CERPEN: Ketika Sapi Berpeci dan Berjenggot

FACEBOOK-CerpenKetikaSapiBerpeciDanBerjenggot

JAKARTA 2013. Siang itu saya sedang menunggu bus TransBSD di halte depan Ratu Plasa.

“Harry…!” tiba-tiba ada yang memanggil seseorang dari jendela mobil yang baru saja berhenti di depan halte. Saya tengok kanan-kiri, siapa tahu bukan saya yang dipanggil. Lagipula, kelihatannya saya tidak kenal dengan yang memanggil saya.

“Harry…!” sekali lagi, orang itu memanggil. Karena saya diam saja, orang yang di dalam mobilpun membuka pintu, turun dan mendekati saya. Sayapun terkejut. Ternyata dia Gunawan, dulu teamn satu kampus yang sudah puluhan tahun tidak bertemu.

“Oh! Gunawan, ya?” saya bediri dan langsung menyalaminya. Akhirnya kamipun ngobrol ke sana ke mari.

“Oh, ya. Bisnis apa kamu sekarang?” saya tanya ke Gunawan.

“Bisnis sapi. Di Bogor. Saya punya 100 sapi. Punya peternakan. Dekat Sentul City…” Gunawan menjawab.

Singkat cerita, karena hari Minggu itu saya tidak punya acara, sayapun diajak Gunawan ke peternakannya di Kabupaten Bogor.

Sampai di peternakannya, langsung saya diajak jalan-jalan melihat satu persatu sapi yang dipeliharanya. Cukup banyak. Kira-kira sekitar 100 ekor sapi. Entah jenis sapi apa, saya tidak tahu. Saya juga merasa tidak perlu tanya.

Sampai akhirnya saya melihat kandang sapi agak kecil dan isinya hanya tiga ekor. Anehnya, ketiga sapi itu berpeci dan berjenggot.

“Kok, kamu punya sapi aneh, sih?” tentu saya bertanya ke Gunawan. Gunawan tertawa.

“Jaman sekarang memang banyak yang aneh. Ceritanya, saya dulu pernah bermimpi didatangi orang tua berpakaian serba putih. Katanya, kalau bisnis sapi atau bisnis daging sapi saya ingin lancar, maka saya saya harus memberi peci putih kepada tiga ekor sapi yang berjenggot. Begitu bangun tidur, saya langsung mencari tiga ekor sapi berjenggot. Ternyata benar-benar ada. Sungguh, saya hampir tidak percaya…” cerita Gunawan lancar sekali dan terkesan ceritanya memang serius.

Sayapun memandangi ketiga sapi berpeci dan berjenggot itu dengan serius.

“Yang ini, namanya Tifagami,” Gunawan menunjuk sapi yang pertama. “Yang ini, namanya Lutfigami,” menunjuk sapi kedua,” Dan yang ketiga namanya Anisgami,” sabil menunjukk sapi ketiga,” Semuanya sapi jantan” Gunawan mengakhiri kalimatnya.

“Kok ada kata gami. Memangnya ada hubungannya dengan poligami?” saya bercanda. Tapi ternyata benar.
“Betul. Ketiga sapi ini memang suka berpoligami. Ketiganya pejantan sejati. Kebetulan semua sapi saya adalah sapi yang dagingnya enak dimakan. Tiga pejantan ini cepat sekali menghamili sapi-sapi betina sehingga dalam waktu singkat sapi-sapi saya banyak yang beranak,” Gunawan menjelaskan. Saya hanya mengangguk-angguk.

Saya tetap merasa aneh. Kok ada sapi punya jenggot. Apalagi dipakaikan peci putih. Gejala apa ini? Isyarat jaman apa ini? Apakah ini merupakan isyarat jaman edan seperti yang pernah diramalkan Jayabaya atau Ronggowarsito? Bukankah pernah diramalkan pada jaman edan agama hanya akan merupakan simbol? Banyak orang rajin beribadah, tetapi suka sekali berpoligami. Bukan poligami demi kemanusiaan tetapi poligami demi syahwat berkedok agama.

“Kok, melamun, Harry. Memangnya ada apa?” Gunawan menyadarkan saya dari lamunan.

“Saya benar-benar heran. Kok ada sapi punya jenggot. Pertanda jaman apa ini?”

“Betul. Itu pertanda jaman edan banyak orang menjadi edan. Agama, terutama agama Islam, hanya dijadikan kedok saja. banyak orang merasa suci, membesar-besarkan dan membangga-banggakan agama Islam, tapi ternyata dia seorang yang doyan main perempuan, doyan politik dan doyan korupsi…” Gunawanpun jujur menafsirkan keanehan sapi berjenggot itu.

” Ya,ya, ya. Poligami jaman sekarang memang berbeda dengan jamannya nabi Muhammad SAW. kalau jamannya Nabi, beliau berpoligami karena atas dasar kemanusiaan. Kalau poligami di Indonesia atas dasar syahwat. Atas dasar nafsu berahi, buktinya yang dipilih wanita-wanita yang seksi, montok dan semok. Kenapa kok tidak menikahi janda-janda tua banyak anaknya dan miskin?” sayapun berpendapat. Gunawan mengangguk-angguk.

Saya terus menatap ketiga wajah sapi yang berpeci dan berjenggot itu. Jenggot, kebanyakan merupakan simbol laki-laki Arab Saudi atau laki-laki Timur Tengah. Artinya, budaya poligami berdasar syahwat sebenarnya datang dari negara-neagara Arab. Di negara-negara tersebut para pemimpinnya suka hidup foya-foya, bermewah-mewah, suka doyan main perempuan dan berpoligami. Sedangkan sapi berpeci melambangkan agama terutama agama Islam yang cuma dijadikan kedok saja. hanya untuk menutupi perbuatan busuknya. hanya supaya dianggap bersih dan suci. Padahal, sok suci.

“Terus, kenapa Gunawan memberi nama ketiga sapinya dengan nama Tifagami, Lutfigami dan Anisgami?” saya masih penasaran.

“Singkat saja. Itu sesuai petunjuk orang tua berbaju serba putih di dalam mimpi saya”.

“Ada artinya?”

“Hmmm, kurang tahu. Mungkin suatu saat nanti ada tiga orang dengan nama-naama mirip itu akan menjadi terkenal karena kasus-kasus poligaminya…”

“Masuk akal…” saya menjawab singkat.

Gunawan kemudian terus mengajak saya putar-putar di peternakannya. Kemudian melihat karyawan-karyawannya yang sibuk memerah sapi.

“Wah, sapinya montok-montok, ya? Payudaranya besar, padat dan sintal…” komentar saya.

“Ya, sapi-sapi betina yang payudaranya besarlah yang disukai Tifagami, Lutfigami dan Anisgami…”

Saya cuma bisa mengangguk-angguk.

“Kok, seperti manusia, ya?” gumam saya.

“Ya, manusia dan binatang kan sama-sama punya nafsu seks, sama-sama punya syahwat, sama-sama punya birahi…”

“Kalau berpoligami, berarti banyak uangnya, dong. Memangnya dapat uang dari mana? “

“Kalau orang politik sih, biasanya dari korupsi. Kalau dari usaha tidak mungkin langsung untung bermilyar-milyar rupiah. Orang-orang politik yang berpoligami rata-rata punya rumah mewah, mobil mewah dan uangnya di bank banyak sekali. Hidupnya berfoya-foya dan bermewah-mewah…” celoteh saya.

“Ya, mungkin mau mencontoh budaya Arab” kata Gunawan.

“Wah, kalau orang Indonesia semakin banyak yang meniru budaya Arab, lama-lama Pancasila nanti bisa diganti Syariat Islam, nih. Indonesia bisa jadi negeri khilafah…”

“Ha ha ha…! Negeri khilafah? Nabi Muhammad SAW saja nggak pernah mendirikan negeri khilafah. Itu kan khayalan politisi-politisi yang tidak faham Pancasila. Pancasila itu harga mati. Sampai kiamat Qubro, Indonesia nggak bakalan jadi negeri khilafah, Harry…Percayalah…!” Gunawan mencoba meyakinkan.

“Ya, saya sangat percaya. TNI dan polri tidak akan berdiam diri jika ada usaha-usaha untuk mengganti Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” jawab saya serius.

Sayapun terus melihat sapi-sapi yang sedang diperah susunya.

“Oh, ya. Sapi betina itu namanya Mahagami, Vitagami dan Darigami,” ujar Gunawan.

“Apalagi tuh artinya?”

“Artinya, ketiga sapi betina itu merupakan sapi yang montok dan semok. Disukai sapi-sapi jantan macam sapi yang berpeci dan berjenggot tadi.Ketiga sapi betina itu sangat disukai sapi jantan bernama Ahmagami, suka main sapi betina yang montok dan semok.”

“Ooo, ya,ya,ya…Saya faham…”

Sore harinya, sayapun diantarkan Gunawan pulang ke rumah saya di BSD City, Tangerang Selatan. Dan sepanjang perjalanan saya mengambil kesimpulan bahwa, sapi berpeci dan berjenggot adalah merupakan pertanda jaman, bahwa agama, terutama agama Islam banyak yang menyalahgunakan sebagai kedok saja untuk menutupi aibnya. Juga ada hikmah bahwa, kalau kita menilai orang tidak dari predikat ulamanya, dari predikat ustadznya, dari rajin ibadahnya, dari gelar hajinya, dari pecinya, dari jenggotnya, tetapi dari perilakunya.

“Hati-hati dengan politisi atau orang-orang yang berniat mengganti Pancasila dengan sistem khilafah, Harry. Mereka adalah anthek-antheknya pemimpin-pemimpin Arab. Sebab, kalau Indonesia jadi negeri khilafah, para pemimpinnya huga akan hidup foya-foya, bermewah-mewah dan suka main perempuan seperti para pemimpin di negara-negara Timur Tengah. Hati-hati kalau memilih parpol yang berkedok agama Islam…” Gunawan menasehati saya.

Akhirnya sayapun tiba di rumah dan Gunawanpun meneruskan perjalanannya ke rumahnya di kawasan Permata Hijau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Adzan Maghribpun berkumandang.

Sumber foto: caricarainfo.blogspot.com

—ooOoo—

Iklan

CERPEN: Tunggulah Aku di Kandang Sapi


CEWEK itu namanya Cicih Marcicih. Anak tunggal dari Pak Cecep Marcecep, seorang petani kaya yang tinggal di Bojong Tipar, Sukabumi. Walaupun Cicih tinggal di desa, namun rumahnya tergolong mewah. Ayahnya punya peternakan kambing dengan jumlah sekitar 100 ekor kambing. Juga punya peternakan sapi dengan jumlah sekitar 100 ekor sapi. Juga punya mobil Avanza.

Cicih merupakan mahasiswi yang cantik. Teman kuliah saya, satu angkatan di Akademi Manajemen Informatika dan Komputer, Bina Sarana Informatika atau AMIK BSI. Baru duduk di semester satu. Sayapun baru mengenalnya pada hari pertama kuliah.

“Boleh, dong kenalan,” saya memberanikan diri untuk mengenalnya.
“Boleh,” jawab Cicih yang wajahnya mirp Dessy Ratnasari. Akhirnya sayapun mengenalnya dengan nama Cicih Marcicih, tinggal di Desa Bojong Tipar. Di Sukabumi ikut tantenya di pinggiran kota. Semula saya ingin main-main ke rumah tantenya, tetapi dilarang. Katanya, tantenya galak. Bahkan ketika saya ingin main-main ke rumahnya di Bojong Tipar,juga dilarangnya. Katanya, ayahnya galak.

“Jangan. Ayah saya orangnya masih primitif. Masih galak. Mungkin karena saya satu-satunya anak, perempuan lagi, jadi saya dilarang bergaul terlalu akrab dengan cowok. Mohon pengertiannya. Jangan marah, ya Harry,” begitu pinta Cicih.
“Oooh, nggak apa-apa,” walaupun agak kecewa, namun saya harus mau menerima kenyataan seperti itu. Tak perlu putus asa, sebab di kampuspun saya bisa bertemu, berbicara, bercanda, belajar bersama dan bahkan dia duduknya tidak pernah jauh dari saya. Cicih memang enak diajak bicara dan mudah bergaul.

Tetapi, saya harus faham. Saya tidak mau terjebak pada sikap ge-er, sebab Cicih juga bersikap akrab dengan semua cowok. Hal ini yang membuat saya kadang-kadang penasaran. Yang pasti, Cicih belum punya pacar. Begitu, informasi yang saya terima dari Dedeh Mardedeh, sahabat baiknya.

Hari demi hari saya berjuang. Memang sih, Cicih tak pernah menolak kalau saya ajak makan siang bersama di kantin AMIK BSI. Tapi, lagi-lagi dia juga tidak menolak kalau ditraktir cowok lain. Terkadang saya berpikir, masih banyak mahasiswi lain yang cantik, kenapa justru saya tergila-gila sama Cicih? Ternyata saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Padahal ada cewek lain yang juga cantik. Ada Tita Martita,  Dianna Mardianna, Nita Marnita atau Sofie Marsofie.

Sampai semester ketiga saya tetap gagal menundukkan hatinya. Cicih tetap menganggap saya sebagai teman biasanya saja. Itu artinya, satu setengah tahun saya gagal. Saya merasa, betapa bodohnya saya. Padahal, berbagai bujuk rayu sudah saya praktekkan. Segala macam teori merayu cewek sudah saya lakukan. Hmmm, betapa sulitnya menundukkan hati Cicih Marcicih. Namun, justru saya merasa tertantang.

Akhirnya saya nekat. Saya tahu, tiap Sabtu sore Cicih pasti pulang ke desanya di Desa Bojong Tipar. Saya benar-benar nekat. Sewaktu dia naik angkot menuju terminal, saya ikuti. Diapun tahu.

“Mau ke mana, Harry?” tanyanya ketika saya dan Cicih berada dalam satu angkot menuju Bojong Tipar.
“Mau ke Bojong Tipar,” sahut saya yakin.
“Memang Harry ada saudara di sana?”
“Enggak,”
“Kok….?”
“Saya mau ke rumah Cicih…”
“Astaga…” Cicih terkejut.
“Kenapa?”
“Kan saya sudah bilang. Ayah saya galak. Aduh, bagaimana nih?” keluhnya. Wajahnya cemberut. Tampaknya dia tidak suka melihat rencana saya ke rumahnya. Namun akhirnya pembicaraan saya belokkan ke masalah-masalah perkuliahan.

Tanpa terasa, sayapun tiba di Desa Bojong Tipar. Angkot berhenti di warung. Angkot tak bisa langsung ke desanya. Harus meneruskan perjalanan dengan naik ojek. Apa boleh buat. Saya dan Cicih masing-masing naik ojek. Melewati jalan-jalan yang sangat kecil. Bahkan melewati sawah-sawah. Wow, kalau tidak hati-hati, bisa tercebur ke kali.

Sampailah saya ke depan rumahnya. Sesudah membayar ojek, Cicihpun memberi petunjuk ke saya.

“Harry. Sebaiknya sore ini jangan ke rumah saya, deh. Coba besok pagi, temui saya di kandang sapi,” katanya sambil menunjukkan kandang sapi.
“Kok, di kandang sapi?” heran saya mendengar usulnya.
“Iya. Ayah saya tidak mengurus kandang sapi, karena dikelola orang lain. Orang bayaran, namanya Pak Dadang Mardadang. Ayah saya lebih suka mengurusi peternakan kambingnya di tempat lain yang agak jauh dari sini”
“Terus, ibu, kakak, adik di mana?”
“Ibu sudah lama meninggal. Kakak adik? Kan Harry sudah tahu Cicih anak tunggal,”
“Oh,ya.Lupa”

Begitulah. Malam harinya saya menginap di masjid di desa itu. Untunglah di dekat masjid ada warung makanan. Tentu,menunya makanan Sunda. Saya yang berasal daru suku Jawa sebenarnya kurang cocok dengan makanan Sunda. Apa boleh buat.

Begitulah, esoknya sekitar pukul 09:00 WIB, sayapun menemui Cicih di kandang sapi. Sayapun sempat diperkenalkan Pak Dadang Mardadang yang ternyata orangnya baik sekali. Sopan dan ramah. Nah, di kandang sapi itulah saya bisa berdua dengan Cicih. Bahkan tepatnya di belakang kandang sapi, dekat kolam ikan emas.

Sore harinya, tepatnya Minggu sore sekitar pukul 15:00 WIB sayapun naik ojek ke pangkalan angkot di Bojong Tipar. naik ojek terpisah supaya tidak ketahuan ayah Cicih. Dan malam harinya baru sampai ke Sukabumi. Perjalanannya cukup melelahkan. Apalagi jalannya jelek. Begitu sampai di Sukabumi, saya langsung merebahkan tubuh saya di tempat tidur. Di Sukabumi saya kost tak jauh dari rumah Dessy Ratnasari. Dan langsung tertidur tanpa sempat mandi.

Begitulah, tiap Sabtu saya pasti ke Desa Bojong Tipar.Dan selalu berpacaran di kandang sapi. namun itu tidak bisa lama. Saya penasaran dan tak sabar. Bulan kedua, saya langsung ke rumah Cicih. Ternyata ditemui sendiri ayahnya, Cecep Marcecep.

“Cari siapa?” galak tanyanya.
“Mau bertemu Cicih, Pak?”
“Kamu siapa?”
“Saya teman kuliahnya di AMIK BSI,Pak…”
“Ada perlu apa?”
“Ya, ingin melihat kehidupan di desa,Pak. Maklum, saya dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta. Belum pernah melihat kehidupan di desa…” saya menjawab sambil merendahkan diri. Sambil merunduk. Tidak berani menatap matanya.
“Oh, begitu? Coba ikut saya dulu,” ajaknya. sayapun disuruh duduk diboncengan motornya. Motorpun segera berjalan. Saya tidak tahu mau diajak ke mana. Bertanyapun saya tidak berani. Sepanjang perjalanan Pak Cecep tidak berbicara apapun. Diam saja.

Akhrnya, sampailah.
“Nih, peternakan kambing saya. Sekarang jumlahnya ada 100 ekor,” dia berkata dengan nada bangga. Dalam hati, saya masih belum tahu apa maksudnya. Namun, pada menit-menit berikutnya, saya baru mengerti. Saya diajari bagaimana caranya memberi makan kambing dan apa saja makanan yang cocok buat kambing. Juga diajari bagaimana caranya menangani kambing yang sakit. Yang paling tidak enak yaitu, saya diajak membersihkan kandang kambing. Huh! Baunya tidak karuan. Rasa-rasanya saya ingin muntah.Apa boleh buat.

Karena sudah sore, maka kami pulanglah. Sesudah mandi dan shalat Maghrib, maka tibalah saatnya makan malam. Makanan tentu beli di warung sebelah.Maklum,Pak Cecep tidak punya pembantu. Cicih hanya menyediakan minuman kopi. Malam harinya saya tidak boleh menginap di masjid, melainkan harus tidur di rumahnya. Namun sebelumnya, berjam-jam saya harus menemani Pak Cecep bermain catur. sampai malam. Sialan! Esok harinya saya diantar ke pangkalan angkot. Artinya, saya disuruh pulang ke Sukabumi dan tidak boleh menemui Cicih.

Akhirnya saya kembali ke teori semula, yaitu berjanji bertemu di kandang sapi.
“Tunggulah aku di kandang sapi, Harry” begitu pesan Cicih di kampus. Dan memang, selama berbulan-bulan saya selalu berpacaran di belakang kandang sapi.

Tanpa terasa, kami telah diwisuda. Ayah dan ibu ataupun saudara-saudara saya tidak bisa hadir karena ada acara di Jawa Timur.Dengan masih memakai toga, Cicih dan ayahnya mendekati saya.

“Harry, maaf ya. Untuk Harry,…” katanya sambil menyodorkan amplop berwarna merah muda. Saya langsung buka amplop itu. Ternyata,undangan pernikahan. Cicih akan menikah dengan Dudung Mardudung.

“Cicih saya jodohkan dengan Dudung Mardudung, kepala desa Bojong Tipar yang baru saja terpilih,” kata ayahnya tanpa nada bersalah sedikitpun.

“Maafkan saya, Harry….” lirih suara Cicih.
Saya lihat, air mata Cicih menetes satu persatu di pipinya.
Saya tak mampu berkata apa-apa. Saya tak pernah menduga hubungan cinta kasih kami akan berakhir seperti itu.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger