CERPEN: Misteri Kali Alfamart di BSD Nusaloka

SUDAH empat mobil terjerumus di depan mini market Alfamart belakang kantor pos, yang ada di BSD Nusaloka, BSD City,Tangerang Selatan. Padahal situasi di situ wajar-wajar saja. Antara jalan aspal dan kali juga ada beton pembatas. Semua pengemudinya juga sudah berpengalaman mengemudi minimal lima tahun. Kenapa bisa terjadi kecelakaan seperti itu dan mengakibatkan pengemudi dan penumpangnya luka parah?

Suatu saat ketika saya naik ojek dan melewati Alfamart tersebut, maka sayapun mulai mengorek informasi.

“Katanya sudah empat kali masuk kali ya, Bang?” tanya saya

“Oh, ya. Semua pengemudinya luka parah,” jawabnya sambil terus mengemudikan motornya. Saya membonceng di belakangnya.

“Memangnya, dulunya di situ merupakan daerah apa?”

“Kalau Tangerang Selatan, dulu merupakan hutan karet. Dan sekitar Alfamart dulu merupakan persawahan”

“Tidak ada perumahan penduduk?”

“Ada,sih. Jumlahnya sekitar ratusan rumah”

“Tidak ada tempat pemakaman umum?”

“Ada sih. Tapi ketika pembangunan BSD City dimulai, semua makam dipindahkan. Cuma, saat itu ada yang aneh”

Mendengar kata “aneh”, saya mulai penasaran.

“Anehnya di mana, Bang?” saya terus bertanya.

“Ya, ada salah satu makam tiba-tiba hilang tanpa bekas, Pak” katanya kepada saya.

“Tahu namanya, makam siapa?”

“Kalau nggak salah, namanya Ranggi”

“Siapa itu?” saya semakin penasaran.

“Dulu, cerita orang-orang, Ranggi itu saudara kembar Rangga. Keduanya laki-laki”

“Siapa mereka?”

“Mereka anak dari petani bernama Danu Rengga”

“Siapa Danu Rengga?”

“Dia seorang petani, juga punya hobi memelihara kuda.”

“Bagaimana kehidupan Danu Rengga, Rangga dan Ranggi?”

“Sebelum ibunya meninggal, mereka akur-akur saja. Tapi setelah ibunya meninggal, mereka kelihatannya kehilangan kasih sayang dan suka bertengkar”

“Bertengkar soal apa saja?”

“Kata ayah saya, mereka bertengkar saat orangtuanya beli satu kuda lagi. Jadi total ada dua kuda. Satu khusus untuk ayahnya. Satu lagi untuk Rangga dan Ranggi. Masalahnya, mereka berdua sering rebutan untuk menunggang kuda itu”

“Terus?”

“Ya, suatu saat mereka berkelahi hebat. Hari pertama mereka masih berkelahi tangan kosong. Hari kedua, mereka berkelahi menggunakan golok.”

“Oh, ada yang tewas?”

“Itulah. Ranggi kalah dan lehernya kena tebas golok”

“Terus? Bagimana?”

“Menurut ayah saya yang kebtulan menyaksikan kejadian itu, sebelum Ranggi menghembuskan nafasnya yang terakhir, sempat bersumpah”

“Bagaimana sumpahnya?”

“Ranggi bersumpah. Jika Rangga atau siapapun yang melewati tempat dia meninggal, akan dibikin celaka. Sesudah itu Ranggi menghembuskan nafasnya yang terakhir”

“Di mana lokasi Ranggi meninggal?”

“Ya, di kali tepat di depan mini market Alfamart itu”

“Oh, mungkinkah kecelakaan-kecelakaan itu ada hubungannya dengan sumpah Ranggi?”

“Wah, saya bukan paranormal,Pak. Saya kurang tahu. Yang pasti, jalan di depan Alfamart itu memang sangat rawan dan sudah empat kali ini ada mobil tercebur ke kali”

“Oh,ya. Dulu, ketika makam Ranggi tiba-tiba menghilang tanpa bekas, apakah tidak ada usaha-usaha supranatural untuk menemukannya kembali?”

“Usaha sih ada. Tapi hasilnya tidak ada. Nol semuanya. Sampai hari ini, di mana makam Ranggi, tidak ada yang tahu. Namun, sebenarnya juga ada cerita lain zaman dulu”

“Apa itu?”

“Dulu, di kali itu, ada sumur. Namanya Sumur Gobak. Entah kenapa dinamakan Gobak dan apa artinya Gobak, saya tidak tahu”

“Ada apa dengan sumur Gobak?”

“Dulu, sumur itu digunakan untuk bunuh diri seorang pemuda yyang patah hati. namanya Randu Dan sejak itu, air sumur itu tidak boleh diminum”

“Ada keanehannya?”

“Ada. Tiap malam Jum’at, ada suara-suara yang mengancam. Kalau ada perawan lewat di dekat Sumur Gobak itu, apalagi naik delman, akan dibuat celaka.”

“Oh, begitu? Kalau begitu, kira-kira kecelakaan mobil itu akibat ulah Ranggi atau Randu?”

“Hahaha…Saya kan bukan paranormal, Pak. Mungkin Ranggi dan Randu bersatu dan bersama-sama membalas dendam”

“Apakah jenasah Randu sudah dimakamkan secara baik-baik saat itu?”

“Nah itu dia,Pak. Sekitar 40 hari dimakamkan, tiba-tiba, makamnya hilang tanpa bekas”

“Oh, sama dengan kasus hilangnya makam Ranggi?”

“Begitulah, Pak”

Sayang, tanya jawab terpaksa berhenti karena saya telah sampai di rumah saya di Jl. Bintan 2 Blok S1/11, BSD Nusaloka Sektora XIV-5, BSD City, Tangerang Selatan.

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerita fiiktif.

Sumber foto: antarafoto.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Iklan

CERPEN: Rita Perawan Bandung Selatan

Gambar

YOGYAKARTA,1980:Pada tahun ini saya masih kuliah di Fakultas Filsafat UGM.Seperti biasa,tiap akhir bulan saya pulang ke Jakarta.Sayang,malam itu kereta jurusan Yogya-Jakarta tiketnya sudah habis.Terpaksa saya mengambil keputusan mengambil jalan berputar yaitu Yogya-Bandung-Jakarta.Sesudah saya mendapatkan tiket jurusan Bandung,segera saya naik ke gerbong.Kereta Mutiara Selatan malam itu meluncur mulus meninggalkan Kota Gudeg.

“Mau ke Bandung ?”,saya bertanya ke gadis yang duduk di sebelahku.Dia menoleh.Wah,cantik juga gadis ini,pikirku.Gadis itu cuma mengangguk sambil tersenyum kecil.Rambutnya hitam dipotong pendek.Saat itu dia mengenakan baju berwarna biru dan celana jean.

“Di Bandung kuliah atau kerja ?”,saya tanya lagi.Mumpung ada kesempatan bagus.

“Di Sastra Inggeris,IKIP Bandung.Nggak tahu deh,Mas…Rita dulu inginnya masuk Fakultas Psikologi,tapi Papa sih…tidak mengijinkan.Apa boleh buat.Sebenarnya kalau soal bahasa sih,lebih suka bahasa Perancis daripada bahasa Inggeris”,katanya sambil tersenyum manis.

“Savez-vous parler francais?”,tanyaku dalam bahasa Perancis.Asal ngomong.Siapa tahu Rita mengerti.Sempat kulihat bulu matanya yang lentik indah.

“Je ne la sais pas encore.Mon pere connait le francais perfaitement”,jawabnya merendahkan diri.Apakah bahasa Perancisnya sempurna atau tidak,saya juga tidak tahu.Tapi maksudnya saya mengerti.

“Kalau bahasa Inggeris,saya dulu juga pernah belajar bahasa  Inggeris di Akademi Bahasa Inggeris “Jakarta”.Kalau bahasa Perancis,sih cuma belajar asal-asalan.

Malam semakin larut.Segelas kopi hangat saya minum sedikit demi sedikit sekedar mengurangi udara AC kereta yang cukup dingin.Penumpang lain sudah mulai tidur,sedangkan saya dan Rita masih terlibat pembicaraan.Tampaknya ada kecocokan.

“Ngomong-ngomong,Rita belum tahu nama Mas…”,Rita menyalami saya.

“Saya Harry”,singkat jawaban yang saya berikan.

“Kuliah di mana ,Mas?,”Rita ingin tahu.Kereta terus melaju.Kereta itu memang menyenagkan.Semua penumpang menghadap ke depan dan tidak ada yang duduk berhadap-hadapan.Satu set kursi hanya untuk dua orang.

“Di Yogya saya ambil Fakultas Filsafat UGM,sedangkan di Jakarta ambil Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti”,saya mereguk lagi kopi hangat.

“Wah,kuliahnya bagaimana itu,Mas?”

“Wah,saya ini tergolong gila ilmu.Minggu pertama saya kuliah di ABA,Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum.Artinya,pagi di Fakultas Sastra UI,siang di ABA (Akademi Bahasa Asing “Jakarta”,malam di Fakultas Hukum UI (ekstension).Minggu kedua saya kuliah di Fakultas Ekonomi,Jurusan Manajemen,Universitas Trisakti.Sedangkan minggu ketiga dan keempat saya kuliah di Fakultas Filsafat UGM.Sedangkan tiap Sabtu dan Minggu saya belajar matakuliah Fakultas MIPA di Universitas Terbuka”,jawaban yang saya berikan panjang lebar.

“Idih…buang-buang uang saja,Mas.Buat apa menuntut ilmu sebanyak itu.Toh nanti di lapangan kerja tidak semuanya terpakai”,ucap Rita setengah menasehati.

“Ha..ha..ha…! Saya kuliah banyak bukan karena gila gelar atau gila ilmu,tapi semata-mata memanfaatkan kesempatan selagi punya uang banyak.Saya itu kuliah banyak sekalian mengadakan penelitian untuk mencari jawab kenapa kualitas pendidikan di Indonesia ini rendah.Bahkan menurut hasil suervei,kualitas pendidikan perguruan tinggi di negara kita ini menduduki peringkat ke-45 di antara negara-negara Asia.Nah,memprihatinkan bukan?”,saya menjelaskan.

Tanpa terasa,malam semakin larut.Namun kami masih asyik ngobrol ngalor ngidul.Entah kenapa,tanpa malu-malu Rita merebahkan kepalanya di pahaku.

“Sambil tidur-tiduran ya,Mas? Nggak apa-apa,kan”,ucap Rita sambil memandang.Mata Rita memang benar-benar indah.Tampak Rita santai sambil menghilangkan cutex di kukunya dengan menggunakan remover merek Barclay.Rita,nama lengkapnya Rita Primadhanie memang sangat menarik sekali.Tanpa saya sadari,rambut Rita yang terurai itu kubelai.Tampaknya Rita diam saja.

“Ngomong-ngomong,di Bandung Rita tinggal di mana?”,saya ingin tahu.

“Di Jl.Karasak Baru,Mohammad Toha,Bandung Selatan…”,Rita mengambil selembar kartu nama.Kamipun bertukar kartu nama.

“Tapi kalau bertemu sebaiknya di kampus saja,Mas”,pintanya.

“Lho,memangnya kenapa?”,mendadak saya ingin tahu.

Rita pun bercerita panjang lebar.Ternyata gadis ini merasa tertekan karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya.Dia sengaja ke Yogya sekadar menghilangkan kekesalannya di samping berkunjung ke sahabat wanitanya.

“Alamat kampus saya di English Student Association,Faculty of Letters and Fine Arts,IKIP,Jl.Dr.Setiabudi No.229,Telepon 81743,Bandung.Tapi kalau mau bertemu saya,sebaiknya telepon ke rumah dulu.Nomor telepon rumah saya……..”,Rita pun menunjukkan nomor teleponnya yang tertulis di kartu nama.

Kereta terus meluncur,meluncur,meluncur….tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 24:00.Semua penumpang telah tertidur pulas.Namun Rita justru bangkit dari posisinya dan duduk biasa di sampingku.Mungkin karena dinginnya AC Rita merapatkan tubuhnya ke tubuhku.Tanpa saya sadari tangan saya memeluk Rita namun didiamkan saja.

Sebagai laki-laki normal dan muda usia saya tidak akan menyianyiakan malam yang indah itu.Semula saya hanya membelai-belai rambut Rita.Namun pada tahap berikutnya jari jemarinya saya pegang dan saya remas-remas.Tampaknya Rita juga membalas.

Kami sama-sama muda usia tentu saling membutuhkan.Memang,detik demi detik kami semakin akrab.Rita yang baru saya kenal beberapa jam seakan-akan sudah saya kenal puluhan tahun.Rasa canggungpun sedikit demi sedikit sirna.Pelan tapi pasti…kucium pipi Rita.Ah…gadis itu cuma tersenyum kecil.Kami berdua saling berpandangan penuh arti.Ah…bibirnya yang mungil indah itu membuat saya gemas.Lantas…secara pelan-pelan saya mencium bibirnya.Rita diam saja.Kucium lagi.Rita diam juga.Akhirnya bibirnya kulumat habis-habisan dan ternyata Rita juga membalasnya dengan penuh semangat.Kami saling memeluk dan saling cium.Lumayan,bisa mengurangi rasa dinginnya AC kereta.

Kami saling pandang.Indah sekali malam itu.Tanpa terasa,kami berdua mulai menanamkan benih-benih cinta.Akhirnya,kami berdua tertidur pulas dalam posisi saling berpelukan.

Pagi harinya pun kami tiba di Bandung.Dengan berat hati kami harus berpisah di stasiun Bandung.Saya tak sempat mengantarkan sebab harus segera pindah ke kereta jurusan Jakarta.

Sejak itulah kami saling berkunjung.Saya berkunjung ke Bandung,Rita berkunjung ke Yogya.Kalau saya sedang kuliah di Jakarta,dia ke Jakarta.Bandung memang kota kenangan.Saya menyebutnya dengan istilah “c’est bien bon! Yang artinya cantik sekali.Tanpa terasa hubungan kami sedah berjalan selama dua tahun.

Suatu ketika ketika saya baru sampai di tempat kost di Jl.Lobaningratan,Yogya,salah seorang teman satu kost mengatakan ada surat untuk saya di kamar.Segera saya masuk ke kamar.Ternyata sebuah undangan dan di dalamnya ada secarik kertas.

Sungguh saya kecewa,ternyata undangan pernikahan Rita dengan pria yang dijodohkan.Katanya dalam surat “Saya minta maaf,Mas.Saya tidak berdaya menolak keinginan kedua orang tua.Mungkin kita belum jodoh.Semoga Mas Harry mendapatkan gadis yang melebihi Rita.Betapapun juga,Mas Harry adalah cinta pertama Rita…”

Saya hanya bisa terpaku diam.Tidak tahu apa yang harus saya perbuat.Diam-diam kupandangi foto Rita di atas meja.Pelan tapi pasti,foto itu saya lepas dari piguranya.Foto Rita,undangan dan surat terakhir Rita saya masukkan ke koper…”

Sekarang tahun 2003.Berarti peristiwa itu sudah berlangsung 23 tahun yang lalu,namun foto Rita,undangan pernikahan dan surat terakhir Rita masih saya simpan dengan rapi.Rita Primadhanie….perawan Bandung Selatan yang sempat datang dan pergi dari hati.Hidup ini memang seperti mimpi…

 

—ooOoo—

 

 

 

 

 

 

 

 

CERPEN: Claudia Kau Terlalu Cantik Untukku

FACEBOOK-CerpenClaudiaKauTerlaluCantikUntukku

SAYA masih ingat. Saat itu saya berumur 30 tahun. Saya mengelola Lembaga Pendidikan Komputer dan Internet INDODATA, di Komplek Perumahan Pondok Hijau Permai, dekat pintu tol, Bekasi Timur. Berhubung tempat kursus ,masa kontraknya habis dan tidak bisa diperpanjang, terpaksa kontrak rumah di empat lokasi. Yaitu di Komplek Perumahan Margahayu, Komplek Perumahan Jatimulya dan Komplek Perumahan Taman Narogong Indah dan di Jl. Akasia, Komplek Perumahan Pondok Hijau Permai. Di Jl.Akasia inilah saya sebagai pengelola dan sekaligus sebagai tempat tinggal saya.

Ada salah satu siswi yang rajin. Selalu, setengah jam sebelum kursus dimulai, siswi itu sudah datang. Sambil menunggu waktu kursus, dia suka ngobrol dengan karyawati saya, kadang dengan Lisa dan kadang dengan Yenny, kadang dengan Dhanny atau siapa saja. Dia datang selalu diantar mobil Mercy dan diantarkan sopir pribadinya. Dia dari keluarga kaya Jakarta tetapi pindah ke Bekasi karena ayahnya pindah tugas ke Bekasi.

Saya yang saat itu baru putus pacar, tentu tertarik melihat Claudia karena dia merupakan siswi tercantik dan enak diajak bicara. Masalahnya, dia terlalu cantik dan terlalu kaya buat saya. Mungkin juga untuk cowok-cowok lain. Terus terang, saya tak mempunyai keberanian untuk mendekati Claudia. Minder.

Namun, suatu hari Minggu, di mana merupakan hari libur dan tidak ada kursus, tiba-tiba Claudia datang bersama mamanya. Naik Mercy dengan sopir pribadinya.

“Oh, selamat pagi, Tante. Silahkan  masuk. Ada apa, nih? Tumben….” saya mempersilahkan masuk. Claudia dan Tante Marinapun duduk di ruang tamu. Ternyata, mamanya Claudia mengajak rekreasi ke Ancol. Maklum, Claudia anak tunggal.

“Kok, mengajak saya, Tante? Kan, teman kuliah Claudia banyak?” saya heran.

“Betul. Kata Claudia sih, semalam dia mimpi ke Ancol sama Mas Harry. Dia bilang, mimpinya ingin jadi kenyataan…” Tante Marina menjelaskan. Saya tersenyum. Saya merasa, kok aneh-aneh saja Claudia ini. Namun, karena kebetulan hari itu saya tidak ada acara, sayapun menyanggupinya. Sesudah mengunci semua pintu rumah, saya bersama Tante Marina dan Claudiapun segera masuk ke mobil. Mobilpun langsung melaju.

Bukannya langsung masuk jalan tol, tetapi ke dalam Kota Bekasi dulu. Ternyata, menurunkan Tante Marina. Tidak ikut. Akhirnya, saya dan Claudia duduk berdua di bangku belakang. Tentu, bermacam-macam rasa yang ada pada diri saya. Antara senang, minder, tak percaya, gede rasa dan lain-lainnya.

“Apakah ini berarti Claudia ada hati sama saya?” saya tiba-tiba merasa GR. Gede rasa. Ya, mudah-mudahanlah.

Begitulah. Hari itu seharian saya rekreasi di Ancol mengunjungi berbagai lokasi wisata, berfoto dan makan siang bersama di salah satu resto. Hampir sore kami berduapun pulang. Semalaman saya tidak bisa tidur. Selalu bertanya, apa iya cewek secantik Claudia suka sama saya? Apa yang diharapkan dari saya? Rumah kontrak. Mobil tak punya. Akhirnya saya mengambil keputusan, saya akan menganggap Claudia sebagai sahabat biasa saja. Tidak lebih dari itu. Saya merasa minder. Saya tetap yakin, tidak pantas punya pacar secantik Claudia. Bahkan saya yakin, mungkin Claudia bersikap baik ke saya hanya karena ingin nilai-nilai ujian kursus komputernya mendapat nilai baik atau nilai tinggi.Maklumlah, semua instruktur  komputer saya tahu, Claudia tak begitu pandai di bidang ilmu komputer.

Karena saya menganggap Claudia sebagai sahabat biasa, konsekuensinya saya tiap malam Minggu tidak pernah ke rumah Claudia. Tidak pernah ngapeli. Memang, walaupun saya sedikit berharap, namun rasa minder lebih menguasai pribadi saya. Celakanya, justru tiap malam Minggu, Claudialah yang datang ke rumah kontrakan saya. Ya, terpaksa saya tidak bisa menolak.

Claudia tidak cuma sangat cantik, tetapi juga sangat enak diajak bicara. Senyumnya, tertawanya, enak dilihat dan didengar. Sehingga seringkali tanpa terasa, berjam-jam kami mengobrol dan bercanda. Lama-lama saya yakin kalau Claudia suka sama saya. Cuma, saya tetap bersikap minder. Hmm, Claudia terlalu cantik dan terlalu kaya buat saya.

Akhirnya, sebagai laki-laki normal, sayapun tak bisa lagi menutupi perasaan saya yang sebenarnya. Kalau semula tiap malam Minggu, Claudia yang datang ke rumah saya, akhirnya sayalah yang datang ke rumah  Claudia. Cukup naik motor bebek yang saya miliki.

Tanpa terasa, hubungan saya dengan Claudia telah berjalan tiga tahun. Lembaga pendidikan komputer yang saya kelola sudah saya bubarkan karena saya mendapat pekerjaan sebagai konsultan manajemen dengan gaji yang cukup besar. Kantornya di Jakarta.

Tanpa terasa pula, Claudia telah menjadi isteri saya. Kami berdua kontrak rumah kecil di kawasan Tebet, beberapa ratus meter dari kantor tempat saya bekerja. Tentu, pernikahan atau perkawinan yang sangat menggembirakan. Betapa tidak. Punya isteri cantik dan punya pekerjaan dengan gaji yang sangat besar.

Namun beberapa bulan kemudian, saya baru menyadari siapa Claudia yang sebenarnya. Dia memang gadis baik-baik. Bahkan baru saja lulus dari sebuah akademi komputer. Memang tidak begitu pandai, tetapi enak diajak bicara dan penuh pengertian. Mudah bergaul dan cara berpikirnya luas. Itu sudah lama saya tahu. Yang saya baru tahu yaitu, Claudia adalah penderita penyakit jantung.

Saat itulah saya baru tersadar. Tapi sudah terlanjur. Apapun resikonya, harus saya tanggung. Termasuk menanggung biaya pengobatan sakit jantung yang cukup mahal. Bahkan, Claudia sebelum menikah dengan saya, bahkan sebelum mengenal saya, sudah dua kali menjalani operasi jantung. Satu kali di Indonesia dan satu kali di Singapura. Biayanya tentu luar biasa mahal.

Rencana saya untuk kredit mobil dan kredit rumahpun terganggu. Apalagi saya pernah membayar operasi jantung Claudia. Satu kali tapi sudah puluhan juta rupiah. Impian saya untuk memiliki mobil pribadi dan rumah pribadipun sangat terkendala. Semua gaji harus digunakan sehemat mungkin supaya saya bisa menabung. Untuk dana darurat. Untuk dana cadangan.

Tanpa terasa, sudah lima tahun saya berumah tangga. Punya anak perempuan cantik dan lucu. Bella namanya. Anak kecil yang cerdas. Selalu suka minta oleh-oleh ice cream jika saya akan berangkat ke kantor. Dan satu hal lagi yang saya ketahui dari Claudia yaitu, ternyata selera Claudia terlalu tinggi. Selalu tergoda membeli pakaian yang mahal, perhiasan yang mahal dan alat-alat kecantikan yang mahal. Gemar sekali ke salon ataupun ke tempat-tempat kebugaran, aerobik dan suka belanja. Dengan kata lain, Claudia tidak mampu mengelola uang dengan baik.

Dan musibahpun mulai menerpa saya. Perusahaan tempat saya bekerja, belum mendapatkan proyek baru. Terpaksa saya harus diistirahatkan sementara. Entah berapa lama. Maklum, saya bekerja sebagai staf ahli atau konsultan tetapi sistem kontrak.

Ternyata, satu tahun saya menganggur. Tabungan hampir habis. Terpaksa cari pekerjaan lagi. Tidak mudah. Dengan modal sedikit terpaksa saya membuka resto mini khusus ayam goreng. Semacam mini Kentucky, begitulah. Untunglah, lokasinya dekat sekolah SMA. Sehingga saat bubaran sekolah cukup banyak juga pelajar yang datang untuk membeli. Tentu, juru masaknya bukan Claudia, tetapi menggaji orang lain. Maklum, Claudia tidak bisa memasak dan tidak mau belajar memasak.

Meskipun demikian, hasil dari resto mini belum mencukupi kehidupan sehari-hari. Apalagi gaya hidup Claudia sangat boros. Saat itulah, pertengkaran dimulai. Semula hanya pertengkaran kecil, tetapi lama-lama membesar juga.

Akhirnya, saya merasa tak mampu lagi punya isteri Claudia. Bukan saya yang punya inisiatif menceraikan Claudia. Tetapi, atas permintaan Claudia, akhirnya sayapun menceraikannya. Saya iklaskan anak saya, Bella, ikut mamanya. Claudia kembali pulang ke rumah orang tuanya yang kaya raya. Saya tinggal di rumah kontrakan sendiri.

“Sejak dulu saya sudah punya feeling, Claudia terlalu cantik buat saya. Tapi saya tak pernah punya feeling kalau Claudia punya penyakit jantung. Juga tak punya feeling kalau Claudia pemboros, tidak bisa memasak, terlalu sering ke salon kecantikan. Ternyata, saya salah memilih…” saya hanya bisa menggerutu sendirian.

—ooOoo—