CERPEN: Asal Mula Nama Imadha

FACEBOOK-CerpenAsalMulaNamaImadha

SURABAYA 1971. Saat itu saya merupakan siswa baru di SMAN 6. Pindahan dari SMAN 4. Saat itu saya duduk di kelas 3IPS1. Salah satu hobi saya yaitu membuat vignete, artikel, puisi, cerpen dan tulisan-tulisan lain dan dimuat di buletin sekolah. Nama buletinnya Elka atau LK, singkatan dari Lingkaran Kreasi. Saya menggunakan nama samaran Imadha. Ternyata, banyak siswa yang mengira cerpen-cerpen yang saya tulis merupakan pengalaman pribadi. Padahal, cerpen yang saya buat merupakan hasil daripada imajinasi.Memang, ada satu dua yang merupakan pengalaman pribad Beberapa siswa mulai kelas 1, 2 dan 3 penasaran dengan cerpen-cerpen yang saya buat dan mencari siapa sih sebenarnya yang bernama Imadha?

Suatu saat jam istirahat.  Ada siswi dari kelas lain masuk ke kelas saya dan kebetulan Tanya ke saya yang sedang mau keluar istirahat.

“Mau Tanya, nih…,” tanyanya ke saya.

“Tanya apa?”

“Yang namanya Imadha, siapa,  sih?” dia penasaran.

“Saya…,” jujur saya menjawabnya.

“Kamu? Kok cowok? Bukannya Imadha itu nama cewek?”

“Memang nama cewek. Kenapa?”

“Kok, pakai nama cewek. Kenapa, sih?”

“Ceritanya panjang,” jawab saya.

“Panjang kayak apa? Boleh, dong saya dengar ceritanya?”

“ Boleh. Bagaimana kalau sambil minum es campur?”

“Boleh, kalau ditraktir”

Akhirnya, sayapun mengajak siswi itu. Sebagai cowok normal tentu saya mengakui, siswi itu cantik campur manis. Namanya Lia, Kelas 3IPA1. Belakangan saya tahu, dia adalah pacarnya Ridwan, siswa kelas 3IPA2.

Saya dan Liapun akhir minum es campur Pak Urip di Selatan kantor pos, seberang SMAN 6. Es campurnya enak sekali dan cukup dikenal di kalangan masyarakat Surabaya, terutama di kalangan pelajar. Es campur, kacang ijo, roti, pacar China dan campuran lain yang enak rasanya.

Sambil minum, sayapun mulai bercerita ke Lia.

 BOJONEGORO 1968. Saya duduk di bangku SMPN 2 kelas 3. Sebagai cowok normal, tentu tertarik cewek, terutama cewek cantik.  Dia sekolah di SMP lain. Tiap dia berangkat sekolah dan saya juga berangkat sekolah, selalu bertemu di perjalanan. Bedanya, dia naik sepeda saya jalan kaki. Jalan kaki, sebab saat itu saya tinggal di Jl. Trunojoyo No.4, sedangkan sekolahan saya, SMPN 2 jaraknya hanya 100 meter. Dekat sekali.

Karena hampir tiap hari bertemu, maka sayapun mencari cara untuk berkenalan. Kebetulan, ada teman sekelas yang mengenalnya. Katanya, cewek itu tetangganya. Oh ya, teman saya namanya Rahayu, teman satu kelas. Hari Minggu sayapun datang ke rumah Rahayu dan kemudian diperkenalkan dengan tetangganya, siswi yang saya taksir.

“Kenalkan, nama saya Harry,” saya memperkenalkan diri, sambil bersalaman.

“Saya Ika. Ika Permatasari,” sambutnya. Kemudian saya dipersilahkan duduk. Rahayupun minta ijin untuk pulang arena akan membantu ibunya di rumah. Meninggalkan saya dan Ika, berdua saja. Mungkin Rahayu tahu diri.

Dan sayapun ngobrol-ngobrol dengan Ika tentang apa saja. Ternyata, enak sekali bicara dengan Ika. Ngomong apa saja selalu nyambung. Bahkan terkadang diselingi canda dan tertawa. Seolah-olah kami sudah berkenalan bertahun-tahun lamanya. Padahal, baru kenal beberapa menit.

Begitulah, akhirnya Ikapun resmi menjadi pacar saya. Tiap malam Minggu saya pasti ke rumahnya. Tanpa terasa hubungan saya telah berjalan selama empat bulan.

Suatu hari Minggu, tiba-tiba teman saya datang ke rumah. Biasa, minta mangga. Maklum, di rumah saya ada tiga pohon mangga Gadung yang buahnya cukup banyak. Maklum, saat itu sedang musim berbuah.

Yang membuat saya deg-degan yaitu, teman saya yang bernama Mulyoso itu datang bersama teman cewek cantik. Semula saya mjngira cewek itu pacar Mulyoso. Namanya Maya. Lengkapnya Maya Rapshodita. Sayapun diperkenalkan.

Belakangan saya baru tahu kalau Maya adalah teman biasa Mulyoso. Bahkan ada hubungan famili. Karena Mulyoso teman se SMP, sayapun bisik-bisik ke Mulyoso, kalau saya naksir Maya.

“Lho, kan Harry sudah pacaran sama Ika?” Tanya dia.

“Ah, biasa…Namanya juga cowok. Cewek kamu juga banyak, kan?” ganti saya meledek Mulyoso.

“Ha ha ha…Iya, juga, sih”.

Akhirnya, Mulyosopun mengajak saya ke rumah Maya. Cuma, kata Mulyoso, ayah Maya galak. Tidak mungkin ngapeli Maya tiap Minggu. Paling-paling bisa bertemu hanya hari Minggu. Itupun di rumah Mulyosoa, nggak apa-apalah. Begitulah, seperti di sinetron, Mayapun jadi pacar saya kedua. Maya sekolah di SMEA.

Empat bulan kemudian, ketika main ke rumah teman, saya dapat kenalan lagi. Cewek cantik. Namanya Ridha Asokawati. Satu SMP dengan Ika, di SMPN 1. tetapi Ridha masih duduk di kelas dua . Menurut pengakuan Ridha, orang tuanya galak, jadi lebih baik Ridha yang datang ke rumah saya, yaitu tiap Sabtu setiap pulang sekolah. Namun pernah juga bersama-sama ke kolam renang Dander. Orang tuanya tahunya Ridha pergi dengan teman Ridha yang bernama Utty, cewek juga. Padahal di jalan lain, saya sudah menunggu. Jadinya, kami bertiga bersama-sama ke Dander. Bersepeda. Jarak Bojonegoro ke Dander sekitar 14 kilo meter. Saat itu jalannya masih hancur. Begtulah, sejak itu Ridha jadi pacar saya.

BOJONEGORO 1969. Saya duduk di kelas 1 SMAN 1, dulu namanya SMA Negara. Saya mendirikan radio amatir ARMADA-151 di rumah saya yang baru di Jl. Ade Irma No 151 (yang kemudian dapat nomor baru No.5), dalam arti baru ditempati karena rumah yang di Jl.Trunojoyo dijual.  Penyiarnya di samping saya, juga ada yang dari STM, namanya Gatot, Yang dari SMA Katholik namanya Dyah dan Surip Ada yang dari SMAN 1, namanya Santoso (yang kemudian kerja di PT Telkom,di Mojokerto) dan Agus (yang kemudian kerja di PT Telkom, Bojonegoro). Semua penyiar memakai nama samaran dengan nama akhir Mintaraga. Jadi ada Imadha Mintaraga (nama samaran saya). Ada Vita Mintaraga, nama samaran Dyah. Ada nama Arika Mintaraga, nama samaran Gatot dari STM. Ada, Santa Mintaraga nama samaran Santoso. Ada nama Vera Mintaraga, nama samaran Agus. Ada penyiar lain, Bambang Hariyanto, nama samarannya Yenny Mintaraga. Dan Surip memakai nama samaran Erry Mintaraga yang sekarang berubah menjadi Erry Amanda.Memang, semuanya cowok, tapi pakai nama samara cewek semua.

Nah, saya memakai nama samaran Imadha Mintaraga. Imadha berasal dari nama Ika, Maya dan Ridha. Akronimnya “Imadha”.

SURABAYA 1970. Saya pindah ke Surabaya dan melanjutkan sekolah di SMAN 4. Saya punya hobi mengirim puisi atau cerpen ke beberapa surat kabar dengan nama samaran Imadha. Begitu juga sewaktu pindah ke SMAN 6, saya juga memakai nama samaran Imadha. Nah, di SMAN 6, nama Imadha lebih dikenal daripada nama Harry atau Hariyanto. Akhirnya saya menggabungkan nama Hariyanto dan Imadha menjadi Hariyanto Imadha. Jadi, penggabungan nama menjadi Hariyanto Imadha muncul saat saya aktif menulis artikel, cerpen, puisi, vignete dan lain-lain di bulletin sekolah di SMAN 6. Sejlus SMAN 6, saya selalu menggunakan nama Hariyanto Imadha.

“Begitulah, ceritanya…” saya mengakhiri cerita. Kebetulan es campur yang saya minum dan yang diminum Lia sudah habis. Saya dan Liapun kembali ke gedung SMAN 6 . Tinggal menyeberang jalan.

Sejak saat itu, Lia putus dengan Ridwan dan resmi jadi pacar saya.

Catatan:
Cerpen ini berdasarkan pengalaman pribadi, tetapi sudah saya modifikasi, tanpa mengurangi inti cerita yang sebenarnya. Antara lain nama-nama pelaku sebenarnya, penulis samarkan. Artinya, nama  Ika, Maya dan Ridha merupakan nama samaran.  Sejak  saya pindah ke Surabaya, tak ada lagi hubungan dengan Ika, Maya maupun Ridha. Bagi saya, cinta SMP adalah cinta semusim. Bukan cinta dalam arti yang sesungguhnya. Lebih tepat disebut teman tapi mesra. Tidak ada istilah putus atau nyambung. Tidak ada istilah patah hati . Selesai ya selesai.

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN : Namaku Bukan Imadha

FACEBOOK-CerpenNamakuBukanImadha

JAKARTA,Senin 11 Februari 1985.Baru saja peristiwa itu terjadi.Di kantorku,Pusat Pelayanan Manajemen PLN Pusat Jakarta.Hari itu mendadak saya emosi,saya membanting gelas.Geger!Lantas saya ditangkap satpam karena tangan saya sebelah kiri kebetulan sedang memagang pisau.Lantas kemudian saya dituduh mengancam akan membunuh salah seorang kepala dinas di situ.

Heran,padahal pisau kecil itu saya gunakan untuk memotong kertas akibat beberapa hari yang lalu beberapa “cutter” milik saya hilang entah ke mana.Saya membanting gelas karena kesal beberapa bulan kerja tapi tak ada “job descriptions” yang jelas.Lantas peristiwa kecil itu didramatisir.Saya akan di-PHK.Hari itu saya memang sedang apes.Terkena fitnah!

Agak sore saya pulang kantor,karena saya dibawa ke kantor satpam dan memberikan penjelasan panjang lebar tentang urut-urutan peristiwa kecil itu.Dari situlah saya tahu,ada seseorang menelpon satpam yang mengatakan dirinya akan saya bunuh.Fitnah memang selamanya lebih kejam daripada pembunuhan.

Hari sudah sore.Saya bersiap-siap untuk pulang.Ketika saya akan memasukkan “clock card” (kartu waktu) ke “time recorder” (mesin pencatat waktu) hati saya terasa tertusuk pisau dan tergores pecahan gelas.Kenapa? Karena di “clock card” itu namaku ditulis lengkap:”Hariyanto Imadha”.Sedih sekali rasanya.Tampaknya orang-orang sekantor belum mengerti asal-usul nama itu.Memang,antara kejadian hari itu tak ada hubungannya dengan nama saya.

BOJONEGORO,1 Januari 1970.Beberapa tahun yang lalu,saya aktif di PPSMA (Persatuan Pelajar SMA) atau OSIS SMA menurut istilah sekarang.Saya pada tahun 1970 masih duduk di kelas 1 SMA Negeri 1,Bojonegoro,Jawa Timur.

“Jangan lupa,nanti sore siaran!”,kata saya suatu saat sewaktu saya mengantarkan Rohandha pulang ke rumahnya di Jl.Diponegoro No.29A.Nama lengkapnya yaitu Yudha Rohandha,sahabat se SMA sekaligus sahabat seorganisasi.Juga,sama-sama penyiar radio amatir ARMADA-151 yang berlokasi di rumah saya di Jl.Netral No.151A (sekarang Jl.Ade Irma Suryani Nasution No.5A).

“Beres”,jawabnya sambil tersenyum.Tak lupa dia mencium pipiku seperti biasa.Seminggu kemudian,tepatnya tanggal 10 Januari 1970,saya merasa gelisah.Sudah sepuluh hari Yudha tidak masuk sekolah.Kabarnya dia sakit.Pembawaanku sejak kecil,jika dalam keadaan gelisah,pasti melampiaskan kegelisahan itu dengan cara membanting gelas!Rapat PPSMA yang waktu itu saya adakan pun bubar!Rapat saya tutup atau kutunda meninggu sampai Yudha sembuh.

Malam hari,pukul 23:00 giliran saya untuk siaran,mengisi acara “Parade Call & Song”,pesan dan lagu.

Kriiing…Telepon berdering.Diterima Erry Amanda yang pada waktu itu bertugas sebagai operator.

“Harry,ada telepon dari papanya Yudha”,kata Erry.Aneh saya pikir,selama ini papanya Yudha tidak pernah menelepon saya.Tapi,telepon saya terima juga.

Alangkah terkejutnya saya,setengah tak percaya,rasa sedih pun bangkit menggelegak.

“Kenapa Harry?”,Erry ingin tahu.Saya diam tak bisa menjawab.Gagang telepon saya taruh pelan.Saya diam.Mata saya berkaca.Air mata hampir jatuh.

“Erry,kau mau antarkan saya…? Ke rumah Yudha?”,tanya saya.Kemudian,pemancar radio saya matikan.

“Malam-malam begini? Memangnya ada apa?”,Erry penasaran.Dipandangi saya dengan penuh keheranan.

“Kamu tahu bukan selama ini Yudha mengidap penyakit leukemia?Lima menit yang lalu…Yudha telah pergi.Pergi untuk selama-lamanya..”,terbata-bata saya berkata.

Detak jantung berpacu.Sedih,perih,luka menganga.Saya terobos gelap malam.Pipi terasa dingin.Setetes air membasahi pipi.

Saya masih terlalu muda untuk menerima beban yang berat ini.Apalagi,hanya kepada Yudha lah pertama kali saya mengenal keakraban sejati.

Yudha Rohandha.Saya tak akan melupakan nama ini.Nama seorang gadis yang cantik,cerdas,suka berorganisasi,ramah,menyukai seni rupa seperti saya.

Hampir sebulan saya terbaring di rumah sakit.

————————————————————————————————————

SURABAYA 1971.Akhirnya,saya memutuskan untuk pindah sekolah ke Surabaya.Di kota ini saya melanjutkan di SMA Negeri 6,Jl.Pemuda.Di SMA ini saya tetap aktif di organisasi SMA seperti sebelumnya.Kali ini saya mengelola buletin ELKA atau LK (Lingkaran Kreasi).Saya aktif membuatvignet,cerpen,kritik sosial,menggambar,artikel-artikel ilmiah pop,dll.

Kesibukan-kesibukan di SMAN 6 menyebabkan saya sedikit demi sedikit bisa melupakan almarhumah Yudha Rohandha.

Suatu pagi cerah,langit biru muda,rombongan SMAN 6 mengadakan “study tour” ke Pulau Bali.Tak saya sangka,di Pantai Kuta saya saya berkenalan dengan gadis cantik siswi SMAN 5 Jl.Wijaya Kusuma Surabaya.

“Namaku Ika…”,jawabnya ketika saya menanyakan namanya.

“Lengkapnya?”,saya ingin tahu.

“Ika Asokawati Putri Pertiwi”,jawabnya sambil tersenyum.Saya lihat bulu matanya lentik indah.Kenangan indah itu terjadi tanggal 4 Juli 1971 hari Minggu.

Tahun 1973 saya ke Bali lagi.Cuma bedanya,kali ini saya sudah berstatus mahasiswa dari Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti,Jakarta angkatan 08.Ika yang waktu itu menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga turut bergabung dengan saya ke Bali.

Memang,saya tak pernah menyangka bahwa hubungan saya dengan Ika telah berlangsung selama tiga tahun (1971-1973) telah menumbuhkan benih-benih kasih cinta yang ceria.

Kemudian di pantai Kuta kami bergamit tangan sepanjanga pantai yang indah itu.Persis seperti kami bertemu tiga tahun yang lalu.

Kelelahan menyusuri pantai menyebabkan saya merebahkan diri di bawah pohon,sementara itu Ika bermain air menantang ombak.

Tiba-tiba saya dikejutkan suara Ika berteriak meminta tolong.Saya gugup.Saya pun berteriak meminta tolong ke orang-orang yang ada di sekitar pantai itu.Puluhan orang segera mencebur ke laut,tetapi kemudian kembali lagi.Tak berani meneruskan lebih jauh .Laut terlalu ganas.Lantas laut sepi.Pantai ribut.Saya panik.Bahkan tim SAR dari Universitas Udayana tak berhasil menemukan Ika.

Hari kedua saya baru menerima kabar bahwa Ika diketemukan di Pantai Kuta jauh ke Selatan.Ika telah tiada.Saya menggigit bibir.Saya berteriak histeris.Enam gelas saya banting.Pecah.Hati saya pun pecah.Saya masih ingat,hari itu hari Minggu,13 Juli 1973.Tidak mungkin saya akan melupakan tanggal tersebut.

————————————————————————————————————

YOGYAKARTA 1973-1975.Untuk melupakan kepergian Ika,maka saya sering mondar-mandir Jakarta-Yogyakarta.Di Yogya ini saya punya teman baik,seorang pemuda berbakat seni,namanya Erry Amanda.Kepadanyalah saya sering berdiskusi tentang hidup,penghidupan dan kehidupan.Kepadanyalah saya sering saya sering mengemukakan masalaha-masalah pribadi.

“Kamu tak usah putus asa.Lupakan saja Yudha dan Ika.Mereka tak mungkin kembali.Memang pahit,tetapi itu kenyataan.”,Erry menasehati sambil tangannya coret-coret di kanvas.Dia sedang mencoba melukis dengan aliran kubisme.

Saya hanya bisa diam.

“Saya juga pernah mengalami peristiwa serupa.Nungkie dan Rensalitawati juga tiada.Kita ini punya nasib sama.Cuma bedanya,saya mencoba melupakannya peristiwa itu dengan cara menumpahkan kepedihan ke atas kanvas.Kamu?”,tanyanya.

“Saya mengadakan sublimasi dalam bentuk cerita pendek,kartun,vignet,puisi,dan lain-lain”,jawab saya sambil meminum teh celup Sariwangi.

Sore harinya saya pamit pulang.Erry mengantarkan saya sampai di setasiun kereta api.Ternyata saya hampir terlambat,kereta telah merangkak berangkat.Saya bergegas.Setengah berlari saya mengejar kereta.Tanpa sengaja seorang gadis yang mengantarkan temannya naik kereta tersenggol.Dia hampir terjatuh.Entah kenapa,bukan saya yang meminta maaf,tetapi malahan tanya alamat rumah saya.

“Kamu tinggal di mana”,justru saya balik bertanya.Lantas gadis itu menyebutkan alamatnya dengan lengkap.Alamatnya mudah dihafal.Entah kenapa,gadis itupun menyebutkan namanya.

“Saya Erna.Mas siapa…?”,pertanyaannya tak sempat saya balas.Saya sudah berada di atas kereta yang terus melaju semakin cepat.

“Saya akan berkirim surat untukmu…!”,saya setengah berteriak.Saya lambaikan tangan kearahnya.Dia membalasnya.

Aneh.Perkenalan saya dengan Erna memang aneh.Perkenalan yang tidak sengaja.Tapi,begitulah kenyataannya.

Sesampai di Jakarta sayapun memenuhi janji.Saya kirimkan surat untuk Erna di Yogya.Isinya biasa-biasa saja.Dari balasan suratnya saya baru tahu kalau Erna merupakan primadona di Fakultas Psikologi UGM.Katanya,di kampus dia sering dipanggil Maya.Ternya Erna punya nama yang cukup panjang,yaitu Umariyah Fransiska Erna Purnamasari.Namanya unik.Maklum,dia memeluk dua agama sekaligus,Islam dan Kristen.Setiap hari shalat lima waktu,sedangkan kalau Minggu ke gereja.Dulu,sewaktu masih sekolah di SMA,dia sering dipanggil Erna Stella.Soalnya,dulu Erna merupakan gadis paling cantik di asrama putri Stella Duce.

“Kenapa Mas Harry mencintai Erna? Saya orang miskin,tidak punya apa-apa”,tanya Erna atau Maya pada suatu hari saya menjemputnya di Kampus Bulaksumur.

“Cinta tak pernah membedakan kaya atau miskin.Kalau saya dari keluarga mampu,itu kebetulan saja”,saya meyakinkan.

Sayang,keindahan demi keindahan yang kureguk bersama Maya hanya berlangsung beberapa saat saja.Mendung gelap segera menyelimuti kota Yogya dan hati saya.Sore itu Nia,salah seorang sahabat Maya yang jadi pramugari Garuda datang ke Hotel Maerakaca tempat saya menginap.Dia membawa kabar buruk.Katanya,Maya mengalami kecelakaan berat.Meninggal langsung di Jl.Malioboro di depan restoran Hellen.Hari itu Selasa 11 Maret 1975.

Dengan demikian,saya telah mengalami tiga kali tragedi menyedihkan,yaitu meninggalnya Ika,Maya dan Yudha.Tiga nama itu : (I)ka,(Ma)ya dan Yu(dha) dan saya singkat menjadi Imadha.Nama ini sering saya pakai setiap saya membuat cerpen,dll.Akhirnya saya gabung dengan nama asli saya menjadi: Hariyanto Imadha.

CERPEN: Cewek Nagoya itu Bernama Imadha Nakagawa

WAKTU itu, tahun 1975, Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta, mendapat kunjungan sekitar 50 mahasiswa dari Universitas Nagoya, Jepang. Tentu, kunjungan persahabatan. Kebetulan, saya ditunjuk teman-teman menjadi sekretaris panitia. Sibuk juga, tetapi tak mengganggu perkuliahan. Maklum, ujian semester baru saja selesai.

Di aula, ketua rombongan mahasiswa Jepang, memberikan gambaran singkat tentang Universitas Nagoya adalah universitas negeri yang berpusat di Chikusa-ku, Nagoya, dan menjadi salah satu universitas bergengsi di Jepang.

Berdiri tahun 1871, Universitas Nagoya adalah sebuah sekolah medis. Tahun 1939 berubah menjadi Nagoya Imperial University. Tahun 1947 berubah nama menjadi Nagoya University.

Kemudian disusul ketua panitia dari kampus saya. Singkat saja. Sesudah itu kemudian diisi dengan acara saling bekenalan dan tentu saja saling berfoto. Karena banyak teman-teman saya yang tidak bisa berbahasa Jepang, terpaksa menggunakan bahasa Inggeris. Demikian juga para mahasiswa dari Jepang juga berbahasa Inggeris.

Namun, saya yang kuliah merangkap di Nihongo Bunka Gakuin (NBG) merasa beruntung bisa sedikit berbahasa Jepang. Apalagi, saya tertarik dengan salah satu mahasiswi Jepang yang putih cantik.

Sayapun mencoba mengajak bercakap-cakap dalam bahasa Jepang.
“Kon’nichiwa, o genkidesu ka? Hallo, apa khabar?” sapa saya sambil membungkukkan badan seperti lazimnya orang Jepang. mahasiswi itu terkejut melihat saya berbahasa Jepang.
“Wow. Anata ga nihongo o hanasu koto ga dekimasu ka? Wow. Anda bisa berbahasa Jepang?”
“Sukoshi. Mitashite iru hitsuyō ga arimasu? Watashi no namae wa Harry desu. Sedikit. Boleh berkenalan? Nama saya Harry.”
“Tashika ni. Dō itashimashite. Watashi no namae Imadha Nakagawa.Tentu. Dengan senang hati. Nama saya Imadha Nakagawa.”

Itulah awal perkenalan saya dengan Imadha. Cewek Jepang yang termasuk cantik dalam rombongannya. Sayapun mengobrol ke sana ke mari. Tentu sekitar dunia pendidikan, objek wisata, budaya dan akhirnya mengobrol apa saja. Acara hari itu cukup meriah dan siang hari diisi dengan acara saling tukar budaya di panggung yang ada di aula.

Tahun 1976. Sesuai janji saya dengan Imadha, hari itu saya jadi pergi mengunjungi Nagoya. Pesawat mendarat di bandara Nagoya atau Nagoya Hikōjō adalah sebuah bandar udara yang terletak dalam wilayah pemerintahan Toyoyama, Komaki, Kasugai dan Nagoya di Prefektur Aichi, Jepang. Tahun 1976 masih merupakan bandara internasional.

Begitu turun dari pesawat, Imadha langsung menyambut saya dengan senyumnya yang sangat menawan itu.
“Nagoya e yōkoso. Selamat datang di Nagoya.” sapanya. Sayapun langsung diajak masuk ke mobilnya dan Imadha yang pegang kemudi langsung mengemudikan ke arah jalan raya.

“Hai watashi no ie e? Ke rumah saya dulu,ya?” ajaknya.
“Doi. Setuju,” sahut saya pendek. Sepanjang perjalanan saya merasa kagum melihat Kota Nagoya yang sangat indah dan tertata rapi. Tidak ada kemacetan lalu lintas. Menunjukkan betapa pandainya pemerintahan Nagoya di dalam mengatur lalu lintasnya.

Sesampai di rumah Imadha, sayapun diperkenalkan dengan ayah dan ibunya. Ternyata Imadha anak tunggal. Sayapun dipersilahkan istirahat dan menempati sebuah kamar di lantai dua. Sebuah kamar yang mewah. Ternyata Imadha anak dari keluarga kaya. Rumahnya besar dan halamannya luas.

Setelah istirahat sebentar, Imadha kemudian mengajak saya mengunjungi kampus Universitas Nagoya. Ternyata, universitas tersebut berdiri di tanah yang sangat luas. Berdiri beberapa gedung terpisah dengan arsitektur moderen. Kemudian saya diajak ke bangunan inti yang sangat besar dan megah.

“Subarashii! Subarashii… ! Luar biasa! Hebat…! ” saya memuji dan berdecak kagum. Apalagi ketika diajak memasuki bagian dalam gedung. Wow, fasilitasnya sangat lengkap. Ruang full ac. Furniture mewah. Dan para mahasiswanya sangat ramah. Apalagi ketika mereka tahu saya dari Indonesia. Tentu, Imadha yang memperkenalkan mereka kepada saya.

Selesai melihat situasi kampus, Imadha kemudian mengajak ke objek wisata. Mobilnyapun segera mengantarkan kami berdua. Satu hal yang saya kagumi yaitu, rasa nasionalisme bangsa Jepang yang tinggi. Menurut Imadha, 90% penduduk Jepang menggunakan mobil buatan Jepang. Dan hanya 10% saja yang menggunakan mobil buatan Amerika dan Eropa. Itupun sekadar untuk menyenangkan produsen mobil Amerika dan Eropa. Saya jadi malu. Soalnya, kalau bangsa Indonesia, lebih suka memakai mobil impor daripada buatan Indonesia. Dasar nasionalismenya rendah!

Objek wisata yang kami kunjungi antara lain Atsuta Jingu Shrine, sebuah kebun yang indah;Furukawa Art Museum, museum seni yang mengangumkan; Higashiyama Koen (Nagoya zoo & botanical garden), perpaduan antara kebun binatang dan kebun mirip Kebun Raya Bogor; Meiko Triton, sebuah pantai mirip Pantai Pangandaran; Odaka Green, sebuah taman indah yang tertata sangat rapi; Toganji Temple, sebuah tempat keagamaan yang mengingatkan saya dengan candi Prambanan.

Menjelang Ashar, Imadha menghentikan mobilnya di pelataraan Masjid Honjin.
“Rettsu saisho no inori. Silahkan shalat dulu.” ujar Imadha. Dan saya terkejut ketika melihat bungkusan yang dibawa Imadha. Ternyata pakaian muslimah. Pakaian shalat.
“Oh, anata wa isuramu kyōtoda? Oh, kamu muslimah?” saya terkejut.
“Hai. Watashi no mama to papa ni mo isuramu kyōtodesu. Ya. Kedua orang tua saya juga beragama Islam,” jawabnya tenang.

Seusai shalat Ashar, kamipun pulang ke rumah Imadha. Iitulah saat-saat indah saya bersama Imadha. Yang kemudian selama lima hari di Nagoya, saya benar-benar diperlakukan bagaikan seorang pangeran.

Dan di hari terakhir, sayapun menyatakan cinta ke Imadha.
“Imadha, watashi wa anata o aishite.Imadha, saya cinta kepadamu.”
Imadha melihat ke arah saya.
“Jissai? Sungguh?”
Saya mengangguk. Kamu berdua kemudian saling berangkulan.

Sayang, esok hari saya harus kembali ke Indonesia sambil membawa sejuta kenangan, sejuta cerita dan sejuta foto serta sejuta cinta. Sebuah kenangan yang tidak akan saya lupakan selama-lamanya. Selanjutnya, hubungan saya dengan Imadha hanya lewat surat-menyurat saja.

Tahun 1977, seusai wisuda di Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti, Jakarta, saya kembali berkunjung ke Nagoya. Sudah banyak perubahan kota itu. Dengan naik taksi, saya menuju rumah Imadha.

Namun, setiba di rumah Imadha, tampak sepi. Hanya ada papan bertuliskan “For Sale”. Rumah itu akan dijual. Saya tanyakan ke tetangganya, katanya keluarga Nakagawa sudah pindah ke Kyoto. Alamatnya tidak tahu.

“Oh,Tuhan,” sayapun duduk lemas di dekat pintu pagar.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

CERPEN: Mahasiswi Itu Bernama Endang Syarikawati


“DIA-LAH yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui. Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.(QS. Al-Baqarah ayat 22)

BUS yang saya naiki dari Jakarta berangkat pagi hari. Tujuannya ke Sukabumi. Ceritanya, saya mau mengunjungi nenek saya. Beberapa jam kemudian, sampai juga di terminal Sukabumi. Karena belum sarapan, saya makan dua bungkus bacang. Wah, masih hangat. Rasanya nikmat sekali.

Sesudah itu naik angkot dan turun di depan Matahari Department Store. Lantas melanjutkan ke terminal angkot. Kemudian naik angkot jurusan Desa Bojong Lopang. Penuh. Di antaranya ada lima mahasiswi. Kok tahu mahasiswi? Dari percakapannya tentang perkuliahan, dosen, kampus maka saya mengambil kesimpulan dia mahasiswi.

Daripada sepanjang perjalanan melamun, maka iseng-iseng saya tanya kepada mereka.

“Mau kemana,Teh?,” saya mulai menyapa salah satu dari mereka.”Teh” artinya saama dengan “Mbak” di Jawa.

“Ke Bojong Lopang,Mang,” jawabnya. Saya yang orang Jawa dipanggil “Mang”. Ya, tidak apa-apalah.”Mau kemana, Mang?,” ganti mahasiswi itu bertanya.

“Mau ke Bojong Lopang juga. Mau menengok nenek,” saya menjelaskan tujuan saya ke Desa Bojong Lopang. Mahasiswi itu manggut-manggut. Dari hasil ngobrol-ngobrol, saya tahu nama mahasiswi itu bernama Endang Syarikawati. Bapaknya Jawa, ibunya Sunda. Ceritanya, Endang dan teman-teman, dari Bojong Lopang akan meneruskan ke Bojong Tipar.

“Dalam rangka apa?” tanya saya. Endang menjelaskan, teman-temannya yang semua kuliah di Bandung, sebentar lagi akan menghadapi ujian semester. Untuk itu, mau minta doa restu ke orang tua.

“Orang tua siapa,?” saya bertanya karena tidak mengerti maksudnya.

“Maksudnya, orang pintar, Mang,” Endang menjelaskan. Sekarang saya faham. Kelima mahasiswa itu akan ke paranormal supaya bisa lulus ujian.

“Tahunya dari mana kalau di Bojong Tipar ada orang pintar,” saya berlagak dan memberi kesan seolah-olah percaya hal-hal yang bersifat syirik itu.

“Dari teman-teman di Bandung. Terbukti,kok. Mereka lulus semua,” Endang berkata dengan nada yakin, padahal belum pernah melakukannya.

“Bagaimana tuh, caranya? Kebetulan saya juga akan menghadapi ujian semester,nih. Saya kuliah di Universitas Borobudur, Jakarta,” saya terus memancing. Karena saya sudah dipercaya, maka Endangpun bercerita. Katanya, nanti Endang dan teman-temannya akan diberi air putih yang sudah diberi doa, kemudian diminum. Tapi, syaratnyaa harus membeli bunga tujuh rupa yang dijual di teras padepokan paranormal itu. Sesudah minum air putih, nanti disuruh mandi sendiri dan bunga tujuh rupa harus dimasukkan ke bak mandi. Begitu cerita Endang. Karena penasaran, saya tidak jadi berkunjung ke rumah nenek, melainkan menuju ke Desa Bojong Tipar. Itupun harus naik ojek, sebab angkot hanya sampai Desa Bojong Lopang. saya penasaran, ingin tahu, seperti apa sih padepokannya paranormal itu.

Tak lama kemudian, sampai juga. Rumahnya ukuran sedang tapi cukup mewah. Di depan rumahnya ada kolam ikan lengkap dengan air mancurnya. Sayapun duduk di sebuah kursi. Cukup banyak pengunjungnya. Ada sekitar 100 orang. Uniknya, mereka yang mau menemui paranormal, harus mengambil nomor urut. Persis, seperti mau periksa dokter. Saya juga mengambil nomor, hanya untuk memberi kesan kalau saya juga ada keperluan bertemu dengan paranormal. Padahal, saya cuma ingin tahu, apa saja sih persoalan mereka?

Dari hasil ngobrol-ngobrol, mereka ada yang minta doa enteng jodoh, penglaris usaha, ingin kebal dari ilmu santet, ingin cepat naik jabatan, ingin cepat kaya, ingin lulus ujian semester, ingin cepat naik pangkat, ingin cepat dapat pekerjaan dan masih banyak lainnya. Bagi yang sudah dua tiga kali datang menceritakan, mereka harus membeli bunga tujuh rupa, ada juga harus beli keris kecil, yang lainnya bercerita harus beli cincin kuningan dan lain-lain. Katanya, semua benda itu sudah diberi doa oleh paranormal yang ternyata bernama Mbah Kawul, pindahan dari Situbondo, Jawa Timur.

Kalau saya lihat sih, mereka yang datang tergolong orang-orang berpendidikan. Ada mahasiswa, ada sarjana, ada PNS, ada guru dan bahkan ada dosen.

Sesudah puas melakukan pengamatan tingkah laku mereka, akhirnya saya kembali ke Desa Bojong Lopang menemui nenek saya. Sayapun cerita tentang orang-orang yang datang ke Mbah Kawul. Nenek saya yang fanatik Islam mengatakan “Itulah perbuatan orang-orang syirik. Mereka menganggap benda-benda punya kekuatan tertentu. Padahal, kalau ingin lulus, ya belajar. Ingin laris, ya berusaha maksimal.Mau dapat jodoh, ya harus pandai bergaul.Ingin kebal santet, ya perdalam Al Qur’annya. Seharusnya umat Islam yang punya keinginan, berdoalah ke Tuhan Yang Maha Esa. Bukan meminta keajaiban dari kembang tujuh rupa, keris,cincin,batu dan semacamnya. Itu, syirik namanya,”

Saya cuma mengangguk-angguk. Hari sudah sore. sayapun minta izin ke nenek untuk shalat Ashar. Nenekpun mempersilahkan dengan senang hati.

Sebulan kemudian saya bertemu lagi secara tak sengaja dengan Endang Syarikawati.

“Wah, saya nggak lulus ujian semester,Mang,” katanya kecewa.

Sumber foto:

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150258492645297