CERPEN: Misteri Kali Alfamart di BSD Nusaloka

SUDAH empat mobil terjerumus di depan mini market Alfamart belakang kantor pos, yang ada di BSD Nusaloka, BSD City,Tangerang Selatan. Padahal situasi di situ wajar-wajar saja. Antara jalan aspal dan kali juga ada beton pembatas. Semua pengemudinya juga sudah berpengalaman mengemudi minimal lima tahun. Kenapa bisa terjadi kecelakaan seperti itu dan mengakibatkan pengemudi dan penumpangnya luka parah?

Suatu saat ketika saya naik ojek dan melewati Alfamart tersebut, maka sayapun mulai mengorek informasi.

“Katanya sudah empat kali masuk kali ya, Bang?” tanya saya

“Oh, ya. Semua pengemudinya luka parah,” jawabnya sambil terus mengemudikan motornya. Saya membonceng di belakangnya.

“Memangnya, dulunya di situ merupakan daerah apa?”

“Kalau Tangerang Selatan, dulu merupakan hutan karet. Dan sekitar Alfamart dulu merupakan persawahan”

“Tidak ada perumahan penduduk?”

“Ada,sih. Jumlahnya sekitar ratusan rumah”

“Tidak ada tempat pemakaman umum?”

“Ada sih. Tapi ketika pembangunan BSD City dimulai, semua makam dipindahkan. Cuma, saat itu ada yang aneh”

Mendengar kata “aneh”, saya mulai penasaran.

“Anehnya di mana, Bang?” saya terus bertanya.

“Ya, ada salah satu makam tiba-tiba hilang tanpa bekas, Pak” katanya kepada saya.

“Tahu namanya, makam siapa?”

“Kalau nggak salah, namanya Ranggi”

“Siapa itu?” saya semakin penasaran.

“Dulu, cerita orang-orang, Ranggi itu saudara kembar Rangga. Keduanya laki-laki”

“Siapa mereka?”

“Mereka anak dari petani bernama Danu Rengga”

“Siapa Danu Rengga?”

“Dia seorang petani, juga punya hobi memelihara kuda.”

“Bagaimana kehidupan Danu Rengga, Rangga dan Ranggi?”

“Sebelum ibunya meninggal, mereka akur-akur saja. Tapi setelah ibunya meninggal, mereka kelihatannya kehilangan kasih sayang dan suka bertengkar”

“Bertengkar soal apa saja?”

“Kata ayah saya, mereka bertengkar saat orangtuanya beli satu kuda lagi. Jadi total ada dua kuda. Satu khusus untuk ayahnya. Satu lagi untuk Rangga dan Ranggi. Masalahnya, mereka berdua sering rebutan untuk menunggang kuda itu”

“Terus?”

“Ya, suatu saat mereka berkelahi hebat. Hari pertama mereka masih berkelahi tangan kosong. Hari kedua, mereka berkelahi menggunakan golok.”

“Oh, ada yang tewas?”

“Itulah. Ranggi kalah dan lehernya kena tebas golok”

“Terus? Bagimana?”

“Menurut ayah saya yang kebtulan menyaksikan kejadian itu, sebelum Ranggi menghembuskan nafasnya yang terakhir, sempat bersumpah”

“Bagaimana sumpahnya?”

“Ranggi bersumpah. Jika Rangga atau siapapun yang melewati tempat dia meninggal, akan dibikin celaka. Sesudah itu Ranggi menghembuskan nafasnya yang terakhir”

“Di mana lokasi Ranggi meninggal?”

“Ya, di kali tepat di depan mini market Alfamart itu”

“Oh, mungkinkah kecelakaan-kecelakaan itu ada hubungannya dengan sumpah Ranggi?”

“Wah, saya bukan paranormal,Pak. Saya kurang tahu. Yang pasti, jalan di depan Alfamart itu memang sangat rawan dan sudah empat kali ini ada mobil tercebur ke kali”

“Oh,ya. Dulu, ketika makam Ranggi tiba-tiba menghilang tanpa bekas, apakah tidak ada usaha-usaha supranatural untuk menemukannya kembali?”

“Usaha sih ada. Tapi hasilnya tidak ada. Nol semuanya. Sampai hari ini, di mana makam Ranggi, tidak ada yang tahu. Namun, sebenarnya juga ada cerita lain zaman dulu”

“Apa itu?”

“Dulu, di kali itu, ada sumur. Namanya Sumur Gobak. Entah kenapa dinamakan Gobak dan apa artinya Gobak, saya tidak tahu”

“Ada apa dengan sumur Gobak?”

“Dulu, sumur itu digunakan untuk bunuh diri seorang pemuda yyang patah hati. namanya Randu Dan sejak itu, air sumur itu tidak boleh diminum”

“Ada keanehannya?”

“Ada. Tiap malam Jum’at, ada suara-suara yang mengancam. Kalau ada perawan lewat di dekat Sumur Gobak itu, apalagi naik delman, akan dibuat celaka.”

“Oh, begitu? Kalau begitu, kira-kira kecelakaan mobil itu akibat ulah Ranggi atau Randu?”

“Hahaha…Saya kan bukan paranormal, Pak. Mungkin Ranggi dan Randu bersatu dan bersama-sama membalas dendam”

“Apakah jenasah Randu sudah dimakamkan secara baik-baik saat itu?”

“Nah itu dia,Pak. Sekitar 40 hari dimakamkan, tiba-tiba, makamnya hilang tanpa bekas”

“Oh, sama dengan kasus hilangnya makam Ranggi?”

“Begitulah, Pak”

Sayang, tanya jawab terpaksa berhenti karena saya telah sampai di rumah saya di Jl. Bintan 2 Blok S1/11, BSD Nusaloka Sektora XIV-5, BSD City, Tangerang Selatan.

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerita fiiktif.

Sumber foto: antarafoto.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Iklan

CERPEN MISTERI : Misteri Kamar Penyimpan Beras

BOJONEGORO. Saat itu saya masih duduk di bangku SMPN 2 Kelas 1. Dekat dengan rumah saya yang berlokasi di Jl.Trunojoyo No.4. Sebuah rumah besar seperti  istana dan berdiri di atas tanah seluas 5.000 meter persegi. Sekarang dipakai untuk kantor pelayanan pajak. Sebesar kantor PMI. Lokasi di tengah kota. Di situlah masa kecil saya. masa kanak-kanak saya yang sangat menyenangkan.

Saat itu kakak-kakak saya sudah pindah ke Surabaya, jakarta dan lain-lain untuk melanjutkan kuliah ataupun bekerja. Ayah sibuk mengurus Yayasan SMP Nuswantara yang ada di belakang rumah. Ibu sibuk memasak di dapur. Tak jarang saya bermain sendiri di rumah. Atau menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku komik, buku silat, psikologi, ekonomi dan apa saja.

Ada satu hal yang membuat saya merasa aneh. Kenapa tiap kali saya mengambil sepeda ontel yang disimpan di kamar penyimpan beras, buluk kuduk saya berdiri. Padahal itu pagi hari. Memang terasa aneh, padahal tidak ada sesuatu yang sebenarnya patut dicurigai. Tapi indera keenam saya mengatakan, ada sesuatu di kamar itu. Entah apa, saya belum bisa menjabarkannya.Yang pasti kamar tersebut juga berfungsi untuk menyimpan berkarung-karung beras untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Di hari yang lain, ketika saya akan mengambil sepeda di kamar tersebut, saya mendengar suara anak kecil menangis. Hanya beberapa detik. Bulu kuduk sayapun merinding. Meskipun demikian saya tetap memberanikan mengambil sepeda. Hal itupun sudah saya ceritakan ke ibu saya.

“Ah, kamu halusinasi saja. Ibu kan sudah puluhan tahun menempati rumah ini. Tidak pernah sekalipun mendengar suara-suara aneh di kamar penyimpan beras itu. Apalagi tiap hari ibu atau Mbok Ni juga mengambil beras. Tidak ada apa-apa. Sudahlah, jangan dipikirkan.” begitu jawaban ibu. Sebenarnya saya mangkel juga mendengar jawaban seperti itu. Tapi apa boleh buat, saya tidak bisa meyakinkan ibu saya.

Seminggu kemudian, suara anak kecil menangis itu terulang lagi. Hanya beberapa detik. Saya memberanikan diri untuk melihat seisi kamar penyimpan beras itu. Semua lemari saya buka, tidak ada apa-apa. Tiap sudut saya periksa, tidak ada apa-apa. sayapun ceritakan hal tersebut ke ayah saya. jawabannya sama dengan ibu saya. katanya, saya mengalami halusinasi. Kebetulan sejak SMP saya suka membaca buku-buku psikologi sehingga saya tahu apa itu halusinasi dan sekaligus saya yakin saya tidak mengalami halusinasi. Tetapi, lagi-lagi saya tak punya cara untuk meyakinkan ayah akan adanya suara yang aneh itu.

Akhirnya, sewaktu di sekolah, saya ceritakan hal tersebut ke teman-teman. Antara lain ke Supartono, Mulyono, Agus Mulyono, Santoso dan lain-lain. Sebagian mentertawakan saya namun sebagian mempercayai cerita saya.

“Coba deh, tanyakan ke guru agama kita,” usul Mulyoso yang cukup masuk akal. Karena saat itu jam istirahat, sayapun memberanikan diri menghadap guru agama (saya lupa namanya) di ruang guru. saya ceritakan semua kejadian yang saya alami. Beliau cuma memberi saran, agar saya mencoba sering-sering shalat di kamar penyimpan beras itu. Masuk akal.

Selama seminggu, saya memberanikan shalat di kamar itu. Kadang saat Dhuhur, kadang Ashar. Yang pasti saya tidak berani memasui kamar itu saat Maghrib, Isya maupun Subuh. Menyeramkan. walaupun rumah itu indah, tetapi memiliki aura yang negatif. Entah ada apa sebelum rumah itu dibangun saya tidak tahu.

Sampai suatu saat, tengah malam sekitar pukul 23:00 WIB dan kebetulan Malam Jumat, saya terbangun dari tidur karena ingin buang air kecil. Maklum udara malam itu dingin sekali. Celakanya, kamar mandi yang ada di dalam rumah sedang tidak ada air karena krannya rusak. Terpaksa saya harus buang air ke kamar mandi di rumah bagian belakang. Urut-urutannya kamar makan, kamar penyimpan beras, dapur dan kamar mandi. Tetapi, ketika tepat melewati kamar penyimpan beras, tiba-tiba pintu kamar itu yang semula tertutup mendadak terbuka. Luar biasa terkejut saya. Padahal saya tahu di dalam pasti tidak ada orang. Dengan menahan rasa takut, saya tetap melanjutkan berjalan menuju ke kamar mandi.

Esoknya saya ceritakan kejadian itu ke ayah dan ibu. Lagi-lagi saya dikatakan mengalami halusinasi. Menyebalkan sekali. Saat itu saya agak ngotot dan mengatakan seyakin-yakinnya bahwa apa yang saya lihat benar-benar terjadi. bahkan saya mengatakan demi Allah SWT saya benar-benar mengalaminya. Akhirnya ayah saya berjanji akan mengundang orang pintar.

“Sabarlah. Satu dua hari ini ayah akan mencarikan orang pintar untuk memeriksa kamar itu,” janji ayah. Agak lega juga saya mendengar janji itu.

Malam harinya, ketika saya tidur. Saya merasa jari-jari kaki saya terasa ada yang memegangnya. Sayapun terbangun. Tetapi tidak ada siapa-siapa. Namun tiba-tiba saya melihat bayangan anak kecil telanjang bulat yang berlari cepat meninggalkan kamar tidur saya sambil tertawa kecil. Menembus pintu kayu yang tertutup. Hampir saya berteriak ketakutan, tapi tak mampu. Saya tak berani bangkit dari tempat tidur. Saya cuma berdoa semoga saya tidak diganggu mahluk halus. Sampai pagi, saya tidak bisa tidur.

Esoknya adalah har Minggu. Seperti biasa saya bermain bulu tangkis di halaman belakang rumah di bawah pohon mangga yang rindang. saat itu teman SMP saya yang datang yaitu Mulyoso, Supartono dan Yayan atau Yudho Heryanto yang rumahnya di belakang rumah saya. Bulu tangkis adalah hobi saya sejak kecil. Sambil bermain bulutangkis, sesekali saya bercerita kepada Mulyoso dan Supartono tentang mahluk halus di kamar penyimpan beras.

“Coba deh, saya mau lihat kamarnya,” ujar Mulyoso seusai latihan bulu tangkis. Sayapun mengajak Mulyoso dan Supartono untuk masuk ke kamar penyimpan beras itu. Dan benar saja, sekitar satu menit di kamar itu, kami bertiga mendengar suara anak kecil menangis. Hanya beberapa detik. Supartono yang penakut itupun langsung lari terbirit-birit meninggalkan saya dan Mulyoso.

“Hmmm. Sekarang saya baru percaya,” komentar Mulyoso sesudah kami berada di luar kamar tersebut. Akhirnya, sayapun saat itu punya saksi yang menguatkan pengalaman saya bahwa di kamar itu memang ada mahluk halusnya. Tetapi, kenapa sampai menempati kamar itu?

Sampai suatu hari, datanglah orang pintar yang dijanjikan ayah. Namanya Pak Nadjamuddin dari desa Jasem, Sroyo. Beliau memasuki kamar penyimpan beras diikuti ayah dan ibu saya. Saya di luar kamar. Saya lihat Pak Nadjam memeriksa seluruh ruangan. Matanya melihat ke sana kemari. Dan akhirnya beliau mengatakan bahwa ada anak kecil telanjang di kamar itu.

“Jahat atau tidak?” ibu saya yang bertanya.

“Tidak jahat, tetapi dia suka mengganggu. Maklum, dia anak kecil. Tapi kalau diganggu, dia bisa jahat juga…” ujar Pak Nadjam. Tak lama kemudian ayah, ibu dan Pak Nadjampun berbincang-bincang di luar kamar.

“Bagaimana? Kenapa dia ada di sini? Apakah dulu sebelum dibangun rumah ini dulu ada makam?” ayah saya ingin tahu.

“Tidak. Tidak ada kuburan. Dulu ada pohon beringin di sini. Pohon itu rumah anak kecil itu. Dia memang mahluk halus.” Pak Nadjam menerangkan.

“Bisa dipindahan,Pak?” ibu saya ingin tahu, setengah meminta agar mahluk halus itu dipindahkan.

“Akan saya usahakan.” janji Pak Nadjam. Pak Nadjampun kembali memasuki kamar tersebut. Membacakan beberapa ayat suci Al Qur’an dan berkomunikasi dengan mahluk halus itu. Kemudian keluar ruangan. Seolah-olah sedang membimbing anak kecil, Pak Nadjam berjalan menuju pohon mangga yang ada di paling utara dekat tembok pagar. Kemudian kembali mendekati ayah dan ibu.

“Bagaimana, Pak Nadjam,” penasaran ibu saya.

“Sudah,Bu. Kebetulan dia mau saya pindahkan ke pohon mangga itu. Namun dengan catatan, mohon tidak ada yang coba-coba menaiki pohon itu karena bisa jadi akan terjatuh atau terkena halangan lainnya. Juga, jangan ada yang memakan mangga yang berasal dari pohon mangga itu,” pesan Pak Nadjam. Ayah dan ibu sayapun mengucapkan terima kasih. Sesudah menerima upah, Pak nadjampun pulang menaiki sepeda tuanya . Bersepeda ke desa Jasem, Sroyo yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah. Bersepeda. Lumayan jauh. Maklum, jaman dulu yang punya motor masih jarang.

Dua tahun berlalu. Aman-aman saja. Kamar penyimpan beras tidak ada yang aneh. kalau saya memasuki kamar itupun tidak merinding lagi. Membuat saya jadi senang. Hidup aman. Tidak ada lagi yang perlu saya takuti. Sayapun bisa belajar dengan tenang.

Masalahnya adalah, suatu hari Minggu, teman-teman SMP datang main-main ke halaman belakang rumah yang cukup luas. Sebagian main bulu tangkis, sebagian bermain-main dengan kelinci saya yang saat itu jumlahnya ada 21 ekor. Satu hal yang di luar pengetahuan saya, salah seorang teman saya memancat pohon mangga yang di dekat tembok pagar itu. Sayapun ingat nasehat Pak Nadjam. sayapun berteriak memohon agar teman saya turun. Dia sudah naik cukup tinggi. Sekitar 15 meter. Namun teman saya yang bernama Darmawan justru tertawa.

“Memangnya saya penakut? Ha ha ha…Saya sudah terbiasa naik pohon mangga, Har…” jawabnya. Akhirnya saya cuma menasehati supaya hati-hati. Baru saja saya membalikkan tubuh karena akan menuju ke tempat kelinci-kelinci saya bermain, saya mendengar benda berat jatuh. Teman-teman berteriak. saya menengok ke ke belakang.

“Astaga…”. Darmawan jatuh. Kepalanya berdarah. Segera teman-teman memanggil becak dan membawanya ke rumah sakit. Terlambat. Begitu tiba di rumah sakit, Darmawan sudah menghembuskan nafas yang terakhir. Saya merasa bersalah dan berdosa karena sebelumnya saya lupa melarang teman-teman agar tidak naik ke pohon mangga itu. Namun semuanya sudah terjadi.

Catatan:
Cerita ini merupakan cerita fiktif.

Hariyanto Imadha
Penulis cerpen
Sejak 1973

CERPEN : Misteri Jembatan Kali Ketek

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa’ : 29) “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).” (QS. Al-Kahfi ; 6)

BOJONEGORO, 1969. Saat itu saya duduk di bangku kelas 1, SMAN 1. Dulu namanya SMA Negara. Tepatnya saya di ruang 1-4.

“Harry! Kelas ini ada mahluk halusnya,” tiba-tiba Anggraeni yang duduk di sebelah saya berkata pelan. Maklum, saat itu Pak Boediono sedang mengajar di depan papan tulis.
“Banyak?”. Saya ingin tahu. Anggraeni adalah pacar saya sejak saya di bangku SMP Negeri 2. Di SMP-pun saya satu kelas. Bahkan juga satu bangku. Sejak SMP, saya tahu Anggraeni memang mempunya indera keenam, antara lain mampu melihat mahluk halus.
“Ada dua mahluk. Satu mahluk pocong satu lagi berbentuk ular berkepala manusia,” katanya lagi. Pelan.Namun perbincangan berhenti karena kemudian Pak Boediono mengadakan tanya jawab tentang materi pelajaran yang baru saja diajarkan.

Sesudah shalat Jum’at di sekolah, pelajaranpun diteruskan. Pulang sekolah, saya dan Anggraeni dengan masing-masing bersepeda, langsung ke Restoran Orion di Bombok. Makan siang bersama. Seperti biasa, saya dan Anggraeni bersepeda menuju ke jembatan Kali Ketek. Sambil mengayuh sepeda, kami berbicara apa saja. Terasa indah cinta kami berdua saat itu.

Tanpa terasa, kami telah sampai ke jembatan Kaliketek yang terletak di Sungai Bengawan Solo. Tepatnya di sebelah Utara Kota Bojonegoro. Kenapa harus ke jembatan itu? Maklum, tempat pacaran di kota tersebut sangat minim. Paling ke pemandian atau kolam renang Dander. Tapi terlalu jauh, skitar 14 kilometer dari kota. Sedangkan jembatan Kali Ketek hanya sekitar lima kilo dari sekolah..

Akhirnya sampailah ke jembatan itu. Sepeda kami parkir di jalur pejalan kaki. Dulu, jalur pejalan kaki masih bagus. Masih ada kayu-kayu yang bagus dan kuat. Selanjutnya kami memandangi arus sungai yang saat itu cukup deras.

“Harry…! Saya melihat mahluk halus…,” Anggraeni tiba-tiba berbicara lagi.
“Siang-siang kok ada mahluk halus?”. Komentar saya.
“Mahluk halus tidak pernah tidur, Harry”
“Di mana Anggra melihatnya?”
” Di bawah. Paling tidak saya melihat ada empat mahluk halus. Semuanya pocong. Yuk kesana…!”
“Ngapain?”
“Saya ingin ngobrol-ngobrol dengan mereka.” Kalau Anggra bicara seperti itu, bagi saya tidak aneh. Sewaktu masih di SMP-pun pernah ngobrol-ngobrol dengan hantu WC.

Saya dan Anggraenipun mengambil sepeda dan kemudian meluncur menuju ke bawah. Sesudah menyandarkan sepeda, Anggraenipun mengajak saya ke bawah sebuah pohon yang cukup angker. Di situ, Anggraeni mulai bertanya ke mahluk-mahluk halus itu. Seolah-olah berbicara sendiri. Maklum, saya tidak bisa melihat mahluk itu.

Sekitar 15 menit kemudian, Anggraeni mulai bercerita.
“Mereka semuanya cewek. Yang pertama bernama Anisa. Dia meninggal karena bunuh diri. Terjun dari jembatan Kali Ketek. Dia lakukan itu akibat patah hati. Dia hamil, tetapi cowoknya tidak mau bertanggung jawab…”
“Yang kedua?”. Saya ingin tahu.
“Kedua, namanya Wanti. Sri Wanti Agustini. Dia juga bunuh diri. Sebelum terjun dari jembatan, dia minum racun tikus. Dia bunuh diri karena akan dijodohkan dengan ayahnya. Dia tidak mau karena akan dijodohkan dengan lelaki yang sudah punya isteri.”

“Terus?”
“Ketiga. Namanya Sumarni. Penjual jamu. Umurnya 23 tahun. Dia diperkosa oleh pedagang sapi. Dia merasa malu dengan saudara-saudaranya. Tidak tahu apa yang harus diperbuat. Akhirnya dia nekat bunuh diri dengan cara yang sama. Terjun dari jembatan Kali Ketek.”

“Terakhir?”
“Terakhir namanya Sumini. Dia dari desa seberang. Ketika akan ke Bojonegoro berjalan kaki, di tengah jembatan, dia dirampok. Perhiasannya dirampas. Kemudian dia dilemparkan ke Sungai Bengawan Solo”
“Oh,…Mengerikan sekali nasib mereka. Kenapa musti harus bunuh diri? Apakah tidak ada jalan lain?”.Komentar saya.
“Orang yang bunuh diri adalah orang yang mengalami putus asa luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, dia merasa tidak ada jalan keluar yang tepat, kecuali bunuh diri. Biasanya, orang yang bunuh diri adalah orang-orang yang tertutup. Tidak pernah membicarakan secara terbuka masalahnya kepada orang lain. Dipendam sendiri. Akhirnya,merekapun bunuh diri.” Anggraeni bercerita.

Kata Anggraeni, sebenarnya di sekitar Jembatan Kali Ketek cukup banyak mahluk halus bergentayangan. Terutama pada hari Jumat Kliwon. Saat itu mereka berkumpul dan saling berkomunikasi. Mereka memang punya komunitas sendiri.
“Mereka itu mahluk halus yang berasal dari manusia atau setan yang menyamar sebagai manusia?”. saya penasaran. Sebab, guru agama saya pernah bilang bahwa manusia yang sudah meninggal, dunianya adalah alam kubur. Tidak mungkin bisa berada di alam manusia yang masih hidup. Sebab, dimensinya lain.

“Betul Harry. Saya setuju dengan pendapat itu. Mereka sebenarnya bukan jelmaan manusia yang telah meninggal. Tetapi, mereka adalah setan-setan yang bisa mewakili manusia-manusia yang bunuh diri itu. Mereka memalsukan dirinya. Bisa merubah bentuk seperti arwah-arwah yang telah meninggal. Jadi, mereka tahu apa yang dilakukan merekayang bunuh diri.” Cerita Anggraeni yang punya indera keenam.

“Lantas, apa maksud mereka bergentayangan di dunia kita?”
“Setan suka mengganggu orang yang masih hidup.Jangan heran kalau di jembatan itu sering terjadi kecelakaan. Ketika kereta api masih bisa melintasi jembatan itu, banyak orang yang tewas terserempet kereta api. bahkan, ada yang tertabrak langsung. Sejak itulah, maka kereta api tidak boleh lagi melintas di situ. Penduduk terpaksa kalau bepergian naik sepeda, becak atau dokar…”
“Oh, pantaslah. Tak ada lagi kereta api lewat di situ”. Saya manggut-manggut tanda mengerti. Saya yang saat itu punya perpustakaan komik dan buku-buku ilmu pengetahuan, Anggraeni tidak hanya mampu melihat mahluk halus, tetapi juga bisa melihat masa lalu dan masa yang akan datang.

“Oh, ya. Kenapa ya, jembatan ini dinamakan Kali Ketek?”
“Oh, itu sesuai namanya. Dulu, di seberang ana, di Desa Banjarsari dan Desa Kalisari dan desa-desa sekitarnya, masih berupa hutan kecil. Banyak kera atau ketek yang berkeliaran. Dulu jembatan itu berupa jembatan dari bambu. Banyak kera berkeliaran di jembatan itu. Tetapi mereka kera yang baik. Tidak suka mengganggu manusia..”
“Oh, begitu?”

“Lantas, misteri apa lagi yang ada di jembatan ini?”
“Kata ayah saya, kalau malam Jumat akan terdengar suara gending. Tapi kalau kita cari, nggak bakalan ketemu. Ayah saya juga pernah melihat ada dua orang Belanda di jembatan itu, tetapi tiba-tiba menghilang. Atau kadang-kadang ada bau wangi semerbak, tetapi cepat berubah menjadi bau busuk…”
“Kenapa bisa begitu?”
“Kabarnya, dulu banyak pejuang kemerdekaan Indonesia yang dibunuh oleh Belanda di jembatan itu. Ditutup matanya, langsung ditembak…”

“Apa lagi?”
“Ingat peristiwa G-30-S/PKI?”
“Oh, tentu…”
“Nah, di sungai ini, hampir tiap hari kita bisa melihat mayat-mayat mengapung. Tidak hanya satu dua. Tetapi puluhan. Mereka adalah mayat-mayat orang-orang yang diduga atau dipastikan pendukung PKI”
“Oh,ya. Ingat-ingat…”
“Sebagian mayat mereka tersangkut dan tenggelam di bawah jembatan. Jadi, sebetulnya banyak roh-roh di sini. Semakin banyak roh, semakin banyak mahluk halus di sini. Bukan berasal dari roh mereka, tetapi dari mahluk-mahluk halus lainnya.Mereka boleh dikatakan sebagai mediator dari roh-roh manusia dengan kita. Itulah sebabnya, pocong-pocong yang tadi saya ajak bicara, bukan berasal dari manusia yang telah meninggal. Tetapi, mahluk-mahluk halus yang menyamar dan mewakii roh-roh manusia yang meninggal secara tidak wajar…”

Apa yang dikatakan Anggraeni memang sulit dipahami orang biasa. Tetapi, saya yang sejak SMP membaca buku-buku psikologi, terutama yang berhubungan dengan indera keenam, tepatnya ESP (extra Sensory Perception), tentu saya bisa mengerti. Psikologi mengatakan memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kemampuan clair voyance, telepati dan lain-lain.

Karena hari sudah sore, saya dan Anggraenipun segera mengayuh sepeda. Menyusuri jalan-jalan Bojonegoro. Menuju pulang ke rumah masing-masing.Anggraeni menuju ke Jl.Dr.Wahidin. Sedangkan saya menuju ke Jl.Trunojoyo No.4 yang sekarang menjadi kantor pajak.

Sumber foto:
1.gambar-gambar-lucu.blogspot.com
2.indowebster.web.id
3. 1.bp.blogspot.com

Catatan:
Cerpen ini merupakan cerita fiktif.

Hariyanto Imadha
Novelis & Cerpenis

CERPEN MISTERI: Misteri Piano Tua

JAKARTA. Sudah sekitar lima tahun saya tinggal di Komplek Perumahan Sunter Hijau, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sekitar setahun yang lalu di sebelah kanan rumah saya ada tetangga baru. Katanya pindahan dari Banjarmasin. Suami istri dan tanpa anak.

Nama suami Gatot dan istri bernama Henny. Tiap malam saya mendengar istri Pak Gatot memainkan piano. Lagu-lagu klasik kesukaan saya sejak kecil. Maklum, sewaktu saya masih kecil saya juga mengambil les piano, yaitu sejak SD hingga SMA. Cuma sayang, piano dijual karena orang tua saya waktu itu kesulitan uang.

Sampai suatu hari, Pak Gatot datang ke rumah saya.

“Pak Tommy, saya mau pamit. Saya dapat tugas ke Makassar,” begitu kata Pak Gatot. Katanya, dapat tugas mengajar di Makassar.

“O, ya selamat jalan,Pak. Kok, istrinya tidak kelihatan, apakah belum pulang kantor?” saya ingin tahu.

“O ya, istri saya sudah berangkat duluan mempersiapkan segala sesuatunya di Makassar,” jelasnya.

Kemudian dia menambahkan.

“O ya, Pak Tommy. Saya punya piano akan saya jual murah. Soalnya saya butuh tambahan biaya. Cuma Rp 5 juta saja,” tawar Pak Gatot.

Kebetulan, sudah lama saya ingin membeli piano. Sayapun ke rumah Pak Gatot untuk melihat kondisi piano. Ternyata masih mulus. Ketika saya coba, juga normal dan baik. Saya tahu benar bahwa piano antik itu di pasaran harganya bisa sekitar Rp 25 juta.

Langsung hari itu saya bayar tunai. Kemudian saya memanggil empat pengemudi becak yang ada di komplek untuk mengangkat piano itu ke rumah saya. Piano itu saya letakkan di dekat kamar makan. Senang rasanyabisa memiliki mpiano lagi. Maklum, sudah puluhan tahun saya tak bermain piano.

Seminggu berlalu. Tidak ada kejadian apa-apa. Pak Gatot sudah pindah. Rumahnya sepi. Pulang kantor sesudah makan siang, sayapun mencoba memainkan beberapa lagu.

Namun, pada suatu hari sepulang kantor saya merasa heran. Saya berhenti di depan pintu pagar rumah saya. Kok, ada yang memainkan piano saya? Siapa ya? Namun, begitu saya membuka pintu pagar, suara pianopun lenyap.

“Ah, mungkin tetangga belakang rumah,” begitu pikir saya. Maklum, di komplek perumahan memang ada beberapa yang memiliki piano. Namun karena kejadian itu berulang kali terjadi tiap hari, maka saya memutuskan untuk bertanya ke tetangga belakang rumah, apakah ada yang memiliki piano. Ternyata, tidak ada yang punya.

“Aneh,” begitu kata hati saya. Sesudah berkali-kali saya mengalami kejadian itu, saya yakin bahwa suara piano itu pasti datang dari dalam rumah saya. Untunglah, ketika shalat Jum’at, saya sempat berkenalan dengan seorang ulama. Saya ceritakan kejadian di rumah saya. Katanya, dia bisa membantu. Katanya, dia bisa menerawang ada tidaknya mahluk halus di rumah saya.

Ketika saya mengajak ulama tersebut, namanya Imam Gozali, untuk datang ke rumah saya, dia bersedia dengan senang hati. Bahkan tidak bersedia dibayar. Begitu masuk ke rumah saya, langsung melihat piano tua saya. Langsung memejamkan mata dan berdoa. Entah doa apa.

Beberapa menit kemudian dia berkata.

“Oh, iya. Rumah Pak Tommy memang ada mahluk halusnya”

Namun ketika saya tanya siapa nama dan asal mahluk halus itu, ulama itu tak bisa menjawab. Akhirnya, saya kehilangan kepercayaan kepada ulama yang bernama Imam Gozali tersebut. Menurut buku-buku yang saya baca, orang yang benar-benar bisa melihat mahluk halus, harus tahu nama dan asal usul mahluk halus tersebut.

Lain hari ketika saya memperpanjang KTP di kelurahan, saya berkenalan dengan seseorang yang mengaku paranormal yang sudah empat kali naik haji. Diapun saya undang ke rumah saya. Diapun membaca doa di depan piano saya.

Sesudah itu paranormal yang bernama Pak Sugiyono itupun menerangkan.

“Iya, di sini memang ada mahluk halusnya. Perempuan.Namanya Henny. Dia datang dari rumah sebelah kanan ini.

Sungguh, saya terkejut. Henny adalah nama dari istri Pak Gatot. Ada apa gerangan?

“Apa yang terjadi Pak Sugiyono? Saya ingin tahu.

Paranormal itu menjelaskan bahwa Henny telah dibunuh suaminya ketika sedang tidur nyenyak. Soalnya, Pak Gatot punya istri baru. Mayatnya dikubur di bawah lantai rumah bekas rumah kontrakannya. Sebelah rumah saya.

Sayapun mengajak paranormal itu ke ketua RT,Pak Effendy. Kemudian melapor ke kelurahan dan kepolisian. Di kantor polisi saya dan Pak Sugiyono menandatangani surat bukti pelaporan. Tentu, menunjukkan KTP asli dan menyerahkan fotokopinya.

Beberapa hari kemudian, disaksikan Pak Sugiyono, ketua RT, lurah dan kepolisian, lantai rumah itupun dibongkar sesuai petunjuk Pak Sugiyono. Ratusan warga berjejal ingin turut menyaksikan Ternyata benar. Ditemukan jenasah yang sudah berbau busuk. Proses selanjutnya merupakan wewenang pihak kepolisian.

Sesudah jenasah itu dimakamkan, rumah saya kembali tenang.

Sumber foto: ntzoctptr.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Misteri Pipa Besi Yang Keenam

SEJAK SD, saya punya hobi mencari kesibukan. Hari ini, pagi-pagi, saya menciptakan Pitor V5 atau kanopi/atap motor versi ke-5. Supaya pengendara motor tidak kepanasan dan kehujanan. Desain sudah saya buat di komputer. Kemudian ke bengkel las  Aero langganan saya. Lokasinya di BSD City, tangerang Selatan. Dua kilometer dari rumah saya.

Saya minta bantuan jasa las untuk enam batang besi itu. Kemudian saya tinggal beli lauk pauk. Satu jam kemudian saya ambil enam buah besi yang sudah di las. Sampai di rumah saya baru ingat, keenam pipa besi itu seharusnya di bor. Wah, ternyata saya lupa. Untuk balik lagi, malas.

Karena sejak puluhan tahun yang lalu punya pengalaman membor sendiri menggunakan bor listrik, maka satu persatu pipa besi ukuran 1 inci itu saya bor dengan sangat mudah. maklum, sudah pengalaman puluhan tahun.

Sesudah membor pipa kelima, saya istirahat dulu. Maklum saatnya shalat Jum’at. Nah, sekitar pukul 13:00 WIB, saya mulai membor pipa keenam. Aneh, kok tidak bisa. Meleset terus. Padahal, caranya sama dengan kelima pipa sebelumnya.

Saya mulai membor menggunakan mata bor baja ukuran kecil. Ternyata meleset. Pipa besi saya lukai dulu memakai uncek. Ternyata unceknya meleset terus. Pakai paku, apalagi. Terpeleset terus. Saya lukai memakai gergaji besi,sedikit saja dan tterluka. Kemudian saya bor memakai bor baja ukuran kecil tadi. Tetap meleset.

“Aneh” gumam saya sendirian. Mau minta bantuan tukang yang sedang merenovasi rumah tetangga agak jauh, ternyata tiap Jum’at mereka libur. Logika saya mengatakan, mungkin bornya tumpul. Terpaksa, beli di toko material yang tak jauh dari rumah. Saya coba lagi untuk membor. Terpeleset lagi.Terpeleset terus.gagal lagi.Gagal lagi. Jangkrik! Kenapa ini?

Tanya ke siapa ya? Akhirnya saya bukan Facebook dan membuat status. Bunyinya “

ISENG: Mau ngebor pipa besi kok meleset terus. Gimana ya, caranya?”

Lantas, satu jam kemudian para Facebooker memberi komentar.

-Navay Mendchientaiemoe “C’lalu Pak ?My fans”

– Ubaidilah Mubarok “Bor kayu  dipakai ngebor besi.He he he”

-Dinik Lestari “Caranya…Tanyakan pada rumput yangg bergoyang, Pak….Hehehehe”

-Joko Suryanto Parengan “Diuncek dulu ,Pak. Pakai bor baja yangg mata bor paling kecil dan pendek”

-Uzi Lou’ay “Dilas mawon, Pak Harry…”

-Irina Natalia “Dinodai dulu, Pak, biar kena di bor. Wkwkwkwk”

-Hendra Purba “Bapak ini bisa aja, ngebornya pake perasaan dong! Jangan grusa grusu”

-Ki Tanto Ap “Ngebor Besi Ratnasari (dalam mimpi) aja, Mas….”

-Slamet Saksono R”Diketok paku baja dulu bos…”.

Sebenarnya, saran teman-teman Facebooker di atas sudah pernah saya praktekkan sejak puluhan tahun yang lalu. Bahkan kelima pipa besi sebelumnya bisa dilas dengan lancar.

Saya kok merasakan ada sesuatu hal yang irrasional. Tapi saya mencoba rasional saja. Akhirnya, pipa besi keenam iitu saya bawa ke bengkel las dan bubut di ttempat lain, yaitu di daerah Cilenggang. Sekitar empat kilometer dari rumah saya. Ada sekitar lima bengkel di situ.

Bengkel pertama menolak, alasannya edang banyak order. Bengkel kedua mau. Tapi di sini bukan hanya saya yang heran, tukang bengkelpun heran. Pipanya tidak bisa dibor. Sayapun pindah-pindah ke bengkel lainnya. Sudah tiga buah bengkel las dan bubut gagal membor pipa saya.

“Aneh!” gumam saya.

“Mungkin pipa beesinya ada mahluk halusnya,Pak” kata tukang bengkel yang terakhir.

“Ha ha ha…” saya tertawa. Saya percaya mahluk halus itu ada. Tapi kalau dikaitkan dengan pipa besi itu, saya tidak yakin. Saya tetap mencoba bersikap rasional. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

Namun, baru saja saya keluar dari bengkel, saya bertemu dengan Ustadz Choirie.

“Ada apa,Pak? “ tanyanya.

“Oh, mau ngebor pipa,Pak. Tapi gagal terus” jawab saya jujur.

“gagal terus bagaimana?” tanya pak ustadz lagi. Sayapun menceritakan pengalaman-pengalaman saya yang aneh. Pak ustadz tidak percaya. Sayapun membuktikan. Tukang bengkel iitupun juga turut membuktikan. Pak ustadzpun mengangguk-angguk.

“Mungkin di dalam pipa ada mahluk halusnya,Pak Ustadz,” kata tukang bengkel.

“Bagaimana,Pak,sarannya?” saya bertanya ke pak ustadz.

“Hmmm,saya tidak menguasai hal-hal seperti ini. Tapi tak ada salahnya ya, nanti dicoba di rumah. Coba, sebelum membor pipa itu, sampeyan baca ayat Qursi dulu. Tapi dengan catatan, ini Cuma saran lho. Saya sendiri belum pernah mencobanya, Maaf kalau saran saya keliru” ujarnya santun sekali.

Sesudah mengucapkan terima kasih, sayapun pulang. Sesudah minum aiir putih dingin dari kulkas, sayapun mencoba memppraktekkan saran dari Pak Ustadz Chorie.

“Bismillah….” saya kemudian membaca ayat Qursi dengan serius.

Sesudah itu saya ambil bor dengan mata bor yang pernah saya gunakan entuk membor lima pipa besi sebelumnya. Bukan menggunakan mata bor yang baru saya beli.

Sayapun segera menekankan bor listrik ke pipa besi keenam yang sudah saya tandai bagian-bagian yang akan saya lobangi.

“Cling!Cling!Cling!……….” Aneh! Ternyata sangat mudah. Tidak terpeleset-peleset lagi. Sama dengan sewaktu saya membor lima pipa besi sebelumnya.

“Benarkah pipa besi saya yang keenam ada mahluk halusnya?”

“Wallahu a’lam bis-shawaab”

Hanya Tuhan Yang Maha Tahu mana yang benar.

Sumber foto: tokobautbali.com/

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger.

CERPEN : Misteri Rumah Tua Jl. Ade Irma 5 Bojonegoro

Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)

SELAMA 15 tahun, saya menempati sebuah rumah tua, besar dan angker di atas tanah seluas 2.000 meter persegi di Jl. Ade Irma Suryani Nasution No. 5 Bojonegoro. Kenapa harus saya? Karena kakak-kakak saya tinggal di Jakarta, Tangerang, Surabaya dan tidak mungkin pindah ke Bojonegoro karena sibuk dengan keluarga,anak dan cucu. Saya, sebagai anak bungsu,belum menikah, sayalah yang harus menunggu rumah besar dan kuno itu. Kenapa? Sebab, ayah dan ibu saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.Jadi, saya pindah dari Jakarta ke Bojonegoro.

Hanya kakak saya yang juga tinggal di rumah itu, namun di rumah Barat. yaitu berkantor sebagai notaris. Itupun tiap Sabtu dan Minggu berada di Surabaya sebab keluarganya memang di Surabaya.

Sedangkan saya menempati pavilyun Timur. Sedangkan rumah tengah atau rumah induk kosong. Puluhan tahun kosong.Kotor berdebu karena jarang dibersihkan. Bahkan sarang serangga ada di mana-mana. Seminggu sekali dibersihkan, namun cepat kotor.

Tiap kali saya memasuki rumah induk yang kosong itu, buluk kuduk saya berdiri.Padahal itu siang hari.Bahkan kadang mencium bau harum. Namun, saya tetap memberanikan diri memasuki rumah tua itu. Cukup membaca doa singkat, doa Ta’awudz saja.

“Assalamu’alaikum,” begitu kata yang saya ucapkan tiap kali memasuki kamar demi kamar. Dua kamar di sebelah timur dan dua kamar di sebelah Barat. Ketika saya memasuki kamar tidur barat, tiba-tiba saya dikejutkan suara daun pintu lemari membuka dengan sendirinya. Padahal, tidak ada angin sedikitpun. Sempat terkejut dan merinding. Namun saya tetap memberanikan diri memantau kamar itu. Satu menit kemudian saya dikejutkan lagi, pintu lemari itu tiba-tiba tertutup sendiri. Dan sekelebat saya melihat bayangan putih keluar dari pintu dengan kecepatan yang luar biasa. Antara takut dan berani saya terus berdoa. Dengan menggunakan sapu, saya bersihkan kamar tidur Barat itu.

Sesudah kamar tidur Barat bersih, saya pindah ke kamar tidur Timur. Baru saja saya menyapu, tiba-tiba tas kecil yang tergantung di dinding terjatuh. Detak jantungpun bergelegak semakin keras. Antara terkejut, takut dan berani campur jadi satu. Kemudian saya mendengar suara sepatu meninggalkan kamar itu menuju kamar tengah.

Hari Minggu berikutnya, seperti biasa saya bersih-bersih rumah tengah. Namun kali ini saya membawa cermin bulat dan handphone yang ada kameranya. Sebelum bersih-bersih, saya masuk kamar tidur Barat. saya pegang cermin dengan tangan kiri dan tepat di muka saya. Artinya, melalui cermin itu, saya bisa melihat belakang saya. Kemudian, handphone saya setting kamera. kamera saya hadapkan ke cermin.

“Oh, Tuhan…!,” saya terkejut sekali. Bulu kudukpun berdiri. Badan agak tergetar. Melalui kamera yang saya hadapkan ke cermin itu, saya tahu di belakang saya ada sosok berjubah putih, rambut panjang dan mata hitam kelam. Namun, belum sempat saya foto, dia sudah menghilang.

“Assalamu,alaikum. Maksud saya baik.Boleh kenalan?” saya bertanya. Suara saya bergema. Tidak ada jawaban. Sepi. Seram dan menakutkan. Sesudah dari kamar tidur Barat sayapun ke kamar tidur Timur. Dengan memegang cermin di tangan kiri dan handphone tangan kanan dan saya arahkan ke cermin, saya melihat perempuan muda cantik ada di belakang saya.

“Assalamu,alaikum. Boleh kenalan?” saya bertanya kepadanya. Dia diam saja.Tidak menjawab. Tiba-tiba hilang dari pandangan. Dengan cara serupa, saya masuki kamar mandi, gudang, dapur, kamar kerja depan dan kamar-kamar lainnya.Total ada tujuh ruangan. Tiap ruangan dihuni satu mahluk halus. Semua bisa saya lihat melalui kamera handphone. Semua menyeramkan. Misalnya, yang di gudang, wajahnya mirip babi. Yang di dapur kepalanya hanya tengkorak saja. Sedangkan yang di kamar mandi wajahnya mirip kelelawar.

Saya telah berhasil melihat mereka, tetapi saya belum tahu bagaimana caranya supaya saya bisa berbicara dengan mereka.

Esok harinya, saya kerja di Warnet dan Lembaga Pendidikan Komputer INDODATA milik saya yang saya buka di pendopo. Karyawan saya hanya tiga, yaitu mBak Farida Asni (sekarang bekerja di SMPN 1), mBak Ira Rahadina (sekarang menjadi guru ) dan Joko Suryanto (sekarang menjadi guru di Parengan). Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan mereka bertiga, maka dapat inspirasi untuk mencoba sebuah cara. Yaitu dengan cara memegang garpu dan sendok. Garpu berfungsi menangkap sinyal-sinyal dari dimensi mereka. Sedangkan sendok untuk memantulkan suara saya ke para mahluk halus.

Esok harinya, kebetulan hari Minggu. Sayapun memasuki rumah tengah yang kuno, besar dan angker itu. Saya pegang garpu di tangan kiri dan sendok di tangan kanan. Handphone saya matikan

“Assalamu’alaikum” salam saya ketika memasuki ruang tengah.

“Wa’alaikum salam,” tiba-tiba ada jawaban. Entah darimana asalnya, saya tidak bisa melihat, sebab handphone saya matikan.

“Boleh kenalan?” saya memberanikan bertanya. Takut dan berani campur jadi satu.

“Boleh, asal tidak mengganggu kami,” jawabnya. Suara laki-laki.

“Berapa jumlah teman Anda di rumah ini?”

“Di rumah tengah ini ada tujuh orang, di pavilyun Timur kosong, di pavilyun Barat ada lima dan di kantor notaris ada kosong. Total ada 12 teman saya, termasuk saya”

“Kenapa kalian menempati rumah-rumah kami?”

“Rumah atau kamar yang dibiarkan kosong lebih daro 30 hari kami anggap merupakan rumah kami,” jawabnya.

“Anda siapa namanya? Dari mana saya sebenar Anda dan teman-teman?” saya ingin tahu. Tangan kiri tetap memegang garpu dan tangan kanan memegang sendok.

“Nama saya Truno. Saya dan kawan-kawan korban perang di zaman penjajahan Belanda dulu. Sebenarnya kami tewas di stasiun, namun kami menemukan rumah ini, kosong.Maka rumah ini kami tempati”

“Jadi, kalian bukan mahluk halus setan dan jin?” tanya saya.

“Bukan, kami roh yang meninggal dan tidak dishalatkan. Kami meninggal karena disiksa Belanda.”

“Astaga,” saya terkejut mendengar ceritanya.

“Lantas, apa yang Anda inginkan?”

“Saya minta tolong, agar sampeyan, sesudah shalat fardlu, mendoakan kami supaya kami bisa diterima Allah swt. Minimal, saya dan kawan-kawab akan pindah dari rumah ini,” jelas sekali suara mahluk halus itu.

Esok harinya, saya meminta bantuan ustadz Muztahir Hirien untuk mendoakan mereka dan sekaligus meminta mereka pindah secara baik-baik. Dari kamar ke kamar ustadz Muztahir berdoa dengan tenang dan berwibawa. Butuh waktu sekitaar satu jam ritual itu. Sedangkan saya bertugas memercikkan air dari sebuah gelas ke setiap ruangan. Air itu sudaah diberi doa oleh ustadz Muztahir.

Hari-hari berikutnya, saya bisa membersihkan rumah tengah, rumah tua dengan perasaan yang nyaman. Tidak ada lagi suara-suara yang aneh. Tidak ada lagi bau wangi-wangian. Auranya berubah menjadi putih.

Tepat 17 Juni 2009, tepat hari ulang tahun saya, sayapun pindah ke BSD City Tangerang. Sebab, tanah dan rumah itu sudah laku terjual. Dibeli tetangga.

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerita fiktif.

Sumber foto: Farida Asni,Bojonegoro

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN: Misteri Penjual Kue Bacang

SUDAH lama, tiap pagi saya malas sarapan di rumah. Dan biasanya, sebelum naik bus Trans, di terminal BSD City saya biasa membeli kue bacang. Penjualnya seorang laki-laki setengah umur.

“Cuma makan pagi saja,ya? Makan siang pasti tidak makan. Iya,kan?” tanyanya ketika pertama kalinya saya membeli kue-kuenya. Saya cuma mengangguk, sebab kenyataannya demikian. Biasanya, kalau makan kue bacang, perut saya terasa kenyang sehingga siang haripun saya tak merasa lapar.

Lain hari, sesudah membayar harga kue bacang, penjualnya memberi komentar lagi.

“ Di rumah pasti tinggal sendiri,ya?” Lagi-lagi saya cuma mengiyakan. Sebab, kenyataannya saya memang tingggal sendiri. Tidak ada istri, anak maupun pembantu rumah tangga.

Lain harinya lagi, seperti biasa, pagi-pagi saya sarapan kue bacang di terminal BSD City. Penjual kue itupun selalu memberi komentar.

“ Sampeyan dari Bojonegoro, Jawa Timur,ya?” komentarnya. Kali ini saya tertarik untuk bertanya.

“Kok, tahu saya dari Bojonegoro,Pak?” saya ingin tahu. Namun, penjual kue itu cuma tersenyum saja tanpa mengeluarkan kata-kata jawaban. Karena saya buru-buru ke Mangga Dua, maka saya segera berlari menuju ke bus Trans yang mulai berjalan pelan akan meninggalkan terminal.

Entah hari yang ke berapa, penjual kue itu pagi-pagi itu juga berkomentar lagi.

“Sampeyan bintangnya Gemini,ya?”

“Kok,tahu?” tanya saya sambil membayar harga sebuah kue bacang. Lagi-lagi penjual kue itu tak menjawab.

Suatu hari lain lagi, karena saya terlambat datang, sayapun ketinggalan bus dan harus menunggu datangnya bus berikutnya. Sambil duduk-duduk dan makan kue bacang, sayapun ngobrol-ngobrol dengan penjual kue itu.

Saya tanya namanya, dia tak mau menyebutkan. Saya tanya dari kota mana asalnya, dia tak bersedia memberi tahu. Semua pertanyaan yang ada hubungan dengan pribadinya tak pernah ada jawabannya saja. Dia cuma tersenyum atau tertawa saja. Lama-lama saya menilai penjual kue itu sebagai sosok yang misterius. Ini yang membuat saya menjadi penasaran.

Yang mengherankan, dia tahu betul kehidupan saya sejak kecil hingga sekarang. Dia tahu nama-nama cewek yang pernah saya pacari sewaktu di bangku SMP, SMA ataupun bangku kuliah. Dia juga tahu kalau saya juga pernah aktif di senat mahasiswa.

Bahkan dia juga tahu kalau saya punya hobi membuat puisi, cerpen, novel, surat pembaca dan artikel-artikel populer. Dia juga tahu kalau saya punya akun di Facebook dan Twitter.

Yang mengejutkan adalah, ketika pagi itu, sehabis mengambil uang di ATM BRI di pasar Moderen, BSD City, dia dengan tepat menyebutkan saldo terakhir saya. Sayapun mencocokkan dengan struk ATM yang ada di saku saya. Ternyata, semua angkanya tepat.

“Kok, tahu,sih? Sampeyan paranormal,ya?” saya penasaran.

“Hahaha…Saya manusia biasa saja,” dia merendahkan diri. Namun, saya yang pernah menekuni bidang psikologi sejak 1973 tentu tahu bahwa penjual kue itu mempunyai kemampuan ESP atau Extra Sensory Perception atau yang biasa disebut indera keenam yang cukup tajam..

Sayapun menjadi tertarik dengan penjual kue bacang itu. Perkenalan sayapun sudah satu setengah tahun berjalan. Namun, dia tetap merahasiakan nama dan jati dirinya. Entah kenapa, saya tidak tahu. Bahkan penjual-penjual koran, minuman dan siapa saja yang berjualan di terminal bus Trans BSD City memanggilnya dengan nama panggilan Pak Bacang, karena dia berjualan kue bacang.

Sampai suatu saat, ketika dia tahu saya akan ke Ciledug untuk bertemu dengan salah seorang pemilik bengkel modifikasi motor, diapun menasehati saya.

“Sebaiknya sampeyan jangan ke Ciledug. Batalkan saja,” dia menasehati saya.

“Kenapa?” saya penasaran.

“Nanti sampeyan kena musibah. Percayalah…”

Namun karena saya sudah terlanjur berjanji, sayapun tak memperhatikan nasehat penjual kue itu. Soalnya, saya lebih percaya kepada Tuhan daripada percaya kepada ramalan-ramalan yang dibuat oleh manusia. Bagi saya, hanya Tuhan yang Maha Tahu apa yang akan terjadi.

Begitulah, saya nekat pergi ke Ciledug naik angkot. Sesampai di depan bengkel, sayapun turun. Baru melangkah sekitar sepuluh meter, saya baru sadar. Saya kecopetan.

“Oh, Tuhan…” sayapun terkejut sekali. sayapun terpaksa harus kehilangan KTP, SIM dan kartu ATM Bank BRI dan uang sekitar Rp 300.000. Huh! Sial! Saya sadar untuk mengurus semuanya itu perlu waktu lama. Juga perlu biaya yang tidak sedikit. Sayapun jadi ingat nasehat Pak Bacang itu. Ternyata nasehatnya terbukti. Meskipun demikian, saya menganggap ramalannya hanya merupakan kebetulan saja.

Seminggu kemudian, saya ke terminal lagi. Seperti biasa, saya sarapan dengan cara memakan kue bacang. Itu sudah cukup mengenyangkan perut saya.

“Saya tahu sampeyan di Ciledug kena musibah. Coba, kalau sampeyan menuruti nasehat saya, sampeyan tentu tidak akan kena musibah. Tapi jangan berkecil hati. Beberapa hari lagi sampeyan akan mendapatkan rezeki besar…,” begitu kata Pak Bacang. Sayapun mendengarkan antara percaya dan tidak.

“Kalau ramalan Pak Bacang benar, saya akan berikan 25% untuk sampeyan…” sayapun bernazar. Pak Bacang cuma tertawa saja. Entah tertawa senang atau tertawa sinis atau tertawa meledek atau tertawa tak percaya, saya tidak tahu.

Oh Tuhan! Beberapa hari kemudian ramalan Pak Bacang, si penjual kue itu terbukti. Saya memenangkan hadiah utama dari Bank BCA KCU Serpong, Tangerang Selatan berupa sebuah mobil seharga Rp 1 milyar.. Karena saya tak kuat membayar pajaknya, maka saya minta mentahnya saja sesudah dipotong pajak. Bersih saya terima Rp 750 juta sesudah dipotong pajak 25% atau Rp 250 juta.

Esok harinya, sayapun ke terminal BSD City. Saya cari Pak Bacang, ternyata tidak jualan. Saya tanyakan ke penjual koran yang ada di terminal itu. maklum, saya ingin bertemu dengan Pak Bacang untuk memeberikan 25% dari Rp 750 juta yang saya terima. Itu nazar saya dan harus saya penuhi.

Namun, mendapat jawaban dari tukang koran yang mengejutkan sekali. Katanya, Pak Bacang meninggal dua hari yang lalu karena sakit jantung.Celakanya, tak seorangpun yang mengetahui di mana alamat lengkapnya. Mereka cuma mengatakan Pak Bacang tinggal di Desa Cilenggang.

Empat hari kemudian, saya melihat di terminal ada seorang ibu berjualan kue bacang. Saya yakin, pasti dia isteri Pak Bacang. Ketika saya tanyakan, ternyata benar. Dia isteri Pak Bacang yang punya nama asli Pak Suwadji.

Siapa Pak Suwadji? Dari isterinya saya mendapat informasi bahwa sudah lama Pak Suwadji almarhum mempunyai kemampuan ESP atau indera keenam. Katanya, itu bawaan sejak lahir. Bukan karena belajar atau berguru.

Akhirnya sayapun bercerita tentang nazar saya. Dan kebetulan uangnya sudah saya bawa di tas kecil dan terbungkus rapi. Dengan bicara setengah berbisik, saya minta ibu Suwadji berhati-hati dengan uang itu. Tentu, isteri Pak Suwadji almarhum merasa senang sekali menerima uang sebanyak Rp 187.500.000.

Karena takut dirampok, sayapun mengantarkan Bu Suwadji ke Bank BCA yang jaraknya Cuma sekitar 50 meter dari terminal. Untunglah, Bu Suwadji membawa KTP dan tidak buta huruf. Pendidikannya lulusan SMP Indramayu.

O, betapa hebat Pak Suwadji almarhum. Mempunyai kemampuan ESP yang sampai sekarang masih merupakan sebuah misteri.

Sumber foto: ngerejekeni.multiply.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger