CERPEN: Ketika Sapi Berpeci dan Berjenggot

FACEBOOK-CerpenKetikaSapiBerpeciDanBerjenggot

JAKARTA 2013. Siang itu saya sedang menunggu bus TransBSD di halte depan Ratu Plasa.

“Harry…!” tiba-tiba ada yang memanggil seseorang dari jendela mobil yang baru saja berhenti di depan halte. Saya tengok kanan-kiri, siapa tahu bukan saya yang dipanggil. Lagipula, kelihatannya saya tidak kenal dengan yang memanggil saya.

“Harry…!” sekali lagi, orang itu memanggil. Karena saya diam saja, orang yang di dalam mobilpun membuka pintu, turun dan mendekati saya. Sayapun terkejut. Ternyata dia Gunawan, dulu teamn satu kampus yang sudah puluhan tahun tidak bertemu.

“Oh! Gunawan, ya?” saya bediri dan langsung menyalaminya. Akhirnya kamipun ngobrol ke sana ke mari.

“Oh, ya. Bisnis apa kamu sekarang?” saya tanya ke Gunawan.

“Bisnis sapi. Di Bogor. Saya punya 100 sapi. Punya peternakan. Dekat Sentul City…” Gunawan menjawab.

Singkat cerita, karena hari Minggu itu saya tidak punya acara, sayapun diajak Gunawan ke peternakannya di Kabupaten Bogor.

Sampai di peternakannya, langsung saya diajak jalan-jalan melihat satu persatu sapi yang dipeliharanya. Cukup banyak. Kira-kira sekitar 100 ekor sapi. Entah jenis sapi apa, saya tidak tahu. Saya juga merasa tidak perlu tanya.

Sampai akhirnya saya melihat kandang sapi agak kecil dan isinya hanya tiga ekor. Anehnya, ketiga sapi itu berpeci dan berjenggot.

“Kok, kamu punya sapi aneh, sih?” tentu saya bertanya ke Gunawan. Gunawan tertawa.

“Jaman sekarang memang banyak yang aneh. Ceritanya, saya dulu pernah bermimpi didatangi orang tua berpakaian serba putih. Katanya, kalau bisnis sapi atau bisnis daging sapi saya ingin lancar, maka saya saya harus memberi peci putih kepada tiga ekor sapi yang berjenggot. Begitu bangun tidur, saya langsung mencari tiga ekor sapi berjenggot. Ternyata benar-benar ada. Sungguh, saya hampir tidak percaya…” cerita Gunawan lancar sekali dan terkesan ceritanya memang serius.

Sayapun memandangi ketiga sapi berpeci dan berjenggot itu dengan serius.

“Yang ini, namanya Tifagami,” Gunawan menunjuk sapi yang pertama. “Yang ini, namanya Lutfigami,” menunjuk sapi kedua,” Dan yang ketiga namanya Anisgami,” sabil menunjukk sapi ketiga,” Semuanya sapi jantan” Gunawan mengakhiri kalimatnya.

“Kok ada kata gami. Memangnya ada hubungannya dengan poligami?” saya bercanda. Tapi ternyata benar.
“Betul. Ketiga sapi ini memang suka berpoligami. Ketiganya pejantan sejati. Kebetulan semua sapi saya adalah sapi yang dagingnya enak dimakan. Tiga pejantan ini cepat sekali menghamili sapi-sapi betina sehingga dalam waktu singkat sapi-sapi saya banyak yang beranak,” Gunawan menjelaskan. Saya hanya mengangguk-angguk.

Saya tetap merasa aneh. Kok ada sapi punya jenggot. Apalagi dipakaikan peci putih. Gejala apa ini? Isyarat jaman apa ini? Apakah ini merupakan isyarat jaman edan seperti yang pernah diramalkan Jayabaya atau Ronggowarsito? Bukankah pernah diramalkan pada jaman edan agama hanya akan merupakan simbol? Banyak orang rajin beribadah, tetapi suka sekali berpoligami. Bukan poligami demi kemanusiaan tetapi poligami demi syahwat berkedok agama.

“Kok, melamun, Harry. Memangnya ada apa?” Gunawan menyadarkan saya dari lamunan.

“Saya benar-benar heran. Kok ada sapi punya jenggot. Pertanda jaman apa ini?”

“Betul. Itu pertanda jaman edan banyak orang menjadi edan. Agama, terutama agama Islam, hanya dijadikan kedok saja. banyak orang merasa suci, membesar-besarkan dan membangga-banggakan agama Islam, tapi ternyata dia seorang yang doyan main perempuan, doyan politik dan doyan korupsi…” Gunawanpun jujur menafsirkan keanehan sapi berjenggot itu.

” Ya,ya, ya. Poligami jaman sekarang memang berbeda dengan jamannya nabi Muhammad SAW. kalau jamannya Nabi, beliau berpoligami karena atas dasar kemanusiaan. Kalau poligami di Indonesia atas dasar syahwat. Atas dasar nafsu berahi, buktinya yang dipilih wanita-wanita yang seksi, montok dan semok. Kenapa kok tidak menikahi janda-janda tua banyak anaknya dan miskin?” sayapun berpendapat. Gunawan mengangguk-angguk.

Saya terus menatap ketiga wajah sapi yang berpeci dan berjenggot itu. Jenggot, kebanyakan merupakan simbol laki-laki Arab Saudi atau laki-laki Timur Tengah. Artinya, budaya poligami berdasar syahwat sebenarnya datang dari negara-neagara Arab. Di negara-negara tersebut para pemimpinnya suka hidup foya-foya, bermewah-mewah, suka doyan main perempuan dan berpoligami. Sedangkan sapi berpeci melambangkan agama terutama agama Islam yang cuma dijadikan kedok saja. hanya untuk menutupi perbuatan busuknya. hanya supaya dianggap bersih dan suci. Padahal, sok suci.

“Terus, kenapa Gunawan memberi nama ketiga sapinya dengan nama Tifagami, Lutfigami dan Anisgami?” saya masih penasaran.

“Singkat saja. Itu sesuai petunjuk orang tua berbaju serba putih di dalam mimpi saya”.

“Ada artinya?”

“Hmmm, kurang tahu. Mungkin suatu saat nanti ada tiga orang dengan nama-naama mirip itu akan menjadi terkenal karena kasus-kasus poligaminya…”

“Masuk akal…” saya menjawab singkat.

Gunawan kemudian terus mengajak saya putar-putar di peternakannya. Kemudian melihat karyawan-karyawannya yang sibuk memerah sapi.

“Wah, sapinya montok-montok, ya? Payudaranya besar, padat dan sintal…” komentar saya.

“Ya, sapi-sapi betina yang payudaranya besarlah yang disukai Tifagami, Lutfigami dan Anisgami…”

Saya cuma bisa mengangguk-angguk.

“Kok, seperti manusia, ya?” gumam saya.

“Ya, manusia dan binatang kan sama-sama punya nafsu seks, sama-sama punya syahwat, sama-sama punya birahi…”

“Kalau berpoligami, berarti banyak uangnya, dong. Memangnya dapat uang dari mana? “

“Kalau orang politik sih, biasanya dari korupsi. Kalau dari usaha tidak mungkin langsung untung bermilyar-milyar rupiah. Orang-orang politik yang berpoligami rata-rata punya rumah mewah, mobil mewah dan uangnya di bank banyak sekali. Hidupnya berfoya-foya dan bermewah-mewah…” celoteh saya.

“Ya, mungkin mau mencontoh budaya Arab” kata Gunawan.

“Wah, kalau orang Indonesia semakin banyak yang meniru budaya Arab, lama-lama Pancasila nanti bisa diganti Syariat Islam, nih. Indonesia bisa jadi negeri khilafah…”

“Ha ha ha…! Negeri khilafah? Nabi Muhammad SAW saja nggak pernah mendirikan negeri khilafah. Itu kan khayalan politisi-politisi yang tidak faham Pancasila. Pancasila itu harga mati. Sampai kiamat Qubro, Indonesia nggak bakalan jadi negeri khilafah, Harry…Percayalah…!” Gunawan mencoba meyakinkan.

“Ya, saya sangat percaya. TNI dan polri tidak akan berdiam diri jika ada usaha-usaha untuk mengganti Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” jawab saya serius.

Sayapun terus melihat sapi-sapi yang sedang diperah susunya.

“Oh, ya. Sapi betina itu namanya Mahagami, Vitagami dan Darigami,” ujar Gunawan.

“Apalagi tuh artinya?”

“Artinya, ketiga sapi betina itu merupakan sapi yang montok dan semok. Disukai sapi-sapi jantan macam sapi yang berpeci dan berjenggot tadi.Ketiga sapi betina itu sangat disukai sapi jantan bernama Ahmagami, suka main sapi betina yang montok dan semok.”

“Ooo, ya,ya,ya…Saya faham…”

Sore harinya, sayapun diantarkan Gunawan pulang ke rumah saya di BSD City, Tangerang Selatan. Dan sepanjang perjalanan saya mengambil kesimpulan bahwa, sapi berpeci dan berjenggot adalah merupakan pertanda jaman, bahwa agama, terutama agama Islam banyak yang menyalahgunakan sebagai kedok saja untuk menutupi aibnya. Juga ada hikmah bahwa, kalau kita menilai orang tidak dari predikat ulamanya, dari predikat ustadznya, dari rajin ibadahnya, dari gelar hajinya, dari pecinya, dari jenggotnya, tetapi dari perilakunya.

“Hati-hati dengan politisi atau orang-orang yang berniat mengganti Pancasila dengan sistem khilafah, Harry. Mereka adalah anthek-antheknya pemimpin-pemimpin Arab. Sebab, kalau Indonesia jadi negeri khilafah, para pemimpinnya huga akan hidup foya-foya, bermewah-mewah dan suka main perempuan seperti para pemimpin di negara-negara Timur Tengah. Hati-hati kalau memilih parpol yang berkedok agama Islam…” Gunawan menasehati saya.

Akhirnya sayapun tiba di rumah dan Gunawanpun meneruskan perjalanannya ke rumahnya di kawasan Permata Hijau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Adzan Maghribpun berkumandang.

Sumber foto: caricarainfo.blogspot.com

—ooOoo—

CERPEN: Ketika Cinta Masih Berdenyut


KARYAWAN saya bilang, ada siswi peserta kursus komputer yang cantik. Katanya, namanya Asokawati Prameswari.

“Mana fotonya?” tanya saya. Julie,karyawati saya Bagian Pendaftaran, langsung membuka laci. lantas dia menunjukkan foto siswi baru peserta kursus komputer. Saat itu memang saya membuka Lembaga Pendidikan Komputer Indodata di dekat Pintu Tol Bekasi Timur.

“Oh, boleh juga,nih. Kapan-kapan kenalkan saya,dong,” pesan saya ke Julie yang saat itu bertugas bersama Dani.
Siang harinya, Juliepun memperkenalkan saya dengan Asokawati.

“Oh, my God! Betapa sempurnanya Tuhan menciptakan dia. Sayapun bersalaman dengan Asokawati yang wajahnya mirip Yuni Shara. Rambutnya pendek, bulu matanya lentik, kulitya putih, senyumnya menggetarkan hati. Siang itu dia datang diantarkan sopir pribadinya. Naik mobil Mercy. Rupa-rupanya dia anak salah seorang terkaya di Bekasi.

Seperti di sinetron. Hubungan saya dengan Asoka lancar-lancar saja. Bahkan kadang-kadang mamanya yang mengantarkan ke tempat kursus. mamanya juga bersikap ramah terhadap saya. Bahkan saya berkali-kali diundang supaya datang ke rumah Asokawati.

Kebetulan, saat Asokawati ulang tahun, sayapun datang. Ternyata temannya banyak sekali. Pestanya cukup meriah dan mewah. Asokawati mengenakan gaun yang harganya tentu sangat mahal. Saat itu Asokawati berstatus alumni salah satu sekolah tinggi ilmu komputer di Jakarta. Dia mengambil kursus di tempat saya hanya sekadar ingin memperdalam aplikasi Photoshops dan Corel Draw. Tampaknya Asokawati berbakat menggambar.

Saya menilai perlakuan Asokawati terhadap saya terlalu berlebihan. Saya diperkenalkan ke tema-temannya dan selalu mengatakan saya ini pacar Asokawati. Padahal, saya belum pernah menyatakan cinta ke Asokawati. Tapi, tak apalah. Kenyataannya saya juga naksir dia. Cuma, saya selalu bersikap hati-hati sebab saya belum mengenalnya secara mendalam. Secara lahirah, dia memang cantik. Secara batiniah, saya belum tahu.

Akhirnya, tiap malam Minggupun saya datang ke rumahnya yang cukup mewah. Sambutannya baik sekali. bahkan mamanya kaang-kadang ikut mengobrol walaupun hanya sebentar.

“Mas Harry, kalau pacaran jangan lama-lama,ya? Tante sudah ingin punya cucu,nih. Maklum Asoka satu-satunya anak Tante,” katanya setengah mendesak. Asoka memang anak tunggal. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit. Entah sakit apa, saya tidak pernah bertanya.

“Wah, belum siap, Tante. Penghasilan saya masih sedikit. Belum cukup,” saya menjawab.
“Ah, jangan begitu. nanti kalau Mas Harry sudah menikah, rezekinya akan semakin lancar. Tuhan tidak pernah keliru dalam membagi rezeki,” kata mamanya Asoka bernada berkotbah.
“Betul Tante. Tapi, jodoh juga di tangan Tuhan…,” saya membalas ucapannya. tante, lengkapnya Tante Darmodjopun tertawa kecil. Sesudah itu meninggalkan saya berdua dengan Asoka. Mengobrol di ruang tamu yang cukup luas.

Sabtu atau malam Minggu berikutnya, Asoka mengajak jalan-jalan ke jakarta sambil membawa mobil pribadinya, Honda Freed berwarna putih. kadang saya menggantikannya untuk mengendarai mobil itu. Jalan-jalan ke Ancol, ke kafe, nonton atau ke mana saja sampai larut malam. terkadang pukul 03:00 WIB dini hari baru sampai ke rumah Asoka. Mamanya tidak marah.

Satu hal yang sulit saya pahami yaitu, Asoka agresif sekali. Baru pacaran beberapa kali saja sudah seperti itu. Mengajak menginap di hotel berbintanglah, mengajak ke Puncaklah dan lain-lain. Saya faham maksudnya. namun intuisi saya selalu mengatakan, jangan ikuti dulu kemauannya yang berlebihan iitu.

Memang, banyak karyawan saya yang merasa aneh. Kenapa tidak segera melamar saja. Cewek secantik itu, jangan-jangan disabet cowok lain.

“Buruan, Pak. nanti Asoka digaet cowok lain!” Irawan, salah seorang karyawan saya memanasi.
“Iya,Pak. Zaman sekarang cowok-cowok kan banyak yang nekat dan agresif,” Sofyan, juga karyawan saya, menambahi ucapan Irawan.
“Betul,Pak. Kalau saya jadi Pak Harry, tentu Asoka sudah saya hamili,” kata Edi Raharjo yang membuat semua karyawan tertawa.

Iya,ya. Saat itu saya baru lulus dari S-2 Komputer dan langsung mengelola lembaga pendidikan komputer. Usia 23 tahun. Relatif masih muda. Sedangkan Asoka sekitar 22 tahun. Seimbanglah. namun saya punya rencana akan menikah pada usia 25 tahun saja.

Begitulah. dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun, akhirnya sayapun berusia 25 tahun. Sesuai dengan rencana, maka sayapun merasa sudah siap melamar Asokawati. Apalagi saat itu lembaga pendidikan yang saya kelola sudah bubar karena saya bekerja di PLN Pusat sebagai Staf Ahli dan sudah berstatus sebagai pegawai tetap. Artinya, sudah ada gaji dan tunjangan tetap.

Namun, lagi-lagi intuisi saya selalu menyatakan, sebaiknya jangan menikah dengan Asoka. sayang, saya tak menemukan jawaban kenapa saya tidak boleh menikahi Asoka. Ada apa? Sebuah pertanyaan yang membuat saya melangkah ragu-ragu. Maklum, sejak dulu saya paling percaya dengan intuisi. Cuma, kali ini intuisi tu tak memberikan jawaban yang jelas. tak memberikan petunjuk apa-apa. Ada apa ini?
Selama ini, saya sudah terlanjur jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Bukan karena Asokawati cantik. Bukan karena dia anak orang kaya. Bukan karena dia sarjana komputer sama dengan saya. Tapi, saya suka karena dia bicaranya enak. Selalu nyambung. Enak diajak gaul. Cakrawala pemikirannya luas. Rajin shalat. Pandai membaca Al Qur,an. bahkan Asokawwati mengajak saya untuk naik haji bersama sesudah menikah nanti.

“Naik haji bersama? Oh, alangkah indahnya jika itu bisa menjadi kenyataan,” gumam saya dalam hati.

Karena saya merasa tidak ada kekurangan apa-apa pada diri saya dan Asokawati, akhirnya, sayapun menikah dengan Asokawati. Sebagian mantan teman kuliah saya dan Asokawati, sebagian teman kerja saya dari PLN Pusat, sebagian mantan karyawan yang pernah bekerja di lembaga kursus komputer saya, kerabat saya dan Asokawati dan undangan lainnya, memenuhi salah satu ruangan di Hotel Pan Sari Pasific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Sayang, ayah dan ibu saya yang berada di Kota Bojonegoro tak bisa hadir karena sudah tua.

Setahun kemudian, kami berdua dikarunia seorang bayi perempuan yang imut-imut. Saya beri nama Monitorika. Sebuah nama yang ada hubungannya dengan komputer. Beberapa bulan kemudian Monny,panggilan anak kami, telah punya gigi. Bisa tersenyum lucu. bahakn sudah bisa berjalan, walaupun masih terjatuh-jatuh. Imut-imut sekali.

“Papaaa….!” tiba-tiba Minggu pagi itu saya mendengar teriakan Asokawati dari kamar mandi. Sayapun bergegas berlari.
“Ada apa?” tanya saya. Saya lihat Asokawati memegang dadanya.
“Segera ke rumah sakit,Pa….Jantung saya kambuh,” pintanya. sayapun segera meminta bantuan Bibi Mintuk untuk mengasuh Monny. saya langsung mengajak Asokawati memasuki garasi. Langsung saya tancap gas Honda Freed miliknya.

Namun, di tengah perjalanan Asokawati terkulai tak berdaya. Mobil saya hentikan di pinggir jalan. Saya gerak-gerakkan tubuhnyya. Diam. Matanya terpejam. saya pegang denyut nadi tangannya. Tidak ada.

“Oh, my God. Benarkah ini?” saya tak percaya. Langsung saya menghubungi mamanya lewat HP. Dari pembicaraan lewat HP iitulah saya baru tahu. Asokawati sudah dua kali operasi jantung di Singapura. Ayahnya, dulu meninggal juga karena penyakit yang sama.

Bulan-bulan berikutnya, saya terpaksa membesarkan Monny sendirian. Wlaupun ada baby sitter, namun itu tidak cukup.
Hari-hari terasa sepi.Saya hanya punya Monny. Cintaku kini hanya untuk Monny. Selama jantungku masih berdenyut, saya berjanji akan membesarkan Monny.

Sumber foto: elitha-eri.net

Hariyanto Imadha
Facebook/Blogger

CERPEN: Ketika Matahari Terbit dari Barat

BEGITU saya terbangun, saya merasa heran. Semula saya tidak tahu saya berada di mana. Namun setelah saya lihat, saya baru menyadari saya berada di ruang menwa salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di jakarta. Saya masih lengkap memakai pakaian wisuda.

Beberapa saat kemudian saya mulai sadar tentang apa yang terjadi sebelumnya.

-“Sudah baikan,Mas?” tanya Wulandari, adik kelas saya. Saya mengangguk kemudian mencoba bangkit dari kursi panjang. Kemudian duduk degan lemas. Entah berapa lama saya jatuh pingsan, saya tidak tahu.

Tak berapa lama kemudian, beberapa sahabat baik sayapun berdatangan. Ada Shanty, Wulan, Prabowo dan lain-lain. Mereka ingin tahu, apa sesungguhnya yang terjadi. Merekapun saya ajak ke ruang kuliah yang masih kosong. Kira-kira ada sembilan sahabat baik saya yang berkumpul.

-“Ceritanya sangat menyakitkan sekali”. Saya mulai bercerita.

Saya katakan, saya berpacaran dengan Priska Adelia sebenarnya sejak saya duduk di kelas 1 SMP Negeri II, . Masih cinta monyet. Namun, sebenarnya saya dan Priska benar-benar saling mencintai. Meskipun demikian proses belajar tidak terganggu. Justru semangat belajar semakin tinggi.

“Hubungan saya dan Priska berjalan terus. Hari demi hari yang indah saya nikmati berdua. banyak tempat kenang-kenangan. Antara lain Jembatan Kaliketek, pemandian Dander dan lain-lain. Dulu saya berpacaran Cuma bersepeda saja. Saya membawa sepeda sendiri dan Priska membawa sepeda sendiri.” Cerita saya.

“Sudah banyaklah foto keang-kenangan, baik sewaktu di sekolah atau di luar sekolah. Orang tua Priska maupun orang tua saya juga sudah tahu persahabatan saya dengan Priska. Meskipun demikian hubungan saya masih di dalam batas kesopanan. Paling Cuma berciuman saja. Tidak lebih dari itu.” Saya melanjutkan cerita.

-“Nah, di bangku SMP itulah saya dan Priska sudah berjanji tidak akan berpisah dan akan tetap bersama hingga bangku SMA dan perguruan tinggi. Sebuah janji yang indah dan tak akan pernah saya lupakan. Bagi saya Priska adalah cinta pertama dan bagi Priska saya adalah cinta pertamanya”. Saya terus bercerita.

-“Tanpa terasa, saya dan Priska lulus SMP dengan nilai yang baik. Saya dan diapun akhirnya meneruskan di SMA yang sama, yaitu SMAN 1 . Sayang, saya tidak sekelas. Tapi, tak apalah, yang penting tiap hari masih bisa bertemu.”. Saya berhenti bercerita sebentar. Sesudah minum segelas Coca Cola dingin, sayapun melanjutkan cerita. Sahabat-sahabat saya diam memperhatikan saya. Mereka ingin tahu kelanjutan cerita saya.

-“Iya, akhirnya saya dan Priskapun lulus SMA dan sama-sama pindah ke Jakarta dan kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi ini. Tentu, saya selalu satu ruang sebab mendaftarnya bersama-sama.”.

Saya berdiam sejenak. Saya masih berpikir, perlu tidaknya saya menceritakan masalah-masalah yang bersifat pribadi. Misalnya, selama kuliah sebenarnya saya sudah berulangkali melakukan hubungan intim dengan Priska. Namun, akhirnya saya putuskan tidak perlu menceritakannya.

-:Ya, kalian semua tahu. Di mana ada Priska, di situ pasti ada saya. Walaupun banyak mahasiswa yang ingin mendekati, namun Priska tetap setia terhadap saya. Walaupun banyak cowok lebih kaya dari saya, tetapi Priska tetap memilih saya. Kalau saya hitung-hitung, saya sudah berpacaran selama 11 tahun. Sebuah waktu dan perjalanan hidup yang cukup panjang.”

Saya berhenti bercerita. Saya teguk lagi minuman Coca Cola kesukaan saya. Sedangkan sahabat-sahabat saya mengajukan beberapa pertanyaan yang mereka sangat ingin tahu jawabannya.

-“Ya, memang saya dan Priska sudah saling berjanji, sesudah wisuda saya dan Priska akan resmi menikah. Tapi,…apa yang terjadi? Sungguh menyakitkan. Sesudah wisuda, di luar ruangan ternyata sudah menunggu kedua orang tuanya. Semula saya menyambutnya dengan senang hati. Dan saya katakan kedua orang tua saya tidak bisa hadir karena sibuk di Jawa Timur.”

“Namun, yang menyakitkan adalah. Kedua orang tuanya memperkenalkan seorang pria. Katanya, dia adalah calon suami Priska yang selama ini studi di Amerika. Saat itu saya melihat Priska menundukkan muka dan menangis. Saya tanyakan kenapa semua ini bisa terjadi.”

Saya menghela nafas panjang. Rasa-rasanya tak sampai hati saya meneruskan cerita. Namun apa boleh buat, mereka adalah sahabat-sahabat baik saya. Mereka harus tahu.

-“Ya, Priska mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah menjodohkan Priska dengan pria itu sejak Priska masih bayi. Kedua orang tua Priska adalah sahabat baik dengan kedua orang tua pria itu. Ya, itulah yang membuat saya shock dan pingsan. Saya tidak mengira hubungan yang sudah berjalan belasan tahun akhirnya kandas begitu saja…”

Saya mengambil nafas panjang. Namun sahabat-sahabat sayapun cukup memaklumi penderitaan saya itu. Tentu, mereka hanya bisa memberikan semangat.

-“Ya, sudahlah. Betapapun pahitnya kenyataan itu, terima saja. Anggap saja itu sudah kehendak Tuhan. Siapa tahu Harry akan mendapatkan pengganti Priska yang lebih cantik, lebih cerdas dan lebih setia. Jangan putus asa…” Begitu saran Shanty dan teman-teman lainnya.

Sesudah melepaskan toga dan berpakaian biasa, maka saya dan sahabat-sahabat itu segera menuju ke restoran American Hamburger di Blok M untuk merayakan kelulusan kami bersepuluh. Mereka adalah sahabat-sahabat satu kelompok belajar.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Ketika Cintaku Terkapar di Kaliketek

BOJONEGORO 1969. Waktu itu saya masih duduk di kelas satu. Saya lulusan dari SMPN 2. Sedangkan Widya lulusan SMPN 1. Kami berdua satu kelas di SMAN 1 yang dulu namanya SMA Negara. Lokasinya di Jl. Panglima Sudirman.

Sejak SMP memang saya dan Widya sudah pacaran. Jadi, tak heran kalau di SMApun cinta kami berlangsung terus. Apalagi, kebetulan kami satu kelas. Kata orang, cinta pertama adalah cinta yang terindah. Kebetulan, kami berdua sama-sama cinta pertama.

“Harry, jangan lupa acara besok,” pesan Widya sewaktu pulang sekolah.

“Oh, ya. Besok saya jemput jam 07:00 WIB ya?” jawab saya.

Esoknya adalah hari Minggu. Tentu, kami manfaatkan sebaik-baiknya. Dengan masing-masing mengendarai sepeda ontel, kami bergerak menuju ke Kolam Renang Dander lewat Jetak. Waktu itu jalannya masih rusak. banyak lubang. banyak batu berserakan dengan ukuran mulai sebesar ibu jari hingga ukuran kepala kambing. Juga, berdebut. Jadi, harus pandai-pandai memilih jalan.

Menit demi menit kami jalani jalan yang buruk itu. Akhirnya, dua jam baru sampai di tempat tujuan. Padahal jarak dari Kota Bojonegoro cuma sekitar 14 kilo meter.

“Kita istirahat dulu,” ajak saya setiba di Dander. Kami berdua menyandarkan sepeda di sebuah pohon besar. Kemudian duduk berdua di sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen.

Betapa indah hari itu. Suara kicau burung, suara debur air yang ditepuk anak-anak kecil, suara teriakan-teriakan kecil dari mereka yang berenang dan suara orang-orang berjualan menawarkan dagangannya.

“Beli jagung rebus,yuk!” ajak saya. saya dan Widyapun membeli jagung rebus yang masih hangat. Empuh, gurih dan manis rasanya. Sungguh benar-benar indah hari itu. Bahkan lagu-lagu yang diputar dari kaset milik orang lain menambah indahnya suasana.

Selesai makan jagung, kamu berduapun berenang sepuas-puasnya. Sayang, saya tidak membawa kamera foto sehingga tidak ada kenangan yang bisa diabadaikan.

Sebenarnya tidak Cuma di Dander saja cinta kami terukit. Kami juga pernah ke Waduk Pacal. Sebuah waduk yang sangat teduh dan indah. Sayang, tidak dibangun jalan setapak agar kami bisa mengelilingi waduk itu. Jadi, Cuma bisa naik atau menuruni tangga yang jumlahnya ratusan itu. Sayang, objek wisata itu tidak pernah dikelola secara profesional.

Di Kahyangan Api juga pernah kami kunjungi. Biasa-biasa saja. Tidak ada daya tariknya. Sepi dari pengunjungnya. Objek wisata inipun tidak dikelola secara profesional. Lha wong bupatinya juga tidak punya daya kreativitas. Maklum saja.

Atau kadang-kadang kami membeli salak di Wedi, Kalianyar. Dulu, salaknya besar-besar dan gurih. Tidak seperti sekarang, kecil-kecil dan sepet. Tidak ada usaha untuk mengembangkan salak Wedi menjadi buah-buahan kebanggaan warga. Maklum, orang Indonesia memang terkenal malas untuk berkreasi.

Karena di dalam kota tidak ada objek wisata, maka acara saya dengan Widya paling jajan bakso dan es campur. Padahal, kalau mau, di tengah kota bisa dibangun objek wisata yang menarik. Misalnya ada lapangan multi fungsi. Bisa untuk voli, sekaligus bisa untuk tenis, basket, sepatu roda dan lain-lain. Juga bisa dibangun sarana-sarana wisata lainnya.

Dulu, masih ada gedung bioskop. Lokasinya di Bombok. Gedungnya lumayanlah untuk ukuran saat itu. Kebanyakan memutar film India dan China. Sering juga sih film Barat. Dan tiap malam Minggu, saya dan Widya pasti menonton bersama.

Sampai suatu saat, kamipun rekreasi ke Kaliketek. Sebuah jembatan yang terletak di perbatasan Bojonegoro dan Tuban. Kami berdua masing-masing bersepeda. Untunglah, saya membawa kamera. jaman dulu, kamera masih menggunakan klise.

“Ambil foto saya,dong!” pinta Widya. Kamipun berfoto bergantian. Untuk foto bersama, saya meminta bantuan orang yang lewat. Tentu, saya ajari dulu. Cukup lama kami bersenang-senang di Kaliketek.

Sampai akhirnya, Widya berkata.

“Harry, ada sesuatu yang ingin saya katakan…”

“Apa itu? Katakan saja…” pinta saya.

“Sebelumnya saya mintab ma’af,Harry. Mungkin saya tidak bisa ,eneruskan sekolah di SMA di kota ini. Saya harus pindah…”

“Kenapa harus pindah?”

“Soalnya, bapak saya dipindahtugaskan ke Mojokerto. Maklum, pegawai negeri kan harus siap dipindahkan ke mana saja”

“Jadi, Widya akan melanjutkan sekolah di SMA Mojokerto?” saya pandangi Widya dengan tatapan mata serius.

“Mungkin saya tidak melanjutkan sekolah”

“Lho, kenapa? Sayang kan kalau tidak taman SMA?”

Widya diam saja. bahkan pelan-pelan saya lihat di pipinya mengalir dua butir air mata.

“Kenapa?” saya penasaran.

“Maaf Harry. Saya dijodohkan. Dan di Mojokerto sayapun harus menikah…”

bagaikan disambar petir saya mendengar ucapan Widya.

“Kenapa Widya mau? “ saya agak marah.

“Saya satu-satunya anak orang tua saya. Apalagi, ibu saya sering sakit. Saya ingin membahagian kedua orang tua, Harry…”

“Jadi, hubungan kita hanya sampai di sini?” kata saya penuh rasa kecewa.

‘Apa boleh buat, Harry. Yang penting, kita tetap saling mencintai. Sampai kapanpun.”

Sayapun terdiam. Tak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak bisa memaksa Widya untuk menolak keinginan kedua orang tuanya. Memang sakit hati saya mendengar kalimat-kalimat itu. Rasa-rasanya percuma kami berpacaran sejak SMP.

Pikiran saya tiba-tiba kacau. Kacau sekali. Kecewa.Kecewa sekali. Saya putus asa. Benar-benar putus asa. Saya cium Widya untuk terakhir kalinya.

Saya lepaskan dekapan saya.

“Selamat tinggal,Widya!” kata saya. sayapun secepat kilat naik ke pagar besi jembatan. Saya berdiri di atas pagar itu.

“Harry….Jangaaan….!” saya dengar teriakan Widya. Saya tak perduli. Sayapun nekat. Meloncat dari pagar terjun ke Bengawan Solo.

Tahu-tahu, saya sudah ada di rumah seorang penduduk. Beberapa saat, saya melihat Widya ada di samping saya. Saya baru sadar, saya telah diselamatkan warga-warga di sekitar jembatan Kaliketek itu. Usaha bunuh diri saya gagal.

Saya cuma bisa mengucapkan terima kasih kepada Pak Sugriwo dan Pak Darno yang telah menyelamatkan saya dari arus Sungai Bengawan Solo.

Sampai kapanpun saya tak akan melupakan peristiwa itu.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Ketika Cinta Masih Berdenyut

KARYAWAN saya bilang, ada siswi peserta kursus komputer yang cantik. Katanya, namanya Asokawati Prameswari.

“Mana fotonya?” tanya saya. Julie,karyawati saya Bagian Pendaftaran, langsung membuka laci. lantas dia menunjukkan foto siswi baru peserta kursus komputer. Saat itu memang saya membuka Lembaga Pendidikan Komputer Indodata di dekat Pintu Tol Bekasi Timur.

“Oh, boleh juga,nih. Kapan-kapan kenalkan saya,dong,” pesan saya ke Julie yang saat itu bertugas bersama Dani.

Siang harinya, Juliepun memperkenalkan saya dengan Asokawati.

“Oh, my God! Betapa sempurnanya Tuhan menciptakan dia. Sayapun bersalaman dengan Asokawati yang wajahnya mirip Yuni Shara. Rambutnya pendek, bulu matanya lentik, kulitya putih, senyumnya menggetarkan hati. Siang itu dia datang diantarkan sopir pribadinya. Naik mobil Mercy. Rupa-rupanya dia anak salah seorang terkaya di Bekasi.

Seperti di sinetron. Hubungan saya dengan Asoka lancar-lancar saja. Bahkan kadang-kadang mamanya yang mengantarkan ke tempat kursus. mamanya juga bersikap ramah terhadap saya. Bahkan saya berkali-kali diundang supaya datang ke rumah Asokawati.

Kebetulan, saat Asokawati ulang tahun, sayapun datang. Ternyata temannya banyak sekali. Pestanya cukup meriah dan mewah. Asokawati mengenakan gaun yang harganya tentu sangat mahal. Saat itu Asokawati berstatus alumni salah satu sekolah tinggi ilmu komputer di Jakarta. Dia mengambil kursus di tempat saya hanya sekadar ingin memperdalam aplikasi Photoshops dan Corel Draw. Tampaknya Asokawati berbakat menggambar.

Saya menilai perlakuan Asokawati terhadap saya terlalu berlebihan. Saya diperkenalkan ke tema-temannya dan selalu mengatakan saya ini pacar Asokawati. Padahal, saya belum pernah menyatakan cinta ke Asokawati. Tapi, tak apalah. Kenyataannya saya juga naksir dia. Cuma, saya selalu bersikap hati-hati sebab saya belum mengenalnya secara mendalam. Secara lahirah, dia memang cantik. Secara batiniah, saya belum tahu.

Akhirnya, tiap malam Minggupun saya datang ke rumahnya yang cukup mewah. Sambutannya baik sekali. bahkan mamanya kaang-kadang ikut mengobrol walaupun hanya sebentar.

“Mas Harry, kalau pacaran jangan lama-lama,ya? Tante sudah ingin punya cucu,nih. Maklum Asoka satu-satunya anak Tante,” katanya setengah mendesak. Asoka memang anak tunggal. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit. Entah sakit apa, saya tidak pernah bertanya.

“Wah, belum siap, Tante. Penghasilan saya masih sedikit. Belum cukup,” saya menjawab.

“Ah, jangan begitu. nanti kalau Mas Harry sudah menikah, rezekinya akan semakin lancar. Tuhan tidak pernah keliru dalam membagi rezeki,” kata mamanya Asoka bernada berkotbah.

“Betul Tante. Tapi, jodoh juga di tangan Tuhan…,” saya membalas ucapannya. tante, lengkapnya Tante Darmodjopun tertawa kecil. Sesudah itu meninggalkan saya berdua dengan Asoka. Mengobrol di ruang tamu yang cukup luas.

Sabtu atau malam Minggu berikutnya, Asoka mengajak jalan-jalan ke jakarta sambil membawa mobil pribadinya, Honda Freed berwarna putih. kadang saya menggantikannya untuk mengendarai mobil itu. Jalan-jalan ke Ancol, ke kafe, nonton atau ke mana saja sampai larut malam. terkadang pukul 03:00 WIB dini hari baru sampai ke rumah Asoka. Mamanya tidak marah.

Satu hal yang sulit saya pahami yaitu, Asoka agresif sekali. Baru pacaran beberapa kali saja sudah seperti itu. Mengajak menginap di hotel berbintanglah, mengajak ke Puncaklah dan lain-lain. Saya faham maksudnya. namun intuisi saya selalu mengatakan, jangan ikuti dulu kemauannya yang berlebihan iitu.

Memang, banyak karyawan saya yang merasa aneh. Kenapa tidak segera melamar saja. Cewek secantik itu, jangan-jangan disabet cowok lain.

“Buruan, Pak. nanti Asoka digaet cowok lain!” Irawan, salah seorang karyawan saya memanasi.

“Iya,Pak. Zaman sekarang cowok-cowok kan banyak yang nekat dan agresif,” Sofyan, juga karyawan saya, menambahi ucapan Irawan.

“Betul,Pak. Kalau saya jadi Pak Harry, tentu Asoka sudah saya hamili,” kata Edi Raharjo yang membuat semua karyawan tertawa.

Iya,ya. Saat itu saya baru lulus dari S-2 Komputer dan langsung mengelola lembaga pendidikan komputer. Usia 23 tahun. Relatif masih muda. Sedangkan Asoka sekitar 22 tahun. Seimbanglah. namun saya punya rencana akan menikah pada usia 25 tahun saja.

Begitulah. dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun, akhirnya sayapun berusia 25 tahun. Sesuai dengan rencana, maka sayapun merasa sudah siap melamar Asokawati. Apalagi saat itu lembaga pendidikan yang saya kelola sudah bubar karena saya bekerja di PLN Pusat sebagai Staf Ahli dan sudah berstatus sebagai pegawai tetap. Artinya, sudah ada gaji dan tunjangan tetap.

Namun, lagi-lagi intuisi saya selalu menyatakan, sebaiknya jangan menikah dengan Asoka. sayang, saya tak menemukan jawaban kenapa saya tidak boleh menikahi Asoka. Ada apa? Sebuah pertanyaan yang membuat saya melangkah ragu-ragu. Maklum, sejak dulu saya paling percaya dengan intuisi. Cuma, kali ini intuisi tu tak memberikan jawaban yang jelas. tak memberikan petunjuk apa-apa. Ada apa ini?

Selama ini, saya sudah terlanjur jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Bukan karena Asokawati cantik. Bukan karena dia anak orang kaya. Bukan karena dia sarjana komputer sama dengan saya. Tapi, saya suka karena dia bicaranya enak. Selalu nyambung. Enak diajak gaul. Cakrawala pemikirannya luas. Rajin shalat. Pandai membaca Al Qur,an. bahkan Asokawwati mengajak saya untuk naik haji bersama sesudah menikah nanti.

“Naik haji bersama? Oh, alangkah indahnya jika itu bisa menjadi kenyataan,” gumam saya dalam hati.

Karena saya merasa tidak ada kekurangan apa-apa pada diri saya dan Asokawati, akhirnya, sayapun menikah dengan Asokawati. Sebagian mantan teman kuliah saya dan Asokawati, sebagian teman kerja saya dari PLN Pusat, sebagian mantan karyawan yang pernah bekerja di lembaga kursus komputer saya, kerabat saya dan Asokawati dan undangan lainnya, memenuhi salah satu ruangan di Hotel Pan Sari Pasific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Sayang, ayah dan ibu saya yang berada di Kota Bojonegoro tak bisa hadir karena sudah tua.

Setahun kemudian, kami berdua dikarunia seorang bayi perempuan yang imut-imut. Saya beri nama Monitorika. Sebuah nama yang ada hubungannya dengan komputer. Beberapa bulan kemudian Monny,panggilan anak kami, telah punya gigi. Bisa tersenyum lucu. bahakn sudah bisa berjalan, walaupun masih terjatuh-jatuh. Imut-imut sekali.

“Papaaa….!” tiba-tiba Minggu pagi itu saya mendengar teriakan Asokawati dari kamar mandi. Sayapun bergegas berlari.

“Ada apa?” tanya saya. Saya lihat Asokawati memegang dadanya.

“Segera ke rumah sakit,Pa….Jantung saya kambuh,” pintanya. sayapun segera meminta bantuan Bibi Mintuk untuk mengasuh Monny. saya langsung mengajak Asokawati memasuki garasi. Langsung saya tancap gas Honda Freed miliknya.

Namun, di tengah perjalanan Asokawati terkulai tak berdaya. Mobil saya hentikan di pinggir jalan. Saya gerak-gerakkan tubuhnyya. Diam. Matanya terpejam. saya pegang denyut nadi tangannya. Tidak ada.

“Oh, my God. Benarkah ini?” saya tak percaya. Langsung saya menghubungi mamanya lewat HP. Dari pembicaraan lewat HP iitulah saya baru tahu. Asokawati sudah dua kali operasi jantung di Singapura. Ayahnya, dulu meninggal juga karena penyakit yang sama.

Bulan-bulan berikutnya, saya terpaksa membesarkan Monny sendirian. Wlaupun ada baby sitter, namun itu tidak cukup.

Hari-hari terasa sepi.Saya hanya punya Monny. Cintaku kini hanya untuk Monny. Selama jantungku masih berdenyut, saya berjanji akan membesarkan Monny.

Sumber foto: elitha-eri.net

 

Hariyanto Imadha

Facebook/Blogger

CERPEN: Ketika Persahabatan Berharap Lebih

WAKTU itu saya kuliah di fakultas ekonomi, akademi bahasa asing dan fakultas hukum. Pagi di fakultas ekonomi, siang di akademi bahasa asing dan malam di fakultas hukum. Karena sulit mengatur waktu, kadang-kadang saya tidak masuk kuliah.

Untuk menyiasati supaya saya tidak ketinggalan kuliah, maka tiap perguruan tinggi saya memiliki sahabat mahasiswi yang membantu saya. Artinya, mereka bersedia meminjamkan buku catatannya selama saya tidak untuk kuliah untuk saya fotokopi. Istilah kerennya, mereka menjadi sekretaris saya. Mereka memang saya pilih yang tulisannya bagus dan tentu saja cantik.

“Tolong dong, pinjam catatan yang kemarin saya tidak masuk” Saya meminjam buku catatan ke Vera, teman kuliah di fakultas ekonomi. Dengan senang hati, buku itu dipinjamkan ke saya. Walaupun tidak minta ditraktir, maka sebagai ucapan terima kasih saya traktir Vera makan siang di kantin kampus.

Hal yang sama juga lakukan untuk Lunaya, mahasiswi akademi bahasa asing. Demikian pula di fakultas hukum saya dibantu Febri. Memang sih, konsekuensinya saya harus keluar biaya banyak. Lantas, untuk apa kuliah banyak? Semula hanya iseng ikut tes, ternyata diterima. Padahal yang ikut ribuan orang. Akhirnya, saya kuliah lagi. Begitu seterusnya.

“Jangan lupa, besok belajar bersama di rumah saya” Febri mengingatkan. Tiap Minggu memang ada kegiatan belajar bersama di rumahnya. Jumlah anggotanya cukup banyak, sekitar 17 mahasiswa.

“O ya, saya pasti datang” Janji saya. Karena kebetulan rumah Febri dekat rumah saya, bahkan satu perumahan di Sunter Hijau Permai, jakarta Utara, maka sayapun pulang bersama dengan menggunakan sepedea motor. Apalagi, pulang kuliah pasti malam hari. Kuliahnya memang sore hingga malam.

Begitulah persahabatan saya dengan Vera di fakultas ekonomi, Lunaya di akademi bahasa asing dan Febri di fakultas hukum. Adalah hal biasa kalau saya mengajak Vera makan siang bersama di Kentucky, mengajak makan Lunaya ke perpustakaan untuk mencari buku atau mengajak Febri mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di kampus.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan dua tahun berjalan sudah persahabatan kami. Saya selama ini menganggap mereka sebagai sahabat saja, sebab sebenarnya saya sudah punya pacar yang kuliah di fakultas psikologi, Yogyakarta.

Namun suatu ketika saya sedang makan siang bersama dengan Vera di kantin kampus, dia sempat bertanya.

“Kemarin siapa yang Wendy ajak jalan-jalan ke Blok M?”. Vera menatap wajah saya dan menunggu jawaban.

“Kemarin?” Saya mencoba mengingat-ingat. “Oh, itu Lunaya, teman kuliah di akademi bahasa asing. Selama ini Vera, Lunaya dan Febri tahu kalau saya memang kuliah di tiga perguruan tinggi. “Memangnya kenapa?”

“Cantik,ya?” Vera memancing. Saya tertawa “Ya, yang namanya wanita pasti cantik”
“Pacarmu?” Pancing Vera.
“Enggaklah, dia teman saja. Sama seperti teman-teman lain di akademi bahasa asing lainnya. Memangnya saya tidak boleh mengajak teman wanita? Nanti kalau saya bawa teman pria, Vera mengira saya gay atau homo. Ha ha ha…” Saya menjelaskan.

Ternyata, Lunaya juga mengetahui hubungan saya dengan Febri. Febripun memergoki saya makan siang bersama Vera. Satu hal yang di luar dugaan, ternyata mereka saling mengenal. Katanya, mereka dulu satu SMAN di salah satu SMAN di Jakarta. “ Oh, bahaya,nih.” Saya menggerutu di dalam hati.

Apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Kalau selama ini saya menganggap sebagai teman biasa atau sebagai sekretaris pribadi, ternyata mereka menghendaki lebih dari itu. Bahkan mereka menuntut saya supaya memilih salah satu dari mereka. Tentu sulit. Saya hanya minta waktu sekitar satu bulan.

Kebetulan waktu itu liburan semester. Pacar saya,Ulfa, yang kuliah di Yogya berlibur ke Jakarta dan menginap di rumah tantenya di kawasan Cibubur. Kesempatan itu saya gunakan untuk mengajak Ulfa jalan-jalan dan sekaligus saya memperkenalkan Ulfa ke Vera,Lunaya dan Febri. Mereka bertiga akhirnya tahu kalau saya sudah punya pacar. Kepada Ulfapun saya jelaskan bahwa mereka bertiga adalah teman biasa.

Sejak saat itu, hubungan saya dengan Vera, Lunaya dan Febri kembali baik. Toh, mereka sudah dewasa. Kuliah sayapun berjalan lancar sehingga beberapa semester kemudian saya berhasil lulus dari fakultas ekonomi, akademi bahasa asing dan fakultas hukum. Vera, Lunaya dan Febri juga lulus. Akhirnya saya mengadakan acara syukuran mengundang 50 teman-teman terbaik saya dari ketiga perguruan tinggi tersebut untuk makan siang bersama.

Hadir Vera dan calon suaminya, Lunaya dengan calon suainya dan Febri juga dengan calon suaminya. Suasanya cukup meriah dan menyenangkan.

Sumber foto: forum.detik.com

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

CERPEN: Ketika Cinta Dihantam Prahara

SURABAYA 1971. Waktu itu saya merupakan siswa pindahan dari SMAN 4 Surabaya ke SMAN 6 Surabaya. Dari kelas 2 ke kelas 3 IPS. Dulu istilahnya Sos.Saya di 3 Sos 1. Saya satu kelas dengan Jully Jethro yang saat itu jadi pacarnya Arthur Kaunang, pemain band AKA.

Satu bulan, belum banyak siswa SMAN 6 yang saya kenal. Namun, ketika saya aktif menulis cerpen di buletin Elka,buletin sekolah, maka banyak siswa yang ingin kenal. Tidak hanya sesama kelas 3, tetapi juga adik-adik kelas 1 dan kelas 2.

“Yang mana sih yang namanya Harry?” begitu, hampir tiap hari ada siswa masuk ke kelas saya pada jam istirahat jika kebetulan saya sedang berada di kelas. Salah satunya bernama Lia Amelia, kelas 3 IPA 1.

“Boleh kan kenalan?” tanyanya. Dia ditemani seorang teman. Tentu saja saya menjawab boleh. Semula saya menganggap teman saja. Namun ketika pulang sekolah, saya lihat dia berdiri di depan sekolah.

“Mau pulang,ya?” saya menghentikan motor.

“Iya. Motor saya lagi di bengkel. Boleh nggak minta antar?” tanyanya. Tentu saja dengan senang hati saya mengatakan boleh. Diapun segera duduk di motor saya. Dan motor segera berjalan pelan. Sepanjang perjalanan ngobrol ke sana ngobrol ke sini. Dalam hati saya merasa tertarik juga. Di samping enak diajak bicara, Lia juga termasuk cantik. Sayang, tak bisa ngobrol lama, karena telah sampai di rumahnya di kawasan Jl.Pucang Anom Timur.

Itulah awalnya. Lia tahu, saya baru putus pacaran dengan siswa SMAN 4. Saya juga tahu, saat itu Lia masih berstatus pacarnya Wawan, teman sekelasnya. Namun tampaknya Lia agresif sekali melakukan pendekatan ke saya. Tanpa sengaja, hubungan Lia dan Wawanpun putus. Untung Wawan sabar, saya dan Wawan tetap bersahabat baik.

Begitulah. Akhirnya tiap malam Minggu saya apel ke rumah Lia. Bahkan tiap malam Minggu suka ke resto, jalan-jalan atau nonton bioskop. Bioskop pertama yang pertama kalinya saya tonton berjudul “Cintaku Jauh di Pulau” di Indra Theatre..

Walaupun saya pernah ganti-ganti pacar, namun dengan Lia saya merasakan cinta yang sesunggguhnya. Saya merasakan indahnya cinta. Hangatnya cinta. Tiada hari tanpa Lia. Di mana ada saya,di situ ada Lia. Semua siswa SMAN 6, mulai kelas 1 hingga kelas 3 tahu kalau Lia adalah pacar saya. Dan hidup terasa indah sekali. Bahkan saya berharap, Lia adalah cinta terakhir saya. Saya bosan ganti-ganti pacar.

Enam bulan tanpa terasa, kami saling memadu cinta. Sampai akhirnya Dika, teman sekelas bercerita, kalau Lia punya pacar lain.

“Kok, Dika tahu?” tanya saya pada jam istirahat. Kebetulan Lia tidak masuk sekolah karena sakit.

“Ya tahu,dong.Kan saya tetangga seberang rumah,” sahut Dika. Kami saat itu ngobrol di dalam kelas. Dikapun bercerita kalau tiap Minggu malam atau malam Senin, selalu ada mobil Mercy parkir di depan rumah Lia. Dan Lia pernah datang mencek siapa cowok itu.

“Cowoknya kuliah di Fakultas Hukum,Unair,Harry. Namanya Buddy. Maaf ya,Harry. Bukan maksud saya mengadu domba atau memecah belah hubungan Harry dan Lia. Cuma, saya menyampaikan informasi apa adanya,” ujar Lia yang juga berparas cantik itu.

Dua hari kemuudian, Lia telah masuk kembali ke sekolah. Sewaktu beli es campur kacang hijau di Selatan kantor pos, sayapun mencoba memancing info tentang pacar lain Lia. Namun Lia mengatakan kalau yang datang tiap Minggu malam adalah putera Om-nya. Dengan kata lain, cowok itu masih ada hubungan famili. Tidak mungkin menjadi pacarnya.

Karena penasaran, Minggu malampun saya nekat mendatangi rumah Lia. Benar saja, di situ ada mobil Mercy warna putih. Dan ketika saya masuk, saya lihat Lia sedang ngobrol dengan cowok itu. Terkesiap saya melihatnya. Masak sih, kalau masih ada hubungan famili, duduknya rapat dan semesra itu?

Sambil menahan emosi, sayapun memperkenalkan diri dengan cowok itu. Tidak lama saya ngobrol-ngobrol dengan Lia. Cuma pura-pura tanya tentang hal-hal yang ada hubungannya dengan sekolah. Akhirnya, sayapun pulang.

Esok harinya. Pada jam istirahat, saya mengajak Lia ke Selatan kantor pos. Biasa, beli es campur kacang hijau atau terkenal dengan sebutan Es Pak Usup. Rasanya memang sangat enak dan cukup terkenal untuk ukuran Surabaya.

Saat itulah,saya tanya Lia agar Lia mau terus terang.

“Lia. Saya butuh kejujuran. Cowok kemarin saudara, teman atau pacar?” saya memulai pembicaraan. Semula Lia selalu membantah. Namun, akhirnya mengaku juga.

“Maaf,Harry. Buddy memang pacar saya. Tapi, mohon pengertiannya. Harry tahu kan kalau mama saya lagi dirawat di rumah sakit? Harry tahu kan papa saya sudah lama meninggal? Harry tahu kan selama ini yang membiayai sekolah saya Mbak Nina, kakak saya? Gaji Mbak Nina tidak cukup untuk membiayai biaya perawatan mama,Harry,” cerita Lia.

“Maksudnya?”

“Ya, selama ini Buddy yang membayarnya,” Lia mengaku. Saya ingat kata Dika, Buddy anaknya orang kaya yang tingggal di Jl.Diponeoro.

“Jadi, Lia ingin membalas budi?”

“Habis bagaimana,Harry? Solusinya bagaimana? Beri dong solusi,” jawab Lia. Tanpa kami sadari, kami terjebak pada pertengkaran.

Semula hanya pertengkaran biasa saja. Namun lama kelamaan pertengkaran semakin panas.  Apalagi, mungkin di luar kesengajaan, Lia mengatakan butuh pacar yang bisa membiayai hidupnya. Sayapun merasa tersinggung karena saya merasa diangggap miskin.

“O,begitu? Jadi Lia tak mau lagi jadi pacar saya karena saya miskin? Tidak mau punya pacar yang cuma punya motor?”

“Habis bagaimana,dong solusinya?” masih saja Lia ngotot.

Tanpa saya rencanakan, mungkin emosi sudah memuncak, tangan kanan sayapun dua kali menampar muka Lia. Dan sempat saya lihat darah mengalir dari lubang hidungnya.

“Aduh! Jangan begitu dong caranya!” Lia berteriak kesakitan sambil memegang mukanya. Spontan Lia membalas, gelas yang berisi es campur kacang hijau langsung disiramkan ke baju saya. Ketika saya akan menampar lagi, Pak Usup dan teman-teman yang ada di situpun melerainya.

“Sudah!Sudah!Sudah!…” begitu cegah teman-teman.

“Oke Harry! Hubungan kita cukup sampai di sini saja!Putus!,” teriak Lia sambil meninggalkan saya.

“Itu lebih baik!” jawab saya. Juga dengan nada yang keras.

Begitulah. Sejak saat itu, saya tak pernah bertegur sapa lagi dengan Lia. dari hari ke hari, saya baru merasakan, saya telah kehilangan cinta. Saya telah kehilangan keindahan. Saya telah kehilangan harapan.

Sebulan penuh saya jadi pemurung. Saya lebih banyak tinggal di dalam kelas pada jam istirahat. Namun teman-teman sekelas selalu memberi semangat.

“Sudahlah Harry. Lupakan saja Lia. Dia itu sejak dulu suka ganti-ganti pacar. Dia itu ‘ulo’. Dia itu ular,” begitu kata Gaguk Wibowo.

“Betul,Harry. Di Surabaya ini cewek yang lebih cantik daripada Lia,banyak,” sahut Lisa Harahap yang berwajah cantik.

“Harry. Kalau mau, kapan-kapan saya kenalin cewek SMAN 5. Cantik,Har. Dia juga belum pernah pacaran. Kalau mau, kapan-kapan akan saya kenalkan,” ujar Arifin.

Begitulah, suatu saat ada pertandingan voli antara SMAN 6 dan SMAN 5 yang diadakan di SMAN 5, maka Arifinpun memperkenalkan saya dengan cewek yang dijanjikannya.

“Harry,” saya memperkenalkan diri.

“Siska.Siska Marina Yordhant,” katanya lembut. Oh, apa yang dikatakan Arifin memang benar. Siska lebih cantik dibandingkan Lia. Di tengah-tengah meriahnya pertandingan voli, sayapun asyik ngobrol-ngobrol dengan Siska. Cukup gaul juga dia.Enak diajak bicara. Sebentar-sebentar kami ttertawa. Seolah-olah kami berdua sudah berkenalan lama.

Begitulah, tiap Minggu saya ngapel ke rumahnya di Jl.Anjasmara. Kedua orang tua dan adik serta kakaknya,  bersikap ramah terhadap saya. Bahkan tak jarang saya diajaknya makan malam bersama.

Tanpa terasa, hari demi hari,bulan demi bulan, sayapun berhasil melupakan Lia. Kehancuran cinta saya, telah tertutup dengan kehadiran Siska.

Saya pegang teguh motto yang diberikan Dika ke saya. Motto itulah yang saya jadikan motivasi buat saya.

Bunyinya:” Patah tumbuh. Hilang berganti”

Sumber gambar: mastorsepang.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Bloogger.