CERPEN: Ongkek’ane Roen…!

FACEBOOK-CerpenOngkekaneRoen

BOJONEGORO sekitar 1965. Seperti biasa, pagi-pagi saya berangkat sekolah. Saat itu kelas enam SR atau SD. Rumah saya di Jl.Trunojoyo No.4 yang sekarang dipakai sebagai Kantor Pelayanan Pajak, sekitar 300 meter Utara kantor pos. Berangkat lewat halaman belakang. Tembus Jl. Diponegoro, depan rumah Gandhi (nama di Facebook: Dhitos Mbombok). sampai perempatan “bangjo” ke kiri, Jl. Teuku Umar.

Tepat di pertigaan Jl.RA Kartini-Jl.Teuku Umar, sebelah barat Gedung PAKRI, ada penjual es serut. namanya Pak Roen. Kalau pagi sudah buka tetapi masih sepi. Tapi kadang-kadang kalau lagi malas, tidak jualan. Kata teman Facebook saya, Koes Haryono, dulu Pak Roen sering tidur-tiduran di empernya Toko Bata, toko sepatu. Sering membawa foto ada bingkainya. Foto isterinya yang sudah meninggal dunia. Sejak isterinya meninggal, Pak Roen memang agak gemblung (setengah sakit jiwa). Itulah, sekila tentang Pak Roen, laki-laki paruh baya.

Saya terus menyusuri Jl.Teuku Umar, belok kanan ke Jl.Dr.Wahidin menuju ke sekolah. Dulu, sekolah saya namanya SDN 3 Kepatihan 1. Saya masih ingat, guru yang mengajari saya belajar membaca dan menulis namanya Bu Nanik. Rumahnya di Jl. Tri Tunggal, Karang Pacar. Guru lainnya, Bu tatik dan Pak Ridwan. Sewaktu kelas 4, saya pernah ditawari kepala sekolah supaya langsung ke kelas 6, tanpa duduk dibangku kelas 5. Soalnya, nilai rapot saya rata-rata nilainya 10. Sayang, saya orangnya terlalu jujur, saya tidak mau.

Yang tidak bisa saya lupakan yaitu, tiap jam istirahat, saya dapat tugas sukarela, yaitu menjual goreng-gorengan. Kalau laku tiap lima goreng-gorengan, saya dapat bonus sayu goreng-gorengan. Saya tawarkan ke kelas 1 hingga kelas 6. Laku 25 goreng-gorengan. Dapat bonus lima goreng-gorengan. Wah, senang sekali. Tidak tiap hari sih, tetapi diganti teman lainnya secara sukarela. Tujuannya, mendidik pelajar untuk mencari uang sendiri.Para pelajar juga diajari berkebun di halaman kgusus kebun. Antara lain diajari cara menanam jagung, ubi, singkong dan lain-lain. Saat panen, para pelajarpun menikmatinya. makan-makan jagung bakar atau ubi bakar. Tujuannya, supaya para pelajar kelas 1 hingga kelas 6 bisa saling mengenal. Kenangan yang tidak akan terlupakan.

Pulang sekolah, melewati jalan yang sama. Yaitu, jalan Dr.Wahidin, belok kiri Jl. Teuku Umar. Tepat di depan warung es Pak Roen, saya lihat banyak orang berkerumun.

“Ada apa, ya?” pikir saya ingin tahu. Sayapun menyeberang jalan menuju ke warung itu. Saya melihat Pak Roen mukanya babak belur. Dan di dalam rumahnya yang sederhana, ada cewek TK sedang menangis.

“Bawa ke kantor polisi!” kata seorang warga. Saya masih belum faham apa yang telah terjadi.

“Laki-laki bejat…!” ujar yang lainnya lagi. Beberapa warga kemudian menggiring Pak Roen ke kantor polisi. Sedangkan beberapa orang ibu-ibu membawa cewek TK itu ke rumah sakit dekat sekolah saya.

“Ada apa, ya?” saya masih saja bengong. Akhirnya, saya terpaksa memberanikan tanya ke seorang bapak. Tapi justru saya dibentak. Katanya, saya anak kecil. Tidak boleh tahu. Agak tersinggung juga saya. Tapi saya diam saja.

Hasil dari nguping pembicaraan para warga yang hadir, maka saya bisa merangkaikan peristiwa itu. Kabarnya, sejak Pak Roen ditinggal isterinya yang meninggal, Pak Roen mengalami stres. Sering kemana-mana membawa foto isterinya yang diberi bingkai. Sering tidur-tiduran di depan toko sepatu Bata mengenang masa lalunya yang indah. Maklum, isterinya dulu bekerja di toko sepatu itu dan Pak Roen mengenal isterinya yang bernama Darmi di toko sepatu itu. Tapi kalau dalam keadaan normal, Pak Roen berjualan es serut atau es campur.

Sebagai penjual es serut, cukup laris. rasanya enak dan harganyapun murah. Apalagi benar-benar menggunakan air kelapa muda dan juga memanfaatkan kelapa mudanya yang benar-benar empuk. Pelanggannya cukup banyak. Tak heran kalau nama Pak Roen yang katanya merupakan kependekan dari kata Haroen, terkenal ke seluruh kota Bojonegoro.

Kabarnya, siang tadi, Pak Roen sedang melayani  Rani, cewek TK yang membeli es serutnya. Sebetulnya Rani anak yang berani. Berangkat sekolah dan pulang sekolah sendiri. Dan pulang sekolah mampir ke warung es Pak Roen.

Rani memang cewek cantik. Mungkin Pak Roen tertarik dengan kecantikan Rani. Kebetulan saat itu warung agak sepi. Pak Roenpun mengajak Rani masuk ke rumahnya yang sangat sederhana. Katanya, dia punya permen dan cokelat banyak. Tentu, Rani yang masih lugu, setelah menghabiskan segelas es, mau saja diajak masuk ke rumah Pak Roen. Pak Roenpun menutup pintu rumahnya.

Di luar, datang tiga calon pembeli. Bapa-bapak muda. Mau membeli es, tapi kok masih sepi. Mereka bertiga duduk-duduk sambil menunggu. Mengira Pak Roen sedang membeli es balok di Mbombok. Biasanya memang begitu.

Tiba-tiba ketiga bapak itu mendengar suara cewek kecil menangis keras. Menangis kesakitan. Karena curiga, ketiga bapak muda itupun mencoba mengintip ke dalam rumah Pak Roen, melalui lubang kecil yang ada. Betapa terkejutnya ketiga bapak muda itu.

“Kurang ajar! Kita dobrak saja pintunya…!” serentak ketiga bapak muda itu mendobrak pintu. Begitu terbuka, mereka bertiga melihat Pak Roen sedang menggagahi Rani di mana tangan kirinya membekap mulut Rani. pak Roen terkejut dan langsung cepat-cepat memakai celananya. Ketga bapak itupun menghajar habis-habisan. Muka Pak Roenpun babak belur.

Dalam tempo sekejap, waring es Pak Roen penuh dengan orang. Salah seorang dari ketiga bapak itupun bercerita. Untuk istilah “hubungan intim”, bapak itu menggunakan istilah “ongkek”. Ongkek itu artinya memasukkan benda ke dalam sebuah lobang kemudian digerak-gerakkan. Orang-orangpun tertawa mendengar kata “ongkek” itu. Salah seorang nyeletuk “Ongkek’ane Roen” disambut tertawa orang-orang lain. Sejak itulah, kalimat “Ongkek’ane Roen” menjadi terkenal. Bahkan beberapa hari setelah Pak Roen bebas dari penjara, orang-orang sering meledeknya dengan ledekan “Ongkek’ane Roen. Biasanya Pak Roen marah dan akan mengejar siapa saja yang meledeknya.

Bagaimana nasib Rani? Tak seorangpun tahu. Andaikan Rani masih ada, mungkin sekarang masih hidup. Paling tidak sekarang mungkin berusia sekitar 50 tahun. Eh, siapa tahu juga punya akun di Facebook. Yang pasti, Rani sebagai korban “Ongkek’ane Roen” pasti mengalami trauma berkepanjangan.

Kasus-kasus “Ongkek’ane Roen” tidak terbatas pada kasus pemekosaan saja. Persoalankumpul kebopun menggunakan istilah “Ongkek’ane Roen”. bahkan kalau ada cowok berhasil memperawani pacarnyapun akan bilang “Saya berhasil Ongkek’ane Roen cewek saya…”. Artinya, istilah atau kalimat itu juga digunakan untuk hubungan intim sukarela.

Apa yang dilakukan Ahmad Fathonah terhadap Maharani juga bisa digolongnkan sebagai perbuatan “Ongkek’ane Roen” atau “Ongkek’ane Fathanah”. Mharani itu baru yang ketahuan. Tentunya masih banyak cewek yang diongkek sama Ahmad Fathanah.

Kembali ke warung es Pak Roen. Setelah saya berhasil mengumpulkan informasi dan merangkai cerita, maka sayapun mulai mengerti apa yang telah terjadi siang itu di warung es Pak Roen. Sesudah itu, sayapun melangkah menuju pulang ke rumah.

“Ongkek’ane,Roen…” kata-kata itu masih terngiang-ngiang di pikiran saya.

Catatan:

Cerpen ini berdasarkan kejadian yang sesungguhnya tetapi sudah dimodifikasi. Yang pasti, inti ceritanya yaitu Pak Roen telah “memperkosa” cewek kecil. Penulis mengharapkan masukan-masukan yang bersifat melengkapi ataupun mengoreksi cerpen ini agar di kemudian hari bisa disempurnakan lagi.

Iklan

CERPEN: Ketika Sapi Berpeci dan Berjenggot

FACEBOOK-CerpenKetikaSapiBerpeciDanBerjenggot

JAKARTA 2013. Siang itu saya sedang menunggu bus TransBSD di halte depan Ratu Plasa.

“Harry…!” tiba-tiba ada yang memanggil seseorang dari jendela mobil yang baru saja berhenti di depan halte. Saya tengok kanan-kiri, siapa tahu bukan saya yang dipanggil. Lagipula, kelihatannya saya tidak kenal dengan yang memanggil saya.

“Harry…!” sekali lagi, orang itu memanggil. Karena saya diam saja, orang yang di dalam mobilpun membuka pintu, turun dan mendekati saya. Sayapun terkejut. Ternyata dia Gunawan, dulu teamn satu kampus yang sudah puluhan tahun tidak bertemu.

“Oh! Gunawan, ya?” saya bediri dan langsung menyalaminya. Akhirnya kamipun ngobrol ke sana ke mari.

“Oh, ya. Bisnis apa kamu sekarang?” saya tanya ke Gunawan.

“Bisnis sapi. Di Bogor. Saya punya 100 sapi. Punya peternakan. Dekat Sentul City…” Gunawan menjawab.

Singkat cerita, karena hari Minggu itu saya tidak punya acara, sayapun diajak Gunawan ke peternakannya di Kabupaten Bogor.

Sampai di peternakannya, langsung saya diajak jalan-jalan melihat satu persatu sapi yang dipeliharanya. Cukup banyak. Kira-kira sekitar 100 ekor sapi. Entah jenis sapi apa, saya tidak tahu. Saya juga merasa tidak perlu tanya.

Sampai akhirnya saya melihat kandang sapi agak kecil dan isinya hanya tiga ekor. Anehnya, ketiga sapi itu berpeci dan berjenggot.

“Kok, kamu punya sapi aneh, sih?” tentu saya bertanya ke Gunawan. Gunawan tertawa.

“Jaman sekarang memang banyak yang aneh. Ceritanya, saya dulu pernah bermimpi didatangi orang tua berpakaian serba putih. Katanya, kalau bisnis sapi atau bisnis daging sapi saya ingin lancar, maka saya saya harus memberi peci putih kepada tiga ekor sapi yang berjenggot. Begitu bangun tidur, saya langsung mencari tiga ekor sapi berjenggot. Ternyata benar-benar ada. Sungguh, saya hampir tidak percaya…” cerita Gunawan lancar sekali dan terkesan ceritanya memang serius.

Sayapun memandangi ketiga sapi berpeci dan berjenggot itu dengan serius.

“Yang ini, namanya Tifagami,” Gunawan menunjuk sapi yang pertama. “Yang ini, namanya Lutfigami,” menunjuk sapi kedua,” Dan yang ketiga namanya Anisgami,” sabil menunjukk sapi ketiga,” Semuanya sapi jantan” Gunawan mengakhiri kalimatnya.

“Kok ada kata gami. Memangnya ada hubungannya dengan poligami?” saya bercanda. Tapi ternyata benar.
“Betul. Ketiga sapi ini memang suka berpoligami. Ketiganya pejantan sejati. Kebetulan semua sapi saya adalah sapi yang dagingnya enak dimakan. Tiga pejantan ini cepat sekali menghamili sapi-sapi betina sehingga dalam waktu singkat sapi-sapi saya banyak yang beranak,” Gunawan menjelaskan. Saya hanya mengangguk-angguk.

Saya tetap merasa aneh. Kok ada sapi punya jenggot. Apalagi dipakaikan peci putih. Gejala apa ini? Isyarat jaman apa ini? Apakah ini merupakan isyarat jaman edan seperti yang pernah diramalkan Jayabaya atau Ronggowarsito? Bukankah pernah diramalkan pada jaman edan agama hanya akan merupakan simbol? Banyak orang rajin beribadah, tetapi suka sekali berpoligami. Bukan poligami demi kemanusiaan tetapi poligami demi syahwat berkedok agama.

“Kok, melamun, Harry. Memangnya ada apa?” Gunawan menyadarkan saya dari lamunan.

“Saya benar-benar heran. Kok ada sapi punya jenggot. Pertanda jaman apa ini?”

“Betul. Itu pertanda jaman edan banyak orang menjadi edan. Agama, terutama agama Islam, hanya dijadikan kedok saja. banyak orang merasa suci, membesar-besarkan dan membangga-banggakan agama Islam, tapi ternyata dia seorang yang doyan main perempuan, doyan politik dan doyan korupsi…” Gunawanpun jujur menafsirkan keanehan sapi berjenggot itu.

” Ya,ya, ya. Poligami jaman sekarang memang berbeda dengan jamannya nabi Muhammad SAW. kalau jamannya Nabi, beliau berpoligami karena atas dasar kemanusiaan. Kalau poligami di Indonesia atas dasar syahwat. Atas dasar nafsu berahi, buktinya yang dipilih wanita-wanita yang seksi, montok dan semok. Kenapa kok tidak menikahi janda-janda tua banyak anaknya dan miskin?” sayapun berpendapat. Gunawan mengangguk-angguk.

Saya terus menatap ketiga wajah sapi yang berpeci dan berjenggot itu. Jenggot, kebanyakan merupakan simbol laki-laki Arab Saudi atau laki-laki Timur Tengah. Artinya, budaya poligami berdasar syahwat sebenarnya datang dari negara-neagara Arab. Di negara-negara tersebut para pemimpinnya suka hidup foya-foya, bermewah-mewah, suka doyan main perempuan dan berpoligami. Sedangkan sapi berpeci melambangkan agama terutama agama Islam yang cuma dijadikan kedok saja. hanya untuk menutupi perbuatan busuknya. hanya supaya dianggap bersih dan suci. Padahal, sok suci.

“Terus, kenapa Gunawan memberi nama ketiga sapinya dengan nama Tifagami, Lutfigami dan Anisgami?” saya masih penasaran.

“Singkat saja. Itu sesuai petunjuk orang tua berbaju serba putih di dalam mimpi saya”.

“Ada artinya?”

“Hmmm, kurang tahu. Mungkin suatu saat nanti ada tiga orang dengan nama-naama mirip itu akan menjadi terkenal karena kasus-kasus poligaminya…”

“Masuk akal…” saya menjawab singkat.

Gunawan kemudian terus mengajak saya putar-putar di peternakannya. Kemudian melihat karyawan-karyawannya yang sibuk memerah sapi.

“Wah, sapinya montok-montok, ya? Payudaranya besar, padat dan sintal…” komentar saya.

“Ya, sapi-sapi betina yang payudaranya besarlah yang disukai Tifagami, Lutfigami dan Anisgami…”

Saya cuma bisa mengangguk-angguk.

“Kok, seperti manusia, ya?” gumam saya.

“Ya, manusia dan binatang kan sama-sama punya nafsu seks, sama-sama punya syahwat, sama-sama punya birahi…”

“Kalau berpoligami, berarti banyak uangnya, dong. Memangnya dapat uang dari mana? “

“Kalau orang politik sih, biasanya dari korupsi. Kalau dari usaha tidak mungkin langsung untung bermilyar-milyar rupiah. Orang-orang politik yang berpoligami rata-rata punya rumah mewah, mobil mewah dan uangnya di bank banyak sekali. Hidupnya berfoya-foya dan bermewah-mewah…” celoteh saya.

“Ya, mungkin mau mencontoh budaya Arab” kata Gunawan.

“Wah, kalau orang Indonesia semakin banyak yang meniru budaya Arab, lama-lama Pancasila nanti bisa diganti Syariat Islam, nih. Indonesia bisa jadi negeri khilafah…”

“Ha ha ha…! Negeri khilafah? Nabi Muhammad SAW saja nggak pernah mendirikan negeri khilafah. Itu kan khayalan politisi-politisi yang tidak faham Pancasila. Pancasila itu harga mati. Sampai kiamat Qubro, Indonesia nggak bakalan jadi negeri khilafah, Harry…Percayalah…!” Gunawan mencoba meyakinkan.

“Ya, saya sangat percaya. TNI dan polri tidak akan berdiam diri jika ada usaha-usaha untuk mengganti Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” jawab saya serius.

Sayapun terus melihat sapi-sapi yang sedang diperah susunya.

“Oh, ya. Sapi betina itu namanya Mahagami, Vitagami dan Darigami,” ujar Gunawan.

“Apalagi tuh artinya?”

“Artinya, ketiga sapi betina itu merupakan sapi yang montok dan semok. Disukai sapi-sapi jantan macam sapi yang berpeci dan berjenggot tadi.Ketiga sapi betina itu sangat disukai sapi jantan bernama Ahmagami, suka main sapi betina yang montok dan semok.”

“Ooo, ya,ya,ya…Saya faham…”

Sore harinya, sayapun diantarkan Gunawan pulang ke rumah saya di BSD City, Tangerang Selatan. Dan sepanjang perjalanan saya mengambil kesimpulan bahwa, sapi berpeci dan berjenggot adalah merupakan pertanda jaman, bahwa agama, terutama agama Islam banyak yang menyalahgunakan sebagai kedok saja untuk menutupi aibnya. Juga ada hikmah bahwa, kalau kita menilai orang tidak dari predikat ulamanya, dari predikat ustadznya, dari rajin ibadahnya, dari gelar hajinya, dari pecinya, dari jenggotnya, tetapi dari perilakunya.

“Hati-hati dengan politisi atau orang-orang yang berniat mengganti Pancasila dengan sistem khilafah, Harry. Mereka adalah anthek-antheknya pemimpin-pemimpin Arab. Sebab, kalau Indonesia jadi negeri khilafah, para pemimpinnya huga akan hidup foya-foya, bermewah-mewah dan suka main perempuan seperti para pemimpin di negara-negara Timur Tengah. Hati-hati kalau memilih parpol yang berkedok agama Islam…” Gunawan menasehati saya.

Akhirnya sayapun tiba di rumah dan Gunawanpun meneruskan perjalanannya ke rumahnya di kawasan Permata Hijau, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Adzan Maghribpun berkumandang.

Sumber foto: caricarainfo.blogspot.com

—ooOoo—

CERPEN: Darin-ku Montok Darin-ku Semok

FACEBOOK-CerpenDarinkuMontokDarinkuSemok

JAKARTA 1980. Saat itu saya telah menyelesaikan semester terakhir di sebuah akademi komputer di Jakarta dan sedang menyusun skripsi dalam rangka ujian akhir atau ujian komprehensif. Kebetulan saya, Rudy Rayadi, Armi Helena dan Inggah Silanawati, teman-teman seangkatan dipercaya oleh pihak yayasan atau pihak akademi  untuk menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru.

Saat itu hari ke sepuluh bertugas sebagai panitia. Tersedia empat meja di teras kampus bagian depan. Targetnya hanya menerima 120 mahasiswa atau untuk tiga kelas saja. Tiap hari selalu ada calon mahasiswa yang datang, sebagian baru meminta informasi dan meminta brosur, namun sebagian lagi ada yang langsung mendaftar. Saat itu saya sedang sibuk merapikan formulir-formulir pedaftaran yang telah masuk beberapa hari sebelumnya.

“Maaf, Mas. Di sini tempat pendaftaran mahasiswa baru?” tiba-tiba saya dikejutkan sapaan dari arah depan saya. Saya lihat, ada cewek di depan saya. Agak gagap sedikit saya persilahkan cewek itu duduk. Sekilas saya lihat cewek itu cantik sekali. Sebagai cowok yang normal, tentu saya mengagumi cewek di depan saya itu. Namun, saya tetap harus melayani semua pertanyaan cewek itu tentang akademi kmputer tempat saya kuliah.

“Kalau serius, silahkan mengisi formulir pendaftaran,” saya menawarkan formulir sekaligus mempromosikan bahwa semua lulusan akademi komputer tempat saya kuliah, tidak ada yang menjadi pengangguran. Ternyata, cewek itu serius ingin mendaftar. Diapun mulai mengisi formulir pendaftaran sambil sesekali bertanya.

Nah, saat cewek itu mengisi formulir pendaftaran, sayapun memperhatikannya dengan cermat. Rambutnya pendek, bulu matanya lentik, bibirnya mungil, tubuhnya putih, langsing, dan…aduhai, payudaranya cukup montok dan tubuhnya cukup semok. Sebagai cowok normalpun saya merasa benar-benar kagum melihatnya. Tak lama kemudian cewek itu selesai mengisi formulir dan melampirkan semua persyaratan termasuk fotokopi surat kelulusan SMA, KTP, fotokopi lainnya dan tiga buah pasfoto berwarna ukuran 3 cm X 4 cm. Kemudian menyerahkannya ke saya.

“Lengkap. Jangan lupa, Senin depan mengikuti tes atau seleksi masuk…,” ucap saya ke cewek itu. Cewek itu mengangguk, berdiri, kemudian menyalami saya.

“Insya Allah, saya Senin akan datang,” katanya. Telapak tangannya yang saya pegang terasa halus sekali. Bergetar hati saya melihat cewek secantik itu. Sekilas mirip artis Nia Daniati. Diapun kemudian meninggalkan tempat pendaftaran. Saya hanya bisa memandanginya dengan rasa kagum. Rudy, Armi dan Inggah-pun ramai-ramai menggoda saya dan mengatakan cewek itu cocok jadi pacar saya. Saya cuma tersenyum kecut.

Sayapun melihat formulir pendaftaran cewek itu. Ternyata dia bernama Darin Syahwati berasal dari Kota Cirebon. Alamatnyapun saya catat. Kemudian, saya disibukkan oleh calon-calon mahasiswa lainnya yang sudah antri untuk saya layani.

Senin berikutnya, tes atau seleksi masukpun diadakan. Memerlukan enam kelas. Panitia pengawasnyapun cukup banyak. Sayapun mencari Darin. dari kelas ke kelas lainnya saya masuki. Saya perhatikan satu persatu wajah cewek-cewek peserta tes. Namun kenyataannya, Darin tidak ada. Benar-benar tidak ada. Bahkan sampai tes selesaipun Darin tidak ada. Tentu, saya kecewa berat.

Akhirnya, tepat Minggu pagi, sayapun menuju ke Cirebon naik bus. Lima jam kemudian tiba di terminal Cirebon. Langsung naik becak menuju alamat rumah Darin. Ternyata, sebuah rumah bertingkat yang cukup mewah. Sesudah membayar becak, sayapun mengetuk pintu rumah itu. Muncul seorang tante. Sayapun memperkenalkan diri dan menanyakan Darin. Katanya, Darin sedang ke salah satu kampus di Cirebon.

“Tunggu sebentar, deh. Katanya sebentar,kok. Cuma mengantarkan formulir pendaftaran ke kampus…” ujar tante itu sambil mempersilahkan saya duduk di teras rumah yang cukup luas dan sejuk. Sayapun menunggu Darin sambil mengagumi taman depan rumah yang dipenuhi bunga aneka warna. Sebuah kolam ikan kecil, air mancur dan beberapa pohon cemara kecil. Sebuah taman yang bagus.

Sekitar lima belas menit kemudian, masuklah sebuah mobil Honda putih. Kemudian berhenti di depan garasi. Pengemudinyapun turun dan menuju ke tempat saya. Sayapun berdiri. Darin agak terkejut melihat saya.

“Oh, dari kampus akademi komputer, ya?” sapanya sambil menyalami saya. Diapun kemudian duduk di depan saya. Sayapun langsung menanyakan ke Darin, kenapa kok tidak mengikuti tes seleksi. Darin menjawab bahwa dia akhirnya memutuskan kuliah di Cirebon saja supaya dekat dengan mamanya. Maklum, dia anak tunggal dan papanya sudah lama meninggal. Saya mengangguk-angguk memakluminya. Lagi-lagi, saya sebagai cowok yang normal, tertarik dengan payudara Darin yang montok dan tubuhnya yang semok. Apalagi, Darin mengenakan rok mini yang cukup seksi.

Darinpun bercerita bahwa sebenarnya tiap Sabtu dan Minggu selalu pergi ke Jakarta, menginap di rumah tantenya di Cijantung. Darinpun menyebutkan sebuah alamat dan tentu saya mencatatnya atas seijin Darin. Rupa-rupanya saya tidak bertepuk sebelah tangan. Sebab, Darin mempersilahkan saya bertemu dengannya di rumah tantenya yang ada di Cijantung. Tentu, sebagai cowok yang belum punya pacar, sayapun merasa dapat angin segar.

Begitulah, akhirnya tiap Sabtu malam atau Minggu pagi saya bertemu Darin di Cijantung. Bahkan kalau Minggu mengajak Darin jalan-jalan. Kadang naik motor Honda 90 , kadang naik angkot, kadang naik taksi. Tanpa terasa, hubungan saya dengan Darin telah berlangsung satu bulan. Namun, rasa-rasanya saya sudah mengenal Darin puluhan tahun lamanya. Darin enak diajak bicara, selalu nyambung, wawasannya luas, cukup dewasa, suka humor dan tahu apa yang saya suka.

Hari Senin, saya ke kampus untuk konsultasi dengan dosen pembimbing skripsi, yaitu Pak Firdaus Jamaluddin. Sayang, menurut bagian tata usaha, beiau hari itu tidak bisa datang karena mengantarkan ibunya ke rumah sakit.

“Kok, cepat?” tiba-tiba ada yang menyapa saya. Ternyata Tata Suhata yang juga sedang menunggu dosen pembimbingnya. Siang itu ada sekitar 10 teman-teman seangkatan saya sedang berkumpul. Sayapun duduk di samping Tata.

Ngobrol punya ngobrol, Tatapun tanya tentang Darin. Tentu, saya cerita apa adanya. Mulai kunjungan saya ke rumah Darin di Cirebon hingga kunjungan saya ke rumah tantenya Darin di Cijantung. Juga cerita tentang acara saya dengan Darin. Bahkan sayapun menunjukkan foto-foto saya bersama Darin.

“H e he he…,” Tata tertawa .

“Kok, tertawa?” tanya saya terheran-heran. Semula Tata cuma tertawa saja. Tidak mau membalas pertanyaan saya. Namun sesudah saya desak, akhirnya Tata yang juga berasal dari Cirebonpun mau bercerita. Sebuah cerita yang sangat mengejutkan.

Kata Tata, nama Darin Syahwati di Cirebon sudah cukup terkenal. Pernah terpilih sebagai Ratu Pariwisata Cirebon saat masih duduk di SMA. Pacarnya anak seorang pejabat di kota itu. Namun…kemudian dihamili hingga melahirkan anak. Dan anak pejabat itu tidak mau menikahi  Darin. Anak haramnya dititipkan di sebuah yayasan penampung bayi-bayi terlantar. Dan kata Tata, Darinpun menjadi cewek “begituan” dengan bayaran yang sangat tinggi.

Sayapun tertegun mendengar cerita Tata. Karena Tata adalah sahabat saya yang jujur, maka sayapun percaya. Hampir saya tidak mampu berkata-kata. Maksud hati saya membanggakan Darin di depan Tata, tetapi yang saya dapatkan justru sebaliknya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Darin yang montok dan semok itu.

CERPEN: Vitalia Sesat

Gambar

SIAPA sih yang tidak kenal Vitalia Ramona? Dia pernah jadi Ratu Kampus 1974 saat dia duduk di semester tiga di Fakultas Ekonomi, Universitas Kiyai Tapa, Jakarta Barat. Dia mahasiswi yang cantik, pandai dan cukup gaul. Tidak membedakan mana mahasiswa kaya dan mana mahasiswa miskin. Oleh karena itu, Vitalia sangat disukai teman-teman sekampus. Temannya banyak. Kebetulan saya waktu itu satu angkatan dan bahkan dia menjadi anggota kelompok belajar saya. Kebetulan lagi Vitalia dan saya sama-sama tinggal di Kebayoran Baru, tetangga lagi. Saya di Jl.Prof Djoko Sutono SH dekat STM Penerbangan, dia di Jl. Cikajang dekat Gudeg Bu Tjitro. Kalau saya pulang bawa mobil dan dia tidak bawa, pasti numpang di mobil saya. Begitu juga sebaliknya. Saya tahu benar, Vitalia cewek baik-baik dan rajin beribadah. Bahkan ada rencana akan umroh.

“Eh, ngalamun aja, Mas Harry ini!” tegur Vitalia mengejutkan saya ,yang saat itu sedang duduk santai sendirian di taman kampus.

“Ah, enggaklah!” singkat jawaban saya. Vitalia yang datang sendiripun duduk di sebelah saya, kemudian pesan es kacang ijo kesukaannya. Seperti biasa pesan dua gelas, satu buat saya. Vitalia memang suka traktir teman-temannya, termasuk saya tentunya. Maklum, dia punya usaha butik yang cukup besar di kawasan Mampang. Saat itu ada matakuliah kosong ,karena dosen saya, Pak Mintohardjo sedang dirawat di RS Pertamina, entah sakit apa.

Itulah Vitalia Ramona yang saya kenal pada semester pertama  hingga semester ketiga. Pada semester keempat, ada perubahan yang agak drastis pada diri Vitalia. Pergaulanpun mulai pilih-pilih. Hanya mau bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa yang tergolong mampu. Suka pesta. Kuliahnyapun sering ditinggalkan. Bahkan boleh dikatakan tidak pernah belajar bersama di kelompok belajar saya. Sebetulnya saya tidak peduli. Tapi, karena Vitalia merupakansahabat baik, sayapun berusaha mencari tahu, ada apa dengan Vitalia yang cantik jelita itu?

Belakangan saya dapat informasi dari Donny, kabarnya usaha butik Vitalia bangkrut karena tempat usahanya kena gusur, bayar pajak mahal dan terakhir mobilnya hilang dicuri orang. O, kalau itu persoalannya, saya bisa memakluminya. Cuma sayangnya, Vitalia tidak pernah menceritakan semuanya itu kepada saya. Tapi, tak apalah. Itu masalah Vitalia. Lagipula sudah terlanjur terjadi. Sayapun tidak bisa membantu apa-apa.

“He! Harry! Kamu tahu nggak, bagaimana khabar Vitalia sekarang?” tanya Gaguk pada semester kelima di mana Vitalia sudah tak pernah kuliah lagi. Kabarnya ambil cuti satu tahun karena mau umroh dan sibuk dengan shooting film.

“Sibuk shooting? Betul, tapi Harry tahu nggak berita-berita dari mulut ke mulut tentang Vitalia?” tanya Gaguk yang saat itu kebetulan sedang makan siang bersama saya di kantin kampus.

“Kabar apa?” saya ingin tahu.

“Astaga! Harry teman baik Vitalia kok sampai tidak tahu, sih? Vitalia sekarang kan sering dipesan pejabat?”

“Maksudmu?”

“Biasalah! Cari duit! Jual tubuh!”

“Ah! Mudah amat Gaguk percaya? saya tahu Vitalia rajin beribadah. Apalagi mau umroh.Nggak mungkinlaaah,” bantah saya.

“Hidup di Jakarta ini segala kemungkinan bisa terjadi, Harry”

“Dari mana Gaguk tahu?”

“Namanya juga kabar burung. Ya dari mana-manalaaah…Gak penting. Tinggal Harry mau percaya atau tidak?”

Lagi-lagi, semula saya tidak peduli. Tapi, naluri keingintahuannya semakin lama semakin besar. Saya berusaha mencari informasi dari teman-teman dekat Vitalia. Ternyata, semua menjawab tidak tahu. Maklum, merekasudah lama tidak bertemu dengan Vitalia.

Nah, suatu hari secara tidak sengaja saya bertemu dengan teman lama. Teman se-SMA dulu. Saya tak sengaja bertemu di Wisma Nusantara, Jl.MH Thamrin. Saat dia turun dari lift dan saya akan naik lift. Saat itu saya akan menemui sahabat saya di salah satu kantor di gedung itu. Dan yang membuat saya terhenyak yaitu, teman saya, namanya Jeffry, turun bersama Vitalia. Ada apa ini? Akhirnya sayapun ngobrol-ngobrol sebentar. Ternyata, Jeffry punya kantor di gedung itu. Punya usaha sendiri. Siang itu dia mengajak Vitalia makan siang di salah satu resto di Jakarta Pusat. Saya tak sempat bicara dengan Vitalia. Jeffry langsung menuju ke mobl Mercy-nya bersama Vitalia. Untunglah, saya sempat minta kartu nama Jeffry.

Malam harinya saya telepon Jeffry. Maklum, jaman dulu belum ada HP atau ponsel. Saya di rumah dan Jeffrypun di rumah. Biasalah, ngobrol-ngobrol jamannya masih sekolah di SMA. Terus bicara soal perkuliahan dan pekerjaan. Jeffry tidak kuliah karena lulus SMA langsung mendirikan perusahaan di bidang ekspor-impor. Sudah jadi pengusaha sukses dan kaya raya.

Saat saya tanya tentang Vitalia, awalnya hanya mengaku Vitalia sebagai sahabat bisnis saja. Namun, sesudah saya pancing, akhirnya Jeffry berkata jujur bahwa dia saat itu memang punya acara kencan dengan Vitalia dengan tarif Rp 3 juta short time. Itu tarif tahun 1974. Cukup mahal.

“Astaga!” gumam saya tak percaya. Kenapa Vitalia melakukan itu? Apakah karena usaha butiknya bangkrut? Bukankah honor dari main filmnya cukup banyak? Lantas, apa motivasinya Vitalia seperti itu?

Esok harinyapun saya langsung bercerita ke teman-teman sekampus. Sebagian terperangah tidak percaya. Namunada satu dua yang percaya bahkan mengiyakan. Katanya, Vitalia beberapa bulan itu memang tersesat karena bangkrut dan terpengaruh ajakan Renny, teman kuliah yang sudah lama terkenal  sebagai “ayam kampus”. Sayapun mulai percaya bahwa Vitalia memang tersesat.

Tapi, lagi-lagi buat apa saya peduli dia? Pacar bukan. Saudara bukan. Hanya sahabat biasa saja. Kenapa saya mengurusi yang begituan? Bukankah fokus ke dunia perkuliahan itu lebih baik? Urusan Vitalia adalah urusan Vitalia. Tidak ada hubungannya dengan urusan saya. Sejak saat itu, teman-teman sekampus menjuluki Vitalia Ramona dengan sebutan Vitalia Sesat. Kabarnya, Vitalia telah keluar dari Universitas Kiyai Tapa dan kuliah di ASMI, Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia.

Tanpa terasa. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan.Tahun berganti tahun. Saya sudah lulus sebagai sarjana dan bekerja pada sebuah perusahaan konsultan manajemen di kawasan Jl.MH Thamrin. Tepatnya di Wisma Nusantara. Sama dengan kantor Jeffry. Bedanya, Jeffry di lantai 4 sedangkan saya di lantai 9.

Hari pertama kerja saya kerja, saya terkejut. Ternyata saya satu kantor dengan Vitalia.

“Vitalia?!” sapa saya hampir tak percaya. Vitaliapun berdiri dan menyalami saya.

“Kaget,ya? Saya membaca lamaran kerja Mas Harry dan saya usulkan ke pimpinan supaya Mas Harry bekerja di sini…” jawab Vitalia. Sayapun tertegun.

Sejak itulah, hubungan saya dengan Vitalia kembali akrab. Karena rumah saya dan rumah Vitalia di Kebayoran berdekatan, maka sayapun selalu bersama-sama berangkat dan pulang kantor. Maklum, sejak bangkrut, Vitalia tidak punya mobil lagi.

Entahlah. Mungkin tiap hari saya bertemu dengan Vitalia, sedikit demi sedikit, sayapun jatuh cinta kepada Vitalia. Apalagi Vitalia juga masih hidup sendiri. Tapi, saya punya konflik batin yang cukup berat. Apakah saya harus menikah dengan Vitalia yang dijuluki teman-teman sebagai Vitalia Sesat degan tarif Rp 3 juta short time?

Setahun saya bekerja di perusahaan itu. Akhirnya Vitaliapun mengaku bahwa dulu memang dia tersesat karena butuh uang banyak untuk biaya hidup sehari-hari. Diapun menyatakan telah bertaubat dan jika bersedia, Vitalia mengajak saya umroh bersama, bulan depan. Niat umroh Vitalia yang bertahun-tahun tertunda.

Begitulah, bulan berikutnya saya dan Vitalia menjalankan umroh. Dan di sana, kami berdua berjanji akan menjadi suami istri yang baik. Akan menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak. Akan menjadi umat beragama yang taat. Dan memang benar. Beberapa bulan kemudian saya menikah dengan Vitalia. Dengan ikhlas, saya memaafkan masa lalu Vitalia yang kelam. Apalagi, Vitalia sudah bertaubat.

CERPEN: Meddy

FACEBOOK-CerpenMeddy

             HARINYA lupa,tanggalnya lupa,bulannya juga lupa.Namun,saya masih ingat kejadian itu berlangsung pada tahun 1980 yaitu sewaktu saya naik kereta api Senja Utama Jakarta-Solo.

“Mau ke mana?”,tanya saya ke seorang gadis cantik berambut pendek mirip Demi Moore yang duduk di sebelah saya.Waktu itu kereta baru saja berangkat dari stasiun Gambir sore hari.

“Yogya.Kalau,Mas..?”,ganti gadis itu bertanya.Kulihat gadis berambut pendek itu menatap mata saya. Bening sekali matanya.

“Sama.Saya kuliah di UGM”,saya menawarkan permen Mentos.Gadis itu menggeleng kecil. Sementara itu kereta api mulai meninggalkan Kota Jakarta.

“Di fakultas apa,Mas?”.dia ingin tahu.Saya lihat,matanya bening dan indah.Bulu matanya lentik.Sekilas mirip Meriam Belina.

Saya pun menjawab apa adanya.

“Di Fakultas Filsafat,tingkat sarjana muda”

“O,kalau begitu kita satu kampus.Saya di fakultas teknik”,tampak wajah gadis itu ceria.Ganti,dia menawarkan biskuit.Saya menggeleng kecil.

“Teknik? Kenal dong sama Roy”,saya ingin tahu.

“Roy? Roy yang dari Sukabumi,Jawa Barat?”

Saya mengangguk.

“Wow,kalau Roy itu sih nggak cuma kenal,bahkan kenal akrab.Roy kan sahabat se-study club.Mas,kok kenal,sih?”,gadis itu penasaran.Saya lihat dia mengenakan baju warna pink dan celana jean yang manis.

“Kalau saya baru kenal.Itupun dari Mita,pacarnya…”

“Mita? O,mungkin pacarnya yang dari Sukabumi juga ya? Mita yang kuliah di Akademi Bahasa Asing ‘Jakarta’,kan?”,gadis itu ingin tahu.

“Kok,tahu?”,sementara itu kereta terus melaju pesat. Suara rodanya sangat berirama.

“Iya,kan si Roy sering cerita kalau kita sedang kumpul-kumpul .Mas,kenal Mita di mana?”,gadis itu tampak penasaran.

“Mita juga teman sekampus saya di ABA Jakarta.Namun sekarang sudah alumni.Dia kerja di Jetro ,Japan External Trade Organisation,Wisma Nusantara Lantai 11,PO Box 2140,Jakarta Pusat”,jawab saya lengkap.

“O,..ya,ngomong-ngomong kita belum kenalan,nih!”,katanya sambil menyodorkan telapak tangannya yang mungil.Saya menyambutnya. Malu juga saya, kenapa bukan saya yang harus memperkenalkan terlebih dulu.

“Harry…Harry Imadha”,saya memperkenalkan diri.

“Di Kampus saya dipanggil Meddy.Lengkapnya Samedi.Samedi berasal dari kata Perancis yang artinya Sabtu.Saya dilahirkan hari Sabtu”,jelasnya cukup panjang lebar. Sesekali dia meneguk minuman Coca Cola kaleng.

“Namamu bagus..”,sebuah pujian saya ucapkan.Dia hanya terseyum.Oh,cantik sekali.

“O ya,enak ya Mas tinggal di Jakarta.Gadis-gadisnya cantik.O ya,ngomong-ngomong pacarnya Mas Harry tinggal di mana?Di Jakarta atau di Yogya? Boleh nggak Meddy kenalan? Lumayan kan untuk memperluas persahabatan”,tanyanya memancing.Namun saya menjawabnya secara jujur.

“Sejak tahun 1974 saya tidak pernah mencintai gadis dalam arti yang sesungguhnya.Tepatnya,sejak Erna Stella—pacar saya—meninggal karena kecelakaan di Jl.Malioboro”,saya mulai bercerita.

“Oh,Maaf ya,Mas jika Meddy mengungkit-ungkit masa lalu Mas Harry yang pahit”,kata Meddy.

“Tidak apa-apa.Justru saya mengucapkan terima kasih kalau Meddy mau mendengarkan sedikit cerita tentang saya.Entahlah,terhadap teman-teman sekampus di ABA “Jakarta” ataupun di UGM saya tak sempat cerita.Sibuk kuliah mondar-mandir Jakarta-Yogyakarta.

“Mungkin itu peristiwa yang terjadi pertama kali bagi Mas Harry.Sulit untuk dilupakan.Tapi,alangkah baiknya dan bijaksananya jika Mas Harry tidak hidup dalam kungkungan trauma psikologis.Lupakan saja masa lalu.Toh di UGM juga banyak gadis-gadis yang cantik.Tuhan tidak hanya menciptakan satu gadis.”,kata Meddy bernada menasehati.Kalau saya pikir-pikir,apa yang diucapkan Meddy memang ada benarnya juga.

“Meddy memang benar.Saya memang kadang-kadang sering lupa menengok masa depan.Maklum,saya cinta setengah terhadap almarhumah Erna Stella”,saya menghela nafas panjang-panjang. Sesekali saya meneguk kopi susu hangat yang ada di gelas .

“Maaf ya,Mas.Bukannya Meddy sok dewasa atau sok menggurui.Cuma,entah kenapa perkenalan kita yang singkat ini seolah-olah sudah berlangsung puluhan tahun dan Meddy langsung merasa akrab dengan Mas Harry.Mungkin Meddy teringat cerita dari saudara sepupu yang juga pernah mengalami nasib yang mirip dengan yang dialami Mas Harry.Cuma,karena dia  terikat pada masa lalunya,akhirnya dia tak menikah.Umurnya kini 51 tahun dan masih menjadi pria bujangan.Meddy berharap agar Mas Harry tak seperti saudara sepupu saya tersebut…”,ujarnya penuh harap.

“Meddy memang benar!Mungkin akan lebih menyedihkan bila hal itu dialami seorang wanita dan mereka akan mendapatkan julukan perawan kadaluwarsa.Sebutan yang menyakitkan hati,” kata saya sambil menawrkan permen Mentos.Kali ini Meddy mau menerimanya. Karena udara malam mulai dingin, sayapun menutup jendela kereta.

“Sudahlah,Mas…jangan terlalu idealis.Gadis yang 100% serupa dengan almarhum Erna Stella pasti tidak ada.Meddy percaya bahwa masih banyak gadis yang mau menggantikan almarhumah Erna Stella.O,ya,di fakultas filsafat kan ada gadis yang sedang ngetop.Namanya Corry Lumanauw”,Meddy bercerita.

“Bukan Corry Lumanauw,tapi Doris Lumanauw.Memang dia cantik.Tapi,saya bisa melarat kalau hidup dengannya.Untuk apa berpacaran dengan gadis tukang porot?Saya menyukai gadis yang bersikap biasa-biasa saja.Memang sih saya ini sedang sial.Saya memang pernah mencoba cari pacar lain,namanya Deasy.Sayang dia sakit asma.Meddy tentu tahu kalau penyakit itu bisa menurun ke anak cucu.”

Saya terus melanjutkan cerita.

“Kemudian,saya mencoba mendekati gadis lain.Namanya Meila Paulina van Fredrick.Gadis Indo.Ternyata,gadis yang tampaknya alim itu ternyata pelacur kelas kakap.Padahal,penampilannya seperti mahasiswi.Haruskah saya memacarinya untuk kemudian saya peristri?Tentu saja tidak!”

“Sabar saja,Mas.Anggap saja bahwa Tuhan sedang menguji mental,jiwa dan ketabahanb Mas Harry.Setiap orang di bumi ini apapun pangkatnya,apa pun kekayaannya,apa pun jabatannya,di mana pun tempatnya,apa pun agamanya,pasti diberi cobaan-cobaan oleh Tuhan.Kita harus berfikir yang realistis,yang nyata,bahwa kehidupan itu tak selamanya sedih dan tak selamanya menyenangkan.Apalagi Mas Harry adalah laki-laki.Tak perlu cengeng dengan masa lalu.Meddy percaya bahwa suatu saat Mas Harry akan menemukan seorang gadis yang justru melebihi almarhumah Erna Stella.Percayalah”,Meddy meyakinkan.Gaya bicaranya memang cukup dewasa.

Sementara itu kereta telah melesat jauh.Melaju kencang.Kutatap wajah Meddy.Kupandang dalam bola matanya.

“Kenapa,Mas?”,Meddy ingin tahu.

Sayapun menjawab jujur.

“Meddy,…Meddy mirip sekali dengan almarhumah Erna Stella.Gaya bicaranya,senyumnya,wajahnya…Saya seperti bermimpi…”

Hari semakin malam. Tak henti-hentinya kami saling bercerita. Dan akhirnya kami berduapun tertidur pulas.

CERPEN: Namaku Niken Bukan Claudia

Gambar

SAAT itu umur saya 40 tahun. Dua tahun saya cerai dengan Claudia. Tetap mengelola resto ayam goreng. Resto yang semula saya beri nama Claudia Fried Chicken saya ganti menjadi Resto New York Fried Chicken. Resto yang dua tahun lalu merupakan resto kecil telah berkembang. Tempatnyapun berpindah ke Jl.Dr.Saharjo. Lebih besar dan halaman parkirnya lebih luas. Karena reesto berkembang pesat, maka saya mengundurkan diri dari kantor saya yang kerja saya berdasarkan kontrak. Ada proyek saya bekerja dan tidak ada proyek saya tidak bekerja. Penghasilan saya mengelola resto lebih besar dibandingkan gaji yang pernah saya terima dari perusahaan. Bahkan saya mampu membeli rumah kredit di BSD Cluster Catelya, Tangerang Selatan, sebuah rumah minimalis dua lantai dan mampu kredit mobil. Ruelum saya tempati. Sementara masih tinggal di resto tempat saya bekerja.

Seperti biasa, tiap Minggu pagi saya mengontrol rumah saya di Cluster Catelya. Siang harinya, seperti biasa saya menuju ke ITC Mall untuk makan siang di Pizza Hut. namun sebelumnya saya menuju ke ATM Bank BRI dulu. Ternyata di dalamnya masih ada orang yang menggunakan ATM. Sayapun sabar menunggu.

Tak lama kemudian, orang yang di dalam ruang ATMpun keluar. Betapa terkejut saya melihat orang itu. Tanpa sengaja dan reflek, saya memanggilnya.

“Claudia…!” panggil saya. Wanita muda itupun terkejut. sayapun segera sadar bahwa wanita yang mirip Claudia pastilah bukan Claudia. Dia sempat berhenti memandangi saya. Mungkin, karena merasa tidak kenal atau mungkin itu bukan nama saya, wanita muda itupun meneruskan perjalanannya menuju ke tempat parkir mobil. Entah kenapa saya mengikutinya dari belakangnya.

“Maaf, kalau saya memanggil Anda Claudia…” saya mendekatinya. Wanita muda itu menengok ke arah saya sebentar dan terus berjalan menuju ke tempat parkir. Sepuluh langkah kemudian saya mengucapkan kata-kata yang sama, namun wanita muda itu tetap cuek.

Ketika dia akan membuka mobil, untuk ketiga kalinya saya meminta maaf. Dia tak jadi membuka pintu mobilnya. Dia menatap saya beberapa saat. Mungkin dia tahu tidak bermaksud jahat, diapun bersikap ramah.

“Ada apa dengan Anda?” dia ingin tahu.

“Maaf. Anda mirip sekali dengan mantan isteri saya,” sayapun mengambil dompet dan menunjukkan foto itu kepadanya. Dia menerima foto itu dan melihatnya. Tampa wajahnya berubah bersinar.

“Wow! Iya,ya? Mirip sekali. Kok, bisa sih…” berkali-kali dia melihat ke arah saya dan ke arah foto itu..Karena dia menuunjukkan sikap yang ramah, maka sayapun memberanikan diri untuk berkenalan. Ternyata dia menyambutnya.

“Harry,” saya menjabat tangannya.

“Niken. nama saya Niken. Bukan Claudia…” candanya. Diapun tertawa kecil. Tampaknya dia terburu-buru. Sebelum masuk ke mobil, saya meminta nomor HP-nya. Ternyata dia memberikan kartu nama. Sayapun memberikan kartu nama. Tak lama kemudian mobil mulai beranjak pergi.

“Main-main ke rumah Niken, Mas Harry,” sapanya hangat sambil melambaikan tangan lewat jendela mobil. Tak lama kemudian mobil Avanza hitam itupun tak tampak lagi di mata saya. Segera saya menuju ke Pizza Hut untuk makan siang.

Sambil makan siang, saya membayangkan kembali pertemuan yang aneh tadi. Kok ada ya, wanita yang segala-galanya mirip Claudia? Rambutnya, matanya, bibirnya, senyumnya, langsingnya. Segala-galanyalah.

Selama seminggu, saya dan Nikenpun saling kontak lewat HP. Dari ceritanya, sayapun mulai tahu siapa Niken. Seorang janda muda. Suaminya seorang pilot telah meninggal dalam kecelakaan penerbangan Surabaya-Manado. Suaminya dan semua penumpang kecebur laut dalam dan hingga sekarang semua jenasah penumpang pesawat itu tidak diketemukan. Niken punya seorang anak perempuan bernama Dieta. Masih sekolah di taman kanak-kanak. Niken cewek Bali. Dia mantan pamugari dari Bouraq Airways.

Karena saya sudah tahu Niken berstatus janda, maka hari Minggu itu dengan mengendarai mobil saya menuju ke rumahnya di Komplek Perumahan Banjar Wijaya, sekitar Cipondoh, Tangerang. Setelah tanya sana tanya sini, akhirnya ketemu juga rumahnya. Karena sudah janjian, maka Niken dan anaknyapun menyambut kedatangan saya.

“Selamat datang Mas Harry,” Niken mencium tangan saya dan disusul anak perempuannya yang juga mencium tangan saya. Kami berduapun ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Rumahnya ternyata juga dua lantai. Tertata rapi dan tampak indah. Terkesan Niken pandai memilih perabotan rumah. Pandai memilih warna. Pandai mengkombinasikan warna. Terkesan seleranya tinggi.

“Rumah yang indah dan nyaman,” komentar saya. Niken cuma tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sementara anak perempuannya sibuk bermain-main sendiri di lantai agak jauh dari kami berdua.

Enam bulan kemudian sayapun menikahi Niken. Terlalu cepat? Waktu bukan ukuran sebab kami berdua sudah merasa cocok. Menikah di Kota Singaraja, Bali, sebab kedua orang tuanya tinggal di kota itu. Berlangsung dua hari. Hari pertama berpakaian adat Bali dan hari kedua berpakaian adat Jawa. Kedua orang tua dan dua saudara sayapun hadir. Claudia tidak bisa hadir. Untunglah, Niken beragama Islam sehingga tidak ada masalah dalam pernikahan itu. Bulan madunya cuma jalan-jalan di Pantai Lovina yang tidak jauh dari Kota Singaraja. Seminggu kemudian kami kembali ke Jakarta dan Tangerang.

Seminggu saya tinggal di Jakarta dan seminggu tinggal di rumah Niken dan seminggu tinggal di rumah saya di BSD Catelya. Urusan Resto New York Fried Chicken saya serahkan ke salah seorang karyawan yang memiliki kemampuan manajerial yang baik sekaligus saya angkat sebagai pengelola reesto sepenuhnya. Saya tinggal memantau dan menerima laporan. Bahkan sayapun akhirnya membuka cabang reesto di ITC Mall dekat Carrefour. Inipun pengelolaannya saya serahkan ke manajer resto yang saya rekrut melalui seleksi. Saya tidak mau repot-repot mengurus reesto.

Niken ternyata sangat berbeda dengan Claudia. kalau Claudia boros, ternyata Niken hemat dan pandai mengelola uang. Kalau Claudia terlalu sering ke salon, Niken kadang-kadang saja. Kalau Claudia tidak suka memasak, Niken suka sekali memasak. Namun, kekurangan-kekurangan Claudia tak saya katakan ke Niken.

Karena usia Niken saat menikah sudah 35 tahun, maka Niken secara jujur mengatakan tidak mau punya anak dari saya. Takut ada apa-apa, katanya. saya memakluminya dan tidak keberatan.

“Saya menganggap Dieta sebagai anak kandung saya,” ucap saya ke Niken. Saat itu Dieta telah duduk di SD kelas satu. Karena sekolahnya agak jauh, Nikenlah yang rajin antar jemput. Namun karena saya membuka cabang resto lagi memakai modal Niken dan atas usul Niken, maka urusan antar jemput Dietapun diserahkan ke mobil antar jemput yang sudah terkenal baik pelayanannya. Niken membuka resto di kawasan Alam Sutera dan pengelolaannyapun diserahkan ke manajer resto melalui proses selsi yang ketat.

Boleh dikatakan saya sukses. Kredit rumah langsung saya lunasi. Demikian juga kredit mobil langsung saya lunasi sebelum waktunya. Supaya saya tidak mondar-mandir dari rumah saya di BSD Catelya ke rumah Niken di Banjar Wijaya, maka rumah di BSD Catelyapun saya kontrakkan. Dengan demikian saya menetap di rumah Niken. KTP sayapun KTP Banjar Wijaya.

Hari Minggu berikutnya, saya, Niken dan Dieta jalan-jalan e resto saya yang ada di Jl.Saharjo, Tebet. Namn, baru masuk pintu, saya terkejut karena di situ ada Claudia dan Bella. Claudia yang sedang makanpun terkejut. Akhirnya, sayapun memperkenalkan Niken ke Claudia dan Bella.

“Kok, tante mirip mama saya, sih?” celetuk Bella yang sejak dulu bicaranya memang ceplas ceplos. Claudiapun heran melihat Niken. Akhirnya kami berlima makan bersama di satu meja. Suasananya penuh kekeluargaan. Claudia meminta maaf karena tidak sempat menghadiri pernikahan saya dan Niken di Bali.

Begitulah ceritanya. Walaupun saya tak punya anak dari Niken, tapi saya merasa bahagia. Dan tanpa terasa sudah dua tahun saya menikah. Tanpa terasa telah resto saya telah berkembang sebanyak 10 resto di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.  Saya juga mendapat undangan pernikahan Claudia dan mendengar kabar, Claudia akan menikah dengan seorang pengusaha kaya raya, seorang duda tampan tanpa anak. Syukurlah.

—ooOoo—

PUISI: Republik Kafir

FACEBOOK-PuisiRepublikKafir

 

katanya negeri ini negeri hukum

nyatanya ada jual-beli pasal

nyatanya penyidik bisa dibeli

nyatanya jaksa bisa dibeli

nyatanya hakim bisa dibeli

 

katanya negeri ini negeri hukum

nyatanya ada penjara mewah

nyatanya ada tv ada radio ada kulkas ada ac di penjara

nyatanya ada jual-beli narkoba di penjara

nyatanya siang di rumah malam di penjara

 

katanya negeri ini negeri hukum

nyatanya ada jual-beli remisi

nyatanya ada saksi palsu bayaran

nyatanya ada sumpah-sumpah palsu

nyatanya ada bap rekayasa

 

katanya negeri ini negeri hukum

nyatanya hukum bisa ditawar

nyatanya hukum buatan manusia

nyatanya hukum kafir

 

Sumber gambar: img.photobucket.com

 

Hariyanto Imadha

Penulis puisi

Sejak 1973