi janda-janda tua banyak anaknya dan miskin?” sayapun berpendapat. Gunawan mengangguk-angguk.

Saya terus menatap ketiga wajah sapi yang berpeci dan berjenggot itu. Jenggot, kebanyakan merupakan simbol laki-laki Arab Saudi atau laki-laki Timur Tengah. Artinya, budaya poligami berdasar syahwat sebenarnya datang dari negara-neagara Arab. Di negara-negara tersebut para pemimpinnya suka hidup foya-foya, bermewah-mewah, suka doyan main perempuan dan berpoligami. Sedangkan sapi berpeci melambangkan agama terutama agama Islam yang cuma dijadikan kedok saja. hanya untuk menutupi perbuatan busuknya. hanya supaya dianggap bersih dan suci. Padahal, sok suci.

“Terus, kenapa Gunawan memberi nama ketiga sapinya dengan nama Tifagami, Lutfigami dan Anisgami?” saya masih penasaran.

“Singkat saja. Itu sesuai petunjuk orang tua berbaju serba putih di dalam mimpi saya”.

“Ada artinya?”

“Hmmm, kurang tahu. Mungkin suatu saat nanti ada tiga orang dengan nama-naama mirip itu akan menjadi terkenal karena kasus-kasus poligaminya…”

“Masuk akal…” saya menjawab singkat.

Gunawan kemudian terus mengajak saya putar-putar di peternakannya. Kemudian melihat karyawan-karyawannya yang sibuk memerah sapi.

“Wah, sapinya montok-montok, ya? Payudaranya besar, padat dan sintal…” komentar saya.

“Ya, sapi-sapi betina yang payudaranya besarlah yang disukai Tifagami, Lutfigami dan Anisgami…”

Saya cuma bisa mengangguk-angguk.

“Kok, seperti manusia, ya?” gumam saya.

“Ya, manusia dan binatang kan sama-sama punya nafsu seks, sama-sama punya syahwat, sama-sama punya birahi…”

“Kalau berpoligami, berarti banyak uangnya, dong. Memangnya dapat uang dari mana? “

“Kalau orang politik sih, biasanya dari korupsi. Kalau dari usaha tidak mungkin langsung untung bermilyar-milyar rupiah. Orang-orang politik yang berpoligami rata-rata punya rumah mewah, mobil mewah dan uangnya di bank banyak sekali. Hidupnya berfoya-foya dan bermewah-mewah…” celoteh saya.

“Ya, mungkin mau mencontoh budaya Arab” kata Gunawan.

“Wah, kalau orang Indonesia semakin banyak yang meniru budaya Arab, lama-lama Pancasila nanti bisa diganti Syariat Islam, nih. Indonesia bisa jadi negeri khilafah…”

“Ha ha ha…! Negeri khilafah? Nabi Muhammad SAW saja nggak pernah mendirikan negeri khilafah. Itu kan khayalan politisi-politisi yang tidak faham Pancasila. Pancasila itu harga mati. Sampai kiamat Qubro, Indonesia nggak bakalan jadi negeri khilafah, Harry…Percayalah…!” Gunawan mencoba meyakinkan.

“Ya, saya sangat percaya. TNI dan polri tidak akan berdiam diri jika ada usaha-usaha untuk mengganti Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” jawab saya serius.

Sayapun terus melihat sapi-sapi yang sedang diperah susunya.

“Oh, ya. Sapi betina itu namanya Mahagami, Vitagami dan Darigami,” ujar Gunawan.

“Apalagi tuh artinya?”

“Artinya, ketiga sapi betina itu merupakan sapi yang montok dan semok. Disukai sapi-sapi jantan macam sapi yang berpeci dan berjenggot tadi.Ketiga sapi betina itu sangat disukai sapi jantan bernama Ahmagami, suka main sapi betina yang montok dan semok.”

“Ooo, ya,ya,ya…Saya faham…”

Sore harinya, sayapun diantarkan Gunawan pulang ke rumah saya di BSD City, Tangerang Selatan. Dan sepanjang perjalanan saya mengambil kesimpulan bahwa, sapi berpeci dan berjenggot adalah merupakan pertanda jaman, bahwa agama, terutama agama Islam banyak yang menyalahgunakan sebagai kedok saja untuk menutupi aibnya. Juga ada hikmah bahwa, kalau kita menilai orang tidak dari predikat ulamanya, dari predikat ustadznya, dari rajin ibadahnya, dari gelar hajinya, dari pecinya, dari jenggotnya, tetapi dari perilakunya.

“Hati-hati dengan politisi atau orang-orang yang berniat mengganti Pancasila dengan sistem khilafah, Harry. Mereka adalah anthek-antheknya pemimpin-pemimpin Arab. Sebab, kalau Indonesia jadi negeri khilafah, para pemimpinnya huga akan hidup foya-foya, bermewah-mewah dan suka main perempuan seperti para pemimpin di negara-negara Timur Tengah. Hati-hati kalau memilih parpol yang berkedok agama Islam…” Gunawan menasehati saya.

Akhirnya sayapun tiba di rumah dan Gunawanpun meneruskan perjalanannya ke rumahnya di kawasan Permata Hijau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Adzan Maghribpun berkumandang.

Sumber foto: caricarainfo.blogspot.com

—ooOoo—

CERPEN: Nostalgia Dancing Queen

SAYA sering bertanya ke teman-teman kuliah saya, kenapa Indonesia yang mayoritas beragama Islam ini lebih suka merayakan acara Tahun Baru Masehi 1 Januari dan tidak merayakan acara Tahun Baru Islam 1 Muharam secara meriah? Semua teman-teman menjawab tidak tahu.

Itulah sebabnya, saya sebagai aktivis senat mahasiswa, memprogramkan peringatan Tahun Baru Islam secara meriah. Saya adakan di Gedung Soemantri Brodjonegoro, Kuningan Jakarta Selatan. Saya juga mengundang menteri agama.

Karena orang Indonesia sering terlambat datang satu jam dari jam yang tertera diundangan, maka di undangan saya cantumkan acara akan dimulai tepat pukul 19:00 WIB dan saya mengharap agar semua undangan datang tepat pada waktunya.

Tepat pukul 19:00 WIB, gedung masih sepi. Hanya panitia saja yang telah siap. Celaka, menteri agama dan pengawalnya telah tiba. Begitu melihat gedung masih kosong, beliaupun marah-marah. Untunglah, beberapa dosen segera menemani beliau duduk di kursi deretan paling depan.

Tepat pukul 20:00 acara dimulai. Gedung telah penuh. Bahkan ada yang berdiri. Setelah menteri agama memberikan sambutan dan disusul sambutan-sambutan dari pihak yang terhormat, maka selanjutnya diisi acara-acara bernuansa Islami.

Tepat pukul 00:00 merupakan tanggal 1 Muharam (versi panitia) maka ratusan kembang api memancarkan sinarnya dengan indah di berbagai tempat di dalam gedung sekaligus mengakhiri acara itu.

Selanjutnya merupakan acara bebas. Langsung disambut dengan dentuman musik-musik dari perangkat diskotik yang telah disediakan. Dengan cekatan DJ memilih lagu slow dan hot secara bergantian. Semua mahasiswa dan mahasiswi berdansa bersama pacar masing-masing. Lampu disko warna-warni berlomptan ke sana ke mari dengan sangat indahnya.

Tepat ketika lagu “Dancing Queen” dari band ABBA diputar, saya sempat melihat Maureen duduk sendirian. Sayapun mendekati.

“Turun, yuk” Ajak saya sambil mengulurkan tangan. Maureen berdiri sambil tersenyum.

Kamipun melantai mengikuti irama lagu “Dancing Queen” yang indah itu. Sempat kutatap mata Maureen yang indah itu. Bulu matanya lentik. Diapun menatap mata saya. Ada rasa aneh di hati saya.

“Kok, tidak datang sama Tommy” Saya ingin tahu. Tommy adalah pacar Maureen yang kuliah di Universitas Tarumanagara.

“Enggak” Singkat Maureen menjawab.

“Kenapa?”

“Saya sudah putus sama Tommy”

“O” Komentar saya singkat. Kebetulan, saat itu saya juga baru putus dengan Yenara. Yenara dan Maureen adalah adik kelas saya. Cuma, mereka berdua berbeda kelas.

Saya tidak tahu, kenapa DJ memutar lagu “Dancing Queen” sampai dua kali. Yang berakibat saya dan Maureen saling berdekap cukup lama.

“Bagaimana kabar Yenara?” Maureen memancing komentar saya.

“Oh, saya juga sudah putus sama Yenara”

Saya melihat mata Maureen bersinar. Selanjutnya bisa ditebak, walaupun saya dan Maureen tak saling menyatakan cinta, namun apa yang terjadi malam itu, kami telah saling jatuh cinta.

Tepat pukul 01:00 WIB dini hari, acarapun selesai sesuai rencana. Karena Maureen tak ada yang menjemput, sayapun mengantarkannya pulang. Rumahnya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.Sesudah mengantarkan Maureen, saya segera meluncur pulang ke rumah saya di kawasan Kebayoran Baru.

Di rumah, sehabis ganti pakaian, saya langsung memutar kaset band ABBA dan memutar lagu “Dancing Queen” berulang-ulang. Indah sekali lagu itu. Diam-diam, saya telah jatuh cinta ke Maureen yang cantik itu.

Dan ketika di kampus, maka di mana ada saya di situ pasti ada Maureen. Semua mahasiswa sekampus sudah mengetahui hubungan saya dan Maureen. Selama itu hubungan saya dengan Maureen lancar-lancar saja. Saya merasa beruntung mendapatkan pacar yang cantik dan gaul itu.

Namun dalam perkembangannya saya berpikir, diteruskan atau tidak? Soalnya, seringkali Maureen mengajak jalan-jalan ke mal. Tak segan-segan dia minta dibelikan baju ini, baju itu, sepatu ini, sepatu itu. Bahkan minta diantarkan ke salon langganannya. Semua mahal dan harus saya yang membayar.

Terus terang saya menjadi ragu-ragu untuk meneruskan hubungan dengan Maureen. Maklum, selama enam bulan berpacaran, saya telah menghabiskan dana Rp 6 juta. Sebegitu mahalkan biaya berpacaran dengan Maureen?

Akhirnya saya mengambil keputusan, tidak akan membelikan apa-apa lagi, kecuali hanya traktir makan di resto atau kafe serta traktir nonton. Begitulah, ketika saya dan Maureen di salah satu mal di Jakarta Selatan, Maureen mulai minta dibelikan ini dan itu.

“Ah, tidak! Nanti saja kalau Harry telah bekerja” Selalu saya katakan demikian.

“Aduh. Barangnya bagus Harry. Di toko lain nggak ada yang jual,nih” Maureen menunjuk kalung di etalase. Harganya Rp 2 juta.

“Ah, tidak! Nanti saja kalau Harry telah bekerja”. Begitu saja saya katakan.

Sejak saat itulah, di kampus Maureen tak mau lagi menemani saya. Pulang kuliahpun tak bersama saya. Malam Minggupun Maureen tak mau lagi menemui saya. Kalau saya telepon, hanya sebentar Maureen bicara, kemudian telepon ditutup. Semua merupakan sinyal agar saya mengundurkan diri saja.

Keputusannya memang begitu. Dengan rasa yang sangat berat, saya berusaha melupakan Maureen. Tidak mudah memang, Dan setelah saya lulus, saya tak pernah lagi bertemu ataupun berkomunikasi dengan Maureen.

Meskipun demikian, saya tak akan pernah melupakan Maureen. Saya tak akan pernah melupakan lagu “Dancing Queen”. Lagu itu sampai hari ini masih sering saya putar.

Akhirnya saya menyadari bahwa hidup di Jakarta memang harus pandai-pandai memilih sahabat ataupun pacar. Kehidupan di kota besar selalu diwarnai perhitungan untung rugi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kehidupan di Jakarta atau kota besar adalah kehidupan yang bernuansa materialis. Semua diukur berdasarkan materi dan uang.

Lantas, siapa yang harus saya salahkan?

Video & Lagu Dancing Queen bisa anda dengarkan di:

http://www.youtube.com/watch?v=8ejypIv8zSA

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Catatan:

1.Ada yang berpendapat bahwa menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam tidak boleh, karena :

– Perbuatan tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam. Karena syari’at Islam menetapkan bahwa Hari Besar Islam hanya ada dua, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.

2.Tidak boleh merayakan acara Tahun Baru Masehi karena perbuatan tersebut mengikuti dan menyerupai adat kebiasaan orang-orang kafir Nashara, di mana mereka biasa memperingati Tahun Baru Masehi dan menjadikannya sebagai Hari Besar agama mereka.

3.“Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“ (Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn).

CERPEN : Patah Hati Bukanlah Kiamat

YOGYAKARTA. Waktu itu saya sekolah di salah satu SMA di Kota Gudeg. Kos di kawasan Lobaningratan. Di tempat kos ini ada 10 kamar dan semuanya mahasiswa. Hanya saya yang masih di SMA kelas tiga.

“Hai…! Melamun saja,nih…” agak terkejut ketika tiba-tiba Mirna Stella muncul di depan kamar saya. Kebetulan pagi itu hari Minggu.

“Oh,masuk Mirna…..” saya persilahkan dia masuk dan duduk.

“Ke mana acara kita hari ini? “ seperti biasa saya menanyakan acara. Hari itu Mirna mengenakan gaun ungu muda dan celana ketat hitam serta sepatu hak tinggi. Rambut pendek dan bulu mata lentik. Dia sekolah di SMA swasta dan tinggal di Asrama  Putri Stella Duce. Saya mengenalnya secara tak sengaja sewaktu sama-sama akan membeli baju batik di sebuah toko di Jl.Malioboro.

“Terserahlah. Yang punya motor kan Harry,” ujar Mirna yang cantik itu. Sudah satu tahun dia menjadi pacar saya. Sayapun segera meninggalkan kamar dan bersama Mirna menuju motor yang saya parkir di depan. Diapun langsung duduk diboncengan.

Motor segera menuju ke…saya belum tahu mau ke mana.

“Kemana kita?” saya tanya lagi.

“Terserahlah, yang penting kita nikmati hari Minggu ini…”

“Ke Pantai Samas,ya?”

“Oke…”

Motorpun melaju ke Samas. Sepanjang perjalanan ngobrol-ngobrol dan becanda. Sebentar-sebentar tertawa. Masa muda memang masa yang sangat menyenangkan. Apalagi punya pacar cantik dan tidak “neko-neko”. Dia menerima saya apa adanya. Walaupun dia cantik, tetapi tidak sombong. Temannya banyak.

Akhirnya, sampailah ke Pantai Samas. Pantai yang sebenarnya biasa-biasa saja. Namun pantai yang bersih. Suara debur ombak membuat suasana menjadi benar-benar mendebarkan. Saya dan Mirna melepas sepatu, kemudian main-main di air pantai.

“Mas…jangan ketengah-tengah…!” teriak orang-orang yang ada di pantai. Saat itu memang banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang. Pantai Samas yang terletak di Jawa Selatan memang bukanlah pantai yang landai, sebab sekitar 50 meter dari pantai, merupakan lantai yang terjal yang dalamnya minimal 100 meter. Lebih jauh lagi, ribuan meter dalamnya. Sudah banyak wisatawan terseret ombak dan tak pernah kembali lagi untuk selama-lamanya. Saya dan Mirnapun kembali ke pantai, takut kalau terseret ombak.

Seperti biasa, kami berdua saling berfoto bersama menggunakan kamera otomatis. Berfoto di pantai, di kedai, di bawah pohon kelapa dan di mana-mana. Hari itu merupakan hari yang terindah namun juga sekaligus hari yang paling hitam pekat.

Ternyata, di pantai itu Mirna bertemu dengan pacar lamanya yang selama ini sekolah di Jerman dan hari itu merupakan hari libur sekolahnya. Mirnapun bicara-bicara dengan Eric, begitu nama cowok itu. Panas juga hati saya.

Untunglah Mirna mengerti perasaan saya. Mirnapun mendekati saya dan mengajak pindah ke tempat rekreasi lain. Motorpun meluncur menuju ke pantai Parangtritis. Pantai yang konon tempat munculnya Nyi Roro Kidul. Katanya lagi, para wisatawan dilarang memakai baju berwarna biru atau hijau karena itu merupakan warna kesayangan Nyi Roro Kidul. Siapa yang memakai baju warna itu, sudah pasti akan diseret ombak untuk dibawa ke keraton milik Nyi Roro Kidul.

Namun saya tak menyangka bahwa pertemuan itu merupakan pertemuan terakhir dengan Mirna. Dalam arti, Mirna menyatakan ingin kembali ke Eric.

“Harry….Jangan marah,ya. Boleh tidak Mirna kembali ke Eric?” begitu tanyanya sewaktu telah tiba di kamar kos saya. Betapa susah untuk menjawabnya. Sebab, selama ini saya benar-benar mencintai Mirna.

Namun, karena lingkungan saya mahasiswa dan saya sering berdiskusi dengan mereka soal cinta, maka banyak pelajaran yang saya petik. Artinya, apakah saya sebagai seorang cowok harus menangis hanya gara-gara cewek? Apalagi dia tidak 100% mencintai saya? Haruskah saya mengatakan tidak boleh dia kembali ke Eric, padahal dia masih menyimpan cinta kepada Eric?

“Patah hati bukanlah kiamat…,” begitu kata Mas Bathara teman satu kos saya. Dia mahasiswa Fakultas Filsafat, UGM. Banyak filsafat-filsafatnya yang membuat wawasan berpikir saya cukup luas. Banyak pandangan-pandangan hidup yang patut saya hargai.

“Bagaimana, Harry?” kata Mirna setengah mendesak.

“Hmmm, tolong saya beri waktu berpikir sekitar lima menit……” begitu jawab saya dan sambil terus menimbang-nimbang. Sementara itu Mirna duduk tenang di kursi yang ada di kamar kos saya sambil membuka-buka majalah yang tadi baru saya beli.

Akhirnya, dengan berat sayapun mengambil keputusan.

“Mirna….Kalau Mirna ingin kembali ke Eric, kembalilah. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan Mirna dengan dia. Semoga berbahagia. Kita bersahabat saja…’” itulah kalimat yang saya ucapkan. Mirnapun berdiri, sayapun berdiri. Mirna  langsung memeluk saya sambil menangis di dekapan saya.

“Terima kasih, Harry….,” dia memandang saya. Cukup lama kami saling berpandangan. Akhirnya kami saling berciuman. Cukup lama. Itulah ciuman terakhir saya untuk Mirna. Tak lama kemudian, sambil menyeka air matanya menggunakan sapu tangan, Mirnapun pamit untuk pulang.

Saya mengantarkannya sampai ke jalan raya. Tak lama kemudian Mirna naik becak dan melambai-lambaikan tangannya. Saya pandangi becak itu dengan pandangan sedih. Hancur rasanya hati ini. Tapi, apa boleh buat. Tak lama kemudian becak hilang dari pandangan saya. Sayapun kembali ke tempat kos.

Sampai di kamar, langsung saya rebahkan tubuh di tempat tidur. Sejuta perasaan menyatu di dalam pikiran dan perasaan saya. Galau, kecewa, putus asa, menyesal dan perasaan lainnya.

Namun, saya kembali ingat filsafat-filsafat yang pernah diberikan oleh Mas Batahara. Antara lain, saya boleh saja cinta kepada seseorang cewek, tapi jangan sampai 100%. Sebab, jika putus, maka kehancuran hati saya juga akan mencapai angka 100%. Lagipula, cewek di Yogya ini banyak, sangat banyak dan yang cantik juga banyak. Anggap saja Mirna bukan jodoh saya. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Boleh saja saya dan Mirna saling cinta, tetapi cinta belum tentu saling memiliki.

Boleh saja saya tak punya pacar lagi, tapi saya yakin suatu saat nanti saya akan punya pacar lagi. Yang penting, jangan sampai sekolah saya berantakan. Apalagi, kedua orang tua saya yang ada di Semarang selalu berpesan agar saya setelah lulus SMA supaya meneruskan ke fakultas kedokteran. Maklum ,kedua orang tua saya menginginkan saya jadi seorang dokter.

Yah, saya sadar. Saya ingin membahagiakan kedua orang tua saya. Demi kedua orang tua saya, saya akan memprioritaskan belajar, belajar dan belajar. Saya harus bisa melupakan Mirna. Betapapun sakitnya rasa hati ini, saya harus bisa melupakannya. “Patah hati, bukanlah kiamat”. Begitulah kalimat yang sering diucapkan Mas Bathara.

Hariyanto Imadha

Penulis Cerpen

Sejak 1973